Minggu, 11 Maret 2018

Cerpen: Transformasi Andini

Gofreedownload.net
Oleh Sri Rahmiyati

KISAH si elang sangat mempengaruhi hatinya. Burung besar yang bercakar dan bersayap kuat. Lambang ketegaran, kegagahan, keberanian dan ketajaman insting seolah menggambarkan dirinya. Ternyata punya episode untuk Transformasi 150 hari. Burung yang mampu bertahan hidup hingga 70 tahun. Ternyata di usia ke-40 tahun harus juga mengalami masa sulit. Cakarnya yang sanggup menyobek lawan mulai menua, paruhnya menjadi panjang dan membengkok hingga hampir menyentuh dada, sayapnya menjadi sangat berat karena bulu telah tumbuh lebat dan tebal. Kegagahan dan kekuatannya menjadi berkurang sangat drastis. Di saat-saat itu dia harus memutuskan menunggu kematian atau bertransformasi 150 hari.

Ah, batinnya mendesah. Transformasi seperti apakah yang akan kujalani? Andini bukan elang yang harus segera memutuskan menyepi di puncak gunung di tepi jurang. Dia juga tidak harus mematukkan paruhnya pada batu cadas agar paruh panjangnya terlepas. Bulunya tak harus dicabut, karena uban di kepala sudah mulai memutih.

Malam semakin larut, tapi matanya tidak terpejam juga. Sepi di sekeliling rumahnya sangat terasa. Gedung besar yang terdiri dari beberapa kamar, tampak lengang. Seperti biasa kedua anaknya belum pulang.

Bebebebeb... HPnya berbunyi. Sekilas dia melihat pesan WhatsApp masuk, Malam cantik, belum tidurkah?

Ah, Andini kembali menghela nafas panjang. Tak ada keinginan untuk menjawab.

Di kamar depan suara dengkur suaminya nyaring terdengar. Tak ada hasrat untuk mendekat. Sunyi hatinya.

Sudah tidur ya, selamat malam sayang....

Pesan yang masuk lagi hanya dibaca dan HPnya kembali diletakkan.

Transformasi 150 harinya si elang bisa mengubah nasibnya. Bagaimana dengan transformasiku. Mampukah kujalani semua hari-hari setelah ini?

Andini diam tepekur, wajahnya dingin. Pertarungan akal dan hati yang tidak pernah selesai dia jalani.

Dua puluh lima tahun sudah dia berumah tangga. Suaminya lelaki hebat menurut ukuran umum. Berpenghasilan tetap, setia, dan rajin beribadah.

Andini pun juga perempuan yang sukses menurut semua kerabat dan tetangganya. Cantik, kariernya bagus, dan istri idaman. Rumah tangga yang sempurna. Lalu apa yang kurang?

Itu yang selalu menjadi bahan pemikirannya. Namun, Andini ingin sekali memutuskan apa yang selama ini menari-nari di kepalanya.

“Andai Bunda sudah tidak kuat, kami ikhlas bunda pisah dengan ayah,” Gayatri anak sulungnya memeluk dari belakang, tadi pagi sebelum dia berangkat ke kantor.

“Apa yang Bunda pertahankan lagi? Kami sudah dewasa, bisa memahami kesedihan hati Bunda.” Lanjutnya.

Andini menatap dalam mata putri sulungnya. Sepi. Ada luka, namun luka yang tidak terbaca.

Keduanya terdiam. Lalu suasana pagi pun hening, sampai mereka terpisah karena harus berangkat ke tempat tugas masing-masing.

Beebebeb.... HPnya kembali berbunyi, Bund, Gayatri nginep di tempat Vina, pesan dari si sulung masuk.

Andini tidak berniat menjawab, dia tahu betul hati Gayatri sedang galau. Dia enggan pulang dan penyebab kegalauan Gayatri adalah pembicaraan tadi pagi.

“Assalamu’alaikum,” tiba-tiba terdengar suara memecah sepi.

Andini menengok ke arah suara. Satya anak lelakinya mendekat.

“Belum istirahat, Bund? Maaf tadi di kampus ada meeting,” tangan Satya terulur, meraih tangan Andini dan menciumnya. Andini menatap dan menarik seulas senyum.

“Sudah sholat, Nak?” Satya mengangguk.

“Makanlah, Bunda tadi memasak kare kesukaanmu,”

Satya menurut, langkahnya langsung menuju ke ruang makan.

“Bunda, ini sudah larut. Lebih baik bunda istirahat,”

Andini hanya tersenyum. Lalu masuk ke kamarnya, di sudut belakang.

Perkawinannya dengan Pram adalah jalanan panjang yang sudah dia tempuh. Melewati masa dua puluh lima tahun. Awal perkenalan yang tidak cukup manis. Pergaulan yang biasa saja tanpa ada letup-letup cinta seperti layaknya remaja. Keduanya aktivis kampus yang berbeda cara pandang terhadap sesuatu. Sering berdebat ramai hanya tentang satu masalah. Tidak disangka menyatu di bawah satu atap rumah. Membina kehidupan yang seharusnya bersendikan pada visi misi yang sama, pada landasan pemikiran yang kurang lebih sama. Menyelaraskan perbedaan untuk kebersamaan hidup bukanlah pekerjaan mudah.

Ketertarikan Pram, seperti yang pernah diungkapkannya, karena Andini adalah gadis yang berbeda. Cerdas namun bersahaja, tegas namun penyayang, kata-katanya sering tajam namun dibalut diksi yang santun. Banyak hal kontradiktif yang terlihat begitu menarik dalam diri Andini. Hal itu membuat Pram tergila-gila. Bahkan berani bertaruh dengan para sahabatnya demi memenangkan kompetisi di antara pemuja Andini di masa itu.

Andini menyadari itu semua. Dan jika dia menerima Pram bukanlah semata karena dia jatuh cinta.

Pram menempuh jalan menghadap orang tua Andini langsung karena dia memiliki informasi bagaimana ayah Andini memperlakukan putrinya. Urusan jodoh ada di tangan ayahnya. Andini gadis yang penurut, sama seperti semua kakaknya yang menikah atas keputusan ayahnya.

“Ayah dan ibumu tidak pernah kenal, tapi nyatanya kami langgeng menjalani pernikahan ini. Kamu tahu kenapa? Karena bagi kami menikah itu ibadah,” begitu penekanan ayahnya saat menerima lamaran keluarga Pram.

Prosesi sakral itu pun terjadi. Dua puluh lima tahun yang lalu saat usianya belum genap 25 tahun. Jaman Siti Nurbaya? Rasanya tidak, karena tidak ada paksaan.

Andini menjalaninya dengan sepenuh hati karena dia yakin waktu akan mengubah hatinya. Masa yang panjang akan membentuknya menjadi sebuah telaga bagi suami dan anak-anaknya. Hari demi hari dia relakan waktu berlalu bersama seluruh kesibukan keluarga kecilnya. Keikhlasan berbalut ketaatan pada imamnya membuat Andini lebih banyak diam. Apalagi setelah dia tahu sifat asli Pram yang tidak mau kalah atau mengalah.

Dulu sewaktu kuliah, Pram termasuk orang yang getol membela perempuan dengan segala haknya. Hak pendidikan, hak kehidupan yang layak dan hak mendapatkan perlindungan jasmani serta rohani. Namun, mengapa setahun dua tahun menjalani kehidupan bersamanya, Andini merasakan kering begini?

Andini seperti berjalan sendiri. Hidupnya laksana sebuah roundown kegiatan, terjadwal rapi tanpa berani mengubahnya. Tahun demi tahun berjalan, dua anak lahir dari perkawinan mereka. Si sulung yang keras dan si bungsu yang pendiam.

Kalau pun Andini berkarier setelah Satya bisa ditinggal, tentunya bukanlah kemauan Andini. Saat itu krisis ekonomi melanda rumah tangga mereka, setelah Pram ditipu rekan kerjanya. Pram frustasi dan tidak berhasrat untuk menghidupkan usahanya lagi. Hampir lima tahun mereka hidup dalam kondisi pas-pasan, nyaris kekurangan. Andini cancut taliwanda, dengan gerakan lincahnya dia kembali menghidupkan cahaya rumah yang hampir redup.

"Mengancam... tidak pernah menyenangkan," artikel yang menarik. Andini meraih majalah yang ada di depannya, tentang mengancam sebagai salah satu bentuk komunikasi yang buruk.

Andini membuang udara lewat hidung sebanyak-banyaknya. Dua puluh tahun dari dua puluh lima tahun hidupnya bersama Pram, tak lepas dari kalimat-kalimat ancaman. Pram sangat mudah sekali mengeluarkan kalimat-kalimat yang membuatnya tidak nyaman. Kamu perempuan yang tidak bisa ini, tidak bisa itu, kalau kamu begini akan begitu, kalau kamu tidak nurut akan durhaka, kalau kamu bla bla bla..aku masuk neraka... dan seterusnya.

Andini merasa sangat lelah dengan semua itu. Jika kemarin-kemarin dia mampu menahan demi rumah tangganya, demi anak-anaknya dan demi karier suaminya yang mulai naik kembali lalu melesat. Dia bersedia menangis dalam diam. Menghabiskan semua air matanya di sudut malam sampai fajar tiba.

Namun, apakah aku masih sekuat itu? Hatinya kembali berbisik.

Andini kembali membaca lubuk hatinya yang paling dalam. Hampa dan kosong. Mencoba membayangkan wajah lelaki yang pernah hinggap di hatinya tiga puluh tahun yang lalu pun, tidak menemukan apa-apa. Membayangkan Pram, perih terasa. Apa yang kau inginkan lagi dariku Pram? Jika semua yang kupunya sudah kau miliki. Setia, pengabdian dan tanggungjawabku yang tanpa batas.

Andini merasa semakin kehilangan. Hampa.

Si elang butuh waktu 150 hari untuk kembali kuat.

Sujud-sujud panjang yang dilaluinya dalam pasrah sudah lebih dari 150 hari. Dan, jika sejauh itu Andini belum merasakan hidupnya berubah, pada akhirnya Andini tak mampu memutuskan berapa lama dia harus menunggu transformasi 150 harinya. Gayatri dan Satya, memakunya untuk tetap memberi dan menghidupkan langkah. Hidup akan terus dijalaninya, meski dirinya selalu seperti elang yang harus memilih.

Sri Rahmiyati adalah Pengawas Madrasah Kementerian Agama Kabupaten Gunungkidul. Cerpen ini disiarkan pertama kali dalam antologi cerpen gender Bukan Perempuan bersama Forum Penulis Negeri Batu (FPNB-GK) Penerbit Elmatera. (*)

SHARE THIS

Author:

Akun administrator website Perkumpulan Guru Madrasah Penulis.

0 komentar: