Tampilkan postingan dengan label Resensi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Resensi. Tampilkan semua postingan

Resensi: Bacaan Sehat untuk Anak

Mei 08, 2019

Oleh Yeti Islamawati
Anggota Pergumapi, Guru MTs. Negeri 9 Bantul 

Judul: Bekal Istimewa Bunda
Penulis: M. Naufal dkk.
Penerbit: DAR! Mizan
Cetakan: I,Oktober 2018
Tebal: 88 Halaman
ISBN: 978-602-420-697-0

Buku Bekal Istimewa Bunda dapat dijadikan salah satu bacaan yang sehat bagi anak-anak. Bercerita tentang nilai-nilai yang dapat dicontoh oleh anak-anak. Salah satunya membiasakan anak membawa bekal ke sekolah. Dengan membawa bekal ke sekolah, kebersihan dan kesehatan makanan dan minuman lebih terjamin.

Tentu saja, bekal yang dibawa sesuai kemampuan orang tua. Iqbal, tokoh dalam cerita sangat menginginkan bekal ayam goreng, tetapi Ibu belum bisa memenuhi. Sebagai ganti, Ibu menyiapkan semur tahu. Walaupun kecewa, Iqbal tetap berterima kasih pada Ibu yang telah mengupayakan. Bagaimanapun, seorang Ibu pasti berusaha membahagakan anaknya.

Nilai kebaikan lain yaitu pentingnya usaha. Karena yang namanya hasil tak akan pernah mengkhianati kerja keras. Tokoh Hafsah berusaha mengirimkan tulisan ke penerbit, hingga kiriman yang kesebelas selalu ditolak. Apa yang akan dilakukan tokohnya? Apakah menyerah? Ternyata tidak, ia belajar dari kegagalan. Ia meminta bantuan kakanya untuk mengajari bagaimana memperbaiki ejaan sebuah tulisan.

Ada juga cerita kerja sama dengan ibu dalam membasmi tikus. Anak diminta memilah mainan yang sudah tidak dipakai untuk disumbangkan. Dengan menjaga kebersihan, tikus enggan datang lagi. Cara lain dengan membuang sampah pada tempatnya.

Pada salah satau cerita berjudul “Adikku Syifa” bercerita tentang bagaimana seorang kakak menyayangi adik. Sang kakak mengajak bermain sepatu roda bersama. Ketika adik sakit, kakak menemani dan menyuapi makan.

Ada juga cerita agar anak tak mudah takut akan sesuatu hal yang belum jelas. Misalnya misteri sebuah rumah kosong. Suatu hari ada suara anak menangis di rumah kosong, ternyata memang ada anak gelandangan yang ditinggal oleh orang tuanya.

Cerita sehari-hari dalam buku ini benar-benar dapat diterapkan dengan mudah oleh anak-anak. Harapannya anak-anak Indonesia mempunya akhlakul karimah.

Penerbit DAR Mizan yang telah menerbitkan buku Kecil Kecil Punya Karya patut diapresiasi. Anak dapat membaca buku yang ditulis oleh anak-anak dan khas dunia anak-anak. Sangat direkomendasikan untuk anak-anak, guru, maupun orang tua. (*)

Mengasah Daya Kreativitas melalui Komik Fantasi

Desember 12, 2018

Judul: Panggilan ke-13
Penulis: Apryan Fajar Gumelar, dkk.
Penerbit: DAR! Mizan
Cetakan: I, 2018
Tebal: 108 halaman
ISBN: 978-602-420-700-7

USIA remaja merupakan usia perkembangan, baik secara fisik maupun imajinasi. Masa remaja juga identik dengan saat pencarian jati diri.Untuk itu, remaja harus disibukkan pada hal-hal positif, salah satu di antara dengan menulis. DAR! Masa remaja yang tak kan berulang ini seyogiaya diisi dengan karya dan prestasi. Mizan memberikan kesempatan kepada para remaja melalui serial komik fantasteen, buku Panggilan ke-13 ini salah satunya.

Buku Panggilan ke-13 ini ditulis oleh 6 orang, 3 sebagai penulis cerita, dan 3 orang sebagai pembuat komik. Di dalamnya ada tiga judul cerita, yaitu “Panggilan ke-13”, “Misteri Jemuran Tua”, dan “The Lift”. Ketiga cerita menunjukkan daya kreatifitas khas remaja. Tema yang diambil sama-sama horor.

Bagian pertama berisi tentang telepon misterius. Ketika kedua orang tuanya pergi ke Amerika, Jason mendapatkan peringatan dari nenek berupa kalimat yang sulit dipahami. Jason pun berusaha memecahkan apa sebenarnya yang dimaksudkan oleh neneknya. Bagian kedua bercerita tentang teman sekolah yang pindah rumah. Salah satu temannya yang indigo mmeprediksikan akan terjadi sesuatu di rumah baru Haura. Ternyata apa yang dikatan Sheila menjadi kenyataan. Tentu menarik mengetahui bagaimana mereka mencari solusi untuk permasalahan di rumah Haura.

Bagian ketiga mengambil setting di sebuah lift. Seorang perempuan tak melulu digambarkan sebagai sosok yang lemah, apalagi penakut. Ketika lift tidak mau bergerak karena kelebihan muatan, satu orang harus keluar dulu. Di lantai, 5 yang terkenal horor. “Harus ada satu yang mengalah, keluar dan menunggu giliran. Ya udah deh, biar aku saja yang keluar,” (halaman 90). Tokoh utama dalam cerpen ini  menggambarkan sosok remaja perempuan yang mandiri dan mampu mengendalikan rasa takut. Cara bertuturnya membuat pembaca penasaran, sehingga twist-nya terjaga.

Yeti Islamawati, S.S., anggota Perkumpulan Guru Madrasah Penulis dari Daerah Istimewa Yogyakarta.

Resensi: Ajakan Bersikap Baik pada Sesama

November 21, 2018

Judul: Zula’s Story
Penulis: Rizky Nur Fajri
Penerbit: DAR! Mizan
Cetakan: I, 2017
Tebal: 104 halaman
ISBN: 978-602-420-544-7

Buku Zula’s Story karya Rizky Nur Fajri terdiri atas sebelas judul cerita pendek. Kesebelas cerita tersebut mengangkat tema yang beragam, misalnya ajakan berbagi, bersikap baik pada teman, menyayangi binatang, juga larangan untuk memubazirkan makanan. Bahasa yang digunakan pun mudah dipahami sehingga buku ini cocok diperuntukkan untuk anak-anak.

Dunia anak merupakan dunia yang penuh cerita, semangat, dan hampir tak mengenal kata lelah. Pada cerita berjudul “Zula’s Story”, tokoh Zula digambarkan sebagai sosok yang hectic. Berbagai kegiatan dijalani Zula seperti shooting, pemotretan, wawancara dengan wartawan, mengunjungi acara sosial, hingga kegiatan belanja baju untuk acara penghargaan.

Zula selalu semangat menjalani hari-hari baik untuk urusan sekolah ataupun urusan nonakademis walaupun ibunya sudah meninggal. Ia bertekat menjadi anak baik yang membahagiakan ibunya di alam akhirat. Selain itu, Zula juga suka membaca, setiap ayahnya bepergian, ia meminta oleh-oleh buku.

Penulis buku dapat menggambarkan kesibukan tokoh Zula dengan detail. Hal itu dikarenakan penulisnya memang  bertabur prestasi. Rizky sering menjuarai menyanyi dan menari.

Cerita lain yang menarik berjudul “Berkat Sandal Jepit”. Diceritakan tentang bagaimana perjuangan anak-anak pedalaman untuk sekolah. Selain menempuh perjalanan jauh, mereka harus menyeberangi sungai yang ketinggian airnya sedada karena tidak ada jembatan. Untuk menjaga agar tas tetap kering, mereka mengangkat tas tinggi-tinggi ketika menyeberang sungai. Sesampai di seberang, mereka segera berganti baju kering dan untuk alas kaki, mereka hanya menggunakan sandal jepit. Perjuangan anak-anak pedalaman ini patut diacungi jempol. Apa yang mereka lalukan dpaat mementik semangat menuntut ilmu serta pantang menyerah.

Pada cerita berjudul “Pintar? Siapa Takut!”, terdapat pelajaran pentingnya membagi waktu dengan cermat. Sekolah dan kegiatan rumah harus berjalan sesuai jatahnya masing-masing, harus seimbang. “Begitulah… kalau kita ingin mengejar sesuatu, harus ada doa dan usaha yang kuat. Seperti Savila ini. Akhirnya, Savila berhasil mendapatkan SMP favorid,” (halaman 57).

Ajakan untuk meninggalkan hal-hal yang mubazir terdapat dalam cerita berjudul “Telur Nyasar”. Tokoh Adam dan teman lainnya memberi kejutan temannya yang ulang tahu dengan melempar telur. Nabyan menjadi marah. Adam yang curhat pada kakaknya mendapatkan nasihat bijak. “Itu salah, Dam. Makanya, kamu jangan suka ngikutin perilaku anak-anak yang enggak benar. Jadinya, Nabyan marah, kan? Mendingan telur-telur itu kita masak saja… kan, lebih enak! Daripada buang-buang makanan untuk yang enggak jelas, mendingan dimakan. Pasti perut kenyang. Niat baik belum tentu membawa hasil yang baik,” (halaman 91).

Pada hakikatnya setiap anak dilahirkan fitrah. Keluarga dan lingkungan yang memberikan kontribusi akhlak anak. Gambaran anak yang baik ini digambarkan penulisnya dengan cukup apik melalui cerita “Peri yang Baik Hati”. Mahar Jagat Raya anak seorang pengusaha kaya. Meskipun begitu, ia tidak sombong bahkan suka menolong dan berbagi pada siapa saja. Misalnya saja saat di jalan melihat nenek tua yang duduk di bangku terlihat lelah dan lapar, ia meminta ayahnya menghentikan mobil. Mahar mengajak nenek tersebut ke rumah makan dan bahka menyuapinya.

Saat di sekolah Mahar ada anak baru pindahan dari luar kota, dengan senang hati ia berteman. Padahal teman-temannya mengatakan kok mau-maunya Mahar dari keluarga terpandang berteman dengan anak kampung. Mahar justru mengingatkan temannya untuk menaati peraturan sekolah yang keempat, yaitu semuanya teman, tanpa membedakan derajat. Tak hanya itu, Mahar juga mengajak temannya untuk membiasakan jalan kaki. “Kita jalan kaki saja, ya… biar hemat, (halaman 101).

Tentu saja masih ada cerita-cerita lain yang sayang untuk dilewatkan. Ada banyak pelajaran moral yang bisa dipetik sekaligus diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Sebuah bacaan yang mendidik dan mencerahkan.

Yeti Islamawati, S.S., Anggota Perkumpulan Guru Madrasah Penulis (Pergumapi)

Resensi: Asyiknya Menuntut Ilmu

Oktober 17, 2018

Oleh Yeti Islamawati

Menuntut ilmu merupakan suatu kewajiban. Pepatah Arab mengatakan, tuntutlah ilmu hingga ke Cina. Atau anjuran untuk menuntut ilmu dari buaian hingga liang lahat. Ilmu itu lentera hati yang akan mengantarkan seseorang sukses dunia dan akhirat. Untuk itu, orang tua berkewajiban menyampaikan kepada anaknya betapa pentingnya menuntut ilmu.

Allah berfirman dalam Alquran surah Al Mujadilah ayat 11, “… Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat….” Disampaikan juga oleh Nabi Muhammad saw. , “Barang siapa menghendaki dunia, maka hal itu dapat diperoleh dengan ilmu. Dan barang siapa menghendaki akhirat, memperolehnya pun dengan ilmu,” Hadis Bukhori-Muslim.

Ellina School bercerita tentang si kembar Melly dan Nelly yang pindah sekolah atas perintah orang tuanya. Meskipun awalnya berat hati, pada akhirnya keduanya menerima keputusan Mom dan Dad. Mereka yakin, orang tuanya pasti mempunyai pertimbangan tertentu demi kebaikan keduanya. Selain itu, Melly dan Nelly mematuhi karena memang mereka sangat mencintai kedua orang tuanya. Hal tersebut patut dicontoh bagaimana melalui buku ini anak-anak diajarkan untuk menyayangi orang tuanya tanpa syarat. Tentu saja, mengingat orang tua telah berjasa dalam kehidupan kita, limpahan kasih sayang yang diberikan, tak akan pernah bisa dibalas lunas.

Penulis berhasil membuat kejutan pada jalan ceritanya. Ternyata, sekolah barunya berbeda dari sekolah lamanya. Sekolah Ellina School ternyata keren, fasilitasnya oke, serta pelajarannya boleh memilih sendiri. Melly dan Nelly bisa memilih pelajaran sesuai dengan kemampuan dan bakatnya. Setelah menjalani hari demi hari di sekolah barunya, Melly dan Nelly merasa bahwa sekolah itu memang sesuai dengan dirinya. Sungguh, orang tuanya telah melakukan hal yang tepat.

Meskipun demikian, Melly dan Nelly harus bersabar saat mengetahui bahwa “musuh” mereka, Angel, kembali menjadi teman sekolah mereka. Terbayang bagaimana jahil dan usilnya Angel saat di skeolah yang dulu. Bahkan di sekolah yang barupun mereka berdua harus kembali berhadapan dengan Angel. Diam-diam, Melly dan Nelly punya kiat jitu unutk membuat Angel insaf.

Apa yang dilakukan Melly terhadap musuhnya patut ditiru. Terlihat tokoh utama berhasil mengatasi permasalahannya secara cerdas dan solitif. Saat Melly memenangkan tantangan yang diajukan oleh Angel. Melly berhak mengajukan permohonan yang harus dikabulkan oleh Angel. “Tugasmu adalah menjadi sahabat kami dan tidak akan mengganggu orang lain lagi. Mulai sekarang, kalian harus berbuat baik” (halaman 61). Angel akhirnya menjadi sahabat Melly dan Nelly.

Lika-liku kisah sekolahnya di Ellina Scholl tentang sikap anak yang apa adanya, keinginan untuk bereksplorasi dan mencoba-coba sesuatu yang baru dijabarkan secara apik oleh penulisnya. Pembaca seolah-olah dibawa serta hadir di kehidupan tokoh-tokohnya.

Secara keseluruhan, buku cerita anak berjudul Ellina School menunjukkan pentingnya menuntut ilmu dengan sebaik-baiknya, mengembangkan kelebihan yang dimiliki, dan bagaimana kiat menyelesaikan masalah khas anak-anak. Selain itu, Novel Ellina School mengajarkan kepada anak bagaimana tegar dalam menghadapi masalah. Suatu hari Melly mengalami kecelakaan yang menyebabkan kakinya lumpuh. Mom menguatkan Melly, “Teruskan cita-citamu, Sayang. Mom yakin, Melly pasti bisa. Kau tahu, Melly? Di dunia ini tak ada yang mustahil. Mimpi adalah awal kesuksesan. Makanya, teruslah bermimpi dan berusaha” (halaman 85).

Ditulis oleh anak-anak sehingga tentunya membawa nuansa tersendiri. Dunia anak yang penuh dengan kejutan, selalu menarik untuk diselami. Kelebihan lain dari novel ini, pengetahuan penulis mengenai jenis-jenis makanan secara detail. Sebut saja banana split, waffle ice cream, parfruit, cream soup, sirloin steak, ice milk tea, sukiyaki, serta ice tea. Kekurangannya, pada beberapa bagian, terkesan melompat-lompat. Bisa dimaklumi karena perhatian anak-anak masih mudah terbagi. Cocok dibaca oleh semua umur, terutama anak-anak, dan orang tua.

Judul: Ellina School
Penulis: Anetta Tizian Wibowo
Penerbit: DAR! Mizan
Cetakan: I, 2017
Tebal: 104 halaman
ISBN: 978-602-420-533-1

Resensi: Doa sebagai Pelabuhan Harapan

September 05, 2018
Proumedia.co.id
Oleh Yeti Islamawati

Judul: Berdoalah untuk Urusan Apa pun
Penulis: Mohammad Fauzil Adhim
Penerbit: Pro-U Media, Yogyakarta
Cetakan: Pertama, 2017
Tebal: 236 halaman
ISBN: 978-602-7820-69-2

KETIKA manusia berada pada kondisi sulit dan di titik nadir, serta merta muncul rasa penuh harap pada yang Maha Segalanya. Harapan itu bernama doa. Setiap muslim memiliki senjata ampuh, yaitu doa. Sesungguhnya, doa itu adalah ibadah. Memperbanyak doa akan mendatangkan kebaikan. Sebaliknya, merasa cukup lalu menjauhkan diri dari berdoa kepada-nya merupakan kesombongan. Jika menyombongkan diri di hadapan manusia saja tercela, maka apalagi menyombongkan diri di hadapan Allah, terhadap Allah.

Firman Allah dalam Q.s. Al-Mu’min ayat 160, “Berdoalah kepada-Ku. Niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk Neraka Jahanam dalam keadaan hina dina.”

Sebagian doa, Allah segera kabulkan. Sebagian Allah tangguhkan berdasar kebijakan-Nya. Sebagian dijadikan simpanan sebagai simpanan pahala. Maka mintalah yang terbaik dan yang berlimpah barakah hingga Yaumil Qiyamah. Dan janganlah tergesa-gesa dengan doamu. Jika Allah tangguhkan pengabulan doamu, maka di sisi Allah tentang apa yang paling baik kesudahannya bagimu. Selebihnya, periksalah dirimu barang kali ada penghalang terkabulkannya doa. Ada beberapa perkara yang menjadikan doa seseorang tertolak (halaman 66).

Doa yang diterima adalah doa yang iklas dan menggunakan cara yang benar. Serta menjauhi dari doa yang dilarang. Salah satunya yaitu tidak boleh berdoa dengan memerinci permohonan secara detail. Seolah Allah yang Mahatahu, tidak mengetahui apa yang terbaik bagi hamba-Nya. Seakan khawatir Allah mengabulkan doa tak sesuai skenario kita. Hal tersebut termasuk perkara berlebih-lebihan dalam berdoa. Terjatuh pada sikap berlebihan terlalu yakin pikian kita yang terbaik.

Tidak tercela kita berdoa meminta rezeki, tapi janganlah melampaui batas dengan merinci-rinci seraya memvisualisasi misalnya, “Ya Allah, aku memohon kepada-Mu berikanlah aku mobil SUV terbaru yang matic, warnanya hitam 4000cc seperti digambar ini..” Hal tersebut merupakan adab yang buruk (halaman 75).

Selain itu, terdapat doa yang tidak sopan. Berdoa tetapi malah mengandung unsur menyombongkan diri. Yakin doanya pasti akan di dikabulkan. Tentu saja sebagai makhluk Allah, tidak boleh memastikan doa terkabul. Termasuk doa yang tidak sopan adalah doa yang memaksakan kehendak. Minta cepat-cepat dikabulkan. Padahal Allah yang paling mengetahui kapan sebaiknya doa dikabulkan.

Dalam berdoa, harus memerhatikan adapnya. Bagaimana adap berdoa? Panjatkan doa tiga kali sedapat mungkin menghadap kiblat. Angkatlah kedua tangan, sejajar dengan pundak menghadap ke arah wajah, berdoa dalam kedaan suci lebih utama. Melakukan doa hanya untuk memohon kebaikan bagi diri sendiri maupun sesama mukmin dan bukan mendoakan keburukan. Dahulukan dan utamakan doa atas perkara-perkara yang utama dalam agama, terlebih saat berada di tempat-tempat mustajabah. Bersikaplah tadharru’, khusyu’, raghbah (penuh pengharapan agar doa dikabulkan), dan rahbah (amat takut doa tidak dikabulkan) tatkala memohon kepada Allah. Tidak sombong kepada Allah dengan menganggap doa kita pasti akan selalu dikabulkan disebabkan oleh cara kita dalam berdoa (halaman 55-56).

Hendaknya dalam berdoa, bertawakallah kepada Allah, bukan kepada tempat. Memang ada tempat-tempat yang mustajabah untuk doa, tetapi ingatlah Allah jua penentunya.

Berdoalah untuk urusan apapun. Nabi Muhammad SAW bersabda, “Hendaklah salah seorang dari kalian senantiasa meminta kebutuhannya kepada Rabbnya, sampai pun ketika meminta garam, sampai pun meminta tali sandalnya ketika putus.” (H.r. At Tirmidzi)

Allah senantiasa dalam kesibukan, setiap saat, setiap detik, bahkan ketika kita sangat santai atau terlelap tidur. Allah senatiasa sibuk, tapi tak pernah kewalahan, mendengarkan, dan memenuhi yang Dia penuhi dari doa hamba-hamba-Nya. Dialah DzatYang tak pernah bosan mendengar doa hamba-hamba-Nya. Maka patutkah kita bosan meminta kepada-Nya?

Apalagi di dalam kehidupan seperti sekarang yang penuh silang sengkarut, sudah seharusnya kita memanjatkan doa. Berdoa sebagimana doa yang setiap saat kita baca dan kita mohonkan dalam shalat, “Tunjukilah kami jalan yang lurus,, (yaitu) jalan orang-oang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat (Q.s. Al Fatihah: 6-7).

Marilah kita senantiasa berdoa kepada Allah, dengan ikhlas dan tata cara yang benar. Semoga Allah menjaga kita agar senantiasa berada di jalan yang Allah ridhoi. Mintalah Sepenuh hati seraya bersungguh-sungguh menyempurnakan tawakal.

Yeti Islamawati adalah anggota Pergumapi dari Daerah Istimewa Yogyakarta. Resensinya pernah dimuat di Koran Jakarta, Harian Bhirawa, Kedaulatan Rakyat, Singgalang, Tribun Jateng, Kabar Madura, Radar Surabaya, Radar Sampit, Radar Cirebon, Padang Ekspres, Singgalang, Koran Pantura, serta Majalah Auleea.

Resensi Buku: Menciptakan Sikap Positif dalam Kehidupan

April 04, 2018

Judul: Islam itu Ramah Bukan Marah
Penulis: Irfan Amalee
Penerbit: Noura Books, Jakarta
Cetakan: I, Juli 2017
Tebal: ix + 197 Halaman
ISBN: 978-602-0989-70-9

Sebagai makhluk sosial manusia memerlukan interaksi dengan orang lain. Agar tercipta sebuah interaksi yang harmonis maka diperlukan beberapa sikap untuk menciptakannya. Di antaranya adalah mengedepankan sikap ramah. Seberapa pentingkah sikap ramah diciptakan dan bagaimanakah penerapannya?

Dalam bukunya yang berjudul Islam itu Ramah Bukan Marah, Irfan Amalee berusaha menjelaskan beberapa alasan perlunya kita memelihara sikap ramah dengan orang lain. Tidak hanya dengan sesama pemeluk agama Islam, tetapi dengan lain agama pun sangat diperlukan adanya sikap ramah. Selain sebagai salah satu cara untuk menghormati dan toleransi dengan penganut agama lain, sikap tersebut juga diperlukan sebagai salah satu langkah untuk mengembalikan citra Islam di mata dunia sebagai pembawa cinta dan perdamaian.

Buku karangan Irfan Amalee ini terbagi menjadi dua bagian, yakni All About Peace (hal 1-78) dan Character Building (hal 87-190). Pada bagian pertama Irfan Amalee banyak menyampaikan pendapatnya bahwa keadaan umat Islam sekarang ini semakin menunjukkan ketidakramahannya dan cenderung memicu konflik antar maupun internumat beragama. Menurutnya, nilai-nilai kemanusiaan yang dimiliki oleh umat Islam semakin menurun. Misalnya saja lunturnya rasa saling menghormati, menghargai, dan mencintai kedamaian. Hal ini ditunjukkan dengan mengambil beberapa contoh sebagai representasi mulai jauhnya nilai-nilai kemanusiaan yang berkembang saaat ini. Saling menyakiti antara satu dengan yang lainnya bahkan saling membunuh, kurangnya rasa menghargai orang lain, ketidakgigihan dalam berjuang, pendendam, mudah terprovokasi, mengesampingkan keramahan dan kesabaran, tidak berhati-hati, mudah berprasangka buruk, tidak mudah memaafkan, serta sifat dan sikap buruk lainnya.

Sementara itu, pada bagian kedua membahas tentang character building. Misalnya memelihara sikap positif dengan menghargai sebuah kelebihan dan memperbaiki kekurangan, membangun rasa welas asih dengan orang lain, fokus dengan satu target positif dalam hidup dan berusaha untuk mencapainya, berdoa untuk kebaikan diri sendiri dan orang lain, menjadi pemimpin yang mampu melayani dengan baik semua elemen yang dipimpinnya, menjadi teladan yang baik untuk sesama, percaya diri dan yakin menghadapi setiap peristiwa serta menyerahkan sepenuhnya pada keputusan Allah tanpa keluh kesah, berusaha optimis menghadapi masa depan, menjadi pribadi disiplin dan amanah, dermawan, gemar membaca, menjauhi sikap egois, dan mengembangkan kecerdasan dalam menghadapi kemalangan.

Tulisan-tulisan yang ada dalam buku tersebut dapat dijadikan sebagai bahan perenungan untuk memahami keadaan umat Islam sekarang ini dengan mengambil beberapa contoh sikap dan sifat baik yang dimiliki oleh Rasulullah s.a.w, nabi panutan seluruh umat muslim. Dengan bahasa yang mudah dipahami dan mengangkat contoh nyata maka semakin memberikan penguatan bahwa buku ini layak dibaca dan dijadikan referensi yang baik tentang bagaimana seharusnya umat Islam memelihara keislamannya dengan tidak meninggalkan sebutan sebagai agama rahmatan lil alamin.

Rina Harwati
Humas Pergumapi dan Guru MTs Negeri 7 Bantul

Resensi Buku: Jadilah Guru Inspiratif

Maret 14, 2018
Siska Yuniati
Guru MTs Negeri 3 Bantul, Ketua Umum Pergumapi

MENJADI guru ternyata tak sekadar berdiri di depan kelas, menjelaskan materi pelajaran sesuai dengan jadwal mengajarnya. Pun tak sekadar pula mangejar target sertifikasi dan menjadi sosok yang pantas untuk digugu dan ditiru.

Penggalan paragraf di atas menjadi pengantar buku Begini Cara Menjadi Guru Inspiratif & Disenangi Siswa. Acep Yonny dan Sri Rahayu Yunus mengelompokkan sosok guru menjadi dua tipe. Pertama, guru konvensional dan kedua, guru inspiratif. Tipe-tipe guru tersebut bertolak belakang dalam hal karakter dan cara mengajar. Guru konvensional memandang pekerjaannya sebagai beban, menghayati profesi keguruan dalam batas jam atau bunyi bel sekolah, dan berpikir bahwa sertifikasi guru adalah segalanya. Sementara guru inspiratif sangat terbuka dan membuka wawasan, baik untuk dirinya sendiri maupun bagi siswa-siwanya. Guru inspiratif tidak hanya memiliki kemampuan mentransformasikan pengetahuan dan pengalamannya, namun juga memberikan ketauladanan dan menginspirasi anak didiknya agar mereka dapat mengembangkan potensi diri dan memiliki akhlak yang baik.

Prof. Dr. Komaruddin Hidayat dalam Active Learning karya Mel Silberman juga menyebutkan bahwa kita tidak boleh terjebak dalam proses pendidikan dan pengajaran yang hanya melahirkan sarjana bermental tukang dan mental pengawal yang miskin imajinasi dan lemah karakter. Pendidikan harus bersifat emansipasif dan liberatif, pendidikan harus membebaskan manusia. Bebas dari apa? Dari kebodohan, dari ketertinggalan, dari penindasan, dan dari berbagai hal-hal yang membelenggu pertumbuhan manusia. Pendeknya, pendidikan harus mengantarkan manusia menjadi pribadi yang merdeka dan senatiasa tumbuh dan berkembang.


Untuk mencapai pribadi yang merdeka dan berkembang diperlukan guru yang inspiratif. Mengapa? Karena Guru inspiratif senantiasa mencari terobosan baru dalam mengajar serta memfasilitasi peserta didik untuk mencapai kesuksesan. Untuk menjadi guru inspiratif tidak serta merta dibentuk secara instans, melainkan diperlukan modal dasar. Dalam bab 2 dijelaskan modal dasar guru inspiratif adalah berpandangan positif, menjalin ikatan emosional, membuat aturan main bersama, membuat kegembiraan, membuat afirmasi, memberi pujian, berani mengambil resiko, serta membangun kesatuan.

Guru inspiratif juga mengetahui tipe belajar siswa untuk menciptakan proses pembelajaran yang mengasyikan. Sebagaimana kita ketahui bahwa seriap orang mempunyai kecenderungan tipe belajar tertentu. Sebagai contoh, siswa yang bertipe belajar olfaktoris, keberhasilan belajar bergantung pada indra penciuman. Dalam proses pembelajaran, guru dapat melakukan (1) gunakan aroma terapi saat kegiatan belajar sehingga menggugah minat belajar siswa, (2) perbanyak kegiatan belajar di alam terbuka, dan (3) hiasi ruang kelas dengan bunga-bunga alami (hal. 70).

Selain menjabarkan tipe belajar dan alternatif cara menyampaikan materi, buku ini juga memberikan teknik untuk mengatasi lupa dan kejenuhan. Di antara teknik yang diberikan adalah mnemonic device. Mnemonic device biasa juga disebuat muslihat memori, yaitu memasukkan informasi ke dalam otak dengan alat pengait mental. Ada bermacam-macam teknik mnemonic, seperti membuat rima (sajak) dan singkatan atau kata kunci. Contoh kata kunci dikreasikan dalam tepuk bersama-sama

TEPUK PARAGRAF

Plok-plok-plok narasi
Plok-plok-plok itu cerita
Plok-plok-plok deskripsi
Plok-plok-plok itu paparan
Plok-plok-plok argumentasi
Plok-plok-plok pakai alasan
Plok-plok-plok persuasi
Plok-plok-plok itu bujukan

Teknik semacam ini membuat suasana belajar tidak terkesan kaku. Siswa dapat mengingat materi dengan perasaan suka cita.Apalagi jika dipadu dengan sepuluh metode yang paling digemari siswa. Ya, ternyata siswa lebih senang belajar dengan metode bermain peran, eksperimen, diskusi, demonstrasi, proyek, widyawisata, permainan, cerita, latihan bersama teman, dan pemecahan masalah (brainstorming).

Bisa kita bayangkan seandainya proses pembelajaran berlangsung menyenangkan dan siswa tertantang untuk terus bersemangat melahap ilmu, tentulah di masa mendatang bangsa ini akan dipenuhi generasi kreatif yang membanggakan. Di sinilah dedikasi seorang guru dipertaruhkan. Dedikasi guru dapat dibangun dengan cara menumbuhkan keyakinan akan kekuasaan Tuhan dan rasa ikhlas. Jangan bertanya tentang apa yang akan saya peroleh, tetapi bertanyalah tentang apa yang dapat saya sumbangkan. Jiwa dedikasi juga dapat diperoleh dengan mengajar dengan cinta serta belajar pada tokoh-tokoh yang memiliki idealisme tinggi. Nah, jika Anda seorang guru sudahkan mempunyai dedikasi yang tinggi? Dengan dedikasi yang tinggi Anda akan menjadi guru inspiratif, guru yang terus menginspirasi peserta didik untuk lebih kreatif dan mandiri.

Judul Buku: Begini Cara Menjadi Guru Inspiratif & Disenangi Siswa
Penulis: Acep Yonny dan Sri Rahayu Yunus
Penerbit: Pustaka Widyatama
Tahun Terbit: 2011
ISBN: 978-979-610-469-7
Tebal: 160 halaman

Resensi Buku: Keajaiban Seni Beres-Beres Menggunakan Metode KonMari

Maret 07, 2018
Twiitter @bentangpustaka
Oleh Yeti Islamawati

Judul: The Life-Canging Magic of Tidying Up
Penulis: Marie Kondo 
Penerbit: Bentang 
Cetakan: Pertama, 2016
Tebal: 206 halaman
ISBN: 978-602-291-244-6

MARIE Kondo mengelola bisnis konsultan terkemuka di Tokyo. Tujuannya membantu para klien menyulap rumah mereka yang berantakan menjadi tempat tinggal yang damai dan menginspirasi. Setelah menghabiskan separuh hidupnya untuk mempelajari seni berbenah akhirnya berhasil merumuskan metode KonMari.

Jika boleh memilih, sebagian besar orang tentu ingin menghuni ruangan yang bersih dan rapi. Itulah kenapa kita perlu mempelajari teknik berbenah dengan cara yang benar.

Ingat-ingat kembali ke masa kecil, kebanyakan kita pernah dimarahi karena tidak merapikan kamar, tetapi berapa banyak orang tua yang secara khusus mengajarkan cara berbenah sebagai bagian dari pendidikan untuk anak? (halaman 2)

Secara garis besar, berbenah hanya terbagi ke dalam dua aktivitas: memutuskan untuk membuang suatu barang atau tidak, kemudian memutuskan hendak menyimpan di mana. Anda tinggal melihat tiap barang, satu per satu, kemudian memutuskan Jika Anda tidak ingin kembali ke kebiasaan berantakan, itulah satu-satunya cara untuk berbenah (halaman 11).

Apa yang menjadi patokan suatu barang dibuang atau disimpan? Jawabannya sederhana, yaitu “membangkitkan kegembiraan” atau tidak. Kita hanya perlu memastikan dikelilingi benda-benda yang disukai.

Kegiatan membereskan rumah yang paling efektif yaitu dengan sistem berbenah berdasarkan kategori. Urutan terbaik untuk memulai berbenah dimulai dari pakaian, lalu buku, kertas, komono (pernak-pernik), dan terakhir kenang-kenangan. Dengan menerapkan urut-urutan tersebut terasah pula insting kita terkait barang mana yang membangkitkan kegembiraan, dan mana yang tidak. (halaman 38).

Tahap pertama beres-beres menggunakan metode KonMari yaitu membuang barang-barang yang tidak “menyentuh hati”. Barang-barang kenangan dibereskan paling akhir karena yang paling sulit. Keengganan kita membuang barang tertentu sebetulnya hanya berakar pada dua penyebab, yaitu keterikatan pada masa lalu atau kecemasan akan masa depan. Saat itu terjadi, kita hanya perlu mengucapkan terima kasih, mensyukuri barang tersebut pernah hadir, dan melepaskan dengan ikhlas atas tugasnya yang usai.

Setelah kegiatan membuang, tahap kedua yaitu penyimpanan barang yang telah terpilih. Setiap barang perlu diletakkan di tempat tersendiri. Itu artinya tiap benda harus memiliki tempat penyimpanan khusus. Barang yang tidak punya tempat tinggal tersendiri, kian besar untuk kembali pada kebiasaan berantakan.

Tidak perlu membuang-buang banyak uang membeli barang khusus untuk menyimpan. Kita dapat menggunakan barang yang ada di rumah, misalnya kotak sepatu atau simpan tas di dalam tas lain.

Selain itu, menyimpan barang hendaknya dilakukan secara vertikal jangan ditumpuk. Bahkan pakaian dan kaos kaki dilipat untuk disimpan secara berdiri. Kenapa? Alasan pertama, jika kita menumpuk barang, tempat penyimpanan niscaya terkesan tak ada habis-habis. Barang bisa ditumpuk terus-menerus sehingga kita akan luput memperhatikan jumlah yang kian bertambah.

Alasan yang kedua yaitu membebani barang yang paling bawah. Ketika barang ditumpuk-tumpuk, benda yang berada paling bawah pasti tergencet. Kebiasaan menumpuk akan melemahkan dan merusak barang yang menopang keseluruhan bobot tumpukan. Selain itu, benda-benda di bagian bawah tumpukan praktis terlupakan karena kita abai.

Dengan menata ulang rumah secara menyeluruh, gaya hidup dan perspektif akan ikut berubah drastis. Kehidupan yang dijalani niscaya mengalami transformasi besar-besaran.

Melalui kegiatan membabat habis situasi berantakan, penghuni rumah akan menikmati efek ajaib. Keajaiban berbenah adalah membuat kita percaya diri akan kemampuan kita dalam mengambil keputusan.

 Berbenah sekaligus juga merupakan cara ampuh untuk menguak apa yang kita sukai. Oleh karena itu, selain tidak berantakan lagi melalui berbenah juga akan mendapatkan awal baru dalam hidup kita. Semestinya, berbenah merupakan kegiatan untuk memulihkan keseimbangan antara orang-orang, barang milik mereka, dan rumah mereka. Tempat tinggal memengaruhi raga kita. Ketika mengurangi barang yang kita miliki dan men-“detoks” rumah, raga kita seolah turut terkena imbas detoksifikasi. Begitu keadaan rumah rapi, pikiran damai akan mengikuti.

Selesai membaca buku The Life-Canging Magic of Tidying Up, kita dapat langsung praktik seni beres-beres dan metode merapikan ala Jepang. Cocok dibaca bagi siapapun, terutama ibu dan calon ibu. Selamat mencoba. (*)

Yeti Islamawati, S.S. alumni Universitas Negeri Yogyakarta. Saat ini bergiat di tim humas Kemenag kanwil DIY. Keseharian mengajar di MTs Negeri 9 Bantul. Resensinya pernah dimuat di Harian Bhirawa Jawa Timur, Tribun Jogja, Tribun Jateng, Kabar Madura, serta Majalah Auleea. Tulisannya berupa artikel dan opini pernah dimuat di Republika, Kedaulatan Rakyat, Harian Bernas, dan Majalah Guru Jakarta. Tulisan berjudul "Keajaiban Seni Beres-Beres Menggunakan Metode KonMari" ini disiarkan pertama kali di Radar Sampit edisi 24 September 2017 halaman 20.

Resensi Buku: Wujudkan Impian dengan Cerdas Finansial

Maret 07, 2018
Anuk Kuswanti
Guru MTs Negeri 1 Bantul, Anggota Pergumapi

Judul: Buku Harian Anak Cermat Cerdas dan Hemat Solusi Cerdas Finansial Sejak Dini 
Penulis: Naila M. Tazkiyyah
Penerbit: Ihsan Media, Jakarta
Cetakan: I, April 2016
Tebal: 99 Halaman
ISBN: 978-602-70933-6-2

SIAPAKAH yang tidak menginginkan putra-putrinya  tumbuh menjadi anak cerdas? Baik cerdas akademik, cerdas emosi, cerdas religius, bahkan cerdas finansial.

Buku ini merupakan buku pertama yang mengajarkan cara mengelola keuangan sejak dini, sehingga diharapkan terwujud anak-anak yang tidak hanya cerdas akademinya, emosinya, religinya, tetapi juga finansialnya.

Diawali sebuah cerita berjudul “Kisah Fiko dan Fino”. Kisah ini  mengajak anak-anak untuk berpikir,  membandingkan dua cara yang berbeda yang dilakukan tokoh Fiko dan Fino dalam mewujudkan mimpi mereka ingin memiliki sepeda lipat keren. Meminta saja kepada orang tua ataukah menabung dulu? (Halaman 1)

Bagian berikutnya buku ini menjelaskan tahapan mewujudkan mimpi, dilengkapi pula cara menggunakan buku ini bagi anak, maupun orang tua, dan pendidik. Dengan harapan orang tua dapat mendampingi anak ketika memahami dan mengisi buku ini.


Bagian inti buku  ini disajikan dalam bentuk buku harian berupa kolom-kolom yang bisa diisi anak untuk berlatih mengelola keuangannya. Terdiri atas kolom tanggal, pemasukan, pengeluaran, dan sisa uang. Pada kolom pemasukan dibagi lagi menjadi kolom uang saku, hasil usaha, dan hadiah. Sedangkan kolom pengeluaran dibagi menjadi kolom keterangan, kebutuhan, keinginan, dan berbagi. Lebih lengkapnya pembaca bisa mencermati di halaman7.

Buku ini siap digunakan anak selama satu tahun. Dibagi dalam 12 bulan, setiap bulan dilengkapi “Tips Cerdas Keuangan” yang memotivasi anak. Sebagai contoh Tips Cerdas Keuangan 1 “Selalu sisihkan uang saku kalian sebagai tabungan dulu sebelum digunakan untuk hal lain, lebih baik lagi kalau berbagi juga dijadikan prioritas”. Kata-kata dalam tips mudah dicerna anak dan sangat menginspirasi.

Buku ini memang mempunyai daya tarik baca untuk anak, selain kertasnya yang berwarna-warni,  anak-anak diajak untuk mengisi “Games Edukatif” yang dikemas variatif, tidak lepas dari tema keuangan. Selain itu,  bisa menjadi alternatif bagi orang tua dan pendidik dalam mengenalkan pengelolaan keuangan, menabung sejak dini untuk mewujudkan mimpi-mimpi mereka. (*)

Teladan dan Nasihat Ibu untuk Kebahagiaan Anaknya

Februari 28, 2018
Judul buku: Kegetiran dan Nasihat Ibu Menjadikan Kita Sukses dan Bahagia
Penulis: Dr. Bambang Marsono, M.B.A.
Penerbit: Elex Media Komputindo
Tahun terbit: 2011
Jumlah halaman: xi + 238

SAAT seorang ibu melahirkan anaknya, rasa sakit yang luar biasa pun terbayar sudah. Hanya rasa syukur dan bahagia senantiasa menghiasi rona wajahnya. Detik demi detik, waktu demi waktu dilaluinya dengan segala perasaannya. Meski lelah, capai, mengantuk, dan bahkan kadang merasa sakit. Ibu tetap merawat anaknya dengan penuh kasih sayang hingga anaknya tumbuh dewasa.

Sampai anak-anaknya dewasa pun seorang ibu kadang masih mengkhawatirkan kondisi anaknya, Ibu merasa belum cukup memberi bekal pada anaknya, oleh karena itu seorang ibu sering memberikan nasihat-nasihatnya kepada anaknya.

Seperti yang dirasakan dan dipaparkan oleh penulis buku ini, beliau mengenang kepribadian anggun, kepemimpinan, keteladanan dan keindahan yang ada pada ibunya. Buku ini sarat dengan nasihat yang bisa kita teladani dan kita terapkan dalam kehidupan kita sehari-hari. Apalagi di era global seperti saat ini banyak norma sopan santun yang mulai memudar, banyak anak yang tidak bisa / tidak terbiasa menghormati ibunya atau orang yang lebih tua dan juga gurunya.
Dalam buku ini dipaparkan  sosok seorang ibu ideal yang meskipun tidak berpendidikan tinggi, namun memiliki kecerdasan yang luar biasa, berkepribadian kuat, terampil, lembut,  sopan santun, tanggap dan trengginas. Seorang ibu yang selalu menjadi sumber inspirasi putra-putrinya, yang mampu memberikan rasa aman, mengayomi dan menenteramkan.

Nasihat-nasihat yang dipaparkan dalam buku ini sangat menarik untuk disimak, meskipun disampaikan dengan ungkapan dalam bahasa Jawa, namun sudah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia, sehingga memudahkan kita untuk memahaminya.

Nasihat yang tertulis dalam buku ini sangat mendetail, mulai dari nasihat saat masih kecil dengan segala kondisi dan keadaan yang dialaminya, kepribadian anak perempuan/ laki-laki yang baik, nasihat bagi anak-anak agar masa depannya cerah, serta kepribadian seorang pegawai, pemimpin dan penguasa.

Nasihat ibu disampaikan dengan sederhana, simpel, dan mudah dipahami bagi pembaca . Meskipun masih ada kekurangan di sana-sini antara lain tidak adanya penomoran (numbering) dan kadang masih adanya pengulangan artikel, namun buku ini layak dibaca . Sangat disayangkan kalau tidak membaca buku ini karena sarat dengan filosofi kehidupan yang kita hadapi sehari-hari. Banyak nasihat/teladan yang bisa kita ambil hikmahnya dari buku ini dan akan menempa kita menjadi pribadi yang unggul dan tangguh. Selamat membaca!

Ayu Dewi Widowati
Guru MTs Negeri II Yogyakarta, Redaktur Majalah Candra, dan Anggota Pergumapi.

Resensi: Kreatiflah Sebelum Kreatif Dilarang

Februari 21, 2018

Judul buku: Sila ke-6 Kreatif Sampai Mati
Penulis: Wahyu Aditya
Penerbit: Bentang
Tahun terbit: 2013

Untuk menjadi manusia kreatif adalah tidak mudah. Tetapi semua manusia bisa kreatif, asal dia mau dan bisa bangkit untuk menjadi kreatif. Dengan kreatif seseorang akan bisa mengeksplorasi apa yang ada pada dirinya semaksimal mungkin, sesuai keinginan yang dimauinya.

Kreativitas sangat diperlukan bagi siapa saja , karena di zaman yang kompetitif ini kreatif merupakan kunci menuju kesuksesan. dan tak dapat dipungkiri hampir semua orang mendambakan kesuksesan.

Buku berjudul Kreatif Sampai Mati membawa kita untuk menjadi kreatif dan selalu kreatif. Buku ini sarat dengan berbagai satire yang mengkritisi  pemerintah dalam hal apa saja,terutama dalam hal pengambilan kebijakan.

Buku yang disajkan dengan ringan ini layak dibaca oleh siapa saja, baik kalangan tua atau pun muda. Karena disampaikan dengan cukup bagus mulai dari ukuran buku yang tidak terlalu lebar, ringan dibaca, desain cover yang menarik, dan ringan dibawa. Meskipun disampaikan dengan ringan dan lugas, tetapi isi buku ini sangat berbobot. Buku ini didesain sangat menarik, disampaikan penuh warna , tidak monoton, lay out yang bagus, dilengkapi gambar-gambar  yang mendukung, apalagi ditambah dengan halaman yang full colour di setiap pergantian bab/butir buku menambah keindahan buku ini.

Akhirnya semua kembali pada kita, akankah kita termasuk orang yang ingin kreatif dan bisa mengubah dunia ataukah kita hanya bisa berperan sebagai wayang yang  mengikuti kemauan dalangnya saja.

Segala kekurangan yang ada di dalamnya tetap membuat buku Kreatif Sampai Mati  ini layak dibaca karena dari buku ini kita banyak belajar tentang bagaimana berpikir kritis, mengubah hal-hal yang monoton, mengisi hidup ini dengan hal-hal yang bermakna dan tetap kreatif sampai mati. Oke?

Dra, Ayu Dewi Widowati, guru MTs Negeri 2 Kota Yogyakarta dan Pengurus Perkumpulan Guru Madrasah Penulis (Pergumapi). Tulisan ini disiarkan pertama di Majalah Candra edisi 5/XLIII/2013.

Resensi: Rahasia Lulus Kuliah Umur 11 Tahun

Februari 21, 2018
Siska Yuniati
Guru MTs Negeri 3 Bantul, Ketua Umum Pergumapi

Perjalanan Yogyakarta-Jakarta akan terasa jauh dan melelahkan ketika kita memilih mengendarai sebuah mobil. Setidaknya kita membutuhkan waktu 12 jam untuk mencapainya. Akan tetapi, perjalanan tersebut akan demikian singkat tatkala kita memilih menumpang pesawat. Dalam waktu kurang dari satu jam kita sudah sampai di tempat tujuan. Pilihan terakhir memaksa kita mengeluarkan biaya lebih mahal, akan tetapi dari segi waktu sungguh terpaut jauh. Apalagi jika selisih waktu itu memberi kita kesempatan untuk beraktivitas yang lebih berkualitas, tentu masalah uang akan terlihat sepele.

Tulisan ini tidak berbicara mengenai uang. Namun, ada banyak hal yang dapat kita peroleh manakala kita jitu menyusun strategi untuk meraih suatu tujuan yang kelihatannya tidak mungkin. Moshe Kai Cavalin, anak 11 tahun yang lulus kuliah dengan nilai sempurna, menceritakan kesuksesannya dalam sebuah buku. Ada satu catatan yang dituliskan Moshe Kai dalam buku tersebut, “Aku tidak genius, dengan strategi dan metode belajar yang tepat, bisa berprestasi akademis dan meraih banyak trofi dari kompetisi bela diri, piano, drama, menyelam, dan menerbangkan pesawat ringan”.

Moshe Kai Kavalin lahir di California pada tanggal 14 Februari 1998. Ayahnya sendiri lahir di Brazil, keturunan dari orang tua yang berdarah Italia, Portugis, Brazil, Jerman, dan Polandia. Sementara, ibunya lahir di Taiwan, keturunan Taiwan dan Cina Daratan. Seperti bayi pada umumnya, Moshe Kai, demikian nama yang dipilihnya, memiliki pertumbuhan yang wajar. Keistimewaan itu muncul berkat pola asuh dan stimulan yang diberikan oleh kedua orang tua beserta kakek dan neneknya.

Proses belajar yang sebenarnya dimulai segera setelah aku lahir. Ayah berpikir dengan meletakkan benda-benda yang menarik perhatianku di dalam boks bayi adalah penting karena melatih interaksi pancainderaku. Musik klasik atau musik yang lembut dimainkan di sekelilingku dengan suara lirih hampir setiap saat (hal. 10). Ayah Moshe Kai di sela-sela kesibukannya bekerja memang sangat memperhatikan anaknya. Menurutnya, stimulan sensoris adalah yang penting, terutama untuk menyetimululasi kemampuan audio-visual. Pancaindera seorang anak harus selalu dirangsang. Stimulus audio dan visual mempercepat perkembangan otak bayi.


Stimulus yang dilakukan ayah Moshe Kai tidak hanya dilakukan di dalam boks bayi, namun ia juga memanfaatkan keramaian lingkungan untuk menunjukkan benda dan namanya kepada Moshe Kai. Hal sederhana yang dilakukan adalah membawa Moshe Cai di depan rumah, menunggu pesawat jet yang akan melintasi angkasa. Begitu pesawat melintas, ayah Moshe Kai akan menunjuk pesawat dan mengucapkan kata “feitchi” (bahasa Cina untuk pesawat). Setelah berbulan-bulan dilakukan, pada usia empat bulan Moshe Kai dapat meniru apa yang ditunjuk dan dikatakan ayahnya.

Melihat perkembangan Moshe kai, kedua orang tuanya terus memberi stimulan, termasuk menggunakan kartu-kartu bergambar untuk menambah kosakata. Tidak berhenti di situ, ketahanan fisik juga diperhatikan. Usai makan malam, biasanya Moshe Kai diajak berkeliling blok dengan berjalan kaki. Moshe Kai juga mengikuti beberapa kelas bela diri. Ia pun berlatih piano. Beberapa kompetisi bela diri dan piano yang diikutinya mengantarkannya menjadi juara.

Kehidupan Moshe Kai tidaklah selalu mulus. Moshe Kai pernah mengalami banyak penolakan ketika mendaftar di sekolah formal. Pada usia 6 tahun ia hanya boleh belajar di kelas satu, padahal kemampuannya jauh di atas itu. Ayah Moshe tidak mau kalau anaknya harus mengulang pelajaran yang sudah ia kuasai. Demikian juga untuk kelas setingkat SMP dan SMA semua menolak menerima Moshe Kai menjadi siswa dengan berbagai alasan. Ada yang memberi alasan bahwa kehadiran Moshe Kai akan membuat siswa lain minder. Setelah mengalami berbagai penolakan, akhirnya ayah Moshe Kai menjatuhkan pilihan home schooling untuk pendidikan anaknya.

Moshe Kai dapat kuliah pada usia delapan tahun lantaran ada sebuah akademi junior, yaitu East Los Angeles College (ELAC), yang mengizinkannya mengikuti tes masuk. Pada awal kuliah, Moshe Kai sering diragukan kemampuannya oleh dosen. Hanya saja, Moshe Kai selalu mengingat nasihat ayahnya yakni: rencanakan, banyak latihan, dan tunjukkan.

Selain menceritakan kisah hidupnya, dalam buku setebal 138 halaman ini Moshe Kai berbagi rahasia suksesnya. Rahasia tersebut antara lain strategi belajar di rumah dan di sekolah, mengatur waktu antara bermain dan belajar, pembagian peran ayah dan ibu, stimulasi sejak dini, panduan membuat aturan, reward, dan punishment, dan lain sebagainya.

Membaca buku ini kita akan melihat bahwa Moshe Kai tumbuh dan berkembang  dengan kesederhanaan dan penuh keceriaan. Sebuah buku yang memberikan motivasi pada anak untuk terus berusaha mewujudkan visinya. Juga sentilan bagi orang tua untuk selalu mendampingi anak-anak dalam menjalani kehidupannya. Perhatian, cinta, dan kesungguhan orang tua adahlah hal penting yang dibutuhkan anak-anak untuk meraih masa depan yang lebih cerah.

Judul Buku: Ditolak di Sekolah Formal, Lulus Kuliah Umur 11 Tahun dengan IPK 4!
Penulis: Moshe Kai Cavalin
Penerjemah: Dina Mardiana
Penerbit: Media Pusindo
Tahun Terbit: 2012
Tebal: vi + 138 halaman

Tulisan ini dipublikasikan pertama kali pada Majalah Bakti Edisi No. 264-THXX-Maret 2013.

Resensi: Bersyukur adalah Kebutuhan

Februari 14, 2018
Judul: Tuhan, Maaf, Kami Belum Bersyukur 
Penulis: Irja Nasrullah
Penerbit: Mizania, Bandung
Cetakan: I, Februari 2016
Tebal: 212 Halaman
ISBN: 978-602-418-003-4

Manusia adalah makhluk yang diciptakan paling sempurna, maka sewajarnyalah kita mensyukurinya. Namun, sudahkah kita bersyukur? Mengapa kita harus bersyukur?

Irja Nasurallah dalam bukunya mengajak kita untuk merenung, instrospeksi diri guna menjawab dua pertanyaan di atas. Menadaburi alam semesta, serta seluruh ciptaan-Nya, termasuk penciptaan diri kita adalah langkah awal untuk memunculkan kesadaran syukur kepada Yang Mahakuasa.

Hanya Allah yang pantas menerima pujian dan ucapan terima kasih. Mengapa? Dalam buku ini dijelaskan secara rinci alasan mengapa ucapan syukur itu hanya untuk Allah semata (hal 37 -42). Namun sejatinya Allah tidak memerlukan rasa syukur  dari manusia, tetapi manusialah yang memerlukannya (hal 14). Syukur adalah kebutuhan manusia, dan siapa saja yang tidak bersyukur, dia telah menzalimi dirinya sendiri. Bagaimana bisa dikatakan kebutuhan? Karena tanpanya, seseorang tidak akan mampu mencapai kebahagiaan dan ketenteraman hidup. Kebahagiaan dan kententeraman merupakan kebutuhan manusia, sejak manusia diciptakan hingga kiamat tiba.


Dalam buku ini disuguhkan kisah seorang yang ditakdirkan lahir tanpa kaki, dan di usia 1,5 tahun  kehilangan penglihatannya (hal 28-31). Dengan keterbatasan ini, ternyata tidak  menyurutkan keinginan si anak untuk bersekolah. Hingga akhirnya ia menamatkan SMA dan melanjutkan S1. Bahkan melanjutkan program doktoral. Kariernya terus meningkat dengan kondisi tanpa kaki dan buta. Dia adalah Prof. Dr. Zaky Muhammad Ahmad Ustman, salah satu profesor sekaligus ulama masyhur di Universitas Al-Azhar.

Demikian Allah Maha Berkehendak atas takdir hamba-hamba-Nya. Kisah di atas menginspirasi kita untuk selalu meningkatkan kesyukuran atas kondisi apapun yang ditakdirkan pada diri kita. Bagaimanakah cara bersyukur? Buku ini memaparkan syukur yang  dilakukan dengan hati, lisan, maupun perbuatan  dengan gamblang (hal 119 – 121). Rasa syukur adalah indikasi diterimanya amal ibadah kita.

Dengan membaca buku ini, hati kita akan tergiring untuk selalu syukur nikmat,  menjauh dari sifat kufur nikmat.

Anuk Kuswanti
Guru MTs Negeri 1 Bantul, Anggota Perkumpulan Guru Madrasah Penulis

Mengenang Kembali Kejayaan Budaya Islam melalui Novel

Februari 09, 2018
@rizkymirgawati
Judul : Reem
Penulis : Sinta Yudisia
Penerbit : Mizan
Cetakan : Pertama, Agustus 2017
Tebal : 350 halaman
ISBN : 978-602-6716-11-8

Saat berada di Benteng Oudaya, Reem membayangkan di hadapannya ada seorang pemuda, yang lolos dari pembantaian Rusafa, Damaskus, kemudian melarikan diri jauh hingga ke semenanjung Iberia. Dialah Abdurrahman. Rasa sakit, kesepian, kesunyian, kerinduan pada kampung halaman, serta dahsyatnya kematian menyalakan kobar api kehidupan dalam dirinya. Abdurrahman membangun suatu sudut yang pada akhirnya dikenal sebagai Ornament of the Word, perhiasan dunia. Demikianlah, Cordoba atau Qurtubah, dengan ciri khas air mengalir serta perpustakaan menjadi permata dunia Islam yang indah selain Damaskus dan Baghdad.

Maroko dan Spanyol, terhubung oleh perbatasan. Terikat oleh sejarah. Terjalin oleh darah pengelana yang melintas di atasnya. Tersambung oleh ingatan-ingatan serta harapan indah bahwa suatu masa, Andalusia pernah menjadi mercusuar dunia dan akan tetap menjadi permata untuk selamanya (halaman 289).

Reem Radhwa, perempuan cantik berdarah Palestina-Indonesa adalah seorang mahasiswa studi sejarah. Pada suatu Aksi Palestina di Gedung Parlemen Maroko, Reem membacakan puisi tentang Nasihat Seorang Ibu untuk anak-anak Palestina. Hadirin terpana dan terpesona terpana, tak kecuali Kasim, pemuda Indonesia yang sedang menempuh kuliah di Maroko. Untuk tugas akhir, Kasim membuat kajian tentang trauma terhadap perkembangan budaya dan linguistik pada masyarakat korban perang. Reem pun diburunya untuk menjadi salah satu subjek penelitian.

Perkenalan keduanya membawa pada diskusi panjang lebar seputar filosofi hidup, sejarah, dan Palestina. Hati kasim bergetar sejak pertemuan pertama. Reem yang mempunyai jiwa seni, lihai menulis dan pandai melukis. Rem yang sangat cerdas, tenang, sekaligus pemberani, bahkan telah hafal al Quran sejak usia 11 tahun.

Cerita novel ini memang sangat romantis. Namun bukan kekedar roman picisan. Kisah romantis yang dibalut nilai sejarah. Sarat pengetahuan tentang kejayaan kebudayaan Islam di masa lampau. Ceritanya sesekali ditingkahi kisah lucu Alya, adik Kasim dan Ilham sahabat karibnya.

Perjalanan cinta mereka tidaklah mulus. dr Maher, ayah Reem sejak awal memberikan penolakan secara tegas. Kasim dilarang mendekati Reem yang hanya akan mengingatkan Reem tentang Palestina. Padahal dr. Maher sendiri masih belum menerima kepergian istrinya yang begitu cepat di Palestina.

Masalah tak kalah pelik ketika Karim dan Alya diminta secara tiba-tiba oleh orang tuanya untuk pulang kembali ke Indonesia. Karim ternyata dijodohkan dengan Alya yang ternyata bukan adik kandungnya demi menyelamatkan perusahaan. Masalah meruncing ketika Ilham merasa Karim telah membohonginya, padahal Karim tahu pasti bahwa Ilham menyukai Alya bahkan hendak dilamar.

Sementara itu, Reem berjuang dengan penyakit kanker rahim yang dideritanya. Kesehatannya memburuk, hingga akhirnya rahim Reem diangkat. Reem kuat menjalani hari-hari beratnya dengan lebih sering shalat dan berinteraksi dengan Al Quran. Namun ada yang hilang di hati Reem. Bayang Kasim selalu hadir. “Pertemuan kita adalah anugerah. Dan, aku bersyukur, memiliki kebijaksanaan lebih dalam memandang kehidupan. Juga, kematian. Sungguh, Izrail menyapa seseorang bukan berdasar usia atau penyakitnya,” (halaman 349).

Pada sebuah titik, dr Maher tahu, bahwa Reem membutuhkan seseorang untuk menguatkannya. Seseorang yang sama-sama mencintai Palestina. Pembaca pasti akan penasaran dengan ending cerita ini.

Sinta Yudisia sangat piawai dalam melukiskan detail latar, tidak sekedar tempelan. “Gedung Parlemen Maroko terletak di Rabat, tepat di tengah jalan kembar Muhammad Khamis. Bangunan utama didominasi warna cokelat kuning emas, dengan pilar-pilar tinggi warn asenada. Aksen merah menyala menghiasi dinding bangunan, tegas dan berani. Bangunan lantai dua memiliki tujuh jendela bersar di lantai atas dengan tirai putih mutiara tersibak. Tiga bendera merah Maroko berkibar gagah: satu di atap, dua di sisi kiri dan kanan jalan setapak. Lambang bintang di tengah berwarna hinjau tua, bersudut lima membentuk pentagram (halaman 25). Tak ayal lagi karena penulisnya pernah ke sana.

Saat menggambarkan bangunan kampus, “Bata kuning berpadu pualam yang dipahat dengan pola berukir, pilar kembar di kanan dan kiri. pintu masuk kayu, berbentuk anyaman seperti motif pada permadani Beni Ourain, menempel pada kaca-kaca hingga cahaya tetap berlimpah masuk. Lentera besi penuh ornamen tergantung cantik di tepi dinding (halaman 60).

Pembaca juga akan dimanjakan dengan paparan tentang Fez. Kota ini memiliki 5617 lorong. Dulu lorong-lorong ini merupakan jalan rahasia. Bangunan-bangunan menjulang, terhubung dengan lorong-lorong, pintu raksasa dan dinding beton. Pilar, minaret, kubah, zillij, masih tetap dipertahakan pada bangunan madrasah yang menyerupai museum. Menyiratkan pesan bahwa dahulu kala, para pelajar madrasah bukan hanya digembleng keras menimba ilmu serta menghasilkan tulisan, tetapi juga dihibur oleh keindahan arsitektur di area belajar dan area ibadah.

Novel ini juga bertabur istlah Maroko yang akan memperkaya wawasan pembaca. Sebut saja karmush, rubu’dijaj, zillij, djellaba, briwat, libzar, skinjbir, riad.  Selain juga bahasa Perancis karena memang banyak Masyarakat Maroko menggunakannya. Sebuah novel romantis berbalut sejarah yang cocok di baca oleh siapa saja.

Yeti Islamawati, Guru MTs 9 Bantul, Anggota Pergumapi
Disiarkan pertama kali di Kabar Madura, 11 Desember 2017 halaman 6.

Resensi Buku: Potret Sosial Masyarakat dalam Novel

Yun Februari 07, 2018
mizan.com
PERGUMAPI.or.id--A Teeuw, pakar sastra dan budaya Indonesia asal Belanda mengemukakan bahwa karya sastra lahir tidak dalam kekosongan budaya. Pengarang akan membawa budaya yang melekat pada dirinya. Maka, apa yang dituliskan Andrea Hirata dalam novel Sirkus Pohon merupakan cermin budaya yang dianutnya. Bahkan pada bagian pengantar, penulis buku mengemukakan, “Fiksi, cara terbaik menceritakan fakta.”

Muasal cerita ini dari pohon delima (punica granatum). Buahnya berkilat dan apabila dikupas susunannya di dalamnya akan terlihat biji-bijian merah segar, manis masam rasanya. Bahkan buah ini merupakan salah satu buah yang tersebut dalam al-Qur’an selain buah Tin, Zaitun, Anggur dan kurma. Dalam banyak budaya, delima melambangkan kesuburan dan panjang usia.

Dari sekian banyak keunggulan delima, penulis justru menggambarkan kebencian tokoh aku, Sobridin, pada pohon delima yang tumbuh di kebun miliknya. Pohon delima itu membuat tokoh aku berurusan dengan sel di polsek Belantik. Saat Sobridin menyobek-nyobek poster balon lurah yang ditempel di pohon delima miliknya. Namun, sebenci apa pun pada pohon delima, tokoh aku tak kuasa untuk menebangnya karena sepasang burung kutilang yang bertengger di atas dahannya. Terlebih, saat Dinda, perempuan yang dicintainya hobi makan buah delima.

Apa yang disampaikan dalam novel Sirkus pohon adalah kejadian yang dapat menimpa siapa saja dan kapan saja. Namun kepiwaian penulis membuat pembaca kembali merenung kemudian menyelami peristiwa demi peristiwa.

Tengoklah si tokoh aku yang sekolah hanya sampai kelas 2 SMP. Kesalahan yang telah dilakukannya di masa lampau akibat berkenalan dengan Taripol, anak yang suka mencuri. Kesalahan itu memang sesekali membuat pikiran buntu terkait mencari pekerjaan. Meski demikian, tokoh aku tidak mau hanya diam menyesali.

Sobridin memutuskan bekerja apa saja, sebagaimana prinsip yang selalu dinasehatkan ayahnya, “Tuhan menciptakan tangan seperti tangan adanya, kaki seperti kaki adanya, untuk memudahkan manusia bekerja” (halaman 37). Dia bangkit, Tetap berniat membanggakan ayahnya yang telah renta.

Akhirnya Sobridin mendapatkan pekerjaan sebagaimana disyaratkan adiknya sebelum mengusirnya dari rumah, yaitu kerja tetap, ada absen berangkat pagi pulang sore, memakai tas, bersepatu, berseragam kemeja, gaji bulanan, ada THR, ada cuti, ada rapat-rapatnya, ada keaikan gaji, asuransi kesehatan, ada mandor, ada lembur. Pekerjaan barunya adalah menjadi badut sebagai bagian sirkus keliling.

Dalam dunia sirkus itulah merupakan titik balik bagi Sobridin untuk lebih menghargai hidup dan berbahagia. “Terbukalah mataku, sirkus begitu asyik disaksikan, gembira ria penonton, bersorak-sorai anak-anak. Namun, ternyata di balik itu terdapat cita-cita yang tinggi, mimpi yang agung, dan rezim latihan militan yang tak ditawar-tawar (halaman 71).

Hal lain yang ingin disampaikan adalah tentang adanya sebuah konspirasi yang kerap ada di sekitar kita. Salah satu konspirasi itu terkait dengan pemilihan kepada desa. Apa yang dipaparkan dalam novel mewakili drama kehidupan nyata. Betapa banyak balon yang berkampanye berbusa-busa dan diakhiri dengan janji tinggal janji. Di nover tersebut terdapat keterkejutan pembaca ketika yang menjadi lurah Desa Ketumbi jusru orang yang sejak awal berkampenya secara jujur mengatakan misi dan visinya. Ia hendak memperuntung diri sendiri, misalnya ingin dihargai, agar punya uang, bisa membeli baju, sepatu, bahkan parfum juga berbagai macam benda sederhana yang sulit untuk dipunyai.

Adapula kisah tentang perceraian yang penyebabnya memang itu-itu saja. Ayah Tegar yang flamboyan bercerai lalu meninggalkan istri dan anaknya beserta sebuah bengkel tua. Pun orang tua Tara yang bercerai karena ayah Tara gila berjudi. Hal yang luar biasa adalah bagaimana anak-anak korban perceraian ini memilih untuk melanjutkan hidup dengan cara terbaik. Kesedihan yang membuat pelakunya tetap mampu berdiri tegak. Pada akhirnya, hukum alam akan terjadi. Barangsiapa yang bersungguh-sungguh ia akan mendapatkannya. Andrea Hirata seperti biasa, berhasil membuat novel yang cerdas dan memikat.

Judul Buku: Sirkus Pohon
Penulis: Andrea Hirata
Penerbit: Bentang
Cetakan: Agustus 2017
Tebal Buku: xiv + 410halaman
Nomor ISBN: 978-602-291-409-9

Yeti Islamawati, S.S.
Guru MTs Negeri 9 Bantul, Anggota Perkumpulan Guru Madrasah Penulis (Pergumapi)
Disiarkan pertama kali di Radar Cirebon edisi 6 Januari 2018

Resensi Buku: Potret Karakter Anak melalui Golongan Darah

Yun Februari 06, 2018
bukalapak.com
PERGUMAPI.or.id--Menjadi ibu merupakan pekerjaan mulia tanpa batas dan akhir. Pekerjaan yang berat, sehingga jangan heran kalau banyak orang yang sampai melakukan tindakan yang tidak logis karena ketidaksiapannya menjalani peran ibu. Pekerjaan ibu dikatakan tanpa batas karena mencakup semua aspek kehidupan anak, bahkan hubungan anak dengan penciptaya pun dipengaruhi oleh kehadiran ibu. Tanpa akhir karena kontrak seorang ibu tidak mengenal waktu, tidak hanya sampai anaknya dewasa, tidak hanya sampai anaknya menikah, selamanya.

Karena kemuliaannya, pekerjaan ibu merupakan pekerjaan yang berat. Dia berkewajiban mengasuh dan mengembangkan diri anak sejak dalam kandungan hingga batas yang tak tentu. Karena pekerjaan ini berat, tidak jarang pada saat anaknya masih balita dan remaja pun banyak ibu yang tidak sanggup memahami siapa anaknya sesungguhnya. Banyak ibu yang tidak tahu apakah anaknya berkarakter seperti dirinya, seperti suaminya, seperti leluhurnya yang lain, campuran dari beberapa karakter, atau pribadi baru yang sama sekali berbeda.

Untuk membantu peran mulia ibu ini (juga peran orang tua dan guru tentunya), secara tidak langsung Toshitaka Nomi menghadirkan buku Touch My Heart, Mengenal Kepribadian Anak Menurut Golongan Darah. Buku yang diterjemahkan dari bahasa Jepang ini, berusaha mengupas kepribadian berdasarkan golongan darah. Walaupun pembahasan utamanya anak, namun penulis tidak lupa menyinggung remaja dan orang dewasa.

Toshitaka Nomi menuliskan bahwa anak bergolongan darah O jika perasaannya tertekan, akan menjadi pemberontak dan pembuat onar. Walaupun begitu, sesungguhnya anak bergolongan darah O senang memberikan pertolongan kepada orang lain. Sementara, anak bergolongan darah A bersifat "bawel", banyak bicara, dan senang menunjukkan hal yang telah dilakukannya (kadang terkesan pamer). Anak dengan golongan darah jenis ini sebenarnya tidak bermaksud sombong, melainkan sekadar berharap orang lain turut gembira atas kegembiraannya. Anak dengan jenis golongan darah A biasanya menikmati hal-hal yang dilakukannya, terlebih jika yang ia lakukan itu tidak dilakukan orang pada umumnya.

Lain halnya dengan anak bergolongan darah O dan A, anak bergolongan darah B bersifat pemalu, sulit mengungkapkan hal yang dialaminya. Namun, begitu hatinya tersentuh, ia menjadi sangat lembut. Sementara, anak bergolongan darah AB lain lagi, ia tidak menyukai batasan-batasan, cenderung melakukan hal yang ia mau dengan cara berpikirnya yang simple.

Buku yang ditulis berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Toshitaka Nomi (lanjutan dari penelitian yang telah dilakukan ayahnya) ini, melibatkan tidak kurang dari 10.000 responden. Jumlah yang cukup untuk menyimpulkan bahwa penelitian ini benar-benar dapat dipercaya. Selain itu, buku ini disertai dengan berbagai contoh nyata permasalahan yang terjadi pada anak, penjelasan golongan darahnya, kemudian cara mengatasinya. Dengan kata lain, buku ini tidak hanya informatif melainkan juga solutif sehingga layak dibaca oleh para ibu (dan ayah tentunya), guru, dan masyarakat umum yang ingin belajar mengenai karakter anak dan orang lain. Selamat hari ibu, selamat membaca, dan jadilah ibu yang memahami anaknya!

Judul: Touch My Heart, Mengenal Kepribadian Anak Menurut Golongan Darah
Penulis: Toshitaka Nomi
Penerjemah: Holy Setyowati
Penerbit: Andi, 2007
Tebal buku: xvi + 138
Harga: Rp25.000

Siska Yuniati, Guru MTs Negeri 3 Bantul
Tulisan ini dipublikasikan pertama kali pada Majalah Bakti Edisi 203/Mei 2008.

Resensi Buku: Menelusuri Seluk-Beluk Penerbitan Buku

Yun Februari 06, 2018

Judul: Bagaimana Buku Bisa Terbit?
Penulis: Sabjan Badio
Penerbit: Aswaja Pressindo, 2012
Tebal: 56 + vi
ISBN: 978-602-7762-10-7
Harga: Rp24.450

Buku bukanlah benda yang aneh bagi masyarakat Indonesia. Bagi seorang pelajar, buku adalah kebutuhan pokok sehingga hampir setiap hari dia akan berinteraksi dengan buku. Walaupun begitu, hanya sedikit saja yang bisa mendefinisikan buku dengan baik. Mungkin, sama sedikitnya dengan mereka yang mengetahui bagaimana buku diproses hingga terbit.

Wajar saja, sampai saat ini, literatur yang mengupas buku masih tergolong sedikit, apalagi yang mengupas buku sampai ke proses penerbitannya. Literatur yang ada lebih banyak diproduksi untuk golongan tertentu, misalnya para siswa SMK grafika. Oleh karena itu, wajar saja jika remaja Indonesia, khususnya pelajar umum, banyak yang awam tentang proses penerbitan buku. Tidak mengherankan pula, jika kemudian jarang sekali yang bercita-cita menjadi penyunting atau editor buku, desainer buku, atau pekerjaan penerbitan lain. Saat bercita-cita menjadi pengusaha pun, tidak ada yang memilih usaha penerbitan atau percetakan.

Jika kita melihat besarnya jumlah penduduk di Indonesia, perbukuan, mulai penerbitan, percetakan, hingga pemasaran, merupakan bisnis yang sangat potensial. Begitu potensialnya bisnis perbukuan ini, sampai-sampai pimpinan sebuah perusahaan distributor buku mengatakan bahwa tidak ada buku yang tidak laku.

Buku ini, walaupun masih sangat sederhana, sudah mencoba mengupas dunia penerbitan. Ada tiga poin penting yang dikemukakan dalam buku ini, yaitu (1) penulisan, (2) penerbitan, dan (3) pemasaran. Sebagaimana judulnya, Bagaimana Buku Bisa Terbit?, buku ini lebih terfokus membahas proses yang terjadi di penerbit.

Siska Yuniati, Guru MTs Negeri 3 Bantul

Resensi Buku: Bahagia Menjadi Ibu

Yun Februari 06, 2018

Judul: Smart Mom, Happy Mom – karena Semua Ibu Berhak Bahagia
Penulis: Bety Kristianto
Penerbit: Andi Offset, Yogyakarta
Cetakan: I, 2017
Tebal: xviii + 142 halaman
ISBN: 978-979-29-6089-1

Beralihnya fase dari seorang remaja, dewasa, dan menjadi ibu tidaklah mudah dihadapi oleh kaum hawa. Akan tetapi, menyesali dan mengingkarinya bukanlah sebuah solusi. Satu-satunya jawaban adalah menikmati peran itu agar menjadi sebuah masa yang benar-benar berarti dalam kehidupan.

Seorang ibu akan dihadapkan pada beberapa permasalahan yang menyebabkannya harus mampu menjalankan peran ganda baik sebagai ibu rumah tangga maupun wanita karier. Keberhasilan menjalani peran ganda menuntut adanya tanggung jawab yang harus dijalani secara total agar tidak terjadi ketimpangan di antara keduanya.

Buku Smart Mom, Happy Mom, karena Semua Ibu Berhak Bahagia berusaha memberikan sebuah solusi yang sangat bijak bagi seorang ibu. Kita harus bangga menjadi ibu karena tidak semua orang berkesempatan menjadi ibu sehingga tidak perlu mengeluh karena masih banyak perempuan yang belum dipercaya untuk menjadi ibu dan bahkan harus berjuang untuk mendapatkan anak (hlm. 3-6 ). Dalam buku itu banyak ilustrasi yang menjadi alasan mengapa menjadi ibu merupakan masa yang indah. Mulai dari hamil, melahirkan, menyusui, merawat ketika sakit, membesarkannya, sampai melepaskannya untuk hidup mandiri ketika saatnya tiba.

Menurut penelitian, seorang perempuan mempunyai cara berpikir seperti bakmi. Ketika kita berusaha untuk memisahkannya maka bakmi itu akan bersinggungan satu sama lain (hlm. 9). Oleh karenanya, diperlukan kepandaian untuk menghindari benturan-benturan akibat adanya hal-hal yang saling bersinggungan. Bekal yang diperlukan untuk mencapainya yakni kepandaian dalam mengatur waktu dan memerankan banyak karakter di dalam rumah.

Dengan membaca beberapa tips yang terdapat pada buku  ini semua permasalahan menjadi ibu akan dapat diatasi secara mudah. Menjadi seorang ibu berarti harus siap membentuk karakter anak dengan baik, bersikap secara bijak, memilihkan sekolah yang tepat, dan sanggup menjadi ibu sekaligus teman tempat berkeluh kesah (82-101). Sebaliknya, menjadi seorang wanita karier maka harus siap berpikir dan bertindak secara cerdas sehingga menimbulkan ketenangan dalam menghadapi tantangan setiap hari.

Buku ini merupakan bacaan wajib bagi perempuan yang ingin bahagia. Bahasanya dikemas dengan sangat santai tetapi kedalaman maknanya sangat baik. Oleh karenanya, buku ini layak dimiliki bagi remaja yang akan menjadi ibu maupun seorang yang benar-benar telah menjadi ibu.

Rina Harwati, Guru MTs Negeri 7 Bantul
Tulisan ini dipublikasikan pertama kali di harian Kedaulatan Rakyat edisi 27 Agustus 2017

Resensi Buku: Mantra Jitu Jadi Penulis

Yun Februari 06, 2018

Judul Buku: Menembus Koran: Seputar A-Z Menulis
Penulis: Bramma Aji Putra
Penerbit: Idea Press
Cetakan: 1/April 2017
Tebal: vii + 148 halaman
ISBN: 978-602-6335-50-0

Tidak dipungkiri, animo masyarakat untuk menulis di koran cukup tinggi. Ambillah contoh, Joni Ariadinata dalam buku Aku Bisa Nulis Fiksi (Diva Press, 2016) menuliskan bahwa harian Pikiran Rakyat setiap minggunya menerima kisaran 21 cerpen. Sementara  Kompas, pada 1994 setiap harinya menerima 60-80 cerpen.

Wajar saja, dengan berhasil menembus koran, selain mendapatkan imbalan rupiah, nama penulisnya akan dikenal masyarakat. Siapa yang tidak tertarik dengan imbalan ini? Namun, untuk dapat dimuat di media massa ternyata bukanlah perihal mudah. Seseorang perlu banyak belajar untuk itu, di antaranya melalui buku.

Untuk belajar menulis, tidak kurang-kurang teori yang beredar saat ini. Di situs-situs internet pun beredar tips dan trik menulis. Akan tetapi, tidak semua buku-buku tersebut menyajikan kupasan tentang seluk-beluk kepenulisan secara empiris dan tuntas. Hadirnya buku Menembus Koran: Seputar A-Z Menulis seolah menjadi jawaban sekaligus jembatan pengetahuan yang patut dititi.

Bramma Aji Putra dalam buku ini tidak saja membahas A sampai Z resep ataupun cara menghasilkan tulisan sehingga layak muat di media massa, tetapi juga tentang keasyikan dalam menulis. Itu semua disajikan atas dasar pengalaman pribadi Bramma. Resep-resep jitu nan bermutu dalam buku ini dikemas dalam bahasa yang ringan seolah mendorong pembaca untuk segera mempraktikkan tanpa merasa ribet.

Di antara resep yang diberikan dalam buku ini adalah mantra “BRAMMA”. Mantra tersebut merupakan akronim banyak membaca, rajin berlatih menulis, analisis tiap ada ide, menulis tandas tiada henti, mengirimkan tulisan ke media massa, dan asah terus pikiran. Mantra lebih mustajab ditambah  “AJI PUTRA”, yakni perihal trik menghasilkan tulisan yang mudah dilirik oleh redaktur.

Seperti dua edisi sebelumnya, buku Menembus Koran: Seputar A-Z ini sangat edukatif. Adanya kalender hari-hari nasional dan alamat e-mail media massa seolah ingin memanjakan pembacanya dalam belajar. Menyelami buku ini tak pelak menggerakkan pembaca untuk menulis dan mewujudkan mimpinya menembus koran.

Siska Yuniati
Penulis buku Menulis Resensi Buku (2008) serta Ketua Umum Pergumapi. Tulisan ini pertama kali dipublikasikan di Majalah Bakti No. 292-TH XXIV, Maret-April 2017.