Featured Post

Lomba Menulis Artikel di Website Pergumapi

Wikimedia Commons/Josias Cornelis Rappard Tema Work from Home, Learn at Home (Bekerja di rumah, Belajar di rumah) Ketentuan peser...

Kuliah Daring Pergumapi, Arif Ma’ruf Sampaikan Strategi Jitu Karya Ilmiah

Januari 19, 2021

Pergumapi.or.id–Karya ilmiah merupakan sesuatu yang sangat trend dalam dunia literasi karena memerlukan persiapan, pelaksanaan penelitian atau pengamatan serta kajian literasi tingkat tinggi. Hal inilah yang menjadikan kegiatan tertulis satu ini terkesan sangat sulit untuk dilakukan oleh siapapun. Di dunia pendidikan, jenis kegiatan karya ilmiah menjadi bagian dari mata pelajaran Bahasa Indonesia sekaligus menjadi bagian dari ekstrakurikuler Karya Ilmiah Remaja (KIR). Masalahnya sekarang adalah bagaimana membiasakan siswa bahkan guru untuk familier dengan karya tulis ini dan harapannya bisa berprestasi dalam kompetisi.

Perkumpulan Guru Madrasah Penulis Indonesia (Pergumapi) sebagai salah satu pemerhati terhadap karya literasi guru dan siswa merasa terpanggil untuk menyelenggarakan pengembangan diri dalam karya ilmiah. Melanjutkan kegiatan bidang diklat, pada Ahad (17/1/2021) Pergumapi menyelenggarakan kuliah daring (dalam jaringan) yang merupakan kegiatan utama organisasi profesi ini melalui dunia maya. Koordinator bidang Diklat Ruba Nurzaman mensetting kuliah daring yang biasanya via whatsapp grup kali ini menggunakan media zoom meeting.

Nara sumber yang ditampilkan adalah praktisi karya ilmiah yang juga menjabat pembina Pergumapi Drs. Ahmad Arif Ma’ruf, MA, M.Si. Guru MAN 2 Sleman yang juga menjabat anggota Badan Akreditasi Nasional (BAN). Arif dikenal sebagai guru pembimbing karya ilmiah siswa yang selalu menghasilkan sang juara di beberapa madrasah yang menjadi tempat tugasnya, bahkan terakhir mampu membimbing siswa tuna netra menjadi juara nasional dan internasional.  Dihantarkan moderator Dra. Rr. Ayu Dewi Widowati, Arif memberikan strategi jitu dalam membimbing karya ilmiah sehingga menghasilkan sang juara.

Sementara itu menanggapi kegiatan kuliah daring ini, Ketua Umum Pergumapi Siska Yuniati, S.Pd, M.Pd. mengaku senang dengan kegiatan dari seorang praktisi ini dan berharap bisa menambah motivasi bagi guru termsuk dalam membimbing siswa menghasilkan karya tulis ilmiah. “Sesuatu yang menarik dari Pak Arif adalah kemampuan beliau dalam menyederhanakan masalah penulisan serta pembimbingan karya tulis siswa,” tutur Siska. Penjelasan Siska dibuktikan dengan pertanyaan peserta yang mengarah pada trik-trik membimbing siswa menjadi juara. (edp)

Arief, Pembimbing Riset Andal Berbagi Cara Gampang Membuat Karya Ilmiah di Kuliah Daring Pergumapi

Januari 19, 2021


Pergumapi.or.id--Menulis menjadi hal yang mudah dan menyenangkan bagi yang telah terbiasa. Namun tidak demikian bagi mereka yang belum terbiasa. Sekian lama di depan laptop namun tak kunjung muncul apa yang mau ditulis. Sebenarnya menulis bukanlah sesuatu yang sulit, siapapun dapat melakukannya asal ada niat dan kemauan. Kebiasaan menulis pun dapat dilatih, misalnya dengan bergabung dalam sebuah komunitas kepenulisan, mengikuti workshop kepenulisan, atau lainnya. Salah satu organisasi yang bergerak di bidang kepenulisan adalah Pergumapi (Perkumpulan Guru Madrasah Penulis).

Dengan moto berkarya, berbagi, dan mengabdi, Pergumapi yang dinakhodai oleh Siska Yuniati, berusaha memfasilitasi anggotanya untuk mendapatkan ilmu tentang kepenulisan. Pada Minggu (17/01/2021) Pergumapi menggelar kuliah daring perdana di tahun 2021. Kuliah daring bertajuk “Cara Gampang Membuat Karya Ilmiah” dihelat via zoom meeting dengan menghadirkan narasumber Ahmad Arief Ma’ruf, Pembimbing Riset dan Guru MAN 2 Sleman.

Dalam panduan moderator Ayu Dewi Widowati dan host Ruba Nurzaman kuliah daring berjalan lancar dan sukses. Dengan gaya khasnya yang humoris, Arief memulai kuliahnya dengan memaparkan kejadian sehari-hari yang banyak dijumpai. “Saya sering menemukan seseorang ketika diajak menulis malah balik bertanya: dapat untuk naik pangkat atau tidak? Seolah-olah menulis itu hanya untuk naik pangkat. Jika tidak dapat digunakan untuk naik pangkat maka tidak perlu dilakukan,”paparnya.

Padahal tujuan menulis tidak hanya sebatas itu. Lebih dari apa yang diharapkan pun dapat diraih dengan menulis. Dengan menulis kompetensi akan meningkat, prestasi teraih, bahkan kebahagiaan pun dapat teraih. Arief mengibaratkan dengan seseorang yang memakai helm. Jika tujuan seseorang memakai helm karena takut kepada polisi maka helm tersebut tak akan dipakai jika tak ada polisi. Berbeda halnya jika tujuan seseorang memakai helm untuk melindungi kepala maka saat dia mengendarai motor, diawasai ataupun tidak oleh polisi maka helm tetap dipakai.

Melalui tayangan power pointnya Arief menunjukkan dua buah akuarium, yang satu berisi tujuh ikan dan yang lain hanya berisi air. Karena ikannya penuh, padahal semua butuh oksigen maka salah satu ikan melompat ke tempat yang kosong. Ini adalah gambaran seorang guru yang mau out of the box, tidak hanya sekedar melakukan rutinitas yang monoton tetapi mau melakukan sesuatu di luar rutinitasnya. Hal ini dapat ditemui pada sosok Arief, selama lebih dari 20 tahun mengabdi sebagi guru, Arif telah mengunjungi 27 propinsi di Indonesia, dua kali meraih gelar magister beasiswa, meraih berbagai penghargaan, dan melahirkan banyak siswa berprestasi di bidang karya ilmiah hasil penelitian di bawah bimbingannya. Luar biasa, ternyata tidak semua guru memiliki rutnitas yang monoton. Guru pun dapat berekspresi dan berprestasi. Semua kembali pada niat dan kemauan masing-masing.

Dalam paparannya tentang Cara Gampang Menulis Karya Ilmiah, Pembimbing Riset andal ini memaparkan bahwa karya ilmiah merupakan hasil karya yang diperoleh dari kegiatan menulis dengan menerapkan konvensi ilmiah. Penulisan karya ilmiah menggunakan logika berpikir dan gaya bahasa yang sistematis. Tiap jenis karya ilmiah memiliki gaya penulisan yang berbeda. Pria yang suka berpantun ini menuturkan dalam pantunnya, “Jika ingin manis, harus rajin berkaca. JIka ingn menulis, harus rajin membaca.”

Arief menyampaikan pula tentang kiat suksesnya mengantarkan sekian banyak siswa memboyong berbagai penghargaan. Di antara kiatnya adalah membaca karya ilmiah hasil penelitian minimal 10 karya (untuk siswa) dan 20 karya (untuk guru). Melalui browser dapat dicari “Judul Penelitian Didanai 2020 pdf”. Klik kata kunci spasi pdf. Biasanya berupa jurnal. Mengapa didanai? Karena biasanya karya penelitian yang didanai itu telah melalui beberapa tahapan seleksi yang ketat, sehingga berkualitas. Selain itu dapat juga dibuka situs GARUDA (Garda Rujukan Digital) dan ini free. Di situ terdapat 1.286.880 artikel hasil penelitian dalam bentuk jurnal.

Kiat berikutnya adalah carilah sebanyak-banyaknya karya ilmiah yang mirip, bacalah sekilas, dan cermati. Ternyata semua hal pernah diteliti. Judul penelitian boleh sama tetapi subyeknya harus berbeda. Bagaimana mengantisipasi adanya plagiarisme? Bacalah berbagai karya hasil penelitian minimal sebanyak yang telah disebutkan di atas. Jika hanya membaca 1 karya saja maka kecenderungannya mengarah ke plagiarisme.

Setelah membaca berbagai karya maka kiat selanjutnya adalah menulis daftar pustaka agar tidak ada sumber yang terlewatkan. Melalui Daftar Pustaka seseorang dapat belajar bagaimana tata aturan penulisan sumber referensi yang berupa jurnal, buku, makalah, ataupun lainnya. Siswa tidak diberi ikan tetapi diberi pancing. Menurut John Dewey, Learning by Doing. Siswa harus praktik menemukan sendiri cara membuat daftar pustaka. Inilah yang dinamakan pendekatan scientific. Belajar berdasarkan pengamalan bukan penghafalan.

Menurut Arief, karya ilmiah tidak harus panjang atau tebal, yang penting lengkap, singkat, dan jelas. Dirinya pernah memenangkan juara 1 lomba karya ilmiah lingkungan hidup hanya dengan karya setebal 5 lembar A4 spasi ganda. Saat itu dia mengangkat tema Pengelolaan Sampah Perkotaan Berbasis Sekolah.

Satu hal yang tidak boleh dilupakan adalah dalam menulis harus berpedoman pada PUEBI (Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia) agar tidak terdapat kesalahan dalam penulisan ejaan. Apalagi sebagai guru. Siswanya yang bernama Akbar, seorang difabel netra, berusia 18 tahun, kelas XI tidak pernah salah dalam menuliskan kata. Buku karyanya banyak terjual dan dia juga berhasil meraih juara 2 dalm lomba MYRES 2020.

Bagaimana karya ilmiah yang bagus? Karya ilmiah yang bagus adalah karya ilmiah yang selesai. “Ada siswa saya yang bercerita bahwa dia tidak dapat menyelesaikan karyanya. Lalu saya katakan buatlah cerpen mulai dari endingnya baru kemudian awalnya,” tutur Arief disertai tawanya yang khas.

Sebagai penutup kuliah, Arief menyampaikan pepatah Arab Man Jadda Wajada, Siapa yang Sungguh-sungguh akan Sukses.

Belum selesai di sini, kuliah daring masih dilanjutkan dengan sesi tanya jawab. Beberapa pertanyaan yang masuk, antara lain dari Sukarti: “Apakah ada batasan-batasan tertentu sehingga sebuah karya ilmiah dianggap plagiat?” Cek plagiarisme dengan turnitin pasti ada sekian persen unsur plagiarisme. Menurut Arief agar sebuah karya tidak terjebak pada plagiarisme ada beberapa cara: (1)Tiap kalimat yang dikutip disebutkan seumbernya, (2)Karya yang pernah ditulis dan mirip dengan karya kita maka disebutkan dalam kajian teori, (3)Setiap sumber yang dijadikan referensi harus ada dalam daftar pustaka.

Selanjutnya pertanyaan dari Susi Ana: “Bagaimana kiat agar karya ilmiah siswa menang dalam lomba?” Beberapa kiatnya adalah (1)membaca pemenang-pemenang tahun sebelumnya. Jika jurinya sama maka bacalah trend penjuriannya, (2)melihat peluang, hindari penelitian IPA karena penelitian IPA biayanya mahal dan saingannya berat, (3)persiapan tidak boleh mendadak, (4)hindari memilih judul yang ringan, pilihlah judul yang berbobot.

Masih dari Susi Ana: “Karya penelitian setebal 5 lembar yang berhasil meraih juara 1, meneliti apa?” Tema yang diangkat adalah pengelolaan sampah perkotaan bebasis sekolah. Dalam pengelolaan sampah banyak unsur yang terlibat: lingkungan, adanya kekontinuan, perlunya sadar lingkungan (darling). Dari semua itu maka perlu adanya ekstrakurikuler wajib di sekolah tentang pengelolaan sampah ini.

Selanjutnya pertanyaan dari Umi Hidayati: “Bagaimana cara menuliskan di daftar pustaka jika mengambil dari beberapa penelitian ilmiah?” Tidak berbeda jauh dengan penulisan dari sumber berupa buku, perlu mencantumkan nama penulis, tahun terbit, judul artikel, kota, dan nama penerbit. Hanya saja, ada perbedaan penulisan untuk beberapa urutan, yaitu pastikan nama di Daftar Pustaka adalah penulis asli, dahulukan penulisan judul artikel yang menjadi sumber referensi, baru dilanjutkan dengan penulisan sumber jurnal yang memuat artikel tersebut.

Pertanyaan terakhir dari Aa Nurdiaman: “Apa contoh judul artikel yang pernah menjadi juara?, Tips ouline tulisan yang simpel itu seperti apa?” Contoh judul yang meraih juara: Metamorfosis  Sejarah Topeng Ireng dari Tuntunan Menjadi Tontonan, Korelasi Kebiasaan Sholat Tahajud dengan Tingkat Kecemasan, Ayat-ayat Kimia dalam Al Quran, Kemampuan Siswa Difabel Netra dalam Menghadapi Era 4.0.

Sementara itu menjawab outline simpel, Arief menyampaikan bahwa karya ilmiah itu banyak macamnya, ada yang onlinenya mengikuti prosedur umum seperti Latar Belakang (1,5 halaman), Kajian Teori (1 halaman), Metode Penelitian (ada kejelasan), Pembahasan (tidak bertele-tele), dan Daftar Pustaka. Salah satu strategi adalah menampilkan jurnal luar negeri di Daftar Pustaka, meskipun hanya mengambil beberapa kalimat darinya.

Kuliah daring ditutup oleh moderator Ayu Dewi Widowati dengan permohonan pada Sang Narasumber untuk menulis sebuah buku tentang karya tulis ilmiah. Dengan gayanya yang khas Arief pun menyampaikan bahwa Ketua Umum Pergumapi, Siska Yuniati jauh sebelumnya pun meminta hal yang sama. Kita doakan semoga buku tentang karya tulis ilmiah oleh Ahmad Arief Ma’ruf segera terbit. Sukses untuk Pergumapi, Mari Berkarya, Berbagi, dan Mengabdi. (nsh)

Nomine dan Pemenang Lomba Artikel Website Pergumapi

Yun Juni 27, 2020

Daftar nomine lomba artikel website Pergumapi 2020
  • Armi Setyasih, S.Pd.
  • Dharma Harfin
  • Dra. Dyah Istami Suharti, M.KPd.
  • Intan Irawati
  • Karjianto, S.Pd.I., M.Pd.
  • M. Nurul Hajar
  • Musa Surahman, S.Ag.
  • Septiana Farida, S.Pd., M.Pd.
  • Sitti Hasma
  • Sri Saktiani
Pemenang lomba artikel website Pergumpai 2020
  1. Dharma Harfin - 4192
  2. Karjianto, S.Pd.I., M.Pd. - 3983
  3. Septiana Farida, S.Pd., M.Pd. - 3764
Selamat kepada para pemenang, nomine, serta seluruh peserta. Pemenang mendapatkan hadiah dan sertifikat pemenang, sementara nomine (kecuali pemenang) mendapatkan sertifikat nomine. Untuk teknis hadiah dan sertifikat, akan dihubungi panitia melalui e-mail.

Insyaallah seluruh artikel yang ditulis peserta lomba ini bermanfaat bagi masyarakat luas. Sampai jumpa di agenda berikutnya.

Salam,

a. n. Panitia
Dra. Rr. Ayu Dewi Widowati
Kasmawati, S.Ag, M.Pd.

Pemaknaan Guru Dari Desa terhadap Aktivitas Pembelajaran Daring

Mei 28, 2020
Peserta didik yang sedang mengikuti pembelajaran di rumah.

Sitti Hasma
Anggota Perkumpulan Guru Madrasah Penulis

Pergumapi.or.id--Bekerja dari rumah (Work From Home) yang akhir-akhir ini digaung-gaungkan pemerintah, akibat dari upaya penanggulangan penyebaran virus corona (Covid-19). Menjadi tantangan tersendiri bagi guru, utamanya yang tinggal di daerah yang ketersediaan akses teknologi masih sangat terbatas.

Sejak Pemerintah Daerah meliburkan masuk sekolah  bagi peserta didik dan diganti dengan Pembelajaran Jarak Jauh, yang dikenal dengan Pembelajaran Daring. Maka guru pun harus memiliki kemampuan untuk memberikan solusi yang tepat terhadap kondisi ini. Agar pembelajaran bagi peserta didik tidak terbengkalai dan dapat terus berjalan. Bagi guru yang tinggal di wilayah perkotaan, bekerja dari rumah tentu saja bukanlah menjadi momok atau beban yang terlalu berat, karena mereka didukung dengan fasilitas teknologi yang memadai, baik bagi guru itu maupun bagi peserta didik itu sendiri. Namun beda halnya dengan guru yang tinggal di wilayah yang akses layanan teknologi masih sangat terbatas. Ini menjadi tantangan tersendiri bagi guru. Sebut saja peserta didik yang belum memiliki fasilitas teknologi tersebut seperti Laptop, Android dan sejenisnya, peserta  didik yang tinggal di wilayah yang belum bisa dijangkau jaringan, belum lagi kalau gurunya yang gaptek. 

Media Sosial Grup Whatsap menjadi alternatif paling mudah dan paling banyak digunakan guru, terutama di wilayah pedesaan, disamping mudah diakses, juga karena rata-rata orangtua peserta didik sudah memiliki akun, jadi tidak perlu mencari aplikasi yang bisa saja membingungkan mereka. Tentu saja hal ini tidak berlaku secara umum, namun hanya terbatas pada masyarakat tertentu. Karena di luar sana sudah banyak yang menggunakan aplikasi yang lebih efektif sehingga peserta didik dapat mengikuti pembelajaran langsung dari gurunya, tidak jauh beda dengan waktu mereka belajar di kelas. 

Dalam aktivitas Pembelajaran Daring, ada beberapa elemen yang terkait dengan kegiatan belajar dari rumah, agar bisa memberikan hasil yang maksimal, yaitu:

Pertama, aktivitas pembelajaran dari rumah memperhatikan kondisi dan minat peserta didik, termasuk mempertimbangkan kesenjangan akses dan ketersediaan fasilitas belajar yang dimiliki peserta didik, karena kondisi sosial peserta didik juga bervariasi. Artinya guru wajib memberikan materi dan bahan ajar sesuai dengan kondisi mereka. Jangan sampai karena tugas dan materinya yang terlalu memberatkan peserta didik. 

Kedua, content dan tugas yang diberikan adalah materi yang sesuai dengan konsep belajar dari rumah, yaitu usaha untuk memutus mata rantai penularan virus Covid-19, jadi dipastikan bahwa tugas yang diberikan tersebut bisa selesai tanpa membebani peserta didik untuk keluar rumah. 

Kaitannya dengan kegiatan belajar dari rumah, hal ini juga bisa menjadi sarana penguatan pendidikan karakter seperti yang selama ini menjadi tujuan pendidikan yang sebenarnya, jadi guru dan orangtua memiliki peran yang sama untuk mewujudkan itu semua. Guru memberikan pendidikan lewat Pembelajaran Daring, dengan menuntut kemampuan berpikir, menimbulkan kerasaingintahuan yang tinggi, kreativitas, dan tanggung jawab peserta didik. Sementara orangtua menumbuhkembangkan karakter kepada anak-anaknya, dengan pendidikan yang terintegrasi pada penanaman akhlakul karimah, pengamalan Ibadah, pembiasaan sopan santun dan  tata krama serta perilaku hidup sehat. Dan banyak lagi penanaman karakter yang dapat ditumbuhkan dengan pendampingan orangtua yang lebih maksimal. 

Intinya, bahwa kegiatan Pembelajaran Jarak Jauh menuntut kerjasama yang baik antara guru dan orangtua, yang meliputi kompetensi pendidik terhadap pemanfaatan teknologi dalam mengelola pembelajaran, dengan memperhatikan kondisi peserta dan ketersediaan akses layanan bagi peserta didik. Dan keterlibatan dan atensi orangtua terhadap pendampingan kegiatan pembelajaran selama peserta didik berada di rumah mereka. (*)

Catatan:
Tulisan ini disertakan dalam Lomba Artikel Pergumapi 2020. Panitia tidak melakukan penyuntingan, isi sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis.

Kreativitas dan Inovasi Guru Kunci Keberhasilan Pembelajaran Daring Saat Menghadapi Pandemi Covid-19

Mei 28, 2020
Media kreatif dan inovatif.

Dra. Dyah Istami Suharti, M.KPd.
Anggota Perkumpulan Guru Madrasah Penulis

Pergumapi.or.id--Sesuai pengarahan Presiden Joko Widodo yang menyerukan kebijakan baru dan meminta masyarakat untuk bekerja di rumah atau work from home (WFH), hal tersebut dilakukan untuk meminimalisir pencegahan penyebaran Covid-19. Selain itu beliau juga membuat kebijakan untuk belajar dari rumah bagi pelajar dan mahasiswa, sebagian Aparatur Sipil Negara (ASN) bekerja dari rumah juga dengan pembelajaran daring (online) dan mengutamakan pelayanan prima dari masyarakat untuk mengatasi penyebaran Covid-19 biar tidak terlalu  luas penyebarannya. Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Nadiem Makarim juga menghimbau kepada Guru dan Tenaga Kependidikan terkait penghentian sementara aktivitas pembelajaran tatap muka di sekolah.

Pembelajaran daring (online) yang menggunakan teknologi diantaranya online classroom, google form, webex, zoom yang dipakai guru untuk mengajar sebaiknya menggunakan metode pembelajaran yang bervariasi, jika model pembelajaran dan metode pembelajaran yang diterapkan guru bersifat monoton saja akan membuat siswa menjadi jenuh dan bisa mengalami stres. Guru  dalam mengajar harus sesuai dengan kompetensi dasar (KD), indikator, tujuan pembelajaran dan berupaya menggunakan metode pembelajaran yang interaktif, kreatif dan inovatif. Hal yang paling penting diperhatikan saat guru bekerja di rumah atau work from home (WFH) menggunakan pembelajaran daring baik melalui Whatsapp group, Google classroom, E-Learning, awal sebelum pembelajaran perlu  komunikasi dengan siswa dan juga komunikasi dengan orang tua siswa.  Metode mengajar guru yang bervariasi dengan pendekatan komunikatif digambarkan pada pendampingan pembelajaran  situasi Pandemi Covid-19 yang  membuat siswa merasa nyaman dan enjoy dalam belajar. 

Membangun komunikasi antara orang tua siswa dengan guru mempunyai tujuan untuk mengetahui perkembangan siswa terutama dalam pembelajaran daring menghadapi Pandemi Covid-19. Komunikasi dalam pembelajaran daring tidak hanya guru dengan siswa melainkan juga interaksi yang harmonis antara guru dengan orang tua siswa sangat diperlukan. Komunikasi dalam pembelajaran daring yang diterapkan guru diantaranya sering komunikasi melalui whatsapp group sebelum mengawali pembelajaran yaitu guru memastikan kepada siswa tentang jaringan internet sudah bagus apa belum, menyampaikan materi yanga kan diajarkan dan penggunaan metode pembelajaran yang rencana diterapkan. Dengan metode pembelajaran daring (online) seperti ini siswa  merasa diperhatikan oleh guru juga orang tua dan lebih termotivasi untuk belajar lebih serius lagi.

Bentuk komunikasi tidak hanya menginformasikan materi yang diajarkan pada siswa saja melainkan seorang guru harus komunikatif juga dengan orang tua yang terkait perkembangan siswa baik di sekolah maupun perkembangan siswa saat berada di rumah. Hal ini dilakukan untuk memantau perkembangan siswa baik pemahaman tentang materinya maupun kendala belajar di rumah, juga perhatian, tanggung jawab dan kepedulian orang tua terhadap siswa sangat mendukung pembelajaran terutama situasi Pandemi Covid-19. Perhatian orang tua bisa ditunjukkan salah satunya dengan menunggui saat putra putrinya belajar. Sesibuk apapun orang tua harus bisa meluangkan waktu untuk memberikan perhatian kepada putra putrinya karena sikap orang tua seperti ini termasuk salah satu kepedulian dan motivasi yang berharga bagi putra putrinya untuk mencapai keberhasilan dalam studinya.

Seorang guru harus memiliki kompetensi dalam mengajar sekalipun melalui pembelajaran daring guru tetap menunjukkan kesungguhan, kerja keras dan ketulusan pengabdian, guru berprinsip “ mengajar dengan menggunakan  hati “ yaitu guru dalam mengajar harus memahami karakter siswa, transfer ilmu dengan setulus hati dan mau mengerti kendala yang dihadapi siswa. Seorang guru harus selalu up to date mengikuti perkembangan  jaman, mampu merancang, mendesain pembelajaran daring yang tepat dan sesuai dengan materi yang diajarkan dan diupayakan menggunakan media kreatif. Salah satu contoh kreativitas guru dalam pembelajaran daring pada mata pelajaran biologi sistem koordinasi siswa diminta membuat peta konsep setelah literasi (baca) kemudian literasi (tulis) sesuai kreatifitas siswa sendiri, pertemuan berikutnya siswa diajak pembelajaran melalui google classroom dan bisa juga dengan media pembelajaran berupa video yang dibuat guru sendiri.   


Selain pembelajaran daring yang komunikatif dan kreatif level di atasnya lagi guru harus bisa juga menghasilkan karya mengajar yang inovatif. Pembelajaran Inovatif adalah pembelajaran yang lebih memberikan peluang kepada siswa untuk mengkonstruksi pengetahuan secara mandiri dan dimediasi oleh siswa yang lain. Pembelajaran Inovatif  biasanya berlandaskan paradigma konstruktivistik, program pembelajaran yang langsung memecahkan permasalahaan yang dihadapi oleh kelompok siswa. Salah satu contoh: pada awal mengajar guru menjelaskan dilanjutkan dengan diskusi terbimbing online dan langkah selanjutnya siswa diberi tugas tidak terstruktur (TTT) secara kelompok untuk membuat media atau produk yang kreatif dan inovatif untuk topik diberi kebebasan memilih sendiri. Ada yang membuat media pembuatan tape dengan menggunakan kontrol suhu, ada yang membuat produk Edible coating. (*)

Catatan:
Tulisan ini disertakan dalam Lomba Artikel Pergumapi 2020. Panitia tidak melakukan penyuntingan, isi sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis.

Hitam Putih Learn at Home di Era Covid-19

Mei 28, 2020
Siswa MTsN 2 Bantul sedang mengerjakan Ujian CBT melalui E-learning Madrasah.

Yulian Istiqomah, S.Pd.
Guru MTs Negeri 2 Bantul, Anggota Pergumapi

Pergumapi.or.id--Bagaimana apabila pembelajaran dijalankan secara online atau belajar di rumah (Learn at Home) tanpa guru harus tatap muka dengan siswa di kelas? Pertanyaan ini telah menuai pro dan kontra di kalangan pelaku pendidikan. Banyak yang mendukung proses pembelajaran online, banyak pula yang menentangnya. Sikap kontra ini muncul sebab adanya pandangan bahwa siswa membutuhkan interaksi sosial secara langsung dengan guru maupun siswa lain untuk menumbuhkan karakter positif dalam dirinya. Selain itu, sebuah aplikasi juga dipandang tidak mampu memuat semua hal yang diinginkan guru.

Pada awal tahun 2020, setelah munculnya pandemi covid-19 yang berasal dari kota Wuhan, China, penerapan sistem belajar di rumah (Learn at Home) kembali menjadi pembicaraan publik di Indonesia. Ketika pada akhirnya masyarakat Indonesia pun tak luput dari paparan virus corona (covid-19), Nadiem Makarim (Menteri Pendidikan dan Kebudayaan) mengambil kebijakan agar Lembaga Pendidikan di wilayah pandemi memberlakukan belajar di rumah (Learn at Home), sesuai dengan arahannya dalam surat edaran resmi Mendikbud nomor 36962/MPK.A/HK/2020 tentang pembelajaran daring dan bekerja dari rumah dalam rangka pencegahan penyebaran covid-19, pada 17 Maret 2020.

Di tingkat madrasah, kepala madrasah lantas mengundang semua wakil kepala dan wali kelas untuk membahas persiapan pembelajaran online sesuai dengan edaran dari Mendikbud tersebut. Para wali pun dipandang memiliki peranan penting yang dapat dioptimalkan untuk mengoordinasi siswa di kelasnya selama pembelajaran online di era pandemi covid-19. 

Ada berbagai upaya yang dapat dilakukan oleh wali kelas untuk menyukseskan belajar di rumah (Learn at Home) di kelasnya. Berbagai upaya tersebut adalah (1) mendata dan membuat grup media sosial kelas; (2) belajar cepat berbagai aplikasi pembelajaran online; (3) menjadi operator sekaligus tutor bagi siswa dalam penggunaan aplikasi pembelajaran online; (4) mengelola pembiasaan karakter dan life skill siswa secara online; (5) merekap dan melaporkan hasil pembelajaran siswa; (6) membuat dan mengisi form rekapan pengumpulan penugasan siswa; (7) melakukan komunikasi dengan siswa maupun orang tua siswa yang masih belum mengumpulkan penugasan; dan (8) mengoptimalkan perannya selama 24 jam untuk menyemangati siswa dalam menuntaskan semua. 

Sistem belajar dari rumah (learn at home) tentu saja tidak lepas dari berbagai kendala, diantaranya: (1) orang tua di rumah juga tidak paham IT (gaptek), sehingga siswa harus mempelajari aplikasi e-learning secara otodidak, beberapa dari siswa bahkan ada yang menyerah sebelum mencoba; (2) guru mapel lantas tidak online saat jadwal mapelnya, sehingga setelah memberikan tugas pada wali kelas, wali kelas harus merangkap menjadi tutor; (3) tidak semua siswa memiliki HP atau keterbatasan kuota dan sinyal; (4) guru mapel kurang lengkap dan jelas dalam memberikan prosedur langkah kerja penugasannya, sehingga siswa bingung; dan (5) perbedaan karakter siswa yang rajin dan yang malas menjadi tampak jelas, siswa yang rajin check list laporan penugasan lengkap, sedang yang malas akan nampak merah pada beberapa kolom mata pelajaran.

Akan tetapi sebaliknya, sistem belajar dari rumah (learn at home) juga terdapat sisi putih atau manfaat yang dapat dirasakan siswa, diantaranya: (1) ada komunikasi lebih intensif antara siswa dan orang tua sehingga hubungan keduanya semakin erat; (2) siswa menjadi lebih mandiri dalam pembelajaran, tidak bergantung teman; (3) siswa yang semula tidak percaya diri sehingga skill tidak tampak kini tampak; (4) ternyata banyak siswa yang dipandang malas saat offline menjadi rajin dan responsif saat online; (5) siswa mengetahui manfaat gawai yang lebih positif bahwa gawai tidak hanya untuk hiburan tetapi juga bisa untuk belajar; (6) siswa senang bersaing secara sportif dalam berkarya; dan (7) pergaulan siswa lebih terjaga dan meminimalkan kenakalan remaja.

Di era pandemi Covid-19 ini, apapun kendala yang dihadapi dalam proses belajar di rumah tersebut harus dapat diatasi, sebab penerapan social Distancing akan terus diberlakukan hingga masa pandemi berakhir, sedangkan manfaat dari Learn at home dapat disebarluaskan agar dapat memacu semangat para siswa. (*)

Catatan:
Tulisan ini disertakan dalam Lomba Artikel Pergumapi 2020. Panitia tidak melakukan penyuntingan, isi sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis.