Featured Post

Lomba Menulis Artikel di Website Pergumapi

Wikimedia Commons/Josias Cornelis Rappard Tema Work from Home, Learn at Home (Bekerja di rumah, Belajar di rumah) Ketentuan peser...

Konsep Pendidikan Islam Menurut Al-Qur'an

Mei 15, 2021

Oleh Hertini, S.Pd., M.Pd.

Pergumapi.or.id--Pengertian pendidikan Islam menurut Dr. Yusuf Qardawi adalah pendidikan manusia seutuhnya, akal dan hatinya, rohani dan jasmaninya, serta akhlak dan keterampilannya. Kemudian Azyumardi Azra memberikan pengertian bahwa pendidikan Islam adalah suatu proses pembentukan individu berdasarkan ajaran-ajaran Islam yang diwahyukan Allah Swt. kepada Nabi Muhammad saw. Berdasarkan dua pengertian tersebut, ada penekanan yang begitu strategis pada nilai-nilai yang dipindahkan (diajarkan) dalam pendidikan Islam yang berasal dari sumber-sumber nilai Islam, yakni Al-Qur’an, sunah, dan ijtihad. Jadi, pendidikan Islam merupakan proses bimbingan, baik jasmani maupun rohani berdasarkan ajaran-ajaran agama Islam menuju kepada terbentuknya kepribadian muslim.

Dalam sejarah Islam, penyelenggaraan konsep pendidikan Islam menurut Al-Qur’an telah dimulai oleh Rasulullah saw. dan para sahabatnya (Khulafa’ur-Rasyidin) dengan mengajarkan baca-tulis bagi sepuluh orang penduduk Madinah sebagai syarat pembebasan bagi setiap tawanan perang Badar. Pada masa itu, Nabi Muhammad saw. senantiasa menanamkan kesadaran kepada para sahabat dan pengikutnya akan keutamaan ilmu dan selalu mendorong umat untuk senantiasa mencari ilmu. Hal ini dapat kita buktikan dengan banyaknya firman Allah Swt. dan hadis Rasulullah saw. yang menjelaskan tentang urgensi dan keutamaan (hikmah) ilmu dan orang yang memiliki pengetahuan.

Bagi kita umat manusia pendidikan penting sebagai upaya menanamkan dan mengaktualisasikan nilai-nilai Islam pada kehidupan nyata melalui pribadi-pribadi muslim yang beriman dan bertakwa, sesuai dengan harkat dan derajat kemanusiaan sebagai khalifah di atas bumi. Penghargaan Allah terhadap orang-orang yang berilmu dan berpendidikan dilukiskan pada ayat-ayat berikut. “Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antara kamu dan orang-orang yang diberi pengetahuan derajat (yang banyak)” (QS. Al Mujadalah 11). “Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai ilmu pengetahuan jika kamu tidak mengetahui” (QS, An-Nahl 43). Katakanlah: 'Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui'" (QS.Az.Zumar:9).

Pentingnya pendidikan telah dicontohkan oleh Allah pada wahyu pertama, yaitu surat Al-Alaq ayat 1-5 yang banyak mengandung isyarat-isyarat pendidikan dan pengajaran dengan makna luas dan mendalam. Perilaku Nabi Muhammad saw. sendiri, selama hayatnya sarat dengan nilai-nilai pendidikan yang tinggi sebagaimana firman Allah dalam QS. Al-Ahzab: 21 yang artinya “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah”.

Konsep pendidikan Islam tidak hanya menekankan kepada pengajaran yang berorientasi kepada intelektualitas penalaran, melainkan lebih menekankan pada pembentukan keribadian yang utuh dan bulat. Pendidikan Islam menghendaki kesempurnaan kehidupan yang tuntas sesuai dengan firman Allah pada surat Al Baqarah ayat 208, yang artinya ”Wahai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhannya, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu”.

Konsep pendidikan Islam yang mengacu kepada ajaran Al-Qur’an, sangat jelas terurai dalam kisah Luqman. Menurut Dr. M. Sayyid Ahmad Al-Musayyar yang menukil beberapa ayat Al-Qur’an dalam Surat Luqman, Beliau mengatakan ada tiga kaidah pokok pendidikan dalam Islam menurut Al-Qur’an yang dijalankan oleh Luqman kepada anaknya:

1. Peletakan pondasi dasar berupa penanaman keesaan Allah, kelurusan aqidah, beserta keagungan dan kesempurnaan-Nya

Kalimat tauhid adalah fokus utama pendidikannya. Tidak ada pendidikan tanpa iman.Tak ada pula akhlak, interaksi sosial, dan etika tanpa iman. Apabila iman lurus, maka lurus pulalah aspek kehidupannya, karena iman selalu diikuti oleh perasaan introspeksi diri dan takut hanya kepada Allah Swt. Dari sinilah Luqman menegaskan hal itu kepada putranya dengan berkata, “Hai anakku, sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya (membalasinya). Sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha Mengetahui” (QS. 31:16).

Seorang mukmin mesti berkeyakinan bahwa tak ada satu pun yang bisa disembunyikan dari Allah. Allah Maha Mengetahui apa yang ada dalam lipatan hati manusia. Dari sinilah ia akan melakukan seluruh amal dan aktivitasnya semata untuk mencari ridha Allah tanpa sikap riya atau munafik, dan tanpa menyebut-nyebutnya ataupun menyakiti orang lain.

2. Pilar-pilar pendidikan

Luqman memerintahkan anaknya untuk salat, memikul tanggung jawab amar ma’ruf nahi munkar, serta menanamkan sifat sabar. Salat adalah cahaya yang menerangi kehidupan seorang muslim. Ini adalah kewajiban harian seorang muslim yang tidak boleh ditinggalkan selama masih berakal baik.

Amar ma’ruf nahi munkar merupakan istilah untuk kritik konstruktif, rasa cinta dan perasaan bersaudara yang besar kepada sesama, bukan ditujukan untuk mencari-cari kesalahan dan ghibah. Umat Islam telah diistimewakan dengan tugas amar ma’ruf nahi munkar ini melalui firman-Nya, "Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik" (QS. 3:110).

Sabar itu bermacam-macam. Ada sabar atas ketaatan hingga ketaatan itu ditunaikan, ada sabar atas kemaksiatan hingga kemaksiatan itu dihindari, dan ada pula sabar atas kesulitan hidup hingga diterima dengan perasaan ridha dan tenang. Seorang beriman berada di posisi antara syukur dan sabar. Dalam kemudahan yang diterimanya, ia pandai bersyukur. Sedang dalam setiap kesulitan yang dihadapinya, ia mesti bersabar dan introspeksi diri.

3. Etika sosial

Metode pendidikan Luqman menumbuhkan sikap yang luhur serta keutamaan-keutamaan budi pekerti yang agung. Luqman menggambarkan hal itu untuk putranya dengan larangan melakukan kemunkaran dan tak tahu terima kasih, perintah untuk tidak terlalu cepat dan tidak pula terlalu lambat dalam berjalan, serta merendahkan suara. Seorang muslim perlu diingatkan untuk tidak boleh menghina dan angkuh. Sebab, semua manusia berasal dari nutfah yang hina dan akan berakhir menjadi bangkai busuk. Ketika hidup pun, ia kesakitan jika tertusuk duri dan berkeringat jika kepanasan.

Di dalam ajaran Islam, orang tua bertanggung jawab terhadap pendidikan anak-anaknya. Keduanya berkewajiban mendidik anak-anaknya untuk mempertemukan potensi dasar dengan pendidikan, sebagaimana sabda Nabi Muhammad saw. yang menyatakan bahwa “Setiap anak dilahirkan di atas fitrahnya, maka kedua orangtuanya yang menjadikan dirinya beragama Yahudi, Nasrani, atau Majusi” (HR Bukhari). Kewajiban ini juga ditegaskan dalam firman-Nya, “Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezki kepadamu, Kamilah yang memberi rezki kepadamu. Dan akibat (yang baik) itu adalah bagi orang yang bertakwa" (QS. 20:132).

Dalam ayat lain, “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan." (QS. 66:6)

Dalam Islam, pentingnya pendidikan tidak semata-mata mementingkan individu, melainkan erat kaitannya dengan kehidupan sosial kemasyarakatan. Konsep pendidikan dalam Islam berkaitan erat dengan lingkungan dan kepentingan umat. Oleh karena itu, dalam proses pendidikan senantiasa dikorelasikan dengan kebutuhan lingkungan, dan lingkungan dijadikan sebagai sumber belajar.

Seorang peserta didik yang diberi kesempatan untuk belajar yang berwawasan lingkungan akan menumbuhkembangkan potensi manusia sebagai pemimpin sebagimana firman Allah Swt. dalam Q.S. Al Baqarah ayat 30 menyatakan ”Sesungguhnya Aku jadikan manusia sebagai pemimpin (khalifah) di atas bumi”. Kaitan dengan pentingnya pendidikan bagi umat, Allah SWT berfirman, ”Hendaklah ada di antara kamu suatu ummat yang mengajak kepada kebajikan dan memerintahkan yang ma’ruf dan melarang yang mungkar. Mereka itulah orang-orang yang beruntung” (QS. 3:104).
Konsep pendidikan dalam Islam menawarkan suatu sistem pendidikan yang holistik dan memposisikan agama dan sains sebagai suatu hal yang seharusnya saling menguatkan satu sama lain, sebagimana doa Rasulullah saw., “Ya Allah, ajarilah aku apa yang membawa manfaat bagiku, serta karuniakanlah padaku ilmu yang bermanfaat”. Dari doa tersebut terungkap bahwa kualitas ilmu yang didambakan dalam Islam adalah kemanfaatan dari ilmu itu. Hal ini terlihat dari hadits Rasulullah saw., “Iman itu bagaikan badan yang masih polos, pakaiannya adalah taqwa, hiasannya adalah rasa malu dan buahnya adalah ilmu.

Pemisahan dan pengotakan antara agama dan sains jelas akan menimbulkan kepincangan dalam proses pendidikan, agama jika tanpa dukungan sains akan menjadi tidak mengakar pada realitas dan penalaran, sedangkan sains yang tidak dilandasi oleh asas-asas agama dan akhlak atau etika yang baik akan berkembang menjadi liar dan menimbulkan dampak yang merusak.

Murtadha Mutahhari seorang ulama, filosof, dan ilmuwan Islam menjelaskan bahwa iman dan sains merupakan karakteristik khas insani, di mana manusia mempunyai kecenderungan untuk menuju ke arah kebenaran dan wujud-wujud suci dan tidak dapat hidup tanpa menyucikan dan memuja sesuatu. Ini adalah kecenderungan iman yang merupakan fitrah manusia. Tetapi di lain pihak manusia pun memiliki kecenderungan untuk selalu ingin mengetahui dan memahami semesta alam, serta memiliki kemampuan untuk memandang masa lalu, sekarang dan masa mendatang (yang merupakan ciri khas sains).

Al-Qur’an berkali-kali meminta manusia membaca tanda-tanda alam, menantang akal manusia untuk melihat ke-Maha-Kuasa-an Allah pada makhluk lain, rahasia penciptaan tumbuhan, hewan, serangga, pertumbuhan manusia, kejadian alam dan penciptaan langit bumi. Banyak ayat-ayat Al-Qur’an yang berisikan tentang kejadian-kejadian di sekitar kita yang menuntut pemahaman dengan sains atau akal manusia. Karena itu, seorang muslim juga diwajibkan untuk mempelajari sains, karena sains hanyalah salah satu pembuktian kekuasaan Allah, disamping ayat-ayat qauliyah. Karenanya, konsep pendidikan dalam islam menurut Al-Qur’an pun tidak hanya berisi materi-materi pendidikan keagamaan saja.

Al-Qur’an menawarkan konseptualisasi pendidikan, yang berintikan ilmu naqliyah yang melandasi semua ilmu aqliyah, sehingga diharapkan dapat mengintegrasikan antara akal dan wahyu, ilmu-ilmu syar’iyyah dan ilmu-ilmu ghairu syar’iyyah dalam proses pendidikan. Melalui upaya tersebut dapat merealisasikan proses memanusiakan manusia sebagai tujuan pendidikan, yaitu mengajarkan, mengasuh, melatih, mengarahkan, membina dan mengembangkan seluruh potensi peserta didik dalam rangka menyiapkan mereka merealisasikan fungsi dan risalah kemanusiaannya di hadapan Allah Swt., yaitu mengabdi sepenuhnya kepada Allah Swt. dan menjalankan misi kekhalifahan di muka bumi, sebagai makhluk yang berupaya mengiplementasikan nilai-nilai ilahiyah dengan memakmurkan kehidupan dalam tatanan hidup bersama dengan aman, damai dan sejahtera. (*)


Hertini, S.Pd. M.Pd. adalah Guru MIS 05 Darussalam Kepahiang, Kabupaten Kepahiang, Provinsi Bengkulu.

Kuliah Daring Pergumapi, Arif Ma’ruf Sampaikan Strategi Jitu Karya Ilmiah

Januari 19, 2021

Pergumapi.or.id–Karya ilmiah merupakan sesuatu yang sangat trend dalam dunia literasi karena memerlukan persiapan, pelaksanaan penelitian atau pengamatan serta kajian literasi tingkat tinggi. Hal inilah yang menjadikan kegiatan tertulis satu ini terkesan sangat sulit untuk dilakukan oleh siapapun. Di dunia pendidikan, jenis kegiatan karya ilmiah menjadi bagian dari mata pelajaran Bahasa Indonesia sekaligus menjadi bagian dari ekstrakurikuler Karya Ilmiah Remaja (KIR). Masalahnya sekarang adalah bagaimana membiasakan siswa bahkan guru untuk familier dengan karya tulis ini dan harapannya bisa berprestasi dalam kompetisi.

Perkumpulan Guru Madrasah Penulis Indonesia (Pergumapi) sebagai salah satu pemerhati terhadap karya literasi guru dan siswa merasa terpanggil untuk menyelenggarakan pengembangan diri dalam karya ilmiah. Melanjutkan kegiatan bidang diklat, pada Ahad (17/1/2021) Pergumapi menyelenggarakan kuliah daring (dalam jaringan) yang merupakan kegiatan utama organisasi profesi ini melalui dunia maya. Koordinator bidang Diklat Ruba Nurzaman mensetting kuliah daring yang biasanya via whatsapp grup kali ini menggunakan media zoom meeting.

Nara sumber yang ditampilkan adalah praktisi karya ilmiah yang juga menjabat pembina Pergumapi Drs. Ahmad Arif Ma’ruf, MA, M.Si. Guru MAN 2 Sleman yang juga menjabat anggota Badan Akreditasi Nasional (BAN). Arif dikenal sebagai guru pembimbing karya ilmiah siswa yang selalu menghasilkan sang juara di beberapa madrasah yang menjadi tempat tugasnya, bahkan terakhir mampu membimbing siswa tuna netra menjadi juara nasional dan internasional.  Dihantarkan moderator Dra. Rr. Ayu Dewi Widowati, Arif memberikan strategi jitu dalam membimbing karya ilmiah sehingga menghasilkan sang juara.

Sementara itu menanggapi kegiatan kuliah daring ini, Ketua Umum Pergumapi Siska Yuniati, S.Pd, M.Pd. mengaku senang dengan kegiatan dari seorang praktisi ini dan berharap bisa menambah motivasi bagi guru termsuk dalam membimbing siswa menghasilkan karya tulis ilmiah. “Sesuatu yang menarik dari Pak Arif adalah kemampuan beliau dalam menyederhanakan masalah penulisan serta pembimbingan karya tulis siswa,” tutur Siska. Penjelasan Siska dibuktikan dengan pertanyaan peserta yang mengarah pada trik-trik membimbing siswa menjadi juara. (edp)

Arief, Pembimbing Riset Andal Berbagi Cara Gampang Membuat Karya Ilmiah di Kuliah Daring Pergumapi

Januari 19, 2021


Pergumapi.or.id--Menulis menjadi hal yang mudah dan menyenangkan bagi yang telah terbiasa. Namun tidak demikian bagi mereka yang belum terbiasa. Sekian lama di depan laptop namun tak kunjung muncul apa yang mau ditulis. Sebenarnya menulis bukanlah sesuatu yang sulit, siapapun dapat melakukannya asal ada niat dan kemauan. Kebiasaan menulis pun dapat dilatih, misalnya dengan bergabung dalam sebuah komunitas kepenulisan, mengikuti workshop kepenulisan, atau lainnya. Salah satu organisasi yang bergerak di bidang kepenulisan adalah Pergumapi (Perkumpulan Guru Madrasah Penulis).

Dengan moto berkarya, berbagi, dan mengabdi, Pergumapi yang dinakhodai oleh Siska Yuniati, berusaha memfasilitasi anggotanya untuk mendapatkan ilmu tentang kepenulisan. Pada Minggu (17/01/2021) Pergumapi menggelar kuliah daring perdana di tahun 2021. Kuliah daring bertajuk “Cara Gampang Membuat Karya Ilmiah” dihelat via zoom meeting dengan menghadirkan narasumber Ahmad Arief Ma’ruf, Pembimbing Riset dan Guru MAN 2 Sleman.

Dalam panduan moderator Ayu Dewi Widowati dan host Ruba Nurzaman kuliah daring berjalan lancar dan sukses. Dengan gaya khasnya yang humoris, Arief memulai kuliahnya dengan memaparkan kejadian sehari-hari yang banyak dijumpai. “Saya sering menemukan seseorang ketika diajak menulis malah balik bertanya: dapat untuk naik pangkat atau tidak? Seolah-olah menulis itu hanya untuk naik pangkat. Jika tidak dapat digunakan untuk naik pangkat maka tidak perlu dilakukan,”paparnya.

Padahal tujuan menulis tidak hanya sebatas itu. Lebih dari apa yang diharapkan pun dapat diraih dengan menulis. Dengan menulis kompetensi akan meningkat, prestasi teraih, bahkan kebahagiaan pun dapat teraih. Arief mengibaratkan dengan seseorang yang memakai helm. Jika tujuan seseorang memakai helm karena takut kepada polisi maka helm tersebut tak akan dipakai jika tak ada polisi. Berbeda halnya jika tujuan seseorang memakai helm untuk melindungi kepala maka saat dia mengendarai motor, diawasai ataupun tidak oleh polisi maka helm tetap dipakai.

Melalui tayangan power pointnya Arief menunjukkan dua buah akuarium, yang satu berisi tujuh ikan dan yang lain hanya berisi air. Karena ikannya penuh, padahal semua butuh oksigen maka salah satu ikan melompat ke tempat yang kosong. Ini adalah gambaran seorang guru yang mau out of the box, tidak hanya sekedar melakukan rutinitas yang monoton tetapi mau melakukan sesuatu di luar rutinitasnya. Hal ini dapat ditemui pada sosok Arief, selama lebih dari 20 tahun mengabdi sebagi guru, Arif telah mengunjungi 27 propinsi di Indonesia, dua kali meraih gelar magister beasiswa, meraih berbagai penghargaan, dan melahirkan banyak siswa berprestasi di bidang karya ilmiah hasil penelitian di bawah bimbingannya. Luar biasa, ternyata tidak semua guru memiliki rutnitas yang monoton. Guru pun dapat berekspresi dan berprestasi. Semua kembali pada niat dan kemauan masing-masing.

Dalam paparannya tentang Cara Gampang Menulis Karya Ilmiah, Pembimbing Riset andal ini memaparkan bahwa karya ilmiah merupakan hasil karya yang diperoleh dari kegiatan menulis dengan menerapkan konvensi ilmiah. Penulisan karya ilmiah menggunakan logika berpikir dan gaya bahasa yang sistematis. Tiap jenis karya ilmiah memiliki gaya penulisan yang berbeda. Pria yang suka berpantun ini menuturkan dalam pantunnya, “Jika ingin manis, harus rajin berkaca. JIka ingn menulis, harus rajin membaca.”

Arief menyampaikan pula tentang kiat suksesnya mengantarkan sekian banyak siswa memboyong berbagai penghargaan. Di antara kiatnya adalah membaca karya ilmiah hasil penelitian minimal 10 karya (untuk siswa) dan 20 karya (untuk guru). Melalui browser dapat dicari “Judul Penelitian Didanai 2020 pdf”. Klik kata kunci spasi pdf. Biasanya berupa jurnal. Mengapa didanai? Karena biasanya karya penelitian yang didanai itu telah melalui beberapa tahapan seleksi yang ketat, sehingga berkualitas. Selain itu dapat juga dibuka situs GARUDA (Garda Rujukan Digital) dan ini free. Di situ terdapat 1.286.880 artikel hasil penelitian dalam bentuk jurnal.

Kiat berikutnya adalah carilah sebanyak-banyaknya karya ilmiah yang mirip, bacalah sekilas, dan cermati. Ternyata semua hal pernah diteliti. Judul penelitian boleh sama tetapi subyeknya harus berbeda. Bagaimana mengantisipasi adanya plagiarisme? Bacalah berbagai karya hasil penelitian minimal sebanyak yang telah disebutkan di atas. Jika hanya membaca 1 karya saja maka kecenderungannya mengarah ke plagiarisme.

Setelah membaca berbagai karya maka kiat selanjutnya adalah menulis daftar pustaka agar tidak ada sumber yang terlewatkan. Melalui Daftar Pustaka seseorang dapat belajar bagaimana tata aturan penulisan sumber referensi yang berupa jurnal, buku, makalah, ataupun lainnya. Siswa tidak diberi ikan tetapi diberi pancing. Menurut John Dewey, Learning by Doing. Siswa harus praktik menemukan sendiri cara membuat daftar pustaka. Inilah yang dinamakan pendekatan scientific. Belajar berdasarkan pengamalan bukan penghafalan.

Menurut Arief, karya ilmiah tidak harus panjang atau tebal, yang penting lengkap, singkat, dan jelas. Dirinya pernah memenangkan juara 1 lomba karya ilmiah lingkungan hidup hanya dengan karya setebal 5 lembar A4 spasi ganda. Saat itu dia mengangkat tema Pengelolaan Sampah Perkotaan Berbasis Sekolah.

Satu hal yang tidak boleh dilupakan adalah dalam menulis harus berpedoman pada PUEBI (Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia) agar tidak terdapat kesalahan dalam penulisan ejaan. Apalagi sebagai guru. Siswanya yang bernama Akbar, seorang difabel netra, berusia 18 tahun, kelas XI tidak pernah salah dalam menuliskan kata. Buku karyanya banyak terjual dan dia juga berhasil meraih juara 2 dalm lomba MYRES 2020.

Bagaimana karya ilmiah yang bagus? Karya ilmiah yang bagus adalah karya ilmiah yang selesai. “Ada siswa saya yang bercerita bahwa dia tidak dapat menyelesaikan karyanya. Lalu saya katakan buatlah cerpen mulai dari endingnya baru kemudian awalnya,” tutur Arief disertai tawanya yang khas.

Sebagai penutup kuliah, Arief menyampaikan pepatah Arab Man Jadda Wajada, Siapa yang Sungguh-sungguh akan Sukses.

Belum selesai di sini, kuliah daring masih dilanjutkan dengan sesi tanya jawab. Beberapa pertanyaan yang masuk, antara lain dari Sukarti: “Apakah ada batasan-batasan tertentu sehingga sebuah karya ilmiah dianggap plagiat?” Cek plagiarisme dengan turnitin pasti ada sekian persen unsur plagiarisme. Menurut Arief agar sebuah karya tidak terjebak pada plagiarisme ada beberapa cara: (1)Tiap kalimat yang dikutip disebutkan seumbernya, (2)Karya yang pernah ditulis dan mirip dengan karya kita maka disebutkan dalam kajian teori, (3)Setiap sumber yang dijadikan referensi harus ada dalam daftar pustaka.

Selanjutnya pertanyaan dari Susi Ana: “Bagaimana kiat agar karya ilmiah siswa menang dalam lomba?” Beberapa kiatnya adalah (1)membaca pemenang-pemenang tahun sebelumnya. Jika jurinya sama maka bacalah trend penjuriannya, (2)melihat peluang, hindari penelitian IPA karena penelitian IPA biayanya mahal dan saingannya berat, (3)persiapan tidak boleh mendadak, (4)hindari memilih judul yang ringan, pilihlah judul yang berbobot.

Masih dari Susi Ana: “Karya penelitian setebal 5 lembar yang berhasil meraih juara 1, meneliti apa?” Tema yang diangkat adalah pengelolaan sampah perkotaan bebasis sekolah. Dalam pengelolaan sampah banyak unsur yang terlibat: lingkungan, adanya kekontinuan, perlunya sadar lingkungan (darling). Dari semua itu maka perlu adanya ekstrakurikuler wajib di sekolah tentang pengelolaan sampah ini.

Selanjutnya pertanyaan dari Umi Hidayati: “Bagaimana cara menuliskan di daftar pustaka jika mengambil dari beberapa penelitian ilmiah?” Tidak berbeda jauh dengan penulisan dari sumber berupa buku, perlu mencantumkan nama penulis, tahun terbit, judul artikel, kota, dan nama penerbit. Hanya saja, ada perbedaan penulisan untuk beberapa urutan, yaitu pastikan nama di Daftar Pustaka adalah penulis asli, dahulukan penulisan judul artikel yang menjadi sumber referensi, baru dilanjutkan dengan penulisan sumber jurnal yang memuat artikel tersebut.

Pertanyaan terakhir dari Aa Nurdiaman: “Apa contoh judul artikel yang pernah menjadi juara?, Tips ouline tulisan yang simpel itu seperti apa?” Contoh judul yang meraih juara: Metamorfosis  Sejarah Topeng Ireng dari Tuntunan Menjadi Tontonan, Korelasi Kebiasaan Sholat Tahajud dengan Tingkat Kecemasan, Ayat-ayat Kimia dalam Al Quran, Kemampuan Siswa Difabel Netra dalam Menghadapi Era 4.0.

Sementara itu menjawab outline simpel, Arief menyampaikan bahwa karya ilmiah itu banyak macamnya, ada yang onlinenya mengikuti prosedur umum seperti Latar Belakang (1,5 halaman), Kajian Teori (1 halaman), Metode Penelitian (ada kejelasan), Pembahasan (tidak bertele-tele), dan Daftar Pustaka. Salah satu strategi adalah menampilkan jurnal luar negeri di Daftar Pustaka, meskipun hanya mengambil beberapa kalimat darinya.

Kuliah daring ditutup oleh moderator Ayu Dewi Widowati dengan permohonan pada Sang Narasumber untuk menulis sebuah buku tentang karya tulis ilmiah. Dengan gayanya yang khas Arief pun menyampaikan bahwa Ketua Umum Pergumapi, Siska Yuniati jauh sebelumnya pun meminta hal yang sama. Kita doakan semoga buku tentang karya tulis ilmiah oleh Ahmad Arief Ma’ruf segera terbit. Sukses untuk Pergumapi, Mari Berkarya, Berbagi, dan Mengabdi. (nsh)

Nomine dan Pemenang Lomba Artikel Website Pergumapi

Yun Juni 27, 2020

Daftar nomine lomba artikel website Pergumapi 2020
  • Armi Setyasih, S.Pd.
  • Dharma Harfin
  • Dra. Dyah Istami Suharti, M.KPd.
  • Intan Irawati
  • Karjianto, S.Pd.I., M.Pd.
  • M. Nurul Hajar
  • Musa Surahman, S.Ag.
  • Septiana Farida, S.Pd., M.Pd.
  • Sitti Hasma
  • Sri Saktiani
Pemenang lomba artikel website Pergumpai 2020
  1. Dharma Harfin - 4192
  2. Karjianto, S.Pd.I., M.Pd. - 3983
  3. Septiana Farida, S.Pd., M.Pd. - 3764
Selamat kepada para pemenang, nomine, serta seluruh peserta. Pemenang mendapatkan hadiah dan sertifikat pemenang, sementara nomine (kecuali pemenang) mendapatkan sertifikat nomine. Untuk teknis hadiah dan sertifikat, akan dihubungi panitia melalui e-mail.

Insyaallah seluruh artikel yang ditulis peserta lomba ini bermanfaat bagi masyarakat luas. Sampai jumpa di agenda berikutnya.

Salam,

a. n. Panitia
Dra. Rr. Ayu Dewi Widowati
Kasmawati, S.Ag, M.Pd.

Pemaknaan Guru Dari Desa terhadap Aktivitas Pembelajaran Daring

Mei 28, 2020
Peserta didik yang sedang mengikuti pembelajaran di rumah.

Sitti Hasma
Anggota Perkumpulan Guru Madrasah Penulis

Pergumapi.or.id--Bekerja dari rumah (Work From Home) yang akhir-akhir ini digaung-gaungkan pemerintah, akibat dari upaya penanggulangan penyebaran virus corona (Covid-19). Menjadi tantangan tersendiri bagi guru, utamanya yang tinggal di daerah yang ketersediaan akses teknologi masih sangat terbatas.

Sejak Pemerintah Daerah meliburkan masuk sekolah  bagi peserta didik dan diganti dengan Pembelajaran Jarak Jauh, yang dikenal dengan Pembelajaran Daring. Maka guru pun harus memiliki kemampuan untuk memberikan solusi yang tepat terhadap kondisi ini. Agar pembelajaran bagi peserta didik tidak terbengkalai dan dapat terus berjalan. Bagi guru yang tinggal di wilayah perkotaan, bekerja dari rumah tentu saja bukanlah menjadi momok atau beban yang terlalu berat, karena mereka didukung dengan fasilitas teknologi yang memadai, baik bagi guru itu maupun bagi peserta didik itu sendiri. Namun beda halnya dengan guru yang tinggal di wilayah yang akses layanan teknologi masih sangat terbatas. Ini menjadi tantangan tersendiri bagi guru. Sebut saja peserta didik yang belum memiliki fasilitas teknologi tersebut seperti Laptop, Android dan sejenisnya, peserta  didik yang tinggal di wilayah yang belum bisa dijangkau jaringan, belum lagi kalau gurunya yang gaptek. 

Media Sosial Grup Whatsap menjadi alternatif paling mudah dan paling banyak digunakan guru, terutama di wilayah pedesaan, disamping mudah diakses, juga karena rata-rata orangtua peserta didik sudah memiliki akun, jadi tidak perlu mencari aplikasi yang bisa saja membingungkan mereka. Tentu saja hal ini tidak berlaku secara umum, namun hanya terbatas pada masyarakat tertentu. Karena di luar sana sudah banyak yang menggunakan aplikasi yang lebih efektif sehingga peserta didik dapat mengikuti pembelajaran langsung dari gurunya, tidak jauh beda dengan waktu mereka belajar di kelas. 

Dalam aktivitas Pembelajaran Daring, ada beberapa elemen yang terkait dengan kegiatan belajar dari rumah, agar bisa memberikan hasil yang maksimal, yaitu:

Pertama, aktivitas pembelajaran dari rumah memperhatikan kondisi dan minat peserta didik, termasuk mempertimbangkan kesenjangan akses dan ketersediaan fasilitas belajar yang dimiliki peserta didik, karena kondisi sosial peserta didik juga bervariasi. Artinya guru wajib memberikan materi dan bahan ajar sesuai dengan kondisi mereka. Jangan sampai karena tugas dan materinya yang terlalu memberatkan peserta didik. 

Kedua, content dan tugas yang diberikan adalah materi yang sesuai dengan konsep belajar dari rumah, yaitu usaha untuk memutus mata rantai penularan virus Covid-19, jadi dipastikan bahwa tugas yang diberikan tersebut bisa selesai tanpa membebani peserta didik untuk keluar rumah. 

Kaitannya dengan kegiatan belajar dari rumah, hal ini juga bisa menjadi sarana penguatan pendidikan karakter seperti yang selama ini menjadi tujuan pendidikan yang sebenarnya, jadi guru dan orangtua memiliki peran yang sama untuk mewujudkan itu semua. Guru memberikan pendidikan lewat Pembelajaran Daring, dengan menuntut kemampuan berpikir, menimbulkan kerasaingintahuan yang tinggi, kreativitas, dan tanggung jawab peserta didik. Sementara orangtua menumbuhkembangkan karakter kepada anak-anaknya, dengan pendidikan yang terintegrasi pada penanaman akhlakul karimah, pengamalan Ibadah, pembiasaan sopan santun dan  tata krama serta perilaku hidup sehat. Dan banyak lagi penanaman karakter yang dapat ditumbuhkan dengan pendampingan orangtua yang lebih maksimal. 

Intinya, bahwa kegiatan Pembelajaran Jarak Jauh menuntut kerjasama yang baik antara guru dan orangtua, yang meliputi kompetensi pendidik terhadap pemanfaatan teknologi dalam mengelola pembelajaran, dengan memperhatikan kondisi peserta dan ketersediaan akses layanan bagi peserta didik. Dan keterlibatan dan atensi orangtua terhadap pendampingan kegiatan pembelajaran selama peserta didik berada di rumah mereka. (*)

Catatan:
Tulisan ini disertakan dalam Lomba Artikel Pergumapi 2020. Panitia tidak melakukan penyuntingan, isi sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis.

Kreativitas dan Inovasi Guru Kunci Keberhasilan Pembelajaran Daring Saat Menghadapi Pandemi Covid-19

Mei 28, 2020
Media kreatif dan inovatif.

Dra. Dyah Istami Suharti, M.KPd.
Anggota Perkumpulan Guru Madrasah Penulis

Pergumapi.or.id--Sesuai pengarahan Presiden Joko Widodo yang menyerukan kebijakan baru dan meminta masyarakat untuk bekerja di rumah atau work from home (WFH), hal tersebut dilakukan untuk meminimalisir pencegahan penyebaran Covid-19. Selain itu beliau juga membuat kebijakan untuk belajar dari rumah bagi pelajar dan mahasiswa, sebagian Aparatur Sipil Negara (ASN) bekerja dari rumah juga dengan pembelajaran daring (online) dan mengutamakan pelayanan prima dari masyarakat untuk mengatasi penyebaran Covid-19 biar tidak terlalu  luas penyebarannya. Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Nadiem Makarim juga menghimbau kepada Guru dan Tenaga Kependidikan terkait penghentian sementara aktivitas pembelajaran tatap muka di sekolah.

Pembelajaran daring (online) yang menggunakan teknologi diantaranya online classroom, google form, webex, zoom yang dipakai guru untuk mengajar sebaiknya menggunakan metode pembelajaran yang bervariasi, jika model pembelajaran dan metode pembelajaran yang diterapkan guru bersifat monoton saja akan membuat siswa menjadi jenuh dan bisa mengalami stres. Guru  dalam mengajar harus sesuai dengan kompetensi dasar (KD), indikator, tujuan pembelajaran dan berupaya menggunakan metode pembelajaran yang interaktif, kreatif dan inovatif. Hal yang paling penting diperhatikan saat guru bekerja di rumah atau work from home (WFH) menggunakan pembelajaran daring baik melalui Whatsapp group, Google classroom, E-Learning, awal sebelum pembelajaran perlu  komunikasi dengan siswa dan juga komunikasi dengan orang tua siswa.  Metode mengajar guru yang bervariasi dengan pendekatan komunikatif digambarkan pada pendampingan pembelajaran  situasi Pandemi Covid-19 yang  membuat siswa merasa nyaman dan enjoy dalam belajar. 

Membangun komunikasi antara orang tua siswa dengan guru mempunyai tujuan untuk mengetahui perkembangan siswa terutama dalam pembelajaran daring menghadapi Pandemi Covid-19. Komunikasi dalam pembelajaran daring tidak hanya guru dengan siswa melainkan juga interaksi yang harmonis antara guru dengan orang tua siswa sangat diperlukan. Komunikasi dalam pembelajaran daring yang diterapkan guru diantaranya sering komunikasi melalui whatsapp group sebelum mengawali pembelajaran yaitu guru memastikan kepada siswa tentang jaringan internet sudah bagus apa belum, menyampaikan materi yanga kan diajarkan dan penggunaan metode pembelajaran yang rencana diterapkan. Dengan metode pembelajaran daring (online) seperti ini siswa  merasa diperhatikan oleh guru juga orang tua dan lebih termotivasi untuk belajar lebih serius lagi.

Bentuk komunikasi tidak hanya menginformasikan materi yang diajarkan pada siswa saja melainkan seorang guru harus komunikatif juga dengan orang tua yang terkait perkembangan siswa baik di sekolah maupun perkembangan siswa saat berada di rumah. Hal ini dilakukan untuk memantau perkembangan siswa baik pemahaman tentang materinya maupun kendala belajar di rumah, juga perhatian, tanggung jawab dan kepedulian orang tua terhadap siswa sangat mendukung pembelajaran terutama situasi Pandemi Covid-19. Perhatian orang tua bisa ditunjukkan salah satunya dengan menunggui saat putra putrinya belajar. Sesibuk apapun orang tua harus bisa meluangkan waktu untuk memberikan perhatian kepada putra putrinya karena sikap orang tua seperti ini termasuk salah satu kepedulian dan motivasi yang berharga bagi putra putrinya untuk mencapai keberhasilan dalam studinya.

Seorang guru harus memiliki kompetensi dalam mengajar sekalipun melalui pembelajaran daring guru tetap menunjukkan kesungguhan, kerja keras dan ketulusan pengabdian, guru berprinsip “ mengajar dengan menggunakan  hati “ yaitu guru dalam mengajar harus memahami karakter siswa, transfer ilmu dengan setulus hati dan mau mengerti kendala yang dihadapi siswa. Seorang guru harus selalu up to date mengikuti perkembangan  jaman, mampu merancang, mendesain pembelajaran daring yang tepat dan sesuai dengan materi yang diajarkan dan diupayakan menggunakan media kreatif. Salah satu contoh kreativitas guru dalam pembelajaran daring pada mata pelajaran biologi sistem koordinasi siswa diminta membuat peta konsep setelah literasi (baca) kemudian literasi (tulis) sesuai kreatifitas siswa sendiri, pertemuan berikutnya siswa diajak pembelajaran melalui google classroom dan bisa juga dengan media pembelajaran berupa video yang dibuat guru sendiri.   


Selain pembelajaran daring yang komunikatif dan kreatif level di atasnya lagi guru harus bisa juga menghasilkan karya mengajar yang inovatif. Pembelajaran Inovatif adalah pembelajaran yang lebih memberikan peluang kepada siswa untuk mengkonstruksi pengetahuan secara mandiri dan dimediasi oleh siswa yang lain. Pembelajaran Inovatif  biasanya berlandaskan paradigma konstruktivistik, program pembelajaran yang langsung memecahkan permasalahaan yang dihadapi oleh kelompok siswa. Salah satu contoh: pada awal mengajar guru menjelaskan dilanjutkan dengan diskusi terbimbing online dan langkah selanjutnya siswa diberi tugas tidak terstruktur (TTT) secara kelompok untuk membuat media atau produk yang kreatif dan inovatif untuk topik diberi kebebasan memilih sendiri. Ada yang membuat media pembuatan tape dengan menggunakan kontrol suhu, ada yang membuat produk Edible coating. (*)

Catatan:
Tulisan ini disertakan dalam Lomba Artikel Pergumapi 2020. Panitia tidak melakukan penyuntingan, isi sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis.