Sabtu, 29 September 2018

Puisi: Lelaki Laut

Pinterest.co.uk
Oleh Ikha Mayashofa Arifiyanti

Bulan kerontang membalur malam
memalu rindu pada jantung hasratku
menyinggah angan ke masa silam
merangkak almanak memutar waktu
menarik ingatan pada pusaran masa kecilku

Dulu,
Lelaki separuh baya itu,
kedua bahunya sering kumain-ayunkan sebelum senja temaram
atau diam-diam kucari aroma peluhnya yang asam
dari kertas papir bercampur pekatnya kopi
penawar luka karena cahaya beringsut pergi

Lelaki itu,
pada retinanya tak pernah kutemukan air mata
bahkan sekadar bias luka
meski rengsa telah mengikat kakinya kuat
pada pohon kehidupan tempatnya bersandar

Lelaki separuh baya dengan bahu kokohnya,
adalah bapak sekaligus ibu
yang tak lelah menuntunku ke meunasah
memakaikan kopiah untuk bermunajah
dalam dingin pagi yang menebah
melingkup jagad buntala
cegah dursila nuju surga duwara

Jika malam tiba
berdua kami menatap purnama
menghitung kerlip bintang di angkasa
menghirup semilir mangrouve di bibir pantai
merebah di atas geladak kapal yang melabuh
memikat lelap, mendekap, lalu merengkuh

Dan dalam lelapnya itu,
mata kecilku menjelajah wajahnya yang lelah
tubuh mungilku membenam di bawah ketiaknya yang masih basah
sisa peluh dari kerasnya usaha menantang andakara
menitis raga merupa Dewabrata

Lelaki separuh baya dengan kaus kumalnya,
di ambang pintu kutunggu bau anyir tubuhmu
gandakusuma anjrah membungkus
membius, menembus olfaktori
serupa sakaw pada napza setengah mati
lalu moksa
dan selalu akan begitu
laksana déjà vu

Lelaki laut dengan dua mata binar,
saat pulang menyang pasti ‘kan mengajakku ke pasar
sekadar membeli baju atau manisan
melunasi uang sekolah yang tertangguhkan
menguras hasrat terpendam dari segenggam uang recehan

Dan jika ada berlebih dari uang itu
Esophagus berdansa dalam goyang peristaltik
berselancar menu mahal secara dinamik
memanja lidah yang terbiasa melumat pekasam
berganti sepotong ayam yang melezatkan

Lelaki laut dengan seribu ketegaran,
mengangkat sauh dengan kedua lengan
menggiring ribuan ikan dalam satu pusaran
menyapih gelombang agar tak berkejaran
hingga laju waktu melumatnya dalam kerentaan

Lelaki laut yang tak separuh baya kini,
yang kedua lengannya tak kokoh lagi
tahukah kau bulan kerontang telah beranjak pulang
dan gulita berpendar temukan cahyanya?
maka saksikan aku kini
tinggiku telah sama denganmu
kedua lenganku serupa kokoh lenganmu
kedua mataku sama hampanya dengan matamu
tak ada kelenjar lakrima di dalamnya
tapi penuh dengan cinta
serupa cinta yang kau gaungkan di udara
serupa cinta yang kau lafazkan dalam abiwara penuh makna
serupa cinta yang kau semai di kedalaman rasa

Lelaki laut dengan rona seribu cahaya,
meski almanak telah merangkak dan mengembalikan masa
meski senyatanya kau menua dan aku telah dewasa
meski rengsa kian bersetubuh dan bersenyawa
di ambang pintu selalu kutunggu bau anyir tubuhmu
gandakusuma anjrah membungkus
membius, menembus olfaktori
serupa sakaw pada napza setengah mati
lalu moksa
dan selalu akan begitu
laksana déjà vu

(13 Oktober 2017)

Disiarkan pertama kali dalam kumpulan karya pemenang Sayembara Pena Kita; KITA JATENG 2017 bertajuk Musikalisasi Katak dan Rintik Hujan;Bunga Rampai Puisi dan Cerita Pendek.

SHARE THIS

Author:

Akun resmi pengelola website Perkumpulan Guru Madrasah Penulis.

0 komentar: