Selasa, 20 Maret 2018

Diary Syafa: Memenangkan Hati Remaja (3)

Slowparentingteens.com
Oleh Syafaatul Maulida
Guru MTs NU Pakis, Sekretaris Bidang Penerbitan Pergumapi

Minggu, 18 Februari 2018

Seringkali orang tua bertanya bagaimana idealnya berinteraksi dengan anak yang memasuki usia remaja. Mudah saja, kuncinya ya komunikasi yang baik dengan anak. Ketika anak sering curhat ke orang tua dan merasa nyaman di rumah bersama orang tua, maka sudah dapat dikatakan Anda telah sukses menjadi orang tua.

Ketika berkomunikasi dengan remaja, Anda bisa menggunakan strategi argumentasi karena ada kalanya anak belum puas hanya dengan diberi perintah dan larangan. Sehingga, anak mempunyai rasa keingintahuan yang tinggi dan akan mulai bertanya kenapa serta mengapa. Maka orang tua dituntut cerdas dan mampu menjelaskan sebab-akibat dari sesuatu hal secara detail, serta mampu menjelaskan urutan peristiwa. Gunakan bahasa cinta, karena manusia sesungguhnya menyukai hal-hal yang baik, indah, lemah lembut, dan cenderung menyentuh hati.

“Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu.” (Q.S. Ali Imran: 159)

Jangan mengeluh jika anak Anda tumbuh menjadi remaja yang kritis. Hal ini menunjukkan bahwa akal dan perasaan anak Anda sedang tumbuh dan berkembang. Seharusnya Anda bersyukur karena Anda masih diberi kesempatan untuk terus belajar menjadi orangtua yang cerdas.

Jika orang tua berkata dengan penuh kasih sayang, maka goal Anda dalam berkomunikasi dengan anak remaja Anda akan tercapai dan bersiap-siaplah kebanjiran cinta kasih kembali dari anak-anak Anda.

“Barangsiapa yang ucapannya lembut, maka wajiblah baginya dicintai.” (Al-Jahizh dalam Al-Bayaan wat-Tabyi-in)

Nah sebagai pendukung keberhasilan Anda sebagai orang tua, Anda juga bisa menggunakan 7 jurus jitu memenangkan hati remaja, sebagai berikut.

1. Kepentingan

Kita menyampaikan secara tersirat dan tersurat bahwa keputusan tersebut sangat penting bagi mereka. Misalkan saja, membuat aturan dengan kesepakatan bersama itu penting untuk melatih anak disiplin

2. Kesenangan

Kita menawarkan bahwa keputusan tersebut akan sangat menyenangkan bagi mereka. Janjikan pada mereka kesenangan yang didapat jika mereka menjalankan kepentingan bersama secara konsisten. Contoh: jika anak rajin belajar maka akan mudah meraih cita-cita.

3. Pilihan

Hadapkan mereka pada pilihan yang sama sekali tidak menyenangkan. Hindari menawarkan pilihan yang ingin dihindari. Maksudnya adalah memberi mereka pilihan yang tidak menyenangkan dan menyenangkan, jelaskan secara rinci sebab akibatnya, lalu giring mereka untuk memilih yang baik. Contoh: jika anak tidak bersekolah maka ia akan tertinggal, jika mau bersekolah maka ia akan menjadi orang yang berpengetahuan luas.

4. Pihak ketiga

Gunakan pihak ketiga sebagai pendukung keputusan kita, misalnya memanfaatkan kisah seseorang sebagai tauladan.

5. Penghargaan

Buatlah kondisi bahwa menerima keputusan itu membuat mereka berharga dan dihargai. Jika ia mendapatkan prestasi maka jangan lupa memberinya selamat, jika meraka mengalami kekalahan maka besarkanlah hatinya agar ia merasa dihargai.

6. Tantangan

Jadikan keputusan yang kita tawarkan itu sebagai tantangan buat mereka. Sehingga anak menjadi semangat dalam melaksanakan setiap aktifitasnya. Karena ukuran sukses bukan hanya pada kecerdasan intelektual saja, melainkan kecerdasan emosi.

7. Impian

Dekatkan keputusan atau penggiringan yang kita lakukan dengan impian mereka. Sepeti merancang masa depan dengan langkah-langkah yang harus dilakukan, tuliskan dalam bentuk mind map, lalu gunakan untuk mengingatkan dan mengawal setiap perilaku anak menuju impianya.

Wah seru ya... kira-kira sudah tergambar belum apa yang akan kita lakukan selanjutnya untuk menghadapi anak remaja kita?

Intinya adalah kenali dunia remaja, jadikan diri kira tempat curhat meraka. Tapi kita juga harus nyambung dan cocok dengan mereka ya .... Terus jangan samakan diri kita dengan mereka agar mereka juga ada rasa sopan santun pada yang lebih tua,cari kamus gaul dan pelan-pelan kita kikis dari pembicaraan anak kita, harus jago mengenali bahasa tubuh remaja, dan bangun kepercayaab serta pendekatan pada anak remaja kita.

Begitu, ya ... semangat belajar! (*)

SHARE THIS

Author:

Akun administrator website Perkumpulan Guru Madrasah Penulis.

0 komentar: