Featured Post

Lomba Menulis Artikel di Website Pergumapi

Wikimedia Commons/Josias Cornelis Rappard Tema Work from Home, Learn at Home (Bekerja di rumah, Belajar di rumah) Ketentuan peser...

Nomine dan Pemenang Lomba Artikel Website Pergumapi

Yun Juni 27, 2020

Daftar nomine lomba artikel website Pergumapi 2020
  • Armi Setyasih, S.Pd.
  • Dharma Harfin
  • Dra. Dyah Istami Suharti, M.KPd.
  • Intan Irawati
  • Karjianto, S.Pd.I., M.Pd.
  • M. Nurul Hajar
  • Musa Surahman, S.Ag.
  • Septiana Farida, S.Pd., M.Pd.
  • Sitti Hasma
  • Sri Saktiani
Pemenang lomba artikel website Pergumpai 2020
  1. Dharma Harfin - 4192
  2. Karjianto, S.Pd.I., M.Pd. - 3983
  3. Septiana Farida, S.Pd., M.Pd. - 3764
Selamat kepada para pemenang, nomine, serta seluruh peserta. Pemenang mendapatkan hadiah dan sertifikat pemenang, sementara nomine (kecuali pemenang) mendapatkan sertifikat nomine. Untuk teknis hadiah dan sertifikat, akan dihubungi panitia melalui e-mail.

Insyaallah seluruh artikel yang ditulis peserta lomba ini bermanfaat bagi masyarakat luas. Sampai jumpa di agenda berikutnya.

Salam,

a. n. Panitia
Dra. Rr. Ayu Dewi Widowati
Kasmawati, S.Ag, M.Pd.

Pemaknaan Guru Dari Desa terhadap Aktivitas Pembelajaran Daring

Mei 28, 2020
Peserta didik yang sedang mengikuti pembelajaran di rumah.

Sitti Hasma
Anggota Perkumpulan Guru Madrasah Penulis

Pergumapi.or.id--Bekerja dari rumah (Work From Home) yang akhir-akhir ini digaung-gaungkan pemerintah, akibat dari upaya penanggulangan penyebaran virus corona (Covid-19). Menjadi tantangan tersendiri bagi guru, utamanya yang tinggal di daerah yang ketersediaan akses teknologi masih sangat terbatas.

Sejak Pemerintah Daerah meliburkan masuk sekolah  bagi peserta didik dan diganti dengan Pembelajaran Jarak Jauh, yang dikenal dengan Pembelajaran Daring. Maka guru pun harus memiliki kemampuan untuk memberikan solusi yang tepat terhadap kondisi ini. Agar pembelajaran bagi peserta didik tidak terbengkalai dan dapat terus berjalan. Bagi guru yang tinggal di wilayah perkotaan, bekerja dari rumah tentu saja bukanlah menjadi momok atau beban yang terlalu berat, karena mereka didukung dengan fasilitas teknologi yang memadai, baik bagi guru itu maupun bagi peserta didik itu sendiri. Namun beda halnya dengan guru yang tinggal di wilayah yang akses layanan teknologi masih sangat terbatas. Ini menjadi tantangan tersendiri bagi guru. Sebut saja peserta didik yang belum memiliki fasilitas teknologi tersebut seperti Laptop, Android dan sejenisnya, peserta  didik yang tinggal di wilayah yang belum bisa dijangkau jaringan, belum lagi kalau gurunya yang gaptek. 

Media Sosial Grup Whatsap menjadi alternatif paling mudah dan paling banyak digunakan guru, terutama di wilayah pedesaan, disamping mudah diakses, juga karena rata-rata orangtua peserta didik sudah memiliki akun, jadi tidak perlu mencari aplikasi yang bisa saja membingungkan mereka. Tentu saja hal ini tidak berlaku secara umum, namun hanya terbatas pada masyarakat tertentu. Karena di luar sana sudah banyak yang menggunakan aplikasi yang lebih efektif sehingga peserta didik dapat mengikuti pembelajaran langsung dari gurunya, tidak jauh beda dengan waktu mereka belajar di kelas. 

Dalam aktivitas Pembelajaran Daring, ada beberapa elemen yang terkait dengan kegiatan belajar dari rumah, agar bisa memberikan hasil yang maksimal, yaitu:

Pertama, aktivitas pembelajaran dari rumah memperhatikan kondisi dan minat peserta didik, termasuk mempertimbangkan kesenjangan akses dan ketersediaan fasilitas belajar yang dimiliki peserta didik, karena kondisi sosial peserta didik juga bervariasi. Artinya guru wajib memberikan materi dan bahan ajar sesuai dengan kondisi mereka. Jangan sampai karena tugas dan materinya yang terlalu memberatkan peserta didik. 

Kedua, content dan tugas yang diberikan adalah materi yang sesuai dengan konsep belajar dari rumah, yaitu usaha untuk memutus mata rantai penularan virus Covid-19, jadi dipastikan bahwa tugas yang diberikan tersebut bisa selesai tanpa membebani peserta didik untuk keluar rumah. 

Kaitannya dengan kegiatan belajar dari rumah, hal ini juga bisa menjadi sarana penguatan pendidikan karakter seperti yang selama ini menjadi tujuan pendidikan yang sebenarnya, jadi guru dan orangtua memiliki peran yang sama untuk mewujudkan itu semua. Guru memberikan pendidikan lewat Pembelajaran Daring, dengan menuntut kemampuan berpikir, menimbulkan kerasaingintahuan yang tinggi, kreativitas, dan tanggung jawab peserta didik. Sementara orangtua menumbuhkembangkan karakter kepada anak-anaknya, dengan pendidikan yang terintegrasi pada penanaman akhlakul karimah, pengamalan Ibadah, pembiasaan sopan santun dan  tata krama serta perilaku hidup sehat. Dan banyak lagi penanaman karakter yang dapat ditumbuhkan dengan pendampingan orangtua yang lebih maksimal. 

Intinya, bahwa kegiatan Pembelajaran Jarak Jauh menuntut kerjasama yang baik antara guru dan orangtua, yang meliputi kompetensi pendidik terhadap pemanfaatan teknologi dalam mengelola pembelajaran, dengan memperhatikan kondisi peserta dan ketersediaan akses layanan bagi peserta didik. Dan keterlibatan dan atensi orangtua terhadap pendampingan kegiatan pembelajaran selama peserta didik berada di rumah mereka. (*)

Catatan:
Tulisan ini disertakan dalam Lomba Artikel Pergumapi 2020. Panitia tidak melakukan penyuntingan, isi sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis.

Kreativitas dan Inovasi Guru Kunci Keberhasilan Pembelajaran Daring Saat Menghadapi Pandemi Covid-19

Mei 28, 2020
Media kreatif dan inovatif.

Dra. Dyah Istami Suharti, M.KPd.
Anggota Perkumpulan Guru Madrasah Penulis

Pergumapi.or.id--Sesuai pengarahan Presiden Joko Widodo yang menyerukan kebijakan baru dan meminta masyarakat untuk bekerja di rumah atau work from home (WFH), hal tersebut dilakukan untuk meminimalisir pencegahan penyebaran Covid-19. Selain itu beliau juga membuat kebijakan untuk belajar dari rumah bagi pelajar dan mahasiswa, sebagian Aparatur Sipil Negara (ASN) bekerja dari rumah juga dengan pembelajaran daring (online) dan mengutamakan pelayanan prima dari masyarakat untuk mengatasi penyebaran Covid-19 biar tidak terlalu  luas penyebarannya. Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Nadiem Makarim juga menghimbau kepada Guru dan Tenaga Kependidikan terkait penghentian sementara aktivitas pembelajaran tatap muka di sekolah.

Pembelajaran daring (online) yang menggunakan teknologi diantaranya online classroom, google form, webex, zoom yang dipakai guru untuk mengajar sebaiknya menggunakan metode pembelajaran yang bervariasi, jika model pembelajaran dan metode pembelajaran yang diterapkan guru bersifat monoton saja akan membuat siswa menjadi jenuh dan bisa mengalami stres. Guru  dalam mengajar harus sesuai dengan kompetensi dasar (KD), indikator, tujuan pembelajaran dan berupaya menggunakan metode pembelajaran yang interaktif, kreatif dan inovatif. Hal yang paling penting diperhatikan saat guru bekerja di rumah atau work from home (WFH) menggunakan pembelajaran daring baik melalui Whatsapp group, Google classroom, E-Learning, awal sebelum pembelajaran perlu  komunikasi dengan siswa dan juga komunikasi dengan orang tua siswa.  Metode mengajar guru yang bervariasi dengan pendekatan komunikatif digambarkan pada pendampingan pembelajaran  situasi Pandemi Covid-19 yang  membuat siswa merasa nyaman dan enjoy dalam belajar. 

Membangun komunikasi antara orang tua siswa dengan guru mempunyai tujuan untuk mengetahui perkembangan siswa terutama dalam pembelajaran daring menghadapi Pandemi Covid-19. Komunikasi dalam pembelajaran daring tidak hanya guru dengan siswa melainkan juga interaksi yang harmonis antara guru dengan orang tua siswa sangat diperlukan. Komunikasi dalam pembelajaran daring yang diterapkan guru diantaranya sering komunikasi melalui whatsapp group sebelum mengawali pembelajaran yaitu guru memastikan kepada siswa tentang jaringan internet sudah bagus apa belum, menyampaikan materi yanga kan diajarkan dan penggunaan metode pembelajaran yang rencana diterapkan. Dengan metode pembelajaran daring (online) seperti ini siswa  merasa diperhatikan oleh guru juga orang tua dan lebih termotivasi untuk belajar lebih serius lagi.

Bentuk komunikasi tidak hanya menginformasikan materi yang diajarkan pada siswa saja melainkan seorang guru harus komunikatif juga dengan orang tua yang terkait perkembangan siswa baik di sekolah maupun perkembangan siswa saat berada di rumah. Hal ini dilakukan untuk memantau perkembangan siswa baik pemahaman tentang materinya maupun kendala belajar di rumah, juga perhatian, tanggung jawab dan kepedulian orang tua terhadap siswa sangat mendukung pembelajaran terutama situasi Pandemi Covid-19. Perhatian orang tua bisa ditunjukkan salah satunya dengan menunggui saat putra putrinya belajar. Sesibuk apapun orang tua harus bisa meluangkan waktu untuk memberikan perhatian kepada putra putrinya karena sikap orang tua seperti ini termasuk salah satu kepedulian dan motivasi yang berharga bagi putra putrinya untuk mencapai keberhasilan dalam studinya.

Seorang guru harus memiliki kompetensi dalam mengajar sekalipun melalui pembelajaran daring guru tetap menunjukkan kesungguhan, kerja keras dan ketulusan pengabdian, guru berprinsip “ mengajar dengan menggunakan  hati “ yaitu guru dalam mengajar harus memahami karakter siswa, transfer ilmu dengan setulus hati dan mau mengerti kendala yang dihadapi siswa. Seorang guru harus selalu up to date mengikuti perkembangan  jaman, mampu merancang, mendesain pembelajaran daring yang tepat dan sesuai dengan materi yang diajarkan dan diupayakan menggunakan media kreatif. Salah satu contoh kreativitas guru dalam pembelajaran daring pada mata pelajaran biologi sistem koordinasi siswa diminta membuat peta konsep setelah literasi (baca) kemudian literasi (tulis) sesuai kreatifitas siswa sendiri, pertemuan berikutnya siswa diajak pembelajaran melalui google classroom dan bisa juga dengan media pembelajaran berupa video yang dibuat guru sendiri.   


Selain pembelajaran daring yang komunikatif dan kreatif level di atasnya lagi guru harus bisa juga menghasilkan karya mengajar yang inovatif. Pembelajaran Inovatif adalah pembelajaran yang lebih memberikan peluang kepada siswa untuk mengkonstruksi pengetahuan secara mandiri dan dimediasi oleh siswa yang lain. Pembelajaran Inovatif  biasanya berlandaskan paradigma konstruktivistik, program pembelajaran yang langsung memecahkan permasalahaan yang dihadapi oleh kelompok siswa. Salah satu contoh: pada awal mengajar guru menjelaskan dilanjutkan dengan diskusi terbimbing online dan langkah selanjutnya siswa diberi tugas tidak terstruktur (TTT) secara kelompok untuk membuat media atau produk yang kreatif dan inovatif untuk topik diberi kebebasan memilih sendiri. Ada yang membuat media pembuatan tape dengan menggunakan kontrol suhu, ada yang membuat produk Edible coating. (*)

Catatan:
Tulisan ini disertakan dalam Lomba Artikel Pergumapi 2020. Panitia tidak melakukan penyuntingan, isi sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis.

Hitam Putih Learn at Home di Era Covid-19

Mei 28, 2020
Siswa MTsN 2 Bantul sedang mengerjakan Ujian CBT melalui E-learning Madrasah.

Yulian Istiqomah, S.Pd.
Guru MTs Negeri 2 Bantul, Anggota Pergumapi

Pergumapi.or.id--Bagaimana apabila pembelajaran dijalankan secara online atau belajar di rumah (Learn at Home) tanpa guru harus tatap muka dengan siswa di kelas? Pertanyaan ini telah menuai pro dan kontra di kalangan pelaku pendidikan. Banyak yang mendukung proses pembelajaran online, banyak pula yang menentangnya. Sikap kontra ini muncul sebab adanya pandangan bahwa siswa membutuhkan interaksi sosial secara langsung dengan guru maupun siswa lain untuk menumbuhkan karakter positif dalam dirinya. Selain itu, sebuah aplikasi juga dipandang tidak mampu memuat semua hal yang diinginkan guru.

Pada awal tahun 2020, setelah munculnya pandemi covid-19 yang berasal dari kota Wuhan, China, penerapan sistem belajar di rumah (Learn at Home) kembali menjadi pembicaraan publik di Indonesia. Ketika pada akhirnya masyarakat Indonesia pun tak luput dari paparan virus corona (covid-19), Nadiem Makarim (Menteri Pendidikan dan Kebudayaan) mengambil kebijakan agar Lembaga Pendidikan di wilayah pandemi memberlakukan belajar di rumah (Learn at Home), sesuai dengan arahannya dalam surat edaran resmi Mendikbud nomor 36962/MPK.A/HK/2020 tentang pembelajaran daring dan bekerja dari rumah dalam rangka pencegahan penyebaran covid-19, pada 17 Maret 2020.

Di tingkat madrasah, kepala madrasah lantas mengundang semua wakil kepala dan wali kelas untuk membahas persiapan pembelajaran online sesuai dengan edaran dari Mendikbud tersebut. Para wali pun dipandang memiliki peranan penting yang dapat dioptimalkan untuk mengoordinasi siswa di kelasnya selama pembelajaran online di era pandemi covid-19. 

Ada berbagai upaya yang dapat dilakukan oleh wali kelas untuk menyukseskan belajar di rumah (Learn at Home) di kelasnya. Berbagai upaya tersebut adalah (1) mendata dan membuat grup media sosial kelas; (2) belajar cepat berbagai aplikasi pembelajaran online; (3) menjadi operator sekaligus tutor bagi siswa dalam penggunaan aplikasi pembelajaran online; (4) mengelola pembiasaan karakter dan life skill siswa secara online; (5) merekap dan melaporkan hasil pembelajaran siswa; (6) membuat dan mengisi form rekapan pengumpulan penugasan siswa; (7) melakukan komunikasi dengan siswa maupun orang tua siswa yang masih belum mengumpulkan penugasan; dan (8) mengoptimalkan perannya selama 24 jam untuk menyemangati siswa dalam menuntaskan semua. 

Sistem belajar dari rumah (learn at home) tentu saja tidak lepas dari berbagai kendala, diantaranya: (1) orang tua di rumah juga tidak paham IT (gaptek), sehingga siswa harus mempelajari aplikasi e-learning secara otodidak, beberapa dari siswa bahkan ada yang menyerah sebelum mencoba; (2) guru mapel lantas tidak online saat jadwal mapelnya, sehingga setelah memberikan tugas pada wali kelas, wali kelas harus merangkap menjadi tutor; (3) tidak semua siswa memiliki HP atau keterbatasan kuota dan sinyal; (4) guru mapel kurang lengkap dan jelas dalam memberikan prosedur langkah kerja penugasannya, sehingga siswa bingung; dan (5) perbedaan karakter siswa yang rajin dan yang malas menjadi tampak jelas, siswa yang rajin check list laporan penugasan lengkap, sedang yang malas akan nampak merah pada beberapa kolom mata pelajaran.

Akan tetapi sebaliknya, sistem belajar dari rumah (learn at home) juga terdapat sisi putih atau manfaat yang dapat dirasakan siswa, diantaranya: (1) ada komunikasi lebih intensif antara siswa dan orang tua sehingga hubungan keduanya semakin erat; (2) siswa menjadi lebih mandiri dalam pembelajaran, tidak bergantung teman; (3) siswa yang semula tidak percaya diri sehingga skill tidak tampak kini tampak; (4) ternyata banyak siswa yang dipandang malas saat offline menjadi rajin dan responsif saat online; (5) siswa mengetahui manfaat gawai yang lebih positif bahwa gawai tidak hanya untuk hiburan tetapi juga bisa untuk belajar; (6) siswa senang bersaing secara sportif dalam berkarya; dan (7) pergaulan siswa lebih terjaga dan meminimalkan kenakalan remaja.

Di era pandemi Covid-19 ini, apapun kendala yang dihadapi dalam proses belajar di rumah tersebut harus dapat diatasi, sebab penerapan social Distancing akan terus diberlakukan hingga masa pandemi berakhir, sedangkan manfaat dari Learn at home dapat disebarluaskan agar dapat memacu semangat para siswa. (*)

Catatan:
Tulisan ini disertakan dalam Lomba Artikel Pergumapi 2020. Panitia tidak melakukan penyuntingan, isi sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis.

Karena Corona Pembelajaran Merana?

Mei 27, 2020
Bekerja dari rumah, belajar di rumah. Gambar: Pixabay.com

Robani, S.Pd.
Anggota Perkumpulan Guru Madrasah Penulis

Pergumapi.or.id--Jagad Indonesia akhir-akhir ini akrab dengan bahasa Inggris. Tidak hanya kalangan terpelajar yang menuturkannya. Justru semua kalangan dari rakyat hingga pejabat, semua mengucapkannya. Adalah wabah Covid-19 (Corona Virus Disease 2019) menjadi pemicu memasyarakatnya istilah Lock Down, Social Distancing, Phisical Distancing, Work From Home dan sebagainya. Akselerasi penyebaran istilah tersebut begitu masif, seiring dengan masifnya wabah virus  Corona. 

Kondisi yang semakin mengkhawatirkan ini membuat pemerintah mengambil sikap untuk membuat kebijakan tanggap Corona. Diantaranya diawali dengan jaga jarak sosial (Social Distancing), Jaga jarak fisik (Phisical Distancing), hingga Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Meskipun demikian beberapa kalangan menilai pemerintah kurang cepat dalam bertindak. Namun setidaknya kebijakan yang dibuat pemerintah cukup membantu dalam menanggulangi permasalahan terkait Corona ini. Istilah asing Better Late Than Never. Lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali. Melenyapkan wabah yang sudah tanggung menjalar tidak mungkin bisa. Setidaknya memangkas mata rantai penyebarannya harus dioptimalkan. 

Dalam rangka memutus mata rantai penyebaran sang virus inilah, mau tak mau harus ada yang dikorbankan. Dan efek dari kebijakan pemerintah tersebut berimbas kepada berbagai bidang kehidupan. Tanpa kecuali bidang pendidikan pun terkena imbasnya. Sumber daya manusia di Pesantren, sekolah/madrasah dan Perguruan Tinggi “dipaksa” dikarantina. Sependek pengamatan penulis, semua sekolah/madrasah formal mengubah kebijakan dalam kegiatan belajarnya. Intinya siswa belajar di rumah. Begitu pun gurunya mengajar/ bekerja dari rumah juga. 

Berbeda dengan sekolah/ Madrasah dan perguruan tinggi. Pembelajaran di pondok pesantren lebih variatif. Ada pesantren yang santrinya dipulangkan semua ke orang tuanya, seperti di Daarut Tauhiid Bandung. Namun ada juga sebaliknya, santri tidak boleh keluar pesantren. Bahkan tidak boleh ada orang luar, termasuk orang tua yang memasuki area pesantren. Seperti yang dilakukan di Al-Bahjah Cirebon. Semua kebijakan dalam dunia pendidikan ini bermuara kepada peraturan pemerintah untuk bersatu melawan wabah corona.

Sebagai pendidik saya merasakan kondisi ini cukup berat. Bagaimana pun juga interaksi belajar mengajar secara tatap muka langsung lebih terasa ruhnya daripada jarak jauh seperti sekarang. Bercengkrama langsung dengan para siswa tidak hanya transfer ilmu semata. Namun di sana guru bisa merasakan sensasi “semangat muda” yang tersebar dari murid-muridnya. Mungkin manfaat berinteraksi dengan anak-anak muda lah yang membuat para guru kita terlihat awet muda. 

Selain itu, secara jujur saya mengakui kerapkali persoalan hidup yang dihadapi menguap hilang entah kemana, ketika berinteraksi dalam suasana proses belajar mengajar secara langsung. Dan bukan tak mungkin para siswa pun kehilangan motivator penyemangat hidup yang biasa mereka dapatkan di sekolahan. Dan masih banyak lagi segudang manfaat KBM secara langsung yang kini tengah diuji dengan kondisi. 

Namun sebagai pendidik yang dewasa di era digital kondisi darurat ini tak membuat saya kehilangan akal. Berbekal pengalaman belajar dengan mode daring di saat Pendidikan Profesi Guru (PPG) di UIN Jakarta tahun 2019 kemarin, menjadikan saya tak kehilangan arah. Saya berusaha untuk tetap berinteraksi dengan siswa via WA Grup yang disiapkan pihak sekolah. Adapun media pembelajaran yang digunakan untuk menyampaikan materi cukup bervariasi. Mulai dari Blog pribadi, Channel Youtube pribadi, Google Form, dan Google Classroom. 

Dan Alhamdulillah, menurut pengamatan saya para siswa cukup antusias belajar secara online ini. Hal ini tidak mengherankan, mengingat kebanyakan dari mereka merupakan generasi Digital Native. Yaitu mereka yang sejak lahir pun sudah akrab dengan media gadget. 

Persoalan yang sering dihadapi siswa sekolah kampung dalam kegiatan belajar di rumah (Learning at Home) ini mungkin tak jauh beda dengan yang lain. Misalnya kehabisan kuota internet, sinyal yang kurang kuat, bahkan tidak sedikit yang belum memiliki Handphone sebagai alat utama kegiatan belajar dari rumah ini. Jadi, bagaimanapun juga kondisi belajar seperti ini tidak kondusif bagi sekolah di perkampungan. 

Walau bagaimanapun juga ini adalah ujian bagi insan pendidikan. Siapkah kita dengan perubahan situasi yang tak pernah diterka sebelumnya seperti ini? Sejauh mana kreativitas pendidik dalam menyiasati kondisi zaman? Semoga secepatnya ada normalisasi keadaan . Amin. Dan yang paling penting, kita tak patah semangat dan penuh harap kepada Tuhan, Allah Swt. Yang Maha Kuasa. Jangan sampai berputus asa pada-Nya. Jangan karena ujian Corona pembelajaran jadi merana. Tetapi optimislah. Badai pasti berlalu, Corona segera sirna. Dunia pendidikan kembali merah merona. Insyaa Allah. (*)

Catatan:
Tulisan ini disertakan dalam Lomba Artikel Pergumapi 2020. Panitia tidak melakukan penyuntingan, isi sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis.

Kreativitas Belajar dan Mengajar di Masa Pandemi COVID-19

Mei 27, 2020
Proyek Pembuatan Aplikasi Android oleh Nabila Dwi Utomo (Kelas VII).

Yunalia Anugraheny, M.Pd.
Anggota Perkumpulan Guru Madrasah Penulis

Pergumapi.or.id--Sempat terbesit dibenak saya betapa sulitnya mengajar di tengah pandemi COVID-19. Saya harus memulai perjuangan baru dalam kegiatan pembelajaran yang 100% dilaksanakan secara dalam jaringan (daring).  Bagimanapun juga, saat ini adalah saat yang tepat bagi saya untuk belajar menciptakan dan menyajikan materi pembelajaran yang menarik secara daring supaya proses belajar siswa tetap berjalan dengan baik, bermakna, dan menyenangkan. 

Tidak semua peserta didik yang saya ajar memiliki telepon pintar. Siswa yang memiliki gawai pun tidak semuanya bisa mengakses internet karena ketidakadaan paket data. Hal ini terlihat dari rekaman percakapan via WhatsApp grup Bahasa Inggris dan Bahasa Indonesia yang saya buat di awal tahun pelajaran 2019-2020. Sebagian siswa di grup WA Bahasa Indonesia mengatakan, “Maaf, Bu baru respon karena tidak punya paketan.” Mereka diperbolehkan memasukkan nomor WA orang tua, wali atau saudara kandung ke dalam grup.

Minggu pertama masa pembelajaran daring, fungsi grup semakin bertambah. Di awal terbentuknya grup, grup hanya digunakan untuk membagikan informasi terkait kegiatan pembelajaran yang akan dilaksanakan, ringkasan dan peta konsep materi, dan tanya jawab terkait materi serta seputar proyek yang harus dibuat siswa. Ketika pihak madrasah mengumumkan kegiatan pembelajaran dilakukan secara daring, grup manjadi sarana utama menyampaikan tugas. Setelah itu, bermunculan anggota baru, beberapa di antaranya adalah orang tua. Keberadaan orang tua di grup sangatlah membantu kegiatan pembelajaran daring ini. Siswa yang selama kegiatan pembelajaran di kelas sering mengabaikan guru dan tugas, kini berubah menjadi tertib karena dukungan dan peran serta orang tua. 

Pada pekan berikutnya, saya berikan tautan menjawab soal menggunakan google form. Saya beranggapan bahwa siswa masih belum paham dan mengenal google form. Sehingga untuk pertama kali, soal yang saya pilih adalah soal pilihan ganda yang ada di modul. Siswa cukup mengetikkan jawabannya di google form. Sebagai informasi, madrasah tempat saya mengajar belum menerapkan E-learning. Maka dari itu, supaya siswa memahami cara mengirimkan jawaban, tautan google form ditampilkan di blog dan dibagikan via grup WA. Di blog juga terdapat tautan video cara menuliskan dan mengirimkan jawaban. Petunjuk juga terpapar di google form beserta gambar. Untuk membuat siswa semakin antusias, pada pukul 2 siang, saya membuat video yang memuat daftar siswa yang telah memberikan responnya dan saya bagikan di grup WA. Mereka tampak semangat memberikan responnya. Meski petunjuk telah saya jelaskan di blog, video, dan google form, tetap ada siswa yang masih belum paham. Selanjutnya, saya berikan soal yang tersaji langsung di google form. Hanya soal pilihan ganda yang tidak saya berikan petunjuk pengerjaan melalui video dan gambar. Menurut siswa, lebih mudah mengerjakan soal dari buku dari pada langsung dari google form. Terlebih lagi, jika soal berupa jawaban singkat. Kebanyakan siswa melakukan kesalahan dalam hal penggunaan huruf kapital dan ejaan, spasi. Hasil penilaian saya bagikan via grup WA dalam bentuk PDF dan melaporkan hasil kepada wali kelas.

Berkenaan dengan materi pembelajaran, materi saya berikan dalam bentuk infografis, PDF, dan video. Daftar materi dan tautannya saya tampilkan di blog. Materi yang berupa infografis dan PDF tersimpan di google drive sedangkan video diunggah di YouTube. kegiatan pembelajaran proyek pembuatan aplikasi android berupa PDF dan video. Sebagian besar video yang saya buat tidak memperdengarkan suara saya. Saya menggunakan back sound baik itu lagu berlirik Bahasa Inggris, Indonesia, atau Jawa untuk membangkitkan semangat siswa. Pembuatan video saya sangat sederhana. Dimulai dari membuat desain dan konten materi di Microsoft PowerPoint kemudian merekam tampilan slide dengan cara menekan Win + G atau menggunakan aplikasi Camtasia Studio 7. Terkadang saya sunting video menggunakan aplikasi android YouCut. 

Ada keinginan untuk menampilkan video pembelajaran seperti video di salah satu bimbingan belajar online, ada materi, suara, intonasi, ekspresi dan gestur guru, serta back sound. Saya belajar dari YouTube untuk menyajikan materi seperti itu. Sebenarnya tidak terlalu sulit. Penyaji harus mengambil video yang merekam aktivitasnya menyajikan materi menggunakan background warna biru. Kemudian menyunting video pembelajaran dan rekaman aktivitas menyajikan materi menggunakan aplikasi android KineMaster. Dengan adanya video yang menampilkan wajah saya, semoga bisa mengobati rasa kangen dan kebosanan mereka. 

Pelajaran yang bisa diambil, guru harus bisa membangkitkan semangat belajar siswa dan tetap memberikan hak mereka. Semoga dengan keterbatasan kondisi dan keadaan saat ini, keberhasilan akan kalian raih di waktu mendatang. (*)

Catatan:
Tulisan ini disertakan dalam Lomba Artikel Pergumapi 2020. Panitia tidak melakukan penyuntingan, isi sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis.