Tampilkan postingan dengan label Sastra. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sastra. Tampilkan semua postingan

Sajak Sang Lelaki Perindu 2

Desember 08, 2018
Dogheadsecrets.files.wordpress.com
Oleh Kasmawati Yakub 

Tak perlu sesali pertemuan senja
Sebab skenario-NYA tertulis rapi
Kita tak punya  banyak waktu
Tuk mengeja firasat
Apatah lagi menunggu beberapa jenak
Aku sudah bertuan

Cukuplah…
Kita menelaah keadaan
Menimang kenangan dalam ingatan
Walau desah,
Di muara rindumu
Selalu ada potongan jiwa yang mengadu

Ah…
Engkau lelaki perindu
Terus saja bersajak tanpa lelah
“Seharusnya …
Aku tak bertemu hujan
Karena aku rindu pada cahaya
Seharusnya…
Aku jujur saja
Jika rindu itu menunjuk senyummu pagi ini”
Demikian kicauan pagimu  menembus  dinginnya  maya hingga turatea

Jeneponto, 15 November 2018

Kasmawati Yakub adalah Kepala MTs Al-Falah Arungkeke Jeneponto serta Anggota dan Pengurus Pergumapi. Puisi ini adalah bagian kedua dari dua puisi berjudul "Sajak Sang Lelaki Perindu". Bagian pertama dapat dibaca di sini.

Cerpen: Sarno

Rina harwati Desember 02, 2018

SIANG yang sangat terik itu Sarno duduk termenung di kursi becaknya yang mulai sobek-sobek di beberapa tempat. Digeser duduknya di bagian pinggir kursi, sehingga ia bisa sedikit menyandarkan kepalanya di tiang besi keras penyangga atap becaknya. Sejak pagi ia menunggu datangnya penumpang yang mau menggunakan jasanya mengemudi becak. Namun, hingga matahari tepat menyengat ubun-ubunnya, tak satu pun penumpang datang menyambanginya.

Sarno merasa siang itu sungguh terik. Matahari tak sedikit pun mau berkompromi dengannya yang sedang menjalankan ibadah puasa. Bahkan, Sarno merasa sang surya memancar lebih garang dari biasanya, padahal perut Sarno hanya diisi makanan ala kadarnya sahur tadi. Dibekali tanggung jawabnya sebagai kepala keluarga, Sarno tetap menarik becak walaupun ia sedang berpuasa. Didengarnya azan Zhuhur memanggil-manggil umatnya untuk datang berserah pada Sang Kuasa.

“Shalat dulu. Semoga sehabis shalat ada rezeki yang datang padaku,” batin Sarno berharap. Ia segera turun dari becaknya dan menuju masjid yang hanya berjarak seratus meter dari tempatnya mangkal. Dilihatnya beberapa temannya sesama pengemudi becak tertidur pulas di dalam becaknya. Hanya Darmin yang masih terjaga dan duduk dalam becaknya. Ia mengipasi lehernya dengan topinya yang telah usang.

“Mau shalat, No. Ya, sana. Jangan lupa doain aku biar dapat rezeki yang banyak,” Darmin menyapa Sarno seenaknya. Sarno hanya tersenyum dan berlalu. “Kenapa nggak berdoa sendiri saja,” batin Sarno.

Selesai shalat, kembali Sarno duduk di dalam becaknya untuk menunggu penumpang. Ditengoknya teman-temannya masih tertidur juga. Darmin pun ikut pulas. Sejenak Sarno terdiam.

Dihelanya napas panjang beberapa kali untuk melapangkan dadanya yang sesak. Hatinya galau memikirkan nasibnya yang tak kunjung berubah. Sudah tiga kali ini ia berganti pekerjaan. Namun, keberuntungan belum juga berpihak padanya. Ia pernah bekerja sebagai kuli bangunan.

Namun, banyaknya tenaga terdidik membuatnya tersingkir dari pekerjaan. Dicobanya pula menjadi kuli angkut di terminal, namun ia tak tahan karena hasil yang diperolehnya harus ia serahkan separuh pada sang penguasa pasar yang setiap harinya hanya duduk-duduk mengawasi para kuli bekerja keras. Mereka tak peduli walaupun penghasilan para kuli tersebut tak seberapa dibandingkan tenaga yang mereka keluarkan.

Menjadi tukang becak menjadi harapan terakhir Sarno untuk menggantungkan hidupnya dan keluarganya. Walaupun hasilnya sedikit, namun ia tak perlu menyetorkan hasil becaknya pada siapa pun. Ia hanya perlu menyisihkan sebagian hasil becaknya untuk mencicil pembelian becak yang belum lunas. Toh becak itu akan menjadi miliknya sepenuhnya bila telah lunas nanti. Tak terasa kantuk mulai menyerang daya tahannya. Sarno tak mampu lagi bertahan hingga ia tak sadar telah tertidur pulas di dalam becaknya.

“Pak … pak… pak becak,” terdengar sayup-sayup orang berbicara agak keras di depannya. Di antara tidur dan bangunnya Sarno merasa tempat yang ia duduki bergoyang-goyang pelan. Sontak ia terbangun. Ia agak terkejut ketika didapatinya sesosok ibu-ibu gemuk tengah berdiri di hadapannya sambil menggoyang-goyangkan becaknya.

“Kok pada tidur semua nih gimana? Mau cari rezeki nggak sih,” kata wanita gemuk tersebut sinis. Peluh bercucuran di wajah dan lehernya yang berlipat-lipat banyak lemak. Di depannya teronggok dua tas besar entah isinya.

“Maaf, Bu, lagi puasa,” jawab Sarno sopan. Ia segera turun dari becaknya.

“Pasar Manis sepuluh ribu ya. Biasa,” kata ibu gemuk itu singkat namun masih menunjukkan wajahnya yang tidak ramah.

“Yah, tambahin dong, Bu, kan jauh. Biasanya lima belas kok,” Sarno meminta tambahan harga pada ibu tersebut. Namun bukan anggukan yang ia dapatkan justru omelan panjang lebar khas ibu-ibu pelit.

“Ya sudah kalau nggak mau. Masih banyak yang mau dengan duit segitu,” katanya lebih ketus sambil beranjak dari tempatnya. Dalam hati Sarno mengeluh, namun berhubung sejak pagi ia belum menendapatkan sedikit pun penghasilan akhirnya ia menyanggupi untuk mengantarkan ibu dengan upah sepuluh ribu rupiah.

“Nah gitu. Udah biasa kok,” ibu itu berbicara lagi sambil bersiap naik ke becak Sarno. Tubuhnya yang gempal membuatnya kesulitan menaiki becak Sarno. Sarno membantunya dengan sedikit menjungkitkan becaknya ke depan. Dengan begitu bagian depan becak menjadi rendah dan ibu tersebut dapat menaiki becaknya dengan mudah. Sarno membantu menaikkan dua tas besar dan berat di depan kaki ibu gemuk tersebut. Kini becak Sarno menjadi penuh sesak.

Sarno mulai mengayuh becak tersebut. Terlihat ia kepayahan dengan beban yang mahaberat dan kondisi perutnya yang lapar. Demi keluarganya, ia bertekad mengayuh becaknya kuat-kuat membawa ibu gemuk tersebut sampai tujuan. Tak terkira peluh keluar dari pori-pori kulitnya yang hitam legam. Tenggorokannya terasa kering namun Sarno tetap bertahan. Tekadnya hanya satu, yaitu mencari rezeki untuk anak dan istrinya di rumah.

Sambil menarik becak, terbayang jelas wajah istri dan kedua anaknya di rumah. Terbayang pula di benaknya ia harus mencari uang tambahan untuk diberikan pada istrinya menjelang hari raya nanti. Lebaran semakin dekat, namun ia belum mempunyai persiapan apa pun untuk menyambutnya. Di benaknya terbayang anaka-naknya yang merengek meminta baju baru atau istrinya yang sedih karena tidak dapat membeli kue-kue sederhana khas Lebaran. Semakin jelas gambaran-gambaran itu di benaknya, semakin ia bersemangat mengayuh becaknya. Ia berharap, semoga ibu gemuk tersebut menjadi pembuka jalan masuknya rezeki pada hari ini.

***

Sarno yang kelelahan kembali duduk di kursi becaknya. Diluruskannya kakinya dan disandarkan kepalanya di jeruji penyangga atap becaknya agar lelah yang menderanya segera pergi. Tanpa terasa pikirannya mengembara ke masa Lebaran lalu yang dilewatinya dengan hampa. Jangankan lontong opor khas Lebaran, sekadar kue-kue sederhana pun ia tak mampu membelinya. Untunglah Watik istrinya sangat memaklumi keadaannya, sehingga ia tak banyak menuntut.
Untuk membelikan baju bekas anaknya pun Watik terpaksa berutang kanan-kiri.

Tahun ini ia berharap mendapatkan rezeki lebih untuk merayakan hari raya bersama anak dan istrinya. Sebenarnya Sarno berharap anak sulungnya yang bekerja sebagai TKW di Arab Saudi pulang walaupun untuk beberapa saat saja.
Samtri sudah bekerja sebagai TKW selama lima tahun. Selama itu pula ia tak pernah pulang mengunjungi keluarganya. Bahkan, Sarno tidak tahu kabar mengenai putrinya itu. Dalam hati ia ingin menanyakan keadaan putri sulungnya tersebut pada agen yang dulu memberangkatkannya, namun agen tersebut telah pindah tempat dan ia tak tahu ke mana lagi harus menanyakan keadaan putrinya. Ditahannya rasa kangennya sampai lima tahun ini. Ia hanya berharap Samtri dalam keadaan baik-baik saja. Dadanya perih bila ia melihat berita TV tentang banyaknya penyiksaan terhadap TKW. Watik, istrinya pun selalu menitikkan air mata bila mengingat putri sulungnya Samtri. Tapi, ia tak bisa berbuat apa-apa.

Waktu semakin beranjak petang, namun belum ada lagi orang datang meminta jasa becaknya. “Ah, apa yang akan kuberikan pada istriku nanti?” batinnya sedih. Ia memutuskan untuk pulang saja bila waktu Maghrib datang. Namun, ia masih berharap untuk mendapatkan pelanggan lagi sebelum Maghrib. Sudah dua hari ini ia tak mampu mencicil becaknya karena penghasilannya sangat minim. Beruntunglah Haji Ahim juragan yang baik hati itu mau memaklumi keadaannya. Namun, ia merasa tak enak hati juga.

Dari jarak tak begitu jauh dilihatnya seseorang berjalan ke arahnya. “Semoga ini rezekiku,” batinnya sungguh berharap. Ia bersiap-siap turun dari becaknya ketika seseorang tersebut berada hampir di depannya. Hatinya bahagia. Senyumnya lebar.

“Pak, numpang tanya. Desa Sawo mana ya?” Tanya orang itu. Senyum Sarno menciut. Ternyata orang tersebut bukan ingin memakai jasanya, namun hanya bertanya tentang suatu alamat. Sarno menjelaskan letak desa tersebut. Tangannya menunjuk-nunjuk ke arah desa yang dimaksud. Sarno sempat menawarkan mengantar orang tersebut dengan becaknya, namun ia memilih untuk berjalan kaki saja. Sambil berlalu, ia mengucapkan banyak terima kasih pada Sarno.

***

Hari sebentar lagi gelap. Sayup-sayup terdengar azan Maghrib mengalun merdu di telinga Sarno. Dikeluarkannya air putih di botol usang yang dibawanya dari rumah tadi. Diteguknya pelan pelan air itu. Kerongkongannya yang tadinya kering, terasa begitu lega setelah beberapa teguk air putih mengguyurnya. Segera ia turun dari kursi becaknya dan bersiap-siap untuk pulang.

Hatinya sedih karena hari ini ia hanya mendapatkan uang sepuluh ribu rupiah dari ibu gemuk yang diantarnya tadi siang. Dinaikinya sadel becaknya dan ia bergegas menginjak pedal membawa becak itu pulang.

“Becak, Pak. Tolong antar saya ke jalan Bambu ya. Tahu kan? Berapa?” seorang gadis memaksanya untuk berhenti lagi. Gadis itu membawa beberapa tas besar seolah baru pulang dari bepergian jauh. Menilik dari logat bicaranya sepertinya ia bukan berasal dari daerah tersebut. Logat itu sangat asing bagi Sarno. Penampilannya modern, beberapa perhiasan menempel di tubuhnya. Bahkan, ketika ia menggerakkan tangannya, terdengarlah bunyi gemerincing karena beberapa gelangnya saling beradu.

“Bisa, Mbak. Dua puluh ribu ya,” jawabnya sambil turun dari becaknya. Ia hafal sekali daerah tersebut karena tahun lalu ia adalah salah satu penghuninya sebelum petugas Kamtib mengusirnya. Ia berharap semoga gadis tidak menawarnya. Si gadis tersebut menganggukkan kepala tanda setuju. Seperti biasa Sarno langsung menjungkitkan becaknya untuk membantu penumpang naik. Sepatunya yang ber-high heel tersangkut di pinggiran lantai becaknya. Hampir saja ia terpeleset, untunglah ia masih sempat berpegangan pada sisi becak tersebut.

Gemerincingan suara gelang-gelang beradu membuat hati Sarno berdegup. “Ah, betapa kaya gadis itu,” batinnya. Bunyi gemerincing gelang-gelang yang dipakai gadis itu sungguh mengganggu pikirannya. “Seandainya saja Watik juga memakai perhiasan seperti itu, pastilah ia sangat bahagia,” batinnya lagi.

Entah setan mana yang merasuki dirinya hingga pikirannya dipenuhi dengan beribu ‘seandainya’. Ia sudah lupa bahwa hari ini ia sedang berpuasa. Ia lupa pula akan shalat yang dilakukannya setiap hari. Tiba-tiba kalbunya menjadi gelap. Pikiran jahat tiba-tiba datang menyeruak ke alam pikirnya. Secepatnya ia mengambil seutas tali yang biasanya untuk menalikan kain penutup becaknya. Tekadnya bulat. Ia akan mengalungi leher gadis itu dengan seutas tali dan menariknya dengan kencang. Setelah tak berdaya, ia akan mengambil barang-barang yang dibawanya, terutama beberapa gelang yang bergemerincingan di pergelangan tangannya. Tekatnya bulat dan hatinya telah tebawa bujuk rayu setan.

Namun belum lagi niat itu terlaksana tampak sinar lampu motor berada tepat di hadapannya. Dan ‘brakkk’ suara keras benturan itu tak dapat terelakkan lagi. Becak Sarno terpelanting, demikian juga penumpang sepeda motor yang ternyata anak muda itu. Untunglah semuanya masih dilindungi oleh Yang Maha Kuasa. Sarno membantu si gadis kaya itu berdiri. Setelah saling berbicara Sarno dan pengendara motor itu sepakat untuk berdamai saja. Kemudian pengendara sepeda motor itu segera pergi.

Sarno menghampiri gadis itu dan meminta maaf atas kecelakaan tadi. Gadis itu berdiri tepat di bawah lampu penerangan jalan. Wajahnya terlihat jelas di bawah sinar lampu itu. Hati Sarno tersirap melihat wajah itu. Wajah yang begitu dikenalnya. Wajah Samtri anak sulungnya yang sudah lima tahun tidak ditemuinya.

“Samtri. Kamu nduk?” kata Sarno terbata-bata. Tanpa menunggu jawaban Samtri, Sarno segera memeluk gadis itu erat-erat. “Ini bapak, Nduk,” lanjutnya sambil terus mendekap erat Samtri.

“Bapak. Kok bapak narik becak?” Kata Samtri penuh tanya. Melihat pria itu adalah Sarno ayahnya, Samtri gantian memeluknya erat.

“Ya, Nduk. Ceritanya panjang. Nanti bapak cerita. Ayo kita pulang. Kita sudah pindah. Rumah kita tidak di sini lagi,” kata Sarno sesenggukan. Ia segera membawa Samtri pulang ke rumahnya. Sesekali terdengar helaan napas panjangnya. Sambil mengayuh becak ia membayangkan seandainya ia tadi menuruti hawa nafsunya, pastilah kejadiannya akan lain lagi dan ia akan menyesal seumur hidupnya.

“Ya Allah, ampunilah aku,” batinnya menyesali diri. Allah SWT masih menyelamatkannya. “Allahu Akbar… Allahu Akbar,” dari bibirnya sayup-sayup mengalir takbir berkali kali. (*)

(Ditulis oleh Lilis Umi Faiezah, S.Pd.,M.A. Guru MTsN 6 Sleman dan pernah dipublikasikan di harian Republika, 8 Agustus 2010)

Puisi: Senja

Desember 01, 2018

Oleh Sri Rejeki Wahyuningsih

Senja menceritakan gempita telah usai,
Senyap  menjelang, biarkan alam berbisik
Melupakan geliat gelisahmu sesiang tadi
Mengisi kembali jiwa yang sepi
Bersama malam yang bertuan
Alunkan kalimat penyeru,
Menyusur jiwa keseluruh penjuru
Biarkan tak hanya ragamu yang hidup

Esok pagi kan menjelang
Sejenak aku menatap embun
Beradu dalam pangkuan sang Aruna
Aku merindukan pagi
Setelalah mengadu semalam,
Merenda hari
Dalam satu harapan dalam permainan takdir

Penulis adalah guru MTs YAPPI Dengok dan Madrasah Aliyah Darul Qur’an.

Geguritan: Cakra Manggilingan

Rina harwati Desember 01, 2018

Dadiya uninga para kanca
Nalika para winasis jaman kawuri
Wis paring pirang pirang piwulang
Tembung Aja dumeh iku ngemu piweling
Kita sedaya ing marcapada mung titah sawentah
Mila ora pareng ngagul agulke
Kabeh rupa kaluwiyan

Dadiya uninga nalika ana perangan dhuwur
Kita bakal begja mulya, mukti, wibawa lan makmur
Nanging nalika ana ing ngisor
Uripe krasa sengsara, kesrimpet mega, kesandhung bebaya

Dadiya uninga para kanca
Sejatine kabeh lelakon manungsa ing  ngalam donya
Lumaku mubeng gilir gumanti kadya rodha panguripan
Kang wis kawentar mubeng kadya cakra manggilingan

Kulon Progo, 23 Mei 2018

Kaanggit dening Barokatussolihah, S.Ag.,M.S.I, salah satunggaling guru wonten ing pawiyatan MTs N 3 Kulonprogo. Geguritan punika sampun kababar wonten ing Antologi Geguritan Weling Sinanggling, Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta.

Kepada Anak Didikku

November 25, 2018
Siti Desy Aulia/Kompasiana
Karya Ikha Mayashofa Arifiyanti

Anak didikku,
tak perlu repot kau bawakan tas dan setumpuk bukuku
atau kau ciptakan rapsodi merdu
yang terlantun dari basah bibirmu di depan pintu
sebagai pelipur penat yang tergambar pada sketsa wajahku

tak perlu jua kau lap peluh merapuh
atau butut dan rengkudah sepatu
yang menjadi saksi pengabdian tak terperi
sebagai bentuk empati akan sebuah dedikasi

cukup bagiku darimu
kau sapih selaksa rinduku
dengan suguhan elok sikapmu
mematri abiwara lalu kau cerna
bersenyawa dengan pekerti seluas sabana

Anak didikku,
tak perlu kau sodorkan nilai selangit
jika di sebaliknya ada tipu menikam
dan kejujuran rapat kau bungkam
hingga buatmu melayang pada gema sanjungan
lupakan rindu yang kutitipkan tentang kebajikan

tak perlu kau lukis pelangi di mataku
jika pandang retinamu berjejak warna suram
mengabur jujur menggiring takabur
pongah merebah badan sekujur

cukup bagiku darimu
kau sapih selaksa rinduku
dengan hati yang lurus tiada berkubang
meskipun jalan terjal merintang
terpaan deras tempias menggilas
angin membadai mengoyak tekad
karena padamu kugantung seladang harap

Anak didikku,
tak perlu kau ajak aku keliling dunia
jika dunia telah merampok sisi manusiamu
menepis kasih memburu nafsu
mengabai liyan demi membangun benteng kejayaan

tak perlu bagiku kebaya sutera
yang katamu cenderamata sebagai balas jasa
karena sesungguhnya  jasaku tak pernah kukalkulasi
apakah semahal kebaya atau selembut sutera yang kau beri

cukup bagiku darimu
kau sapih selaksa rinduku
dengan kedamaian khusyuk munajah
dan kiblatmu memaku gelar sajadah
melarung dusta ke dasar samudera
menyemai safi di kedalaman jiwa

Duhai anak didikku,
seumpama kerentaan melaju dan mencuri muda usiaku
maka ingatlah abiwara yang kusemai dalam rajutan ilmu
maka lakukanlah pekerti pada patron lakuku
maka kenangkanlah aku dalam indah lisanmu
karena dengan begitu
aku mampu meneroka surgaloka dari binar matamu yang bercahaya
aku mampu menitipkan semesta di kedua bahumu yang perkasa

Dan jika kau tanya kembali seribu kali tentang arti rinduku
maka pekerti akan berotasi sebagai satu jawabku
ketika ilmu diharga bukan dari sepotong jasa
tapi terukur dari besarnya angka dan kuasa
maka penawar dari segala rindu adalah untaian paramarta

Demak, 24 Desember 2017, dalam Melodi Tak Bersuara, kumpulan karya terseleksi Lomba Puisi Sayembara Goresan Pena “Membangun Karakter Bangsa Melalui Karya Sastra”: Jendela Sastra Indonesia.

Senjaku Mengharap

November 24, 2018
Zed-ky.blogspot.com
Oleh Sarifudin

Setengah hidup berjalan
Menukik pengalaman
Sekat rampai harapan
Menghiasi batin melapangkan

Langkahku mengharap
Lisanpun mengucap
Andai tubuh menghadap
Siapakah peraduan ku dekap

Binar-binar qalbu berkata
Merajut lembayung senja
Bagai merayu semasa
Hati luluh tak berdaya

Seruak raga menjerit
Balur tubuhpun sakit
Seolah waktu menghimpit
Di antara ruang menyempit

Peraduanku kemana
Batin ini menghiba
Mengeluh tanpa guna
Menangis tak bermakna

Menyendiri dalam lamunan
Memohon sejuta ampunan
Bersimpuh kepasrahan
Pada-Mu Tuhan

Siluet Senja

November 17, 2018
Agisss.wordpress.com
Oleh Budi Priyono
Anggota Pergumapi dari Daerah Istimewa Yogyakarta

Menghela nafas
Mereguk sisa asa
Menerawang rona senja
Menemani raga ayg tak lagi muda

Membuncah rasa
Menengadah rasa
Hanya kelip bintang malam
Yang melambai ajak bercanda

Kapan siluet bayang ini
Menapaki langkah dalam sepi
Menjelma dalam nurani
Akankah menyatu sanubari

Malam dah menjelang
Tunduk dalam sembahyang
Sujud dalam pandang kelam
Hantarkan aku menyeberang
Dalam duniaku yg hilang
Kapankah kaki kan menjelang
menapaki sisa usia yg telah lekang

Bantul, 13 November 2018
20.02 WIB sembari mengenang kawan

Aku Bahagia

November 17, 2018
Kantormeme.blogspot.com

Oleh Agus Nana Nuryana
Anggota Pergumapi, Guru Matematika di MTs Cijangkar Tasikmalaya Jawa Barat

Aku bahagia
Ketika kau tumbuh dewasa
Tak terasa waktu mengganti masa
Hingga saat ini tlah tiba

Aku bahagia
Hari ini ku menyaksikan pertanda
Bukti perjuangan yang tak sia-sia
Walau kini engkau jauh di mata.

Aku bahagia
Melihat engkau kini berjaya
Meski melalui dunia tak nyata
Namun terasa indah di alam nyata

Aku bahagia
Tak sedikitpun aku mengharap asa
Atas apa yang kini kau rasa
Walau aku tlah memberi jasa

Aku bahagia
Karena harapanku kini menjadi nyata
Keluh kesah yang dulu selalu membara
Kini hilang berganti bangga

Aku bahagia
Tuhan kini tlah memberiku rasa
Rasa yang membuatku terpana
Menyaksikan anugrah yang tercipta.

Bukan Negeri Diatas Awan

November 10, 2018
Id.kisspng.com

Oleh Zulfa Ulinihayah

Matahari terbit menyinari bumi
Bumi kita, bumi ibu pertiwi
Semangat terpancar dari dalam diri
Untuk berjasa kepada negeri

Berjasa pada negeri
Tak harus disertai upeti
Menjadi tikus berdasi yang duduk dikursi tinggi
Lalu memindahkan uang negeri ke dompet pribadi

Hidup di dunia haruslah bermanfaat
Baik untuk pribadi, negeri maupun rakyat
Tak harus memiliki harta yang berlipat
Yang terpenting dapat menjadikan negeri kita, negeri yang bermartabat

Tetapi jangan menjadi wakil rakyat
Yang hidupnya bak konglomerat
Diatas penderitaan rakyat

Korupsi sudah marak terjadi
Komisi pemberantasan korupsi
Sudah akrab dengan upeti
Kedzaliman yang terjadi
Seakan akan menjadi ilusi

KPK
Harus mau menerima kritik
Jangan hanya bermain intrik
Bagaimana negeri kita bisa baik?
Jika pemimpinnya saja sudah licik

Ini adalah negeri diatas bumi bukan diatas awan
Ini adalah negeri yang nyata bukan khayalan
Ini adalah negeri yang penuh perjuangan
Bukan negeri yang berdiri karena belas kasihan
Ini adalah zaman modern bukan zaman jahiliyah
Banyak orang memikirkan ilmu ilmiah
Bukan memikirkan dengan siapa kita akan menikah

Generasi penerus bangsa yang baik
Harus mau menerima kritik
Membuat bangsa lain seakan akan tak berkutik
Melalui jalan kreatif dalam semua bidang, tak terkecuali politik

Jadilah manusia kreatif
Yang mampu membuat negeri kita menjadi inovatif
Tetapi tidak sensitif

Jadilah manusia kuat
Yang cerdas serta bermanfaat
Mampu berkarya, tetapi tidak kufur nikmat
Serta bisa mengangkat derajat serta martabat

Indonesia berinovasi tanpa korupsi

Zulfa Ulinihayah adalah siswi MTs Negeri 1 Pemalang. Karya ini menjadi juara III lomba cipta puisi tingkat kabupaten dalam rangka memperingati Bulan Bahasa 2018. Puisi ini dikirimkan oleh Mimbar, S.Pd., M.Pd., anggota Pergumapi dari Pemalang. Penerbitan ini merupakan program pengabdian kepada masyarakat Pergumapi.

Dunia Terbalik

November 10, 2018

Oleh Agus Nana Nuryana
Guru Matematika MTs Cijangkar Ciawi Tasikmalaya Jawa Barat

Masa itu tlah berlalu
Saat ku menanti pesonamu
Perubahanmu yang bersinergi
Membuatku selalu rindu akan keindahanmu

Namun kini keindahanmu hanya ada dihayalanku
Kau tak memberiku ruang tuk mengadu
Tapi aku tahu
Rupanya kau marah kepadaku

Kini aku tak bisa menantikan keramahanmu
Tamak, rakus yang ada dalam diriku
Ketidakpedulianku akan keteraturan
Rupanya itu yang membuatmu murka

Aku inginkan ini kau inginkan itu
Aku berharap begini kau lakukan itu
Kau lakukan semaumu
Tak lagi peduli akan ratapanku

Panas dingin kini tak lagi bisa aku tebak
Kau betul-betul berlaku semaumu
Peliharaanku kelaparan, tanamanku kekeringan
Kebahagiaanku pun berjatuhan

Akankah kau maafkan aku
Ditengah kehancuran yang melanda
Disaat aku membutuhkan bantuanmu
Tuk terus melangsungkan kehidupanku

Sajak Sang Lelaki Perindu 1

November 03, 2018
Dogheadsecrets.files.wordpress.com

Oleh Kasmawati Yakub

Kita tak pernah bertemu
Tapi dipertemukan oleh keadaan
Itu celotehmu padaku
Duhai sang lelaki perindu

Tatapmu tajam menusuk
Menembus jantung bahkan hingga tulang
tersirat pesan  tentang inginmu
Menikam rindu

Menyesali pertemuan di musim kemarau
Seharusnya aku menemukanmu
Sebelum senja menjadi tua
Dan gerimis masih sendiri
Demikian sajakmu, mengalun lewat semilir angin

Jeneponto, 1 september  2018

Kasmawati Yakub adalah Kepala MTs Al-Falah Arungkeke Jeneponto serta Anggota dan Pengurus Pergumapi. Puisi ini adalah bagian pertama dari dua puisi berjudul "Sajak Sang Lelaki Perindu". Bagian kedua dapat dibaca di sini.

Puisi: Nasihat untuk Anakku

November 03, 2018
Idntimes.com

Oleh Barlian
Guru MAN 3 Hulu Sungai Tengah, Anggota Pergumapi

Anaku, bila azan memanggil maka datanglah
Bila aku memanggil maka turuti perintahku
Itupun juga bila ada yang minta tolong maka tolonglah
Karena sekecil apa pertolongan kita
Ada pahala yang mengalir tiada terasa

Bila kita berbuat walau sedikit kebajikan
Begitu juga ada balasan di setiap kejahatan
Maka itu hiduplah sesuai aturan hidup
Bila itu terlaksana kita senantiasa bahagia

Anakku, jalanmu masih panjang
Telusurilah semampu kalian
Hingga akhirnya nanti jalan itu
Telah menjadi bagian dari hidupmu

Gapailah cita-cita setinggi mungkin
Raihlah prestasi sekuat mungkin
Berusahalah dan berdoa tanpa lelah
Sampai tercapai tujuan hidupmu

Hingga akhirnya bila sudah tercapai
Jangan lupa bersedekah karena sedekah walau sedikit akan menyelamatkan hidup kita di akhirat nanti dan semuanya dihidangkan

Apapun kamu, hartamu semua diperhitungkan pintaku padamu anakku
Jangan pernah lelah berbuat baik
Berbaktilah pada kedua orang tuamu
Meski nanti tiada berilah doa terbaik
Hingga nanti kau juga akan didoakan anakmu

Puisi: Rindu Kampung

Oktober 13, 2018
Satu-indonesia.com
Oleh Barlian
Guru MAN 3 Hulu Sungai Tengah, Anggota Pergumapi

Sesaat ku terpana
Mengenang masa masa dulu
Dimana tempatku dilahirkan
Ada rasa sedih bergelayut di hati

Membakar Sukma merayu asa
Kembali aku padamu
Kampung halamanku
Terkenang aku padamu

Kecewa,memang, sedih ada
Tapi apalah artinya dia sudah pergi
Meninggalkan dunia fana
Oh, ibu oh ayah tercinta

Mungkinkah kita bertemu di alam lain
Kini kita dialami berbeda
Alam dimana telah memisahkan kita
Merenggut kebahagian yang ada

Hilang, hampa pudar sudah
Ditelan ada, dan mati rasa
Dimana kini kenangan itu
Kenangan antara mereka dan kampung halaman

Puisi: Segunung Harap

Oktober 06, 2018
Kokoh Praba/JawaPos.com
Oleh Erza Surya Werita
Guru IPA MTs Negeri 2 Solok, angota Pergumapi

Ketika sepucuk rasa sangat berarti, bagi kita disini
maka ia disana, butuh segunung harap
untuk menebar benih-benih hidup,
kelak ia akan menonton
tunas-tunas kuncup bersembulan
dari pejuang-pejuang nafas.

Segunung harap perlu dipupuk, dengan keikhlasan, bukan kasihan
karena kelak ia adalah buah-buah ranum
di antara tandusnya Mashar.

Perlukah kita bertanya, untuk apa menabur harap
meski hanya lewat aksara atau hitungan angka-angka,
yang sudah pasti tak terlalu banyak faedahnya,
bagi kita dibanding mereka.

Segunung harap buat mereka, perlu ditabur dan dipupuk
karena ia adalah bekal
perjalanan bagi ruh setiap badan.

Solok, 02 September 2018

Puisi: Kabar, Tiba-tiba

September 29, 2018
Antara Foto
Erza Surya Werita
Guru IPA MTs Negeri 2 Solok, angota Pergumapi

Sudah beberapa bulan purnama, layar tv pengap saja
tak ada gambar atau kilasannya
apalagi suara
karena aku si empunya
menjauhi kebisingin elektronika.

Entah kenapa, di magrib kemaren
tiba-tiba tangan jadi ganjen
memencet tombol tv dan seketika
Terpampang peristiwa duka
video amburadul namun menakutkan
menyedihkan,
semua seakan diambil-Nya
sekilas seakan tiada sisa
walau masih ada disana,
sebagian rezeki tertimbun dan nyawa
butuh perjuangan ekstra
agar mereka dan segala
seperti sediakala.

Kita hanya bisa membagi
sedikit perhatian dan materi
namun tentu sudah besar artinya
hingga sanggup bangkit
berdiri di celah sampit
atau malah kembali tegak
tanpa bersandar ke tonggak
tentu saja hanya karena keikhlasan
bukan karena pemaksaan
seperti undang-undang yang selalu saja kau bantah.

Solok, 30 Sept 18

Puisi: Lelaki Laut

September 29, 2018
Pinterest.co.uk
Oleh Ikha Mayashofa Arifiyanti

Bulan kerontang membalur malam
memalu rindu pada jantung hasratku
menyinggah angan ke masa silam
merangkak almanak memutar waktu
menarik ingatan pada pusaran masa kecilku

Dulu,
Lelaki separuh baya itu,
kedua bahunya sering kumain-ayunkan sebelum senja temaram
atau diam-diam kucari aroma peluhnya yang asam
dari kertas papir bercampur pekatnya kopi
penawar luka karena cahaya beringsut pergi

Lelaki itu,
pada retinanya tak pernah kutemukan air mata
bahkan sekadar bias luka
meski rengsa telah mengikat kakinya kuat
pada pohon kehidupan tempatnya bersandar

Lelaki separuh baya dengan bahu kokohnya,
adalah bapak sekaligus ibu
yang tak lelah menuntunku ke meunasah
memakaikan kopiah untuk bermunajah
dalam dingin pagi yang menebah
melingkup jagad buntala
cegah dursila nuju surga duwara

Jika malam tiba
berdua kami menatap purnama
menghitung kerlip bintang di angkasa
menghirup semilir mangrouve di bibir pantai
merebah di atas geladak kapal yang melabuh
memikat lelap, mendekap, lalu merengkuh

Dan dalam lelapnya itu,
mata kecilku menjelajah wajahnya yang lelah
tubuh mungilku membenam di bawah ketiaknya yang masih basah
sisa peluh dari kerasnya usaha menantang andakara
menitis raga merupa Dewabrata

Lelaki separuh baya dengan kaus kumalnya,
di ambang pintu kutunggu bau anyir tubuhmu
gandakusuma anjrah membungkus
membius, menembus olfaktori
serupa sakaw pada napza setengah mati
lalu moksa
dan selalu akan begitu
laksana déjà vu

Lelaki laut dengan dua mata binar,
saat pulang menyang pasti ‘kan mengajakku ke pasar
sekadar membeli baju atau manisan
melunasi uang sekolah yang tertangguhkan
menguras hasrat terpendam dari segenggam uang recehan

Dan jika ada berlebih dari uang itu
Esophagus berdansa dalam goyang peristaltik
berselancar menu mahal secara dinamik
memanja lidah yang terbiasa melumat pekasam
berganti sepotong ayam yang melezatkan

Lelaki laut dengan seribu ketegaran,
mengangkat sauh dengan kedua lengan
menggiring ribuan ikan dalam satu pusaran
menyapih gelombang agar tak berkejaran
hingga laju waktu melumatnya dalam kerentaan

Lelaki laut yang tak separuh baya kini,
yang kedua lengannya tak kokoh lagi
tahukah kau bulan kerontang telah beranjak pulang
dan gulita berpendar temukan cahyanya?
maka saksikan aku kini
tinggiku telah sama denganmu
kedua lenganku serupa kokoh lenganmu
kedua mataku sama hampanya dengan matamu
tak ada kelenjar lakrima di dalamnya
tapi penuh dengan cinta
serupa cinta yang kau gaungkan di udara
serupa cinta yang kau lafazkan dalam abiwara penuh makna
serupa cinta yang kau semai di kedalaman rasa

Lelaki laut dengan rona seribu cahaya,
meski almanak telah merangkak dan mengembalikan masa
meski senyatanya kau menua dan aku telah dewasa
meski rengsa kian bersetubuh dan bersenyawa
di ambang pintu selalu kutunggu bau anyir tubuhmu
gandakusuma anjrah membungkus
membius, menembus olfaktori
serupa sakaw pada napza setengah mati
lalu moksa
dan selalu akan begitu
laksana déjà vu

(13 Oktober 2017)

Disiarkan pertama kali dalam kumpulan karya pemenang Sayembara Pena Kita; KITA JATENG 2017 bertajuk Musikalisasi Katak dan Rintik Hujan;Bunga Rampai Puisi dan Cerita Pendek.

Puisi: Selamat Pagi Indonesia

September 29, 2018

Oleh Sukarti

Selamat pagi Indonesia
Hari ini senyummu manis sekali
Biar pun dolar melambung tinggi
Kau kan tetap selalu di hati

Selamat pagi Indonesia
Abaikan siapa memilih siapa
Tak usah hiraukan
Siapa mendukung siapa

Persahabatan dan persaudaraan
Kita di atas segalanya
Mari eratkan genggaman
Demi Indonesia jaya

Selamat pagi Indonesia
Senyummu manis, semanis gula jawa
Parasmu elok seelok Taman Bunaken
Di Sulawesi Utara

Satukan langkah, satukan hati
Demi Ibu Pertiwi
Tunjukkan kalau kita bisa
Demi Indonesia tercinta

Kediri, 22 September 2018.
Sukarti adalah Guru Bahasa Indonesia MTsN 2 Kota Kediri. Puisi ini ditulis sesudah penetapan nomor urut Capres-Cawapres oleh KPU 2018.

Puisi: Pengembara Cinta

September 01, 2018
Pelukis: Caspar David Friedrich
Oleh Rochani Ningsih
Guru Ekonomi MAN Kota Batu

Aku pengembara cinta, tersesat di lembah sunyi, berpenghuni wajah-wajah imitasi
Semakin ku jelajahi semakin aku tak puas diri
Gemerlap duniawi menghalangi pandanganku tuk meraih cahaya Illahi
Jiwaku remuk redam tergilas arus liberalisasi
Tehnologi bagaikan senjata api menembus ragawi,
Yang kering kerontang jauh dari lantunan ayat-ayat suci
Syariat agama menjadi harga mati sebagai perisai diri
Hidayah.....
Anugrah terindah dalam hidup sang pengembara cinta
Datang dan pergi tak disangka, menjadi hak Sang Maha Pencipta
Aku  terus berjalan menghampiri cinta sejati penghias relung hati,
lewat lantunan do’a yang mengiringi langkah kaki
menjadi cahaya abadi walau jasad masuk perut bumi
Cinta hakiki itu satu, kugenggam erat di dalam kalbu
Sampai ujung nyawaku , murni hanya untuk-Mu Ya Rabbi
Ada keikhlasan dan ketaatan tuk menjalankan dalam kehidupan
Setiap syariat yang sudah ditetapkan dalam kandungan Alqur’an
Sebagai benteng pertahanan mengarungi arus zaman,
Ya Allah, Tuhan Yang Maha Esa kepada-Mu aku bergantung
Tiada Tuhan selain ALLAH tempat ku meminta keselamatan dunia akhirat.

Puisi: Sepiku

Agustus 25, 2018
Plukme.com

Oleh Sukarti

Sepi itu indah
Sepi itu muram
Sepi itu luka
Sepi itu menyiksa

Ini sepiku
Hari-hari sepiku
Sepi tanpamu
Sepi  berbalut rindu

Rindu akanmu
Rindu kerlingmu
Rindu celotehmu
Rindu hadirmu

Rindu tlah
Mencabik-cabik hatiku
Rindu yang
Menggilakanku

Kediri, 14 Agustus 2018

Puisi: Sebuah Tanya

Agustus 18, 2018
Pixabay.com
Oleh Sukarti

Adzan Subuh belum berkumandang
Satu dua langkah kaki
Menuju hamparan kehidupan
Dingin embun pagi
Menyelimuti segala insan
Seolah merambat roda zaman

Aku bertanya
Kapan sang surya menebar kehangatan
Ketika semburat di batas kota
Pengayuh sepeda melaju
Sepeda motor berpacu
Mobil susul menyusul satu per satu
Silih berganti semua terburu-buru
Seakan tak mau ketinggalan sang waktu

Aku bertanya
Kapan bedug ditabuh?
Laksana gendang perang
Kala burung kembali ke sarang
Penggembala menghalau ternaknya pulang
Sambil bergurau, bocah kecil dimandikan

Lampu mulai dinyalakan
Dan petang mulai menjelang
Namun aku bertanya
Kapan malam kan datang

Hari berganti
Bulan berubah
Tahun bertambah
Namun aku bertanya
Kapan ada kata berpisah

Kediri, 14 Agustus 2018