Minggu, 27 Mei 2018

Cerpen: Senyuman Manismu

Wallup.net
Oleh Yayuk Kurniawati
Guru MAN Batu, anggota Pergumapi

“Senyumanmu membuat hatiku terasa perih.”

Hampir tiap pagi aku selalu berpapasan denganmu, di sudut  jalan yang sama. Ketika dua mata kita saling beradu pandang, kau pun memberikan senyumanmu kepadaku.

Tapi, entah kenapa setelah menatapmu dan setiap mengingat senyumanmu, hatiku terasa perih. Dengan menarik nafas yang berat, dalam hati aku berkata,” Ya Allah, ya Rabb, kenapa harus terjadi seperti ini?”

Sore itu, aku berjalan-jalan ke luar rumah dan tanpa sengaja aku bertemu denganmu lagi. Kali ini penampilanmu berbeda. Kau mengenakan setelan baju dan topi berwarna merah, layaknya seorang pramugari. Kau berjalan dengan membawa payung merah muda. Seperti biasa, kau berikan senyuman manismu kepadaku. Lagi-lagi hatiku terasa perih melihat senyummu. Dan aku beristighfar, “Astaghfirullhaladzim, kenapa Ya Allah?”

Kali ini aku tidak menjumpaimu di sudut jalan yang sama, tempat di mana aku sering berpapasan denganmu. Hingga beberapa hari aku tidak menemukan senyuman manismu yang menyayat hatiku. Dan akhirnya aku mendapat kabar tentangmu dari ibu pemilik toko di mana kau sering membeli es krim. Ibu tersebut bercerita bahwa seminggu yang lalu kau tertabrak motor. Kala itu kau sedang asyik berjalan, larut dalam duniamu sendiri hingga kau tidak mendengar suara klakson motor  di belakangmu, dan akhirnya kau tertabrak. Karena peristiwa itu, kakak dan adikmu melarangmu untuk keluar rumah lagi. Untuk beberapa hari mereka menjagamu di rumah demi keselamatanmu, agar kau tidak mengembara dengan duniamu sendiri.

Ibu pemilik toko tersebut melanjutkan ceritanya bahwa waktu kau kecil dulu, hidup normal layaknya anak seusiamu. Hingga suatu saat ketika usiamu menjelang 5 tahun kau terserang demam yang sangat tinggi dan semenjak itu kau selalu bertingkah aneh, kau pun tidak betah untuk tinggal di rumah. Kau selalu berkelana keliling kampung mulai pagi sampai sore, berjalan menyusuri kampung dan tersenyum pada tiap orang yang kau temui di jalan. Hingga usiamu sekarang menjelang 50 tahun, yang seharusnya kau hidup normal dengan keluargamu, namun kau habiskan sisa waktumu untuk hidup berkelana dalam duniamu. Hatiku semakin perih mendengar cerita tentangmu. Sekali lagi aku beristighfar, “Astaghfirullahaladzim.”

Tetapi, untungnya, kau mempunyai kakak dan adik yang sayang kepadamu. Yang selalu telaten merawatmu. Kau selalu terlihat bersih dengan pakaian-pakaian yang bagus yang kau suka. Ketika sore datang menjelang, dengan sabar mereka akan mencarimu untuk memandikanmu.

Senyumanmu itu menyimpan sejuta rahasia, satu di antaranya rahasia Ilahi rabi. Allah berfirman dalam surat At Taubah 9:51, "Tidak sekali-kali akan menimpa Kami sesuatu pun melainkan apa yang telah ditetapkan Allah bagi kami. Dialah pelindung kami, dan (dengan kepercayaan itu) maka kepada Allah jugalah hendaknya orang yang beriman bertawakal.”  Kehadiranmu di dunia ini adalah sebuah pengingat bagiku untuk  menjadi hamba yang selalu beriman dan bertawakal kepada Allah. (*)

SHARE THIS

Author:

Akun administrator website Perkumpulan Guru Madrasah Penulis.

1 komentar: