Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

Cerpen: Kupeluk Rindu di Ujung Sendu

Yun November 03, 2019
Foto: Istimewa
SEMBURAT senja sore itu menyambut peluh kedatanganku di sela-sela tumpukan sayuran dan aroma ikan asin yang menusuk hidung. Iya sore itu seperti biasa, dengan sepeda motor bututku, bersama dua gadis kecilku, kudatangi penjual sayuran langgananku.

"Blonjo, Mas?" sapa Mbak Jum dengan ramah. Aku membalasnya dengan senyuman sembari kubolak-balik tumpukan sawi hijau di depanku. Si kembar masih asyik melihat kesibukanku sambil sesekali ikut memungut mentimun yang ada di depannya.

Sawi hijau, tomat, brokoli, wortel, loncang seledri, mentimun, termemes, dan terong adalah sayuran yang wajib kubeli setiap pekan untuk mengisi penuh rak sayur di lemari pendingin rumahku. Kebiasaan belanja sayur mayur di pasar Giwangan bukan hal baru lagi bagiku. Mau tak mau keadaan memaksaku jadi seorang lelaki dengan paket lengkap. Mencari nafkah, koki, cleaning service, pengasuh bayi, dan petugas laundry.

Aku jadi hafal betul harga sayuran dan bumbu dapur. Kalau ada selisih seratus rupiah saja per kilogramnya, pasti aku tahu. Aku pun cukup lihai memilih sayuran mana yang segar dan awet selama seminggu. Bukan asal sekadar comot, intuisi menuntunku cakap dalam hal itu. Penjual ayam kampung di ujung jalan keluar pun sudah setia menunggu kedatanganku. Setidaknya setengah kilo daging ayam, masuk dalam daftar belanjaanku.

Aroma khas dari tumpukan sayuran, ikan asin, bumbu dapur, daging ayam, sudah tak lagi mengagetkan lubang hidungku. Penjual-penjual itu pun ramah menyapa kehadiraku beserta dua bocil kesayanganku.

Aku juga hafal, jalan mana saja yang harus kuhindari di area pasar itu karena berlubang atau tatanannya yang naik turun. Bisa berbahaya bagi pengendara sepeda motor yang penuh dengan barang belanjaan jikalau tidak berhati-hati.

"Sampun, Mbak Jum, pinten niki?" sambil kuraih uang dari dalam kantong celanaku.

"Telu limo lima ngatus, Mas," jawabnya setelah hitung cepat semua belanjaanku.

Kusodorkan selembar uang lima puluh ribuan padanya. Biasanya memang berkisar tiga puluh sampai empat puluh ribu, belanjaanku setiap minggunya.

Sudah hampir genap selusin bulan kujalani peran sebagai ayah, sekaligus ibu bagi anak-anakku. Sungguh keadaan yang tak pernah kubayangkan sebelumnya. Mahligai yang kubangun tak seindah rencana. Kucoba ikhlas menjalani semua, meski memang berat jika dirasa.

Petang itu, jingga di ujung sana sudah merindu peraduan di balik temaram rembulan. Suara sahutaan jangkrik dari sawah sekeliling rumahku berpadu dengan harmoni nyanyian katak teriring tarian nyamuk yang siap disantapnya. Lampu ruang tamu pun ikut meredup, seperti suasana batinku saat itu.

Jam berdenting tujuh kali menandakan malam hampir tiba menggantikan posisi senja. Masih juga kugenggam ponselku, menunggu kabar adik lelakiku. Kabarnya dia sudah berangkat sejam yang lalu, harusnya sudah sampai di rumahku. Namun tak terdengar sedikitpun suara deru mesin mobil yang akan menjemputku.

Sore tadi ibu menelponku, mengabarkan kalau aku akan dijemput adikku.  Dua putri kecilku pun sudah terlelap dipangkuan. Sepertinya mereka kelelahan, setelah sore tadi bermain air bersamaku, di teras rumah. Wajah polos mereka tak meyiratkan sedikitpun rasa cemas dan khawatir. Bertolak belakang dengan kalutnya pikiran dan batinku.

Hingga pukul delapan tak kunjung datang juga mobil bapak yang akan menghampiriku. Kutelpon ibukku untuk memastikan apakah benar adikku sudah bertolak menuju rumahku. Katanya sudah sejak pukul lima dia berangkat, namun kenapa tak kutemui juga hadirnya yang sangat kutunggu.

“Assalamu’alaikum,” suara familiar itu membangunkan tidurku. Bergegas kugendong satu per satu bidadari kecilku untuk kupindahkan di jok belakang mobil bapak, yang sudah terpakir tepat di teras rumahku. Adikku memasukkan dua koper pakain dan sebuah tas jinjing besar ke dalam bagasi mobil itu.

Malam semakin gelap, sepanjang perjalanan hanya air mata yang menetes mebasahi kedua pipiku. Inikah akhir dari kisah sakinah yang kurindu. Haruskah kurelakan diriku menyandang status duda yang tak terbersit sedikit pun sebelummnya. Bismillah, kuseka air mataku, agar kedua anakku tak terbangunkan oleh tetesannya. Kutenangkan hati, meyakinkan diri. Mungkin ini yang terbaik  bagi kami. Kuimani setiap detik kejadian, sebagai takdir yang mendewasakan.

Kurelakan diriku pulang kembali ke rumah ibu, bersama dua orang putriku. Peluk hangatnya pasti akan sangat menenangkan di tengah carut marutnya gejolak yang ada di dadaku. Ibuku adalah orang tak banyak bicara, hanya sesekali saja ketika dirasa perlu. Beliau juga tak banyak tanya, nalurinya pasti sudah sangat peka apa yang dirasakan buah hatinya. Kupeluk ibu di ujung pasrahku, di ujung sendu yang belum kutahu di mana ujung pangkalnya. (*)

Rohmat Bekti Nugroho, tinggal di Gunungkidul, Yogyakarta. Kesehariannnya adalah pengajar di salah satu madrasah di daerahnya. Menulis adalah hobi yang tak kan pernah ditinggalkannya. Baginya, untaian kata dalam cerita adalah cara membunuh emosi jahat yang mendera. 

Cerpen: Sarno

Rina harwati Desember 02, 2018

SIANG yang sangat terik itu Sarno duduk termenung di kursi becaknya yang mulai sobek-sobek di beberapa tempat. Digeser duduknya di bagian pinggir kursi, sehingga ia bisa sedikit menyandarkan kepalanya di tiang besi keras penyangga atap becaknya. Sejak pagi ia menunggu datangnya penumpang yang mau menggunakan jasanya mengemudi becak. Namun, hingga matahari tepat menyengat ubun-ubunnya, tak satu pun penumpang datang menyambanginya.

Sarno merasa siang itu sungguh terik. Matahari tak sedikit pun mau berkompromi dengannya yang sedang menjalankan ibadah puasa. Bahkan, Sarno merasa sang surya memancar lebih garang dari biasanya, padahal perut Sarno hanya diisi makanan ala kadarnya sahur tadi. Dibekali tanggung jawabnya sebagai kepala keluarga, Sarno tetap menarik becak walaupun ia sedang berpuasa. Didengarnya azan Zhuhur memanggil-manggil umatnya untuk datang berserah pada Sang Kuasa.

“Shalat dulu. Semoga sehabis shalat ada rezeki yang datang padaku,” batin Sarno berharap. Ia segera turun dari becaknya dan menuju masjid yang hanya berjarak seratus meter dari tempatnya mangkal. Dilihatnya beberapa temannya sesama pengemudi becak tertidur pulas di dalam becaknya. Hanya Darmin yang masih terjaga dan duduk dalam becaknya. Ia mengipasi lehernya dengan topinya yang telah usang.

“Mau shalat, No. Ya, sana. Jangan lupa doain aku biar dapat rezeki yang banyak,” Darmin menyapa Sarno seenaknya. Sarno hanya tersenyum dan berlalu. “Kenapa nggak berdoa sendiri saja,” batin Sarno.

Selesai shalat, kembali Sarno duduk di dalam becaknya untuk menunggu penumpang. Ditengoknya teman-temannya masih tertidur juga. Darmin pun ikut pulas. Sejenak Sarno terdiam.

Dihelanya napas panjang beberapa kali untuk melapangkan dadanya yang sesak. Hatinya galau memikirkan nasibnya yang tak kunjung berubah. Sudah tiga kali ini ia berganti pekerjaan. Namun, keberuntungan belum juga berpihak padanya. Ia pernah bekerja sebagai kuli bangunan.

Namun, banyaknya tenaga terdidik membuatnya tersingkir dari pekerjaan. Dicobanya pula menjadi kuli angkut di terminal, namun ia tak tahan karena hasil yang diperolehnya harus ia serahkan separuh pada sang penguasa pasar yang setiap harinya hanya duduk-duduk mengawasi para kuli bekerja keras. Mereka tak peduli walaupun penghasilan para kuli tersebut tak seberapa dibandingkan tenaga yang mereka keluarkan.

Menjadi tukang becak menjadi harapan terakhir Sarno untuk menggantungkan hidupnya dan keluarganya. Walaupun hasilnya sedikit, namun ia tak perlu menyetorkan hasil becaknya pada siapa pun. Ia hanya perlu menyisihkan sebagian hasil becaknya untuk mencicil pembelian becak yang belum lunas. Toh becak itu akan menjadi miliknya sepenuhnya bila telah lunas nanti. Tak terasa kantuk mulai menyerang daya tahannya. Sarno tak mampu lagi bertahan hingga ia tak sadar telah tertidur pulas di dalam becaknya.

“Pak … pak… pak becak,” terdengar sayup-sayup orang berbicara agak keras di depannya. Di antara tidur dan bangunnya Sarno merasa tempat yang ia duduki bergoyang-goyang pelan. Sontak ia terbangun. Ia agak terkejut ketika didapatinya sesosok ibu-ibu gemuk tengah berdiri di hadapannya sambil menggoyang-goyangkan becaknya.

“Kok pada tidur semua nih gimana? Mau cari rezeki nggak sih,” kata wanita gemuk tersebut sinis. Peluh bercucuran di wajah dan lehernya yang berlipat-lipat banyak lemak. Di depannya teronggok dua tas besar entah isinya.

“Maaf, Bu, lagi puasa,” jawab Sarno sopan. Ia segera turun dari becaknya.

“Pasar Manis sepuluh ribu ya. Biasa,” kata ibu gemuk itu singkat namun masih menunjukkan wajahnya yang tidak ramah.

“Yah, tambahin dong, Bu, kan jauh. Biasanya lima belas kok,” Sarno meminta tambahan harga pada ibu tersebut. Namun bukan anggukan yang ia dapatkan justru omelan panjang lebar khas ibu-ibu pelit.

“Ya sudah kalau nggak mau. Masih banyak yang mau dengan duit segitu,” katanya lebih ketus sambil beranjak dari tempatnya. Dalam hati Sarno mengeluh, namun berhubung sejak pagi ia belum menendapatkan sedikit pun penghasilan akhirnya ia menyanggupi untuk mengantarkan ibu dengan upah sepuluh ribu rupiah.

“Nah gitu. Udah biasa kok,” ibu itu berbicara lagi sambil bersiap naik ke becak Sarno. Tubuhnya yang gempal membuatnya kesulitan menaiki becak Sarno. Sarno membantunya dengan sedikit menjungkitkan becaknya ke depan. Dengan begitu bagian depan becak menjadi rendah dan ibu tersebut dapat menaiki becaknya dengan mudah. Sarno membantu menaikkan dua tas besar dan berat di depan kaki ibu gemuk tersebut. Kini becak Sarno menjadi penuh sesak.

Sarno mulai mengayuh becak tersebut. Terlihat ia kepayahan dengan beban yang mahaberat dan kondisi perutnya yang lapar. Demi keluarganya, ia bertekad mengayuh becaknya kuat-kuat membawa ibu gemuk tersebut sampai tujuan. Tak terkira peluh keluar dari pori-pori kulitnya yang hitam legam. Tenggorokannya terasa kering namun Sarno tetap bertahan. Tekadnya hanya satu, yaitu mencari rezeki untuk anak dan istrinya di rumah.

Sambil menarik becak, terbayang jelas wajah istri dan kedua anaknya di rumah. Terbayang pula di benaknya ia harus mencari uang tambahan untuk diberikan pada istrinya menjelang hari raya nanti. Lebaran semakin dekat, namun ia belum mempunyai persiapan apa pun untuk menyambutnya. Di benaknya terbayang anaka-naknya yang merengek meminta baju baru atau istrinya yang sedih karena tidak dapat membeli kue-kue sederhana khas Lebaran. Semakin jelas gambaran-gambaran itu di benaknya, semakin ia bersemangat mengayuh becaknya. Ia berharap, semoga ibu gemuk tersebut menjadi pembuka jalan masuknya rezeki pada hari ini.

***

Sarno yang kelelahan kembali duduk di kursi becaknya. Diluruskannya kakinya dan disandarkan kepalanya di jeruji penyangga atap becaknya agar lelah yang menderanya segera pergi. Tanpa terasa pikirannya mengembara ke masa Lebaran lalu yang dilewatinya dengan hampa. Jangankan lontong opor khas Lebaran, sekadar kue-kue sederhana pun ia tak mampu membelinya. Untunglah Watik istrinya sangat memaklumi keadaannya, sehingga ia tak banyak menuntut.
Untuk membelikan baju bekas anaknya pun Watik terpaksa berutang kanan-kiri.

Tahun ini ia berharap mendapatkan rezeki lebih untuk merayakan hari raya bersama anak dan istrinya. Sebenarnya Sarno berharap anak sulungnya yang bekerja sebagai TKW di Arab Saudi pulang walaupun untuk beberapa saat saja.
Samtri sudah bekerja sebagai TKW selama lima tahun. Selama itu pula ia tak pernah pulang mengunjungi keluarganya. Bahkan, Sarno tidak tahu kabar mengenai putrinya itu. Dalam hati ia ingin menanyakan keadaan putri sulungnya tersebut pada agen yang dulu memberangkatkannya, namun agen tersebut telah pindah tempat dan ia tak tahu ke mana lagi harus menanyakan keadaan putrinya. Ditahannya rasa kangennya sampai lima tahun ini. Ia hanya berharap Samtri dalam keadaan baik-baik saja. Dadanya perih bila ia melihat berita TV tentang banyaknya penyiksaan terhadap TKW. Watik, istrinya pun selalu menitikkan air mata bila mengingat putri sulungnya Samtri. Tapi, ia tak bisa berbuat apa-apa.

Waktu semakin beranjak petang, namun belum ada lagi orang datang meminta jasa becaknya. “Ah, apa yang akan kuberikan pada istriku nanti?” batinnya sedih. Ia memutuskan untuk pulang saja bila waktu Maghrib datang. Namun, ia masih berharap untuk mendapatkan pelanggan lagi sebelum Maghrib. Sudah dua hari ini ia tak mampu mencicil becaknya karena penghasilannya sangat minim. Beruntunglah Haji Ahim juragan yang baik hati itu mau memaklumi keadaannya. Namun, ia merasa tak enak hati juga.

Dari jarak tak begitu jauh dilihatnya seseorang berjalan ke arahnya. “Semoga ini rezekiku,” batinnya sungguh berharap. Ia bersiap-siap turun dari becaknya ketika seseorang tersebut berada hampir di depannya. Hatinya bahagia. Senyumnya lebar.

“Pak, numpang tanya. Desa Sawo mana ya?” Tanya orang itu. Senyum Sarno menciut. Ternyata orang tersebut bukan ingin memakai jasanya, namun hanya bertanya tentang suatu alamat. Sarno menjelaskan letak desa tersebut. Tangannya menunjuk-nunjuk ke arah desa yang dimaksud. Sarno sempat menawarkan mengantar orang tersebut dengan becaknya, namun ia memilih untuk berjalan kaki saja. Sambil berlalu, ia mengucapkan banyak terima kasih pada Sarno.

***

Hari sebentar lagi gelap. Sayup-sayup terdengar azan Maghrib mengalun merdu di telinga Sarno. Dikeluarkannya air putih di botol usang yang dibawanya dari rumah tadi. Diteguknya pelan pelan air itu. Kerongkongannya yang tadinya kering, terasa begitu lega setelah beberapa teguk air putih mengguyurnya. Segera ia turun dari kursi becaknya dan bersiap-siap untuk pulang.

Hatinya sedih karena hari ini ia hanya mendapatkan uang sepuluh ribu rupiah dari ibu gemuk yang diantarnya tadi siang. Dinaikinya sadel becaknya dan ia bergegas menginjak pedal membawa becak itu pulang.

“Becak, Pak. Tolong antar saya ke jalan Bambu ya. Tahu kan? Berapa?” seorang gadis memaksanya untuk berhenti lagi. Gadis itu membawa beberapa tas besar seolah baru pulang dari bepergian jauh. Menilik dari logat bicaranya sepertinya ia bukan berasal dari daerah tersebut. Logat itu sangat asing bagi Sarno. Penampilannya modern, beberapa perhiasan menempel di tubuhnya. Bahkan, ketika ia menggerakkan tangannya, terdengarlah bunyi gemerincing karena beberapa gelangnya saling beradu.

“Bisa, Mbak. Dua puluh ribu ya,” jawabnya sambil turun dari becaknya. Ia hafal sekali daerah tersebut karena tahun lalu ia adalah salah satu penghuninya sebelum petugas Kamtib mengusirnya. Ia berharap semoga gadis tidak menawarnya. Si gadis tersebut menganggukkan kepala tanda setuju. Seperti biasa Sarno langsung menjungkitkan becaknya untuk membantu penumpang naik. Sepatunya yang ber-high heel tersangkut di pinggiran lantai becaknya. Hampir saja ia terpeleset, untunglah ia masih sempat berpegangan pada sisi becak tersebut.

Gemerincingan suara gelang-gelang beradu membuat hati Sarno berdegup. “Ah, betapa kaya gadis itu,” batinnya. Bunyi gemerincing gelang-gelang yang dipakai gadis itu sungguh mengganggu pikirannya. “Seandainya saja Watik juga memakai perhiasan seperti itu, pastilah ia sangat bahagia,” batinnya lagi.

Entah setan mana yang merasuki dirinya hingga pikirannya dipenuhi dengan beribu ‘seandainya’. Ia sudah lupa bahwa hari ini ia sedang berpuasa. Ia lupa pula akan shalat yang dilakukannya setiap hari. Tiba-tiba kalbunya menjadi gelap. Pikiran jahat tiba-tiba datang menyeruak ke alam pikirnya. Secepatnya ia mengambil seutas tali yang biasanya untuk menalikan kain penutup becaknya. Tekadnya bulat. Ia akan mengalungi leher gadis itu dengan seutas tali dan menariknya dengan kencang. Setelah tak berdaya, ia akan mengambil barang-barang yang dibawanya, terutama beberapa gelang yang bergemerincingan di pergelangan tangannya. Tekatnya bulat dan hatinya telah tebawa bujuk rayu setan.

Namun belum lagi niat itu terlaksana tampak sinar lampu motor berada tepat di hadapannya. Dan ‘brakkk’ suara keras benturan itu tak dapat terelakkan lagi. Becak Sarno terpelanting, demikian juga penumpang sepeda motor yang ternyata anak muda itu. Untunglah semuanya masih dilindungi oleh Yang Maha Kuasa. Sarno membantu si gadis kaya itu berdiri. Setelah saling berbicara Sarno dan pengendara motor itu sepakat untuk berdamai saja. Kemudian pengendara sepeda motor itu segera pergi.

Sarno menghampiri gadis itu dan meminta maaf atas kecelakaan tadi. Gadis itu berdiri tepat di bawah lampu penerangan jalan. Wajahnya terlihat jelas di bawah sinar lampu itu. Hati Sarno tersirap melihat wajah itu. Wajah yang begitu dikenalnya. Wajah Samtri anak sulungnya yang sudah lima tahun tidak ditemuinya.

“Samtri. Kamu nduk?” kata Sarno terbata-bata. Tanpa menunggu jawaban Samtri, Sarno segera memeluk gadis itu erat-erat. “Ini bapak, Nduk,” lanjutnya sambil terus mendekap erat Samtri.

“Bapak. Kok bapak narik becak?” Kata Samtri penuh tanya. Melihat pria itu adalah Sarno ayahnya, Samtri gantian memeluknya erat.

“Ya, Nduk. Ceritanya panjang. Nanti bapak cerita. Ayo kita pulang. Kita sudah pindah. Rumah kita tidak di sini lagi,” kata Sarno sesenggukan. Ia segera membawa Samtri pulang ke rumahnya. Sesekali terdengar helaan napas panjangnya. Sambil mengayuh becak ia membayangkan seandainya ia tadi menuruti hawa nafsunya, pastilah kejadiannya akan lain lagi dan ia akan menyesal seumur hidupnya.

“Ya Allah, ampunilah aku,” batinnya menyesali diri. Allah SWT masih menyelamatkannya. “Allahu Akbar… Allahu Akbar,” dari bibirnya sayup-sayup mengalir takbir berkali kali. (*)

(Ditulis oleh Lilis Umi Faiezah, S.Pd.,M.A. Guru MTsN 6 Sleman dan pernah dipublikasikan di harian Republika, 8 Agustus 2010)

Cerpen: Bunga Tidur

Juli 15, 2018
Oleh Rohmat Bekti Nugroho

TIBA-TIBA langkahku terhenti. Bau kemenyan yang mulai mengusik dua lubang hidungku, semakin menimbulkan tanya dalam hati. Sudah hampir satu jam lebih aku menyusuri setapak ini. Tapi kenapa aku kembali lagi ke titik yang sama, sebuah gapura bertuliskan “Sugeng Rawuh di Desa Umbultirto” membuatku serasa ingin menyerah saja.

Entah sudah sampai mana teman-temanku yang lain. Aku mulai terpisah, hanya dalam hitungan detik saja, ketika aku melihat sesosok nenek tua. Rambut putihnya disanggul ke atas, dengan pakaian kebaya dan jarik berwarna coklat tua bermotif burung merak. Terlihat jelas sekali olehku, tatkala sorot lampu senter kuarahkan padanya. Dia tampak berjalan terburu. Intuisi menggerakkanku untuk mengikutinya.

Namun lagi-lagi aku terhenti di depan gapura ini, untuk yang kesepuluh kalinya. Dan tak kutemui seorang pun di sepanjang setapak yang kulewati. Aku heran, kanan kiri hanya ada tanaman kamboja yang bunganya berwarna-warni dengan aroma khasnya yang menusuk hidungku. Rembulan tak terlihat mengintip sedikit pun dari balik awan gelap. Bintang yang bertebaran juga malu menunjukkan kelipnya. Angin malam yang menusuk-nusuk lubang pori tubuhku semakin menimbulkan suasana mistis yang belum pernah kurasakan sebelumnya.

Kami awalnya berlima, sekelompok mahasiswa yang sedang melakukan penelitian di sebuah desa, di lereng pegunungan deretan geopark Gunungkidul, Yogyakarta. Aku sendiri, adalah seorang yang jarang sekali berkeliaran malam hari. Kondisi fisikku yang tidak sebugar yang lain, membuatku sering diejek sebagai pemuda yang tak diharapkan pemudi.

“Nak, apa yang kamu cari di tempat ini?” Pertanyan yang terdengar mendadak, dengan suara sendu, berasal dari belakang telingaku.

Bulu kudukku mulai berdiri, kakiku gemetaran, dan aku menoleh perlahan. Nenek tua tadi, sudah berdiri di belakangku, sambil membawa obor di tangan sebelah kirinya.

“Eemmmm, saya mencari teman-teman saya, Nek,” jawabku dengan suara terbata-bata dan dada yang tak dapat kutahan lagi cepatnya detak jantung di dalamnya.

“Ayo, ikuti saya,” ucap sang nenek sembari meraih tanganku untuk digandengnya masuk ke gerbang desa yang telah kulewati berkali-kali itu.

Sayup-sayup suara tangis mulai terdengar jelas dari dalam. Sebuah gubuk tua, dengan cahaya obor terpasang di depannya. Nenek memintaku untuk masuk segera, melewati pintu dari bambu berengsel karet. Lantainya masih berupa tanah berpasir, dengan aroma khas sisa air hujan.

Sebuah dipan dari bambu menyambutku di ruang tamu nenek. Di sebelahnya sebuah meja bundar, bulatannya seperti kayu jati yang masih utuh. Tak ada yang aneh ataupun mencolok mata. Hingga pandanganku terhenti di pojok ruang, sebuah gentong berukuran sangat besar, terbuat dari gerabah dan dibalut kain putih mengeluarkan asap dengan aroma kemenyan yang sangat kuat. Aku tertegun penuh tanya.

Nenek memintaku duduk di atas dipan itu, kemudian ia masuk ke balik tirai ruang dalam. Aku hanya terdiam, dengan ribuan tanya yang tak bisa aku jawab. Dari dalam suara tangis anak kecil mulai terdengar lebih nyaring dari sebelumnya. Keringat dingin membasahi seluruh telapak tanganku. Aku kembali gemetaran, kakiku serasa berat untuk beranjak, bahkan kandung kemihku pun terasa penuh sesak untuk memuntahkan isinya.

Dengan penuh rasa ingin tahu, aku mulai berjalan menuju tirai itu. Tirai berwarna hitam polos yang membagi ruang tamu tempat aku duduk, dengan ruang di mana nenek masuk tanpa penjelasan kepadaku. Kuintip dari pojokan tirai yang tak begitu rapat ditutup oleh nenek tadi. Nadiku serasa terhenti berdenyut. Jantungku seakan copot seketika. Sebuah keadaan yang tak kubayangkan sebelumnya.

Tiga orang terbujur kaku di lantai tanah, penuh darah di sekujur tubuhnya. Seorang lagi masih merintih penuh sakit, tertidur di atas dipan di samping kiri ruangan. Dari pakaian yang dikenakan, aku yakin sekali itu adalah Nina. Celana jeans warna biru tua, jaket biru donker yang penjadi alas tidurnya. Scarf warna pink yang masih melilit di lehernya pemberian dariku sebulan lalu. Celananya nampak tak utuh lagi, robek di sana sini, tangannya juga terbungkus sobekan jarik tua, mungkin milik nenek.

Ingin kuteriak, namun tak bisa. Tenggorokanku seakan tercekik oleh tali besar pengikat sapi yang biasa aku lihat di kendang milik kakekku. Kenapa tak ada volume sedikitpun yang mampu dihasilkan oleh pita suaraku. Aku berdiri tercengang, kakiku lemas seketika dan akhirnya tubuhku jatuh menjuntai tak berdaya.

Pelan-pelan mulai kubuka mata. Sinar mentari mulai memaksa kedua kelopak mataku untuk menatapnya. Badanku masih lemas, tubuhku menggigil kedinginan. Kulihat Nina, menggantiakn kompres di dahiku. Aku demam, di tengah hutan. (*)

Rohmat Bekti Nugroho adalah anggota Perkumpulan Guru Madrasah Penulis (Pergumapi). Lulusan Universitas Negeri Yogyakarta ini juga merupakan guru bahasa Inggris MTs Negeri 4 Gunungkidul. Selain menulis cerita pendek, Rohmat juga menulis puisi.

Cerpen: Wanita Pilihan

Juni 10, 2018

Oleh Lilis Ummi Faiezah

ANGGIT duduk termenung di teras rumahnya sore itu. Dibiarkannya teh panas buatan Asih istrinya hingga dingin. Sekelompok semut sudah mulai merayap mendekati gelas itu karena tergoda dengan aroma manisnya. Sepiring ondeonde panas kesukaan Anggit pun sudah mulai tak empuk lagi. Pikirannya mengembara. Ingatannya kembali pada pertemuan tidak sengaja dengan Mayasari, wanita cantik mantan pacarnya di bangku kuliah dulu. Pertemuan itu berawal ketika Anggit mengikuti workshop yang diselenggarakan oleh kantornya, sebuah bank swasta yang terkenal, tentang Upaya Penyehatan Perbankan. Di sana Mayasari menjadi pembicara tunggal. Sudah hampir 15 tahun Mayasari tak pernah lagi disebutnya walau masih ada sebersit kenangan yang terus ia simpan dalam hati.

Siang itu Anggit terpaku saat mengetahui wanita yang tengah berbicara di forum itu adalah Mayasari. Lama Anggit tertegun, pikirannya hanya terpaku pada sosok yang dulu sangat dikenalnya. "Ibu Maya itu smart banget, ya. Cantik pula. Ulasannya benar-benar brilian," Mustofa yang duduk di depannya memuji Mayasari. "Mus, loe kan bujang. Samperin aje, barangkali dia juga masih sendiri. Daripada loe merem-melek begitu," Rico tertawa terkekeh-kekeh di samping Mustofa.

"Ngawur kamu, mana ada doktor lulusan Amerika yang mau sama master dalam negeri macam aku. Nguber Atika aja ditolak, apalagi ... ah kejauhan kamu." Keduanya kemudian tertawa lagi menyadari banyolan itu. Tak terasa ada sedikit perasaan cemburu di hati Anggit, tapi ia kemudian cepat menyadari, tak ada haknya sedikit pun untuk cemburu. Sore itu Anggit terus saja terbawa oleh lamunannya. Senja yang semakin turun tidak juga mengalihkan pikirannya akan Mayasari. Alunan azan merdu dari televisi di dalam rumahnya pun tidak membuatnya beranjak dari tempat duduknya. "Mas sudah Maghrib tuh. Tolong bawain gelas dan piringnya masuk ya," suara Asih dari dalam rumah. "Mas! Kok bengong sih!" ulang Asih lagi. "Ya, ya," jawab Anggit singkat. Anggit lalu beranjak dan masuk.

Hari kedua penampilan Mayasari kembali memunculkan kenangan indahnya dengan wanita cantik yang urung menjadi belahan jiwanya karena penolakan ibunya. Ibunya yang masih kental adat kejawennya menilai Maya adalah wanita modern yang jauh dari tata krama. "Perempuan kok rambutnya pendek. Makan juga pakai tangan kiri," kata ibunya waktu itu. "Dia itu kidal Bu, jadi makan, nulis apa aja pakai tangan kiri. Sudah dari sananya," kata Anggit berusaha membela. "Ya nggak. Itu salah orang tuanya nggak membiasakan makan pakai tangan kanan."

Percuma memang membantah kata-kata ibunya. Selama ini kata-kata ibunya merupakan titah yang tak terbantah untuknya. Apalagi dia adalah anak tuggal, tempat ibunya menggantungkan masa tuanya. Itu berarti ia harus mencari istri yang disukai ibunya. Ketika ibunya memperkenalkan Asih, anak kenalan ibunya, Anggit setuju saja. "Ibu bisa mati cepat kalau kamu kawin dengan wanita itu, Anggit. Firasat ibu mengatakan begitu. Terserah kalau kamu pengen lihat ibu mati cepat," selalu itu senjata yang ibunya ucapkan setiap disinggung soal Maya.

Ternyata pikiran Anggit tak senyaman ruangan ber-AC di kantornya itu. Hanya sebagian saja ulasan Mayasari yang mengendap di otaknya. Pikirannya asyik berlarian kesana-kemari membangkitkan kembali kenangan bersama Maya dulu. Tak terasa Anggit kemudian membandingkan Mayasari dengan sosok istrinya, Asih. Asih yang sederhana itu adalah seorang guru sebuah madrasah di dekat rumahnya. Asih yang polos dan penurut. Asih yang sangat sayang dan mengerti keinginan ibu mertuanya. Asih yang selalu mengerjakan pekerjaan rumah tangga dan mengurus kedua putrinya.

Anggit jarang menceritakan masalah kantornya kepada Asih karena menurut Anggit wanita itu terlalu polos untuk mengimbangi jalan pikirannya. Pernah Anggit menceritakan hal-hal pelik masalah kantornya, Asih hanya duduk terpaku menyimak setiap kalimat yang meluncur dari bibir Anggit, tanpa merespons atau memberi solusi. "Sudahlah Mas, yang sabar. Orang sabar di sayang Tuhan. Jangan bertindak gegabah ya," kata Asih. Ucapan standar yang keluar dari mulut setiap orang. Kemunculan Maya di hadapannya sejenak membuat keberadaan Asih terabaikan. Yang ada justru bayangan-bayangan Maya yang elegan dengan sejuta prestasinya. Seribu kata andai bermunculan di benak Anggit. Seandainya ia menjadi istriku.

Pertemuan selanjutnya mereka lakukan di restoran Siomay Mang Udin, restoran favorit mereka sejak dulu.."Kamu masih ingat makanan kesukaanku?" tanya Maya. "Ya, makanan kesukaanmu juga kesukaanku kan? Jadinya aku masih sering ke sini," jawab Anggit berbohong. Semenjak beristrikan Asih, Anggit jarang sekali makan di luar karena Asih pandai memasak. "Dengan istrimu?" Selidik Maya lagi. "Nggak, dia orang rumahan yang nggak suka keluar rumah, apalagi ke restoran," Anggit berbohong lagi. Hampir tidak pernah dia mengajak Asih keluar rumah. Malam itu waktu menunjukkan pukul sepuluh malam. Biasanya Anggit sudah sampai rumah. Ah, pastilah ada rapat di kantor, batin Asih. Asih tidak pernah membebani pikirannya dengan bayangan negatif tentang suaminya.

"Rumahmu bersih sekali, Maya," kata Anggit ketika mengantar pulang Maya. "Rumah baru sih. Entar kalo udah lama ya nggak bersih lagi. Kan aku baru pindah dua bulan," jawab Maya. "Sendiri?" tanya Anggit lagi. "Emang sama siapa? Aku udah cerai sama suamiku. Makanya aku pindah ke kota ini. Cari suasana baru." Bayangan Anggit menerawang jauh. Ia membayangkan mantan suami Maya orang bodoh yang telah melepaskan seekor merpati sempurna yang diburu banyak pemuda, termasuk dirinya. "Kau pasti sedang membayangkan kenapa aku bercerai dari suamiku," kata-kata Maya mengejutkan Anggit. Seketika lamunan Anggit buyar.

"Ah ... nggak kok," kata Anggit berpura-pura. "Bohong kamu. Itulah lelaki ... suka bohong." "Suamimu dulu tega membohongimu, Maya? Dia selingkuh?" Anggit tak sadar kalau dirinya kini ingin tahu persoalan Maya.

"Tidak, bukan selingkuh," kata Maya sambil menarik napas dalam. "Dulu, waktu pacaran kami berkomitmen untuk hidup sendiri dan mandiri. Punya anak tidak jadi target utama perkawinan kami. Tapi, setelah setahun perkawinan kami, suamiku mulai menuntutku punya anak. Katanya, anak untuk penerus dan pengurus kami di masa tua. Bahkan, suamiku memohon aku mengizinkan orang tuanya tinggal bersama kami karena tidak ada lagi yang mengurusnya. Bayangkan, betapa repotnya aku. Bagaimana dengan karierku."

"Aku minta suamiku itu menitipkan orang tuanya ke panti jompo saja. Toh malah lebih terurus. Lebih baik kehilangan uang untuk membayar panti jompo daripada menambah beban pikiran. Entah kenapa suamiku berubah pikiran melanggar komitmennya. Aku ini wanita mandiri dan bebas. Akhirnya kami sering bertengkar hebat dan sepakat untuk mengakhiri rumah tangga itu." Pandangan Maya kosong. Sesekali asap rokok mengepul dari bibirnya yang bergincu tipis.

Anggit yang sejak tadi serius mendengarkan cerita Maya menjadi bergidik. Duduknya tak lagi enak. Tenggorokannya menjadi kering. Cerita yang tadi keluar dari bibir yang dulu ia kagumi menjadi begitu menyesakkan dadanya. Tanpa disadarinya pikirannya menerawang ke ibunya.

Cerita Maya tentang rumah jompo sangat mengganggu pikirannya. Bagi sebagian orang, menghabiskan usia tua di rumah jompo adalah hal biasa. Itu pula yang dilakukan oleh orang-orang di negara maju. Tapi, bagi ibu Anggit yang orang Jawa yang kental dengan budaya Jawanya, memikirkan rumah jompo pun tidak pernah. Hidup besama keluargalah yang utama. Tiba-tiba saja Anggit teringat Asih istrinya, anak-anaknya, dan juga ibunya. Tiba-tiba ia ingin segera pulang. Tiba-tiba pula ia menyadari bahwa ibunya benar. Asih, wanita pilihan ibunya itu kini terasa sangat ideal di matanya. "Asih aku kangen kamu," kata Anggit lirih, hampir tak terdengar. Bergegas Anggit pamit dan meninggalkan Maya yang berdiri tertegun tak mengerti. Tujuan Anggit hanya satu yaitu segera bertemu Asih istrinya. Asih, wanita ideal pilihan ibunya. (*)

Lilis Ummi Faiezah adalah Master of Arts lulusan Curtin University yang saat ini menjadi guru bahasa Inggris di MTs Negeri 6 Sleman. Cerita pendek ini dipublikasikan pertama kali di Harian Republika edisi 2 Agustus 2009.

Cerpen: Senyuman Manismu

Mei 27, 2018
Wallup.net
Oleh Yayuk Kurniawati
Guru MAN Batu, anggota Pergumapi

“Senyumanmu membuat hatiku terasa perih.”

Hampir tiap pagi aku selalu berpapasan denganmu, di sudut  jalan yang sama. Ketika dua mata kita saling beradu pandang, kau pun memberikan senyumanmu kepadaku.

Tapi, entah kenapa setelah menatapmu dan setiap mengingat senyumanmu, hatiku terasa perih. Dengan menarik nafas yang berat, dalam hati aku berkata,” Ya Allah, ya Rabb, kenapa harus terjadi seperti ini?”

Sore itu, aku berjalan-jalan ke luar rumah dan tanpa sengaja aku bertemu denganmu lagi. Kali ini penampilanmu berbeda. Kau mengenakan setelan baju dan topi berwarna merah, layaknya seorang pramugari. Kau berjalan dengan membawa payung merah muda. Seperti biasa, kau berikan senyuman manismu kepadaku. Lagi-lagi hatiku terasa perih melihat senyummu. Dan aku beristighfar, “Astaghfirullhaladzim, kenapa Ya Allah?”

Kali ini aku tidak menjumpaimu di sudut jalan yang sama, tempat di mana aku sering berpapasan denganmu. Hingga beberapa hari aku tidak menemukan senyuman manismu yang menyayat hatiku. Dan akhirnya aku mendapat kabar tentangmu dari ibu pemilik toko di mana kau sering membeli es krim. Ibu tersebut bercerita bahwa seminggu yang lalu kau tertabrak motor. Kala itu kau sedang asyik berjalan, larut dalam duniamu sendiri hingga kau tidak mendengar suara klakson motor  di belakangmu, dan akhirnya kau tertabrak. Karena peristiwa itu, kakak dan adikmu melarangmu untuk keluar rumah lagi. Untuk beberapa hari mereka menjagamu di rumah demi keselamatanmu, agar kau tidak mengembara dengan duniamu sendiri.

Ibu pemilik toko tersebut melanjutkan ceritanya bahwa waktu kau kecil dulu, hidup normal layaknya anak seusiamu. Hingga suatu saat ketika usiamu menjelang 5 tahun kau terserang demam yang sangat tinggi dan semenjak itu kau selalu bertingkah aneh, kau pun tidak betah untuk tinggal di rumah. Kau selalu berkelana keliling kampung mulai pagi sampai sore, berjalan menyusuri kampung dan tersenyum pada tiap orang yang kau temui di jalan. Hingga usiamu sekarang menjelang 50 tahun, yang seharusnya kau hidup normal dengan keluargamu, namun kau habiskan sisa waktumu untuk hidup berkelana dalam duniamu. Hatiku semakin perih mendengar cerita tentangmu. Sekali lagi aku beristighfar, “Astaghfirullahaladzim.”

Tetapi, untungnya, kau mempunyai kakak dan adik yang sayang kepadamu. Yang selalu telaten merawatmu. Kau selalu terlihat bersih dengan pakaian-pakaian yang bagus yang kau suka. Ketika sore datang menjelang, dengan sabar mereka akan mencarimu untuk memandikanmu.

Senyumanmu itu menyimpan sejuta rahasia, satu di antaranya rahasia Ilahi rabi. Allah berfirman dalam surat At Taubah 9:51, "Tidak sekali-kali akan menimpa Kami sesuatu pun melainkan apa yang telah ditetapkan Allah bagi kami. Dialah pelindung kami, dan (dengan kepercayaan itu) maka kepada Allah jugalah hendaknya orang yang beriman bertawakal.”  Kehadiranmu di dunia ini adalah sebuah pengingat bagiku untuk  menjadi hamba yang selalu beriman dan bertawakal kepada Allah. (*)

Cerpen: Tergoda

Mei 06, 2018
Merdeka.com
Dian Komalasari
Anggota Pergumapi

Bagaimana tidak akan tergoda, kulitnya yang putih sungguh mempesona. Bahkan, harum semerbak dirinya pun dapat membangkitkan selera. Siapa pun yang telah berhasil menggenggamnya dan berinteraksi dengannya akan merasakan kepuasan, terpenuhi hawa nafsu kebutuhannya.

Begitu juga dengan diriku, telah berhasil menjadi budak hawa nafsunya. Dan yang sungguh kusesalkan mengapa aku harus terpesona dan terperosok dalam buaian cintanya sejak diriku masih belum cukup umur. Dan aku pun berusaha menyembunyikan semua itu dari keluargaku. Saking begitu mencintainya sampai-sampai diriku seperti pecandu yang telah berada pada tahap kesakauan jika tidak bertemu dengan dirinya. Sungguh keadaan ini begitu menyiksa diriku. Namun apa daya diriku telah terkungkung dalam buaian cintanya.

Akhirnya Allah pun memberikan teguran dalam hidupku atas apa yang telah kuperbuat. Dan akhirnya aku pun harus terbaring selama lima hari di rumah sakit. Hari demi hari dokter pun terus mengevaluasi dan berusaha untuk mendiagnosis apa yang sebenarnya terjadi dalam tubuhku.

Aku pun muaranya memutuskan diri untuk berterus terang kepada dokter tentang apa yang telah terjadi pada diriku, dengan harapan dapat memudahkan dokter untuk menentukan diagnosis penyakitku dan aku terbebas darinya. Namun, jauh dari harapanku, seperti panggang jauh dari apinya. Setelah panjang lebar telah kupaparkan tentang apa yang terjadi dengan diriku, dokter pun tersenyum sinis dan tanpa basa basi dokter memvonis perbuatan yang sering kulakukan ini termasuk penyakit yang harus dihilangkan. Entah mengapa perkataan dokter pada waktu itu kurang menyentuh suasana batinku dan aku merasa kecewa dan terlecehkan.

Namun di akhir-akhir ini aku sering merenung, seandainya dokter tidak mengatakan aku berpenyakit pada saat itu, mungkin sampai detik  ini aku masih menjadi budaknya. Dan Alhamdulillah ini menjadi cambuk bagi diriku tuk meninggalkannya.

Sekarang aku berusaha untuk hidup senormal mungkin. Biarlah dia berlalu menjadi bagian dalam masa laluku. Aku harus berusaha dan terus berjuang membentengi diriku untuk tidak tergoda olehnya. Ya Allah, kuatkanlah dan lindungilah imanku tuk tidak tergoda olehnya. Dan aku pun berusaha untuk melupakan dan tidak berinteraksi dengan dirinya. Alhamdulillah dapat dikatakan aku sudah sembilan puluh persen terbebas darinya. Masih ada sepuluh persen lagi dia mempengaruhi hidupku. Ini terjadi terutama ketika di rumahku tidak ada siapa-siapa terutama anak sulungku. Mungkin karena memang imanku belum begitu kuat sehingga ketika tidak tersedia lagi nasi di rice cookerku, mau tidak mau aku harus membasuh tubuhnya dengan air dan mengelus-elus tubuhnya dan aku pun mulai tergoda walaupun hanya beberapa bulir saja. (*)

Cerpen: Ungkapan Cinta

April 22, 2018
www.ruangmuslimah.co
Oleh M. Nukman Hamid
MTsN 1 Yogyakarta, anggota Pergumapi

Seperti saat-saat sebelumnya, saban hari, sebelum berangkat kerja, Parjo pamit kepada Hida, istrinya. Dua atau tiga kalimat yang akan dibalas dengan satu kalimat: “Jaga diri bak-baik, Mas!” Lalu mengantarkan kepergiannya hingga depan pintu. Parjo menatap wajah dengan raut yang begitu manis.

Suami-istri itu membiasakan diri saling terbuka dalam berkomunikasi, termasuk dalam mengungkapkan isi hati. Mereka menanamkan pentingnya saling berbagi perhatian kepada pasangannya. Sebagai istri seorang pegawai, Hida menyadari kebersamaan dengan sang suami begitu terbatas. Paling tidak menjelang sore, ia baru bertemu lagi dengan pujaan hatinya. Belum lagi kalau ada tugas tambahan atau dinas luar, beberapa hari kemudian, baru bisa berjumpa. Hida sedih membayangkannya.

Hida belum beranjak dari tempatnya ketika Paimin, Ketua Pemuda, berteriak-teriak memanggil namanya.

“Bu Hida, Pak Parjo Bu.., Pak Parjo!” kata Paimin terengah-terengah.

Hida tercengang. Ia kaget. Tak mampu bertanya ada apa dengan suaminya. Gusar. Di puncak kegundahan hatinya, Paimin menjulurkan tangan. Menyerahkan lipatan kertas kecil titipan Pak Parjo. Hida menyambar lipatan itu. Segera mebacanya. Ia menangis terisak, lalu lari ke kamar mandi. Membiarkan Paimin terpaku di depan rumah. “Hida, istriku, tadi aku mencuci pakaian, tinggal diangkat dari pengering, maaf ya,” pesan Parjo yang dititipkan kepada Paimin. Tulisan singkat yang membuatnya terharu. Ia mendapatkan ungkapan cinta yang berbeda lagi dari suaminya. Meraut rasa baru di ruang hatinya. (*)

Cerpen: Sahabat Sejati

Maret 18, 2018
Babab.net
Oleh Siti Rohmiati

“HUH, benar-benar menyebalkan!” gumamku sambil menyambar tas hitamku yang ada di atas bangku sekolah. Ririn sahabatku dengan sedikit berlari membuntutiku dari belakang.

“Kamu itu kenapa sih Ir, kenapa jadi sewot begitu?” tanya Ririn sambil terus berjalan di belakangku.

Tanpa aku hiraukan pertanyaan dari Ririn aku terus saja berlalu menuju tempat parker di belakang sekolah. Kulaju  motorku dan kutinggalkan Ririn yang masih terbengong-bengong dengan sikapku.

Sesampainya di rumah, aku langsung mengunci diri di kamar. Hari ini aku benar-benar sebel. Bagaimana aku tidak sebel, aku, Irma yang terkenal paling cantik, paling pintar, dan paling kaya bisa dikalahkan oleh Zahra yang terkenal paling miskin di sekolah kami.

“Huh, Zahra cewek berkerudung itu mampu mengambil hati teman-temanku, tidak ada yang boleh mengalahkan aku!” gumamku

Beberapa hari ini nilai ulanganku selalu di bawah Zahra dan yang paling aku benci cowok-cowok di sekolahku mulai mendekati Zahra.

Tiba-tiba suara handphoneku berdering. Kulirik handphoneku dan Ririn yang menelfon. Dengan sedikit malas-malasan kuangkat juga telfon dari Ririn.

“Irma, kamu kenapa sich, tolong dong kalau kamu ada masalah cerita ke aku, jangan seperti anak kecil begitu,“ suara Ririn mengiba

“Bagaimana aku tidak sebel Rin, kamu tahu kan siapa aku, bagaimana teman-teman memandangku?” jawabku dengan sedikit emosi

“Iya aku tahu Ir, kamu murid yang paling cantik, paling pintar, paling kaya di kelas XI, terus kenapa kamu jadi sewot begitu?” tanya Ririn

“Rin, kamu tahu Zahra khan? akhir-akhir ini nilai ulangan Zahra selalu di atasku, kamu juga tahu tidak, lagaknya saja sok alim, sok mendakwahi teman-teman untuk sholatlah, pakai kerudunglah, dan yang terakhir ini aku lihat Zahra jalan bareng dengan Rinto cowok gebetanku, apa tidak sebel kalau kamu jadi aku?” jawabku berapi-api.

“Oalah itu to masalahnya, menurutku tidak ada yang perlu dibuat sebel, kalau memang ada teman kita yang lebih baik kenapa mesti sebel?” jawab Ririn seolah-olah membela Zahra

“O... jadi kamu juga membela Zahra, okey kalau begitu, mulai sekarang persahabatan kita putus,” jawabku sambil mematikan handphone.

*** 

Persahabatanku dengan Ririn bak jarak bumi dengan langit. Tak ada lagi kudengar tawa canda dari Ririn, tak ada lagi chatting dari Ririn. Sejak peristiwa  itu, aku berusaha menjauhi Ririn, meski Ririn selalu berusaha mengajakku ngomong atau tersenyum tapi aku berusaha pura-pura tidak menghiraukannya.

Sementara Zahra semakin naik daun di sekolah kami, diam-diam aku mengagumi gadis itu, dia memang cantik apalagi dengan balutan jilbab putih, tampak kelihatan anggun dan mempesona. Pantesan teman-teman banyak yang suka kepadanya, dia ramah, baik dan pintar.

“Irma, boleh aku duduk?” tiba-tiba ada suara mengagetkanku dari belakang.

“E..e..e boleh..” sedikit gugup aku menjawabnya. Ternyata suara Zahra yang telah mengagetkanku, diikuti Ririn di belakang Zahra.

“Irma, nanti sore kamu ada acara tidak?“ tanya Zahra lembut.

“Em… sepertinya tidak, memang ada apa ya?“ jawabku sinis

“Ntar sore kita mau ngadain kajian perdana khusus anak-anak kelas X, di mushola sekolah, kamu bisa datang kan?” sahut Ririn

“Gimana ya?” jawabku sedikit ragu

“Ayolah Ir, sekali ini saja, siapa tahu besok kita sudah tidak berjumpa lagi“ jawab Zahra

“Memang kamu mau kemana?” tanyaku penasaran

“Endak kemana-mana sih, cuman alangkah baiknya kalau kelas kita ngadain kajian rutin, dengan begitu kita akan semakin akrab antara satu dengan yang lainnya, di samping itu kita juga bisa menambah wawasan keagamaan kita,“ jawab Zahra penuh semangat.

“Emm.. bolehlah,“ jawabku mengiyakan.

Obrolan pun berlanjut, Zahra juga berusaha mempersatukan aku dengan Ririn agar kembali seperti dulu, menjadi sahabat dalam suka dan duka.

Diam-diam aku kagum dengan Zahra, padahal selama ini aku begitu membencinya. Dugaanku selama ini ternyata salah, Zahra begitu baik, mungkin selama ini aku terlalu sombong sehingga mengganggap remeh orang lain, dan takut di saingi. Padahal Zahra juga tidak bermaksud menyaingi aku.

***

Sore harinya dengan langkah kaki mantap aku bersiap mengikuti kajian di mushola sekolah. Bi Ginah yang melihatku keluar memakai kerudung tampak kaget memperhatikanku.

“Uih.. uih.. Non Irma cantik sekali, mau ke mana Non, kok tumben?” tanya Bi Ginah.

“Bi Ginah bisa saja, Irma mau ke sekolah Bi, ada kajian, tolong ntar Bi Ginah bilangin mama papa ya kalau sudah pulang,” jawabku sambil berlalu

Segera ku-starter motor kesayanganku dan segera aku meluncur menuju sekolah. Sesampainya di sekolah, teman-teman sudah banyak yang berkumpul, hanya Zahra yang belum kelihatan batang hidungnya.

Akhirnya kajian pun dimulai tanpa Zahra. Segera Mbak Puput, mantan kakak kelas, menyampaikan kajian.

“…Kenapa kita diwajibkan menutup aurat karena dengan menutup aurat di situlah Islam ingin menghormati wanita, wanita lebih terjaga dan tidak akan diganggu oleh laki-laki. Tapi ingat, menutup aurat yang benar adalah yang menutupi dada, pakaian yang tidak tembus pandang, tidak ketat, dan tidak menyerupai pakaian laki-laki.”

Mbak Puput menjelaskan dengan panjang lebar, sebelum akhirnya satpam datang dengan tergopoh-gopoh .

“Maaf, ada kabar dari keluarganya Zahra, kalau Zahra mengalami kecelakaan dan meninggal saat akan mengikuti kajian di mushola ini,“ kata pak satpam sambil bergetar.

Seluruh jamaah kajian tersentak, hening dan akhirnya tangis kami pun pecah. (*)

Siti Rohmiati adalah Guru BK MTs Negeri 1 Sleman serta anggota Perkumpulan Guru Madrasah Penulis (Pergumapi). Tulisan ini disiarkan pertama kali di Majalah Bakti edisi Januari-Februari 2018.

Cerpen: Transformasi Andini

Maret 11, 2018
Gofreedownload.net
Oleh Sri Rahmiyati

KISAH si elang sangat mempengaruhi hatinya. Burung besar yang bercakar dan bersayap kuat. Lambang ketegaran, kegagahan, keberanian dan ketajaman insting seolah menggambarkan dirinya. Ternyata punya episode untuk Transformasi 150 hari. Burung yang mampu bertahan hidup hingga 70 tahun. Ternyata di usia ke-40 tahun harus juga mengalami masa sulit. Cakarnya yang sanggup menyobek lawan mulai menua, paruhnya menjadi panjang dan membengkok hingga hampir menyentuh dada, sayapnya menjadi sangat berat karena bulu telah tumbuh lebat dan tebal. Kegagahan dan kekuatannya menjadi berkurang sangat drastis. Di saat-saat itu dia harus memutuskan menunggu kematian atau bertransformasi 150 hari.

Ah, batinnya mendesah. Transformasi seperti apakah yang akan kujalani? Andini bukan elang yang harus segera memutuskan menyepi di puncak gunung di tepi jurang. Dia juga tidak harus mematukkan paruhnya pada batu cadas agar paruh panjangnya terlepas. Bulunya tak harus dicabut, karena uban di kepala sudah mulai memutih.

Malam semakin larut, tapi matanya tidak terpejam juga. Sepi di sekeliling rumahnya sangat terasa. Gedung besar yang terdiri dari beberapa kamar, tampak lengang. Seperti biasa kedua anaknya belum pulang.

Bebebebeb... HPnya berbunyi. Sekilas dia melihat pesan WhatsApp masuk, Malam cantik, belum tidurkah?

Ah, Andini kembali menghela nafas panjang. Tak ada keinginan untuk menjawab.

Di kamar depan suara dengkur suaminya nyaring terdengar. Tak ada hasrat untuk mendekat. Sunyi hatinya.

Sudah tidur ya, selamat malam sayang....

Pesan yang masuk lagi hanya dibaca dan HPnya kembali diletakkan.

Transformasi 150 harinya si elang bisa mengubah nasibnya. Bagaimana dengan transformasiku. Mampukah kujalani semua hari-hari setelah ini?

Andini diam tepekur, wajahnya dingin. Pertarungan akal dan hati yang tidak pernah selesai dia jalani.

Dua puluh lima tahun sudah dia berumah tangga. Suaminya lelaki hebat menurut ukuran umum. Berpenghasilan tetap, setia, dan rajin beribadah.

Andini pun juga perempuan yang sukses menurut semua kerabat dan tetangganya. Cantik, kariernya bagus, dan istri idaman. Rumah tangga yang sempurna. Lalu apa yang kurang?

Itu yang selalu menjadi bahan pemikirannya. Namun, Andini ingin sekali memutuskan apa yang selama ini menari-nari di kepalanya.

“Andai Bunda sudah tidak kuat, kami ikhlas bunda pisah dengan ayah,” Gayatri anak sulungnya memeluk dari belakang, tadi pagi sebelum dia berangkat ke kantor.

“Apa yang Bunda pertahankan lagi? Kami sudah dewasa, bisa memahami kesedihan hati Bunda.” Lanjutnya.

Andini menatap dalam mata putri sulungnya. Sepi. Ada luka, namun luka yang tidak terbaca.

Keduanya terdiam. Lalu suasana pagi pun hening, sampai mereka terpisah karena harus berangkat ke tempat tugas masing-masing.

Beebebeb.... HPnya kembali berbunyi, Bund, Gayatri nginep di tempat Vina, pesan dari si sulung masuk.

Andini tidak berniat menjawab, dia tahu betul hati Gayatri sedang galau. Dia enggan pulang dan penyebab kegalauan Gayatri adalah pembicaraan tadi pagi.

“Assalamu’alaikum,” tiba-tiba terdengar suara memecah sepi.

Andini menengok ke arah suara. Satya anak lelakinya mendekat.

“Belum istirahat, Bund? Maaf tadi di kampus ada meeting,” tangan Satya terulur, meraih tangan Andini dan menciumnya. Andini menatap dan menarik seulas senyum.

“Sudah sholat, Nak?” Satya mengangguk.

“Makanlah, Bunda tadi memasak kare kesukaanmu,”

Satya menurut, langkahnya langsung menuju ke ruang makan.

“Bunda, ini sudah larut. Lebih baik bunda istirahat,”

Andini hanya tersenyum. Lalu masuk ke kamarnya, di sudut belakang.

Perkawinannya dengan Pram adalah jalanan panjang yang sudah dia tempuh. Melewati masa dua puluh lima tahun. Awal perkenalan yang tidak cukup manis. Pergaulan yang biasa saja tanpa ada letup-letup cinta seperti layaknya remaja. Keduanya aktivis kampus yang berbeda cara pandang terhadap sesuatu. Sering berdebat ramai hanya tentang satu masalah. Tidak disangka menyatu di bawah satu atap rumah. Membina kehidupan yang seharusnya bersendikan pada visi misi yang sama, pada landasan pemikiran yang kurang lebih sama. Menyelaraskan perbedaan untuk kebersamaan hidup bukanlah pekerjaan mudah.

Ketertarikan Pram, seperti yang pernah diungkapkannya, karena Andini adalah gadis yang berbeda. Cerdas namun bersahaja, tegas namun penyayang, kata-katanya sering tajam namun dibalut diksi yang santun. Banyak hal kontradiktif yang terlihat begitu menarik dalam diri Andini. Hal itu membuat Pram tergila-gila. Bahkan berani bertaruh dengan para sahabatnya demi memenangkan kompetisi di antara pemuja Andini di masa itu.

Andini menyadari itu semua. Dan jika dia menerima Pram bukanlah semata karena dia jatuh cinta.

Pram menempuh jalan menghadap orang tua Andini langsung karena dia memiliki informasi bagaimana ayah Andini memperlakukan putrinya. Urusan jodoh ada di tangan ayahnya. Andini gadis yang penurut, sama seperti semua kakaknya yang menikah atas keputusan ayahnya.

“Ayah dan ibumu tidak pernah kenal, tapi nyatanya kami langgeng menjalani pernikahan ini. Kamu tahu kenapa? Karena bagi kami menikah itu ibadah,” begitu penekanan ayahnya saat menerima lamaran keluarga Pram.

Prosesi sakral itu pun terjadi. Dua puluh lima tahun yang lalu saat usianya belum genap 25 tahun. Jaman Siti Nurbaya? Rasanya tidak, karena tidak ada paksaan.

Andini menjalaninya dengan sepenuh hati karena dia yakin waktu akan mengubah hatinya. Masa yang panjang akan membentuknya menjadi sebuah telaga bagi suami dan anak-anaknya. Hari demi hari dia relakan waktu berlalu bersama seluruh kesibukan keluarga kecilnya. Keikhlasan berbalut ketaatan pada imamnya membuat Andini lebih banyak diam. Apalagi setelah dia tahu sifat asli Pram yang tidak mau kalah atau mengalah.

Dulu sewaktu kuliah, Pram termasuk orang yang getol membela perempuan dengan segala haknya. Hak pendidikan, hak kehidupan yang layak dan hak mendapatkan perlindungan jasmani serta rohani. Namun, mengapa setahun dua tahun menjalani kehidupan bersamanya, Andini merasakan kering begini?

Andini seperti berjalan sendiri. Hidupnya laksana sebuah roundown kegiatan, terjadwal rapi tanpa berani mengubahnya. Tahun demi tahun berjalan, dua anak lahir dari perkawinan mereka. Si sulung yang keras dan si bungsu yang pendiam.

Kalau pun Andini berkarier setelah Satya bisa ditinggal, tentunya bukanlah kemauan Andini. Saat itu krisis ekonomi melanda rumah tangga mereka, setelah Pram ditipu rekan kerjanya. Pram frustasi dan tidak berhasrat untuk menghidupkan usahanya lagi. Hampir lima tahun mereka hidup dalam kondisi pas-pasan, nyaris kekurangan. Andini cancut taliwanda, dengan gerakan lincahnya dia kembali menghidupkan cahaya rumah yang hampir redup.

"Mengancam... tidak pernah menyenangkan," artikel yang menarik. Andini meraih majalah yang ada di depannya, tentang mengancam sebagai salah satu bentuk komunikasi yang buruk.

Andini membuang udara lewat hidung sebanyak-banyaknya. Dua puluh tahun dari dua puluh lima tahun hidupnya bersama Pram, tak lepas dari kalimat-kalimat ancaman. Pram sangat mudah sekali mengeluarkan kalimat-kalimat yang membuatnya tidak nyaman. Kamu perempuan yang tidak bisa ini, tidak bisa itu, kalau kamu begini akan begitu, kalau kamu tidak nurut akan durhaka, kalau kamu bla bla bla..aku masuk neraka... dan seterusnya.

Andini merasa sangat lelah dengan semua itu. Jika kemarin-kemarin dia mampu menahan demi rumah tangganya, demi anak-anaknya dan demi karier suaminya yang mulai naik kembali lalu melesat. Dia bersedia menangis dalam diam. Menghabiskan semua air matanya di sudut malam sampai fajar tiba.

Namun, apakah aku masih sekuat itu? Hatinya kembali berbisik.

Andini kembali membaca lubuk hatinya yang paling dalam. Hampa dan kosong. Mencoba membayangkan wajah lelaki yang pernah hinggap di hatinya tiga puluh tahun yang lalu pun, tidak menemukan apa-apa. Membayangkan Pram, perih terasa. Apa yang kau inginkan lagi dariku Pram? Jika semua yang kupunya sudah kau miliki. Setia, pengabdian dan tanggungjawabku yang tanpa batas.

Andini merasa semakin kehilangan. Hampa.

Si elang butuh waktu 150 hari untuk kembali kuat.

Sujud-sujud panjang yang dilaluinya dalam pasrah sudah lebih dari 150 hari. Dan, jika sejauh itu Andini belum merasakan hidupnya berubah, pada akhirnya Andini tak mampu memutuskan berapa lama dia harus menunggu transformasi 150 harinya. Gayatri dan Satya, memakunya untuk tetap memberi dan menghidupkan langkah. Hidup akan terus dijalaninya, meski dirinya selalu seperti elang yang harus memilih.

Sri Rahmiyati adalah Pengawas Madrasah Kementerian Agama Kabupaten Gunungkidul. Cerpen ini disiarkan pertama kali dalam antologi cerpen gender Bukan Perempuan bersama Forum Penulis Negeri Batu (FPNB-GK) Penerbit Elmatera. (*)

Cerpen: Pak Alex, Guruku Tersayang...

Maret 11, 2018
Palmettopromise.org
Oleh Rita Tiaswari 

MALAM itu aku tak dapat tidur, padahal besok pagi aku harus mempersiapkan PR matematika, apalagi guruku super galak, Pak Roni namanya. Entahlah... aku sebenarnya males melihatnya. Orangnya tidak bisa senyum, serius amat. Setiap kali pelajaran dimulai suasana tegang langsung terasa dikelasku. Ngeri… ngeri deh pokoknya!

Bagiku guru yang baik itu seperti Pak Alex, orangnya murah senyum ramah, perhatian, baik sama muridnya tidak pernah marah lagi. Pak Alex... andaikan saja aku juga punya ayah seperi dia alangkah bahagianya hidup ini.

Teng... teng... berbunyi dua belas kali, itu artinya sudah melewati tengah malam. Mendadak aku teringat pada foto postcard di meja belajarku. Di situ terlihat aku, kala itu kelas 1 SD. Aku dengan kedua orang tuaku. Itulah satu-satunya foto kenanganku kala itu, kenangan indah yang takkan terulang kembali.

Aku tak tahu persis kenapa saat itu orang tuaku berpisah, sampai akhirnya ayahku pulang kembali ke rumahnya di Magelang. Dan sejak saat itu pula aku tetap tinggal dengan ibuku dan juga nenekku di rumah ini.

Aku hanya merasakan sebuah kehilangan, Aku merasakan kesedihan yang luar biasa dan sebenarnya itu tetap kurasakan sampai sekarang ketika aku sudah duduk di kelas 2 sebuah SMP negeri dekat rumahku.

Oh ya, namaku Dewi Rahmawati, setiap kali aku merasa kesepian seperti ini aku pasti teringat masa kanak-kanakku yang indah. Ayah, ibu, dan aku sering pergi setiap hari Minggu, ke pusat perbelanjaan, ke Gembiraloka, maupun alun-alun.

Ibuku adalah seorang pekerja keras, aku tidak tahu persis apa pekerjaannya. Yang aku tahu dia sering membawa berbagai bentuk pernak-pernik perhiasan asesoris ke rumah untuk dititipkan para pedagang di pasar/toko terdekat. Baru aku tahu sekarang ibuku seorang distributor asesoris wanita.

Untuk urusan penampilan aku memang sudah terbiasa dengan itu, banyak sekali asesoris yang menjadi koleksiku anting-anting, bando, jepit-jepit indah.

Sedang ayahku waktu itu aku tidak tahu persis apa pekerjaannya, kadang ayah pulang bawa motor yang berbeda padahal minggu yang lalu dia bawa motor warna biru, tapi dua minggu atau satu bulan kemudian motor yang dibawa pulang sudah berbeda warna dan modelnya, ibuku bilang ayahku seorang makelar motor.

Ayahku, memang keras meskipun dia kadang juga baik padaku. Terkadang setiap kali pulang dari kerjanya yang tidak tentu dia langsung bercanda ria denganku, membawakankku oleh-oleh kue donat kesukaanku, tapi pada saat yang lain ayahku pulang agak siang tapi wajahnya tidak ramah, dan tidak langsung menyapaku tapi masuk kamar dan menutup pintu keras keras. Setiap kali situasi itu terjadi aku langsung takut dan  kadang kudengar samara-samar percakapan ayah dan ibuku dikamar, entah apa yang dibicarakan mereka. Sesaat kemudian ayahku sudah pergi lagi dengan naik motor dan ketika itu rasa penasaran menjalariku langsung kususul ibuku di kamar.

Aku tidak tahu kenapa kulihat mata ibuku memerah seolah habis menangis, setiap kali kutanya jawaban ibu selalu berubah-ubah kadang perutnya sakit, matanya sakit dan sebagainya. Tapi tampaknya itu hanyalah alasan saja, dia seperti membohongiku.

Pada suatu hari, aku duduk di bawah pohon, aku membawa boneka kesukaaanku, Barbie, pemberian ibuku. Dari jauh ada seseorang berjalan menuju ke arahku. Terlihat kedua tangannya membawa bungkusan, tampaknya kue donat kesukaanku.

Akhirnya seseorang itu berada dekat dihadapanku, ”Dewi, kenapa duduk sendirian di sini, mana orang tuamu?"

“Oh, aku menunggu ibuku, dia sedang ke toko seberang menitipkan barang.”

Lalu orang itu menjawab, ”Oh, begitu. Yah, udah aku temani."

Orang itu duduk di dekatku lalu kami berdua bercakap-cakap tentang banyak hal, tentang pelajaran sekolah, tentang hobi, tentang kehidupan keluargaku. Aneh sekali aku merasakan bahagia sekali bisa mengobrol dengan orang itu. Apalagi dia sangat lucu bisa membuatku terawa terbahak-bahak. Yah. karena dialah Pak Alex yang kebetulan lewat di tempat itu sedang membelikan donat untuk anaknya kebetulan dia melihatku dan menghampiriku.

Tak lama kemudian ibuku datang dan Pak Alex pergi, tentu saja aku dikasih donat kesekaaanku, senang sekali. Bungkusan donat itu kupegang erat-erat seolah sebuah hadiah untukku dan kulambaikan tangan sambil tersenyum begitu kami sudah berlalu. Daaa....

“Dewi, bangun!" tiba-tiba aku sadar. Ternyata aku hanya mimpi, mimpi yang sangat indah. Cepat-cepat aku bangun tidur untuk persiapan sekolah, hari ini hari Senin.

Ups..! hampir saja aku terlambat, lima menit lagi pintu gerbang sudah ditutup. Setiap Senin sekolahku 06.45 siswa sudah masuk halaman, kalau tidak mereka pasti akan kena tutup gerbang. Hari Senin ada upacara dan siswa yang terlambat pasti akan dijadikan satu dan disuruh berbaris tersendiri, menghadap barisan bapak ibu guru. Untung sampai sekarang pun aku belum pernah terlambat, malu….

Pagi itu yang jadi Pembina upacara adalah Pak Alex, aku tidak tahu apa yang dia bicarakan karena ketika kulihat dia yang terbayang adalah mimpiku yang indah semalam. Ketika dia memberiku kue donat persis yang kadang dibelikan ayahku. Aku senang sekali. Apalagi Pak Alex itu memang baik padaku dan tentu saja pada semua teman kecuali anak laki-laki yang bandel itu.

Nilai pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial pasti bagus-bagus. Pak Alex memang tidak pelit dalam memberi nilai, berbeda dengan guru yang lain. Mungkin karena itu pula rata-rata siswa menyukai Pak Alex.

Pak Alex juga orang yang terbuka. Dia selalu siap diajak berkonsultasi berbagi cerita bahkan dia tidak segan membagi nomor handphonenya 08572944050. Tapi, anehnya biasanya yang punya nomor Pak Alex hanyalah teman-teman cewek, yang teman cowok sepertinya hanya ada satu dua yang punya nomornya. Mereka pun jarang sekali ber-SMS atau bertelpon dengan Pak Alex.

Dari sekian siswa yang dekat dan sering ngobrol dengan pak Alex, mungkin akulah satu-satunya yang paling terlihat akrab dengan beliau itu. Tak jarang setiap kali pulang sekolah aku sengaja melewati ruangan tempat dia duduk untuk sekedar memastikan apakah guruku tersebut masih berada di sana.

Aku sendiri lupa bagaimana awalnya yang pasti hampir tiap hari aku selalu ber-SMS dengan beliau, hanya sekedar kalimat-kalimat yang bagi Pak Alex biasa saja tapi justru bagiku merupakan kalimat sakti yang mampu memicu semangat belajarku bahkan semangat hidupku tentu saja....

“Selamat siang Pak, Bapak ke mana aja sih? Jjam kosong."

Tidak kusangka pak Alex pun membalasnya, ”Ma'af bapak ada rapat sebentar dengan bapak kepala."

Dan dilain waktu aku pun SMS, ”Pak,,nanti sepulang sekolah saya boleh ketemu Bapak?" Jawaban Pak Alex tentu saja, silakan ke ruanganku.

Siang itu ketika bel sekolah sudah usai aku pun segera bergegas ke ruangan Pak Alex. Saat itu masih ada beberapa guru yang tak berapa lama kemudian sudah pulang. Suasana sekolah terlihat sepi, hanya Pak bon/tukang kebun kami yang masih asyik membersihkan ruangan.

Akhirnya semua mengalir begitu saja. Pak Alex sangat perhatian mendengarkan curhatku tentang rasa sepiku, tentang kerinduanku pada ayahku, tentang keluargaku dan tentang semuanya.

Tiba-tiba Pak Alex mengelus rambutku dan menenangkan hatiku tampaknya beliau sangat memahami apa yang kurasakan. Namun anehnya ada getaran halus dan mendebarkan ketika tangan itu kurasakan bagai membelai hatiku yang terasa kesepian. Aku seolah merasa damai di sampingnya. Aku menemukan sosok ayah yang kurindukan .

Dan tak berapa lama kemudian ketika hari telah mulai menunjukkan pukul 15:00 sore aku kemudian pamit. Sepanjang perjalanan hatiku serasa gembira .

Kini hari-hariku serasa indah. Setiap malam tiba aku selalu ditemani oleh bayang-bayang Pak Alex, guru idolaku. Hampir tiap jam Pak Alex selalu kunantikan. Semua sudah berjalan berbulan-bulan, aku seolah tak dapat lagi melalui hariku tanpa SMS maupun kata-kata Pak Alex yang sangat memicu semangatku.

Namun, pada suatu hari, di hari Senin itu aku sangat terkejut ketika di depan para peserta upacara Bapak Kepala Sekolah mengumumkan, bahwa sebentar lagi ada beberapa guru yang akan dipindahtugaskan ketempat yang baru. Dan aku sangat terkejut karena dari beberapa guru yang berjajar itu salah satunya Pak Alex.

Hari-hari selanjutnya aku serasa kehilangan sesuatu. Setiap kali pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial seolah aku tak lagi bersemangat seperti dahulu. Aku merasa telah kehilangan seorang guru yang selama ini membuatku bersemangat melewati hari-hariku. Aku telah kehilangan guruku tersayang. Pak Alex, meskipun kau bukan guruku lagi tapi kau tetap guruku. Sampai kapan pun semua nasihatmu akan selalu tertanam dalam hari-hariku.

Rita Tiaswari adalah guru MTs Negeri Sleman. Tulisan ini dimuat pertama kali di majalah Chandra 2008.

Cerpen: Amplop Biru

Maret 11, 2018
Freepik.com
M. Nukman Hamid
Anggota Pergumapi, Guru MTs Negeri 1 Yogyakarta

SEPERTI hari-hari sebelumnya, saat bel  istirahat berbunyi, aku segera bergegas keluar kelas. Satu tempat yang menjadi tujuanku sekaligus tempat favoritku, toilet. Ke sanalah maksud langkah gegasku. Tempat ini memang menjadi target pertamaku saat bel berdering. Aku tak mau ada teman lain yang mendahuluiku. Harus menunggu, dan itu membuang buang-waktu.

Baru setelah hajatku terpenuhi, kulanjutkan langkahku menuju tempat paling istimewa, ruang pojok perpustakaan sekolah. Aku selalu menyempatkan pergi ke perpustakaan. Di sana, aku bisa memilih-milih buku sepuasku lalu kubaca. Segera  kucatat hal yang menarik darinya dalam binder yang selalu kusiapkan. Aku menikmati rutinitasku ini. Sederhana saja alasanku mengapa aku bersemangat untuk ke perpustakaan, karena aku ingin mempunyai hidup yang lebih lama.

Bagaimana tak hidup lebih lama dan lebih panjang? “Siapapun ia, jika mempunyai hobi membaca dan menulis, maka otaknya tak mati.” Demikian kata-kata Pak Muel, Guru ku yang juga rajin membaca dan menulis, disela-sela pelajaran. “Jika otaknya tak mati, berarti ia terhindar dari kepikunan. Orang yang hidupnya terbebas dari kepikunan berarti ia lebih bisa menikmati dan memaknai hidup. Lihatlah karya para ulama, walaupun ia sudah tiada beratus-ratus tahun lalu, tapi buah hidup otaknya masih selalu dinikmati hingga generasi berikutnya,” lanjut Pak Muel penuh semangat. Dan kalimat dari beliau inilah yang mendasari alasanku menjadikan perpustakaan menjadi tempat paling  istimewa.

Namun hari ini, rutinitasku tak berjalan seperti biasa, ketika aku berjalan baru beberapa langkah dari pintu kelas, perhatianku teralih pada suara yang memanggil namaku. Aku sangat mengenal suara itu.

"Diman, kemarilah, menghadap Ibu sebentar!" panggil bu Lily. Beliau sering memanggilku menggunakan penggilan pendek itu. Padahal, namaku cukup keren dan penuh arti, Dinan Kayyiman. Entah dari mana asalnya, teman-teman dan guruku menjadikan “Diman” sebagai panggilanku. Aku enjoy saja dengan semua itu. Tak begitu penting.

Mendengar ada yang memanggil, aku menoleh ke arah sumber suara. Aku melihat Bu Lily bersandar disudut pintu ruang guru. Sepertinya Bu Lily sudah mengungguku agak lama. Aku segera mendekat. Berdesir hatiku ketika aku melihat amplop warna biru yang ada di tangannya.

Ada rasa khawatir sekaligus senang dengan amplop itu. Apa anggapan Bu Lily terhadapku? Apakah beliau akan mengira aku sedang menjalin sebuah hubungan? Apakah beliau akan menyidangku seperti teman-teman yang lain, yang berpacaran? Ahhh… biarlah, yang jelas aku tidak demikian!

Aku hafal dari siapa dan untuk siapa amplop biru itu. Benda itu adalah berisi tulisan-tulisan dari Tya, teman sekelasku yang pindah sekolah ke daerah asalnya, sebuah pulau nan jauh di sana dan tentu amplop itu ditujukan kepadaku.

Aku dan Tya sering berkirim tulisan, seminggu sekali bahkan. Aku suka menulis dan membaca, begitupun dengan Tya. Maka semenjak kepindahannya, kami sering bertukar tulisan agar tetap terjalin silaturrahmi dan sekaligus menjadi media menyuburkan dan menghidupkan otak kami. Selain itu juga karena kami mempunyai alasan yang sama yaitu “Pengamal Teori Muel”, sebutan kami untuk teori Pak Muel tentang “otak yang tak mati”.

Tya mengalamatkan amplopnya dengan alamat sekolah adalah suatu kesengajaan Sengaja agar cepat sampai tujuan. Biasanya, seminggu sekali aku selalu menengok keranjang yang berada di ruang TU, dan amplop itu tergeletak damai di sana. Tapi hari ini aku tak tenang, tanda tanyaku begitu besar, mengapa amplop itu tidak di keranjang? Tidak di kantor TU? Tetapi berada di tangan Bu Lily. Aduh... perasaanku mulai tidak enak. Malu.

Rasa damai yang biasanya muncul ketika berbicara dengan Bu Lily, hari ini tak ada. Berganti dengan rasa tidak nyaman.

"Bukan kok Bu, saya  bukan pacarnya dan saya tidak sedang surat-suratan," jawabku gugup, bahkan sebelum aku ditanya.

Beliau hanya tersenyum lalu menyerahkan amplop biru itu kepadaku dan berbicara pelan, “Suatu saat tak hanya Tya yang akan membaca,” lalu  tersenyum, membuatku makin salah tingkah, tak karuan.

Beliau memang salah satu guru yang cukup disegani siswa. Memiliki kepribadian yang menarik dan supel. Bahasa lisannya sama bagusnya dengan bahasa tulis. Menarik sekali. Mungkin itulah yang menyebabkan kami, para siswanya, merasa segan sekaligus dekat dengan beliau.

Setelah menerima amplop itu, aku segera pamit, aku tidak ingin ditanya-tanya Bu Lily dengan pertanyaan yang lebih banyak lagi tentang pacaran atau sejenisnya sebagaimana teman temanku. Aku tak ingin hal itu menimpaku.

Semenjak kejadian itu, aku menghindari bertemu dengan Bu Lily. Kubatasi interaksi dengan beliau bahkan saaat belajar di kelas. Dan sejak itu pula aku jarang berkirim tulisan dengan Tya. Hingga bertahun-tahun setelahnya, bahkan hingga aku selesai kuliah. Aku benar benar sudah tidak mengetahui kabar dan perkembangan keadaannya. Acuh dan tak berusaha mencari tahu. Kejadian tersebut sudah berlalu dan terkubur dalam. Sudah hanyut dalam gelombang kehidupan dan tersapu dari latar memori yang membentang. Lupa. Hanya takdir Sang Pencipta lah yang akan berbicara atas  ahwal yang berubah.

Dan tidak kusadari, kesibukanku sore ini diperhatikan oleh sesorang yang sudah berdiri di pintu. Aku dikejutkan oleh suara khas yang amat sangat ku kenal, memanggilku. Ada rasa yang menyisir hamparan hatiku. Tak seperti biasanya. Agak berdegup jantungku.

"Mas Diman, ada kiriman," aku menghentikan aktivitas membacaku. Aku menoleh ke sumber suara. Di sudut pintu ruanganku, telah berdiri sosok yang amat kukenal. Keibuan, berpenampilan menarik dan supel, Tya, ibu dari anak-anakku. Berdesir aku melihatnya. Teringat kejadian di sudut ruang guru bersama bu Lily. Desiran di dadaku semakin terasa mengiris manakala aku melihat amplop biru yang dibawanya.

Ia tersenyum. Aku membalas senyumnya. Kali ini aku bisa mengartikan senyumannya. Senyuman yang sudah sangat sering disunggingkan untukku. Untuk sebuah ekspresi rasa syukur. Seperti halnya sore ini, kudapatkan amplop biru yang sudah lama kunanti. Amplop dari seseorang yang beberapa waktu lalu telah menghubungiku untuk sebuah tulisan yang sebentar lagi akan bisa dibaca oleh banyak orang. Amplop biru yang menjadi simbol dari apresiasi jerih payah seorang penulis.

Segera kuraih tangannya, lalu kuajak ia untuk duduk bareng, mensyukuri nikmat yang kami peroleh sore ini. Kami tersenyum bahagia sembari berhamdalah atas nikmat yang kami terima.

Nikmat Tuhanmu manakah yang engkau dustakan? (*)

Cerpen: Rengsa

Maret 11, 2018
Pixabay.com
Oleh Ikha Mayashofa Arifiyanti

ABAI akan bayu yang mempermainkan helai rambutku, serupa abai akan hidup yang mempermainkan nasibku. Sudah biasa ragaku dihantam kenelangsaan takdir, maka kubiarkan deburan ombak menghantam tubuh rentaku yang kian getir. Nanar mataku menyapu pandang hamparan garis pantai di ujung sana. Dulu, tanaman bakau tumbuh subur di garis pantai itu, hampir seperti hutan. Namun, perubahan iklim dan ulah manusia menyebabkan ribuan hektar hutan bakau berubah fungsi. Entah ini suatu kemajuan, atau justru kemunduran pola pikir manusia yang praktis dan materialistis. Sekali lagi, entahlah. Terlebih abaiku sudah berasyik masyuk menguasai segenap pikir, mempengaruhi ragaku untuk sekadar bergerak, apalagi mencari tanya mengapa manusia kini semakin melupa. Dan terlupalah sosok rentaku yang rengsa oleh derita kerinduan. Padamu, Dedaraku. Maka, bacalah kisahku tentangmu, yang kutulis dengan tinta air mata dan kuhembuskan lewat udara.

Semua berawal dari pemuda kota yang sekadar singgah untuk berlibur. Menikmati hamparan pantai Moro, deburan ombak memecah karang, atau hanya menjadi pengamat dari aktivitas para nelayan di antara kapal-kapal kecil penangkap ikan. Begitulah orang kota menghibur diri mereka dari padatnya rutinitas kerja kantoran, dengan mengamati kami yang kerja kasaran. Ironisnya, tubuh mudaku tak luput dari sasaran pengamatan mereka. Dan pada suatu malam yang basah oleh derai rinai yang menebah, masa depanku terenggut paksa dengan cara nista. Dia, sang penista, sirna seiring terbitnya mentari di atas cakrawala.

“Aku akan membesarkan anak ini sendiri. Akan kuhidupi dengan keringatku sendiri. Jangan coba pisahkan aku dari bayi yang sembilan bulan kugauli dalam rahimku,” kataku dengan tegas waktu itu, menantang puluhan mata keluarga dan warga yang tak menghendakimu terlahir ke dunia, menantang nasib yang masih samar di depan sana. Demimu, aku siap menantang dunia, duhai Dedara.

Maka dengan berdiri di atas kaki sendiri, kulahirkan kau dan kuberi nama, Dedara. Rumah kayu kecil, mungkin tidak layak disebut rumah karena dulunya bekas kandang perahu rusak milik Lek Warso, kutempati dengan perabot sederhana lungsuran darinya. Ya, hanya Lek Warso, pak cilik, yang masih peduli padaku. Itu pun karena hutang budi karena rahasia perselingkuhannya dengan Yu Mukayah, istri Bos Dholi, juragan kapal yang mempekerjakannya, kututup rapat tanpa ada yang tahu.

Untuk bertahan hidup dan mengidupimu, kerja apa pun kulakukan. Terkadang, setiap Lek Warso pulang menyang, dia selalu menyisihkan sisa tangkapan ikannya padaku.

“Anakmu harus makan makanan yang bergizi, Min. Ini sisa menyang tadi. Masaklah ikan ini untuk anakmu. Jangan bilang bulekmu kalau paklik ke sini,” begitu pesannya sepulang menyang tadi siang.

Mungkin berkat ikan yang kau makan setiap harinya itu, badanmu tumbuh sehat dan otakmu kian pintar. Apa saja kau tanyakan dari celotehmu yang ceriwis dan tak bisa diam. Namun karena kepintaranmu itu pula, aku selalu kelu setiap kali harus menjawab pertanyaan yang sama darimu, tentang bapakmu.

“Bapakmu menyang ke laut yang paling jauh dan paling dalam,” begitu kataku selalu padamu.

“Lalu kapan Bapak pulang?” katamu lagi.

“Kalau kamu banyak tanya, Bapak tidak akan pulang. Semakin kamu tidak banyak tanya, rajin belajar, patuh pada Mamak, nanti Bapakmu akan pulang dengan sendirinya,” kataku, yang ternyata mampu membuatmu diam dan tidak bertanya lagi tentang Bapakmu, sampai sekarang.

Laju waktu membuat segalanya ikut melaju. Kau pun tumbuh menjadi gadis remaja nan ayu. Selepas SMA, kau pergi ke kota tinggalkan mamakmu ini dengan janji akan kembali. Dua bulan berselang kau pun pulang. Bahagiaku tak dapat terlukiskan.

“Mak, aku dapat majikan baik di kota. Aku kerja dengan pengusaha tembakau di kota Kretek. Ini gaji pertamaku buat Mamak,” katamu waktu itu seraya mengangsurkan uang dan kubalas dengan air mata berlinang. Rupanya, sore itu adalah sore terakhir kita bercengkerama, di atas lincak depan rumah kayu kita. Setelahnya, kau tak pernah pulang meski hanya berkirim kabar.

Kini, aku hanya mampu memagut bayangmu yang kulukis di atas langit Pantai Moro sambil membayangkanmu berada di atas salah satu kapal nelayan sembari melambaikan tangan. Deburan ombak melarung rinduku, bersama sejuta pengharapan yang kudendangkan dalam bait-bait sajak tentangmu.

Dedara…

tak kupinta periukku kau penuhi
dengan nasi pulen dari beras mahal orang gedongan
atas  keringat asam yang kucucurkan
menjadi sesuap aking yang garing dan tak mengenyangkan

Tak kuharap gubukku kau jejali
dengan pundi rupiah yang kau sodorkan hadap mukaku
sebagai balas jasa atas air susuku yang muncrat
dari puting kurus tak menggairahkan
di sebalik kutang kumal yang selalu kautarik mainkan

Tak  ingin pula kau sulap menjadi singgasana
lincak  tempat kita dulu bercengkerama
sebagai tumpuan bokong keriputku
yang kau sangka buatku nyaman dalam deraan penantian

Pun, tak kuhirau cakap orang
yang merajam gila dan berkelindan sempoyongan
hingga menohok kuping dan menggelangsar
sangka-mu melupa asal

Dedara…
Ketika mimpi kian meranggas
segenap tubuh rentaku pun mencadas
menguntai rindu yang memburu
menganyam harap yang meluap

Dedara...
entah berapa lama waktu kubungkam
agar tak berlari cepat mengalahkan kesabaran
tak jemu mendedah almanak usang di bilik kusam
menunggu dan selalu berharap kau pulang
sebelum ajalku datang menjelang 

Cerpen ini disiarkan pertama kali dalam antologi Selendang Mayang; Short Stories froum Around the World (2017), dikarang oleh Ikha Mayashofa Arifiyanti, S.Pd.,M.A., Sekretaris Bidang Kepenulisan Sastra pada Pergumapi.

Cerpen: Mbah Soma

Maret 11, 2018
Bogornews.com
Oleh Ayu Dewi Widowati

AKU kaget ketika bertemu kembali dengan Mbah Soma, seorang tukang kebun dan penjaga sekolah yang bekerja di SD Pelita Surabaya. Kala itu aku masih berstatus Guru Tidak Tetap (GTT). Meskli nampak tua dan renta, namun gurat-gurat kecantikannya masih nampak jelas. Pribadi yang murah senyum, berkuing langsat serta punya tahi lalat di dahinya itu hampir tak mengenaliku lagi.

"Saya Wati, Mbah..." kucium dan kupeluk dia erat-erat.

"O..o...o Bu Wati to....? Saya pangling, maaf ya, Bu...." begitu katanya.

Aku maklum kalau dia sudah lupa karena hampir lima belas tahun tidak bertemu. Sejak aku diangkat menjadi PNS dan mutasi ke Yogya tempat kelahiranku.

Ingatanku melayang ke beberapa tahun silam, kala aku masih mengajar di SD Pelita. Setelah mengikuti ujian tulis dan ujian praktik micro teaching, aku dan dua orang temanku diterima sebagai guru honor di SD itu.

Saat itu aku baru hamil tiga bulan anak pertamaku. Aku sering muntah-muntah, pusing, dan mual tak karuan, maklum itu pengalaman pertamaku. Tapi tetap aku paksakan mengajar meski kondisiku sangat lemah.

Karena setiap hari naik angkot, begitu sampai di sekolah biasanya aku ke kamar kecil dan muntaj-muntah sejadi-jadinya. Kadang aku merasa iri jika mendengar cerita teman-temanku yang saat hamil tidak merasakan mual dan muntah-muntah seperti aku ini. Kata orang Jawa, namanya ngebo alias ndablek apa-apa dimakan. Kalau aku boro-boro makan, bau nasi saja sudah mual-mual.

Dan Mbah Somalah yang sangat perhatian padaku. Dia begitu gemati dan sayang padaku. Dianggapnya aku sebagai anaknya sendiri. Setiap pagi, saat aku duduk di ruanganku, pasti Mbah Soma segera memberiku teh panas, kadang memesankan nasi soto di warung dekat sekolah, sambil berkata, ”Bu, tolong dipaksakan makan untuk janin yang dikandung Ibu, dia butuh asupan makanan.”

Aku pun terpaksa makan soto yang dipesankannya meski kemudian aku muntah-muntah lagi. Dan katanya, ”Ndak papa muntah lagi, yang penting sudah ada yang tertelan, jadi bayinya tidak ngiler, katanya sambil guyon.

Aku pun manut-manut saja. Kejadian itu berulang terus sampai beberapa bulann hingga usia kandunganku enam bulan dan aku sudah doyan makan apa-apa. Pernah Mbah Soma membawakanku dua buah mangga muda dan seikat rambutan yang katanya hasil panen kebun. Padahal, kutahu dari temanku bahwa Mbah Soma membeli buah itu di warung sayur di ujung gang masuk ke SD Pelita.

Terenyuh rasa hatiku mengingat peristiwa itu. Kini wanita yang baik itu duduk di hadapanku. Dia sudah sepuh, tapi jelas kecantikan hatinya nampak di raut wajahnya. Aku jadi merasa malu karena kadang-kadang aku marah-marah dan ngomel pada anak-anakku yang membuat berisik atau menggodaku. Aku teringat kasih sayang dan ketulusan Mbah Soma kepadaku meskipun aku bukan anak kandungnya sendiri. Wanita desa bersahaja itu telah menyadarkanku.

”Bu Wati, saya pulang dulu, ya... cucu saya sudah menjemput,” katanya membuyarkan lamunanku.

Segera aku salami dia dan tak lupa ku selipkan sebagian uang gajiku untunya. Ya Mbah Soma, monggo... monggo selamat jalan ya....”

Dalam hati aku berdoa semoga Mbah Soma selalu sehat dan mendapat perlindungan dari-Nya. Amin. (*)

Ayu Dewi Widowati adalah Guru MTs Negeri 1 Yogyakarta, Pengurus Pergumapi. Tulisan ini disiarkan pertama di Majalah Candra edisi 6/XXXIX/2009.

Cerpen: Kau Telah Berubah

Maret 04, 2018
Missmuslim.nyc
M. Nukman Hamid
Anggota Pergumapi, Guru MTs Negeri 1 Yogyakarta

SORE itu langit cerah. Terlihat biru merekah. Sinar matahari sore mulai tersipu memerah. Angin persawahan berhembus sepoi saat aku dan mas Luki melintas jalan aspal dipingirnya. Kami menikmati suasana ini dengan ngobrol santai. Sesekali  kami cekikikan karena ada hal lucu yang keluar dari obrolan kami.

“Belok kiri, Mas!” ujarku pada suamiku, Mas Luki, yang tidak konsentrsi dengan jalan yang kami lewati. Selain tidak tahu jalan, ia  juga belum hafal medan. Agak kaget mas Luki dengan teguranku yang medadak. Untunglah ia sigap menguasai sepeda motor matic yang kami kendarai.

“Kita mau kemana to Din?” tanya Mas Luki penasaran dengan logat jawanya yang kental. Aku sengaja tidak memberi tahu tujuan kami jalan-jalan sore ini. Aku hanya bilang padanya untuk mengantarkanku jalan-jalan. Tujuan, dan rute jalan seratus persen aku yang tahu dan ia sengaja tak kuberitahu.

“Rahasia!” jawabku sambil mengeratkan pelukanku di pinggangnya sambil menempelkan kepalaku di punggungnya. Senang rasanya hatiku sore hari ini. Aku merasa akulah wanita yang paling beruntung di dunia ini. Aku punya suami yang pengertian, penuh kasih dan sabar. Tidak pernah ku dapati darinya kata-kata bernada tinggi apalagi kasar, yang keluar dari mulutnya. Walaupun ia sedang kesal denganku.

Kalau ia sedang marah, ia hanya diam. Aku sering dibuatnya malu jika kami sedang bersebrangan ide atau bersitegang. Aku sering dibuatnya sadar dengan sendirinya. Pernah suatu ketika aku bertanya tentang sikap diamnya saat marah, ia menjawab bahwa marah itu bisa menular. Cara menghindarinya hanya ada dua. Pertama  dengan segera menyingkir dan menjauh dari orang yang sedang marah-marah dan yang kedua, jika kuat, dengan cara diam namun selalu zikir atau baca sholawat.

Aku sering mencoba mempraktikkan tips ini pada diriku. Susah banget awalnya. Namun lama kelaman berkurang rasa susah itu. Misalnya saja saat aku merasa jengkel dengan polah tingkah anak anakku, aku beusaha maksimal untuk tidak segera marah. Menghindari kata-kata kasar. Aku menahannya dengan cara diam terebih dahulu. Sambil menyingkir, aku ambil air wudhu. Baru setelah mulai reda, kudatangi dan kudekap anak-anakku dan berbicara dengan mereka dengan hati.

Seperti halnya sore ini, kudekap suamiku erat-erat, karena ada rasa pada diriku. Rasa yang sulit aku terjemahkan.  Dekapanku seperti luapan segala rasa yang sesak di dadaku. Walaupun jalan yang kami lewati penuh dengn lubang, aku merasa nyaman.

Aku merasakan semilir angin sawah menambah suasana hatiku makin luluh terenyuh oleh sebuah rasa pada mas Luki.

“Auuuhhhh..!” teriakku. Aku terkejut karena motor yang kami tumpangi menabak sebuah lubang jalan yang cukup dalam. Membuyarkan lamunanku. Refleks, kueratkan dekapanku di pingang Mas Luki.

Kami tertawa bersama.

“Maaf, Din, sengaja kali..!” kalimat suamiku sambil tertawa renyah. Aku geblek geblek punggungya dengan telapak kiriku sambil manyun-manyun sayang.

“Awas, Mas, depan belok kanan, pertigaan yang ada kuburannya,” instruksiku pada Mas Luki. Ia mengikuti aba-abaku. Sejauh ini Mas Luki masih belum tahu tujuan yang kami tuju. Ia masih telihat biasa-biasa saja tak ada raut penasaran di wajahnya. Ia tetap tenang. Ketenangan dalam besikap inilah yang selalu membuatku selalu sayang sama Mas Luki. Aku selalu tertantang untuk menaklukan hatinya.

Setelah melewati kuburan dan beberapa jalan berkelok, sampailah kami pada sebuah perkampungan. Di sinilah tujuanku jalan-jalan. Aku merencanakan bertemu dengan teman bisnisku, aku belum pernah bertemu sebelumnya. Kami berkomunikasi dan berinteraksi melalui media sosial. Kami bertransaksi secara online. Kami berkenalan dan semakin hari pertemanan kami semakin dekat, hingga kami sering curhat di media tersebut. Dari curhatan-curhatan itu, aku tahu bahwa teman bisnisku ini, dulu adalah teman dekatnya suamiku. Partner suamiku dalam setiap kegiatan OSIS di SMA-nya. Mereka sama-sama anggota OSIS. Walaupn beda tingkat, namun mereka akrab dan dekat. Tidak jarang mereka dapat ledekan dari teman lain karena kedekatannya.

Aku tahu semua itu dari cerita teman bisnisku ini. Ia tak tahu kalau orang yang ia ceritakan itu sekarang menjadi suamiku. Kesimpulanku, dulu ia menaruh rasa simpati terhadap Mas Luki. Ada cemburu di hatiku. Aku takut kehilangan Mas luki. Aku tak siap untuk berpisah dengannya. Aku  tak kuasa ditinggalkannya.

Pikiran buruk seperti itu terus menggelayuti benakku saat itu. Bahkan hingga sore ini. Tapi aku bulatkan tekad, kutenangkan hatiku. Aku diam-diam merencanakan bertemu dengan teman bisnisku sekaligus teman SMA suamiku. Kusiap-siapkan diriku terhadap apa yang akan kulihat dari pertemuan mereka.

Sebenarnya aku takut, tapi aku juga ingin tahu apa yang akan tejadi. Kadang aku merasa bersalah dengan rencanaku ini. Tapi biarlah. Aku hanya ingin membuktikan dugaan perasaanku, cemburu.

“Kanan jalan berhenti, Mas. Masuk di pekarangan yang ada mobil merah itu Mas," instruksiku sama Mas Luki. Aku tahu lokasi rumah temanku ini melalui maps yang dikirimkan temanku beberapa hari lalu. Kepelajari betul arah dan lokasinya. Hingga aku benar-benar hafal dan bisa memetakanya dalam kepalaku. Tak kukabari temanku sebelumnya. Aku ingin diriya surprise.

Kami turun dan masuk pekarangan rumahnya. Halamannya luas. Ada pohon rambutan besar yang merindangi halaman itu. Kami menikmati suasana perkampungan yang damai. Tak banyak kebisingan.

Kami berjalan masuk medekati rumah.

“Haiiiii, Mbak Dina!” tiba tiba ada suara yang memanggilku. Kami menghentikan langkah. Dan muncullah temanku dari samping rumah. Bersama suami dan dua anaknya. Sedang menyapu rupanya. Di tangan mereka masih tergenggam sapu dan serok sampah. Aku dihampiri, disalami, dan dipersilakannya duduk. Sepertinya temanku belum menyadari dengan siapa aku datang. Setelah kami duduk, barulah ia mulai sadar. Ia melihat ke arah Mas Luki. Sambil menunjuk dengan jari telunjuknya ia bilang dengan suara tercekat ditenggorokan, “Ini mas Luki? Benarkan?” kuperhatikan pertunjukan ini. Kunikmati suasana ini. Dag dig dug dadaku. Was-was hatiku dengan apa yang akan terjadi selanjutnya. Aku mulai merasakan cemburu datang menghampiri. Tapi aku masih bisa menguasai diri. Aku diam.

Mas Luki tersenyum, ia terlihat tenang. Tidak menampakkan keterkejutannya sebagaimana temanku, Mbak Mida. “Iya, aku Luki kakak kelasmu di SMA, agak lupa ya Da?" jawab suamiku mencairkan ekspresi Mbak Mida yang surprise.

Tak lama kemudian, berlangsunglah percakapan yang hangat dan renyah. Maklumlah dua teman yang sudah bertahun-tahun tak bertemu, tiba-tiba  berjumpa dengan ketidaksengajaan. Kebayang, kan, bagaimana renyahnya percakapan dan perbincangan mereka?

Yang kutakutkan terjadi. Aku hampir tak bisa menguasai diri, aku terbakar api cemburu. Cemburu karena aku sudah punya prasangka bahwa dulu mereka pernah ada rasa, juga cemburu karena aku sekarang tak kuasa mendengar percakapan dan melihat tatapan mata Mbak Mida yang berbinar-binar. Hatiku panas, dadaku mulai sesak.

Walaupun aku tak yakin seratus persen tentang kebenaran dugaanku, aku tetap cemburu. Sesekali saja aku memotong percakapan mereka. Aku selesiakan bicara bisnisku dengan mlMbak Mida lalu membiarkan mereka melanjutkan perbincangan hingga beberapa saat sampai akhirnya aku mengajak Mas Luki pamit. Kami pulang.

Aku tetap berusaha menguasai perasaanku. Mas Luki tetap tenang. Aku selalu mencoba menggodanya tentang Mbak Mida. Namun lagi-lagi mas Luki menjawabnya dengan tenang dan senyum senyum saja. Senyum yang kuartikan dengan berjuta makna.

Sehari setelah pertemuaku dengan Mbak Mida, kusempatkan aku mengirim pesan padanya.

“Hai, kemaren terkejut, ya?” tanyaku

“Iya, Mbak Dina, surprise buatku. Seneng banget aku!” balasnya. Mak Jleeb di dadaku. Berkaca-kaca aku mebacanya. Cemburuku makin membara.

“Senengnya ketemu mantan?” tanyaku berikutnya, benada menggoda.

“Ya senenglah Mbak, tapi bener kok, Mas Luki itu bukan mantan, ia bagiku sudah seperti kakak atau saudara, Mbak,” jawabnya

“Mengakui sajalah Mbak Mida. Gak apa-apa kok,” sanggahku pada Mbak Mida dengan perasaan yang penuh emosi. Aku mulai jengkel dan marah.

Lama ia tak mebalas pesanku. Mungkin ia merasakan gejolak yang tejadi padaku. Aku menunggu balasanya. Dan barulah menjelang tengah hari, ia mengirimkan pesan lagi.

“Maaf, ya Mbak Dina, mungkin ada dari perilakuku yang tak berkenan," pesan Mbak Mida. Segera kubalas, “Nggak papa, bisnis tetap bisns, kawan tetap kawan."

Aku letakkan smartphoneku, aku terisak. Cukup lama. Hingga Mas Luki masuk kamardl dan mendapatiku terisak.

Ia rengku pundakku. Ia memelukku dan mengecup keningku, “Ada apa, Din?” tanya Mas Luki.

Aku diam tak menjawab. Ditanya lagi dan lagi, aku tak menjawab. Hanya pelukanku saja yang makin kueratkan.

Ia tak tanya lagi. Ia mengeratkan pelukannya. Kami berpelukan cukup lama. Hingga aku mereda dalam isakku. Tapi, aku tetap diam. Bahkan dihari berikutnya, setiap aku bertemu Mas Luki, aku tak kuasa. Maka aku meyingkir dulu. Aku megambil air wudhu dan aku menghampirinya.

Ini terjadi beberapa hari hingga hari ketiga. Setelah isya, ketka aku menyiapkan tempat tidur, Mas Luki yag sedang duduk d iruang baca membuka smatphoneku. Dan ia tersenyum padaku. Aku tahu pasti ia membaca chatku dengan Mbak Mida. Aku lari menghambukan diri kepadanya. Aku terisak lagi, “Aku cemuru, Mas. Aku cemburu dengan Mbak Mida. Aku takut Mas Luki meninggalkanku,” kalimat yamg keluar tak jelas di tengah isak tangisku.

Mas Luki membimbingku ke tempat tidur untuk lebih tenang. Ia mempererat pelukannya. Dan aku makin menjadi dengan luapan emosiku. Campuran antara cemburu dan marah. Ia tenang, tak banyak bicara. Namun, pelukannya makin erat dan makin menghangat. Air mataku sudah tak terbendung,  Hangat mengalir di pipiku. Aku terisak dalam dekapannya.

“Aku cemburu, Mas. Aku marah. Dan aku tak kuasa melampiaskan amarahku, Mas”. Kalimatku sambil terus terisak-isak.

“Kau telah berubah, Din. Kau telah berubah!”

Aku terkejut dengan kalimat Mas Luki. Kalimat itu terucap dari mulutnya sambil tiba-tiba melepas pelukannya yang kurasakan mendamaikan. Aku terkejaut. Aku lihat raut muka Mas Luki sudah tak setenang biasanya. Aku khawatir. Aku takut Mas Luki  berubah. Aku takut Mas Luki akan meninggalkanku.

“Maaf, Mas Luki, maafkan aku. Jangan tinggalkan aku, Mas," aku mengiba.

Mas Luki menatapku tajam. Ia memegang pundakku erat erat. Aku tertunduk. Isak tangisku makin dalam. Cukup  lama Suasana ini menggelayuti kami. Hingga akhirnya Mas Luki bersuara.

 “Kau telah berubah, Din. Kau telah berubah!”

Kalimat Mas Luki dengan nada yang berat. Aku makin kaget. Pikiranku tak menentu. Aku makin takut, ketakutanku akan terjadi. Mas Luki mengulangi kalimatnya. Sambil membisikkan di telingaku.

“Kau telah berubah, Din. Kau sudah tak seperti dulu. Kau dulu, setiap kali marah,  meluap-luap, tak bisa menahan amarah. Dan sekarang, beberapa hari ini, aku tahu kau telah berubah. Kau  bisa menahan amarahmu. Aku sadar, kau marah bererapa hari ini. Kau mungkin cemburu dengan Mida. Tapi kau bisa menahan amarahmu. Kau telah berubah."

Lega hatiku mendengarkan kalimat Mas Luki, aku kira ia marah, dan akan menjadi pertengkaran. Tapi ternyata tidak. Ia tetap tenang. Menghangatkan dan menenangkan perasaanku. Kubaringkan tubuhku, kusandarkan kepalaku di dadanya. Masih terisak sesekali. Ia membelai-belai kepalaku. Damai terasa. Aku senang aku telah berubah dan ia tak berubah. Tak terasa mataku mulai terlelap. Hingga suara kruyuk ayam jantan membangunkan tidur kami. (*)