Minggu, 03 November 2019

Cerpen: Kupeluk Rindu di Ujung Sendu

Foto: Istimewa
SEMBURAT senja sore itu menyambut peluh kedatanganku di sela-sela tumpukan sayuran dan aroma ikan asin yang menusuk hidung. Iya sore itu seperti biasa, dengan sepeda motor bututku, bersama dua gadis kecilku, kudatangi penjual sayuran langgananku.

"Blonjo, Mas?" sapa Mbak Jum dengan ramah. Aku membalasnya dengan senyuman sembari kubolak-balik tumpukan sawi hijau di depanku. Si kembar masih asyik melihat kesibukanku sambil sesekali ikut memungut mentimun yang ada di depannya.

Sawi hijau, tomat, brokoli, wortel, loncang seledri, mentimun, termemes, dan terong adalah sayuran yang wajib kubeli setiap pekan untuk mengisi penuh rak sayur di lemari pendingin rumahku. Kebiasaan belanja sayur mayur di pasar Giwangan bukan hal baru lagi bagiku. Mau tak mau keadaan memaksaku jadi seorang lelaki dengan paket lengkap. Mencari nafkah, koki, cleaning service, pengasuh bayi, dan petugas laundry.

Aku jadi hafal betul harga sayuran dan bumbu dapur. Kalau ada selisih seratus rupiah saja per kilogramnya, pasti aku tahu. Aku pun cukup lihai memilih sayuran mana yang segar dan awet selama seminggu. Bukan asal sekadar comot, intuisi menuntunku cakap dalam hal itu. Penjual ayam kampung di ujung jalan keluar pun sudah setia menunggu kedatanganku. Setidaknya setengah kilo daging ayam, masuk dalam daftar belanjaanku.

Aroma khas dari tumpukan sayuran, ikan asin, bumbu dapur, daging ayam, sudah tak lagi mengagetkan lubang hidungku. Penjual-penjual itu pun ramah menyapa kehadiraku beserta dua bocil kesayanganku.

Aku juga hafal, jalan mana saja yang harus kuhindari di area pasar itu karena berlubang atau tatanannya yang naik turun. Bisa berbahaya bagi pengendara sepeda motor yang penuh dengan barang belanjaan jikalau tidak berhati-hati.

"Sampun, Mbak Jum, pinten niki?" sambil kuraih uang dari dalam kantong celanaku.

"Telu limo lima ngatus, Mas," jawabnya setelah hitung cepat semua belanjaanku.

Kusodorkan selembar uang lima puluh ribuan padanya. Biasanya memang berkisar tiga puluh sampai empat puluh ribu, belanjaanku setiap minggunya.

Sudah hampir genap selusin bulan kujalani peran sebagai ayah, sekaligus ibu bagi anak-anakku. Sungguh keadaan yang tak pernah kubayangkan sebelumnya. Mahligai yang kubangun tak seindah rencana. Kucoba ikhlas menjalani semua, meski memang berat jika dirasa.

Petang itu, jingga di ujung sana sudah merindu peraduan di balik temaram rembulan. Suara sahutaan jangkrik dari sawah sekeliling rumahku berpadu dengan harmoni nyanyian katak teriring tarian nyamuk yang siap disantapnya. Lampu ruang tamu pun ikut meredup, seperti suasana batinku saat itu.

Jam berdenting tujuh kali menandakan malam hampir tiba menggantikan posisi senja. Masih juga kugenggam ponselku, menunggu kabar adik lelakiku. Kabarnya dia sudah berangkat sejam yang lalu, harusnya sudah sampai di rumahku. Namun tak terdengar sedikitpun suara deru mesin mobil yang akan menjemputku.

Sore tadi ibu menelponku, mengabarkan kalau aku akan dijemput adikku.  Dua putri kecilku pun sudah terlelap dipangkuan. Sepertinya mereka kelelahan, setelah sore tadi bermain air bersamaku, di teras rumah. Wajah polos mereka tak meyiratkan sedikitpun rasa cemas dan khawatir. Bertolak belakang dengan kalutnya pikiran dan batinku.

Hingga pukul delapan tak kunjung datang juga mobil bapak yang akan menghampiriku. Kutelpon ibukku untuk memastikan apakah benar adikku sudah bertolak menuju rumahku. Katanya sudah sejak pukul lima dia berangkat, namun kenapa tak kutemui juga hadirnya yang sangat kutunggu.

Assalamu’alaikum,” suara familiar itu membangunkan tidurku. Bergegas kugendong satu per satu bidadari kecilku untuk kupindahkan di jok belakang mobil bapak, yang sudah terpakir tepat di teras rumahku. Adikku memasukkan dua koper pakain dan sebuah tas jinjing besar ke dalam bagasi mobil itu.

Malam semakin gelap, sepanjang perjalanan hanya air mata yang menetes mebasahi kedua pipiku. Inikah akhir dari kisah sakinah yang kurindu. Haruskah kurelakan diriku menyandang status duda yang tak terbersit sedikit pun sebelummnya. Bismillah, kuseka air mataku, agar kedua anakku tak terbangunkan oleh tetesannya. Kutenangkan hati, meyakinkan diri. Mungkin ini yang terbaik  bagi kami. Kuimani setiap detik kejadian, sebagai takdir yang mendewasakan.

Kurelakan diriku pulang kembali ke rumah ibu, bersama dua orang putriku. Peluk hangatnya pasti akan sangat menenangkan di tengah carut marutnya gejolak yang ada di dadaku. Ibuku adalah orang tak banyak bicara, hanya sesekali saja ketika dirasa perlu. Beliau juga tak banyak tanya, nalurinya pasti sudah sangat peka apa yang dirasakan buah hatinya. Kupeluk ibu di ujung pasrahku, di ujung sendu yang belum kutahu di mana ujung pangkalnya. (*)

Rohmat Bekti Nugroho, tinggal di Gunungkidul, Yogyakarta. Kesehariannnya adalah pengajar di salah satu madrasah di daerahnya. Menulis adalah hobi yang tak kan pernah ditinggalkannya. Baginya, untaian kata dalam cerita adalah cara membunuh emosi jahat yang mendera. 


SHARE THIS

Author:

Akun resmi pengelola website Perkumpulan Guru Madrasah Penulis.

0 komentar: