Selasa, 20 Maret 2018

Yuk, Ajak Siswa Belajar di Luar Kelas!

Oleh Ruba Nurzaman

PERNAH dengar  penggalan lirik lagu atau  puisi ini? “Semua orang itu guru, alam raya sekolahku”. Lirik itu memberikan pesan kepada kita baik selaku guru ataupun manusia pada umumnya, bahwa  kalau mau belajar itu tidak harus di dalam kelas. Kita bisa memanfaatkan alam raya (lingkungan sekitar) untuk dijadikan sumber dan tempat untuk belajar.

Saya sangat merasakan betapa bosannya saya dulu selama menjadi siswa mulai dari SD sampai dengan SMA tidak merasakan kegiatan pembelajaran di luar kelas selain mata pelajaran olahraga. Makanya jangan heran kalau kita survey, masih banyak siswa yang sangat menunggu mata pelajaran tersebut. Ketika mendapat giliran jadwal pelajaran olahraga kita bisa melihat wajah anak-anak yang lebih ceria dibandingkan pada saat mengikuti pelajaran IPA maupun Matematika, tahu kenapa? Karena mereka tidak seperti sedang belajar pada saat di luar kelas.

Ketika siswa kurang senang dengan mata pelajaran yang kita ampu, berarti ada masalah pada diri kita pada saat melakukan proses KBM yang kurang menyenangkan karena merasa bosan dengan metode mengajar yang kita gunakan, apalagi tidak pernah mengajak siswa untuk belajar di luar kelas.

Dalam melakukan kegiatan pendidikan menurut Prof. Yus Rusyana, bahwa dalam melakukan kegiatan pendidikan itu harus mencakup kegiatan berbahasa, kegiatan mengindera, kegiatan rohani, dan kegiatan jasmani.

Dalam satu proses pembelajaran sebetulnya kita bisa melakukan keempat kegiatan tersebut di atas secara bersamaan. Misalnya kita akan memfasilitasi siswa mempelajari tentang pertumbuhan dan perkembangan, maka ajaklah siswa jalan-jalan ke kebun terdekat yang ada di sekitar sekolah. Sebelum perjalanan dimulai, perintahkan kepada anak untuk mengamati semua jenis tumbuhan yang ditemui selama perjalanan. Apabila menemui petani sedang bekerja di ladang, suruhlah anak untuk  mengamati apa yang sedang dikerjakan dan lakukanlah sedikt wawancara tanpa mengganggu pekerjaannya. Tanyakanlah bagaimana proses penanaman, mulai dari menyemai sampai dengan panen dan catatlah.

Ajaklah mereka untuk memanfaatkan semua pancainderanya, merasakan sejuknya udara  di sekitar sekolah, melihat pemandangan yang begitu indah di luar kelas yang terasa sumpek, mendengarkan suara burung-burung yang bernyanyi, menghirup  udara segar, dan merasakan manisnya segelas susu. Ajaklah mereka untuk berpikir dan merasakan fenomena alam, berimajinasi dan bangkitkan rasa ingin tahunya dengan menyuruh melakukan kajian literasi di perpustakaan ataupun melalui internet kemudian catalah. Kemudian lanjutkan pada pertemuan berikutnya untuk bisa menerapkan apa yang sudah mereka pelajari dari hasil perjalanan tadi.

Dari satu kegiatan di atas secara tidak sadar anak sudah melakukan keempat kegiatan pendidikan. Kegiatan berbahasa dengan melakukan wawancara, menyimak, menulis dan membaca. Kegiatan mengindera pada saat melakukan proses pengamatan dengan cara melihat, lalu mendengarkan apa yang disampaikan petani yang ditemui, merasakan sejuknya udara merasakan dengan kulit serta menghirup udara segar. Kegiatan rohani dengan mengajak siswa untuk berpikir, merasakan dengan hati, berimajinasi dan rasa ingin tahu. Sedangkan kegiatan jasmaninya sudah jelas, pada saat mengunjungi kebun disekitar sekolah tentu saja anak akan menggerakkan anggota tubuhnya baik itu kaki dengan berjalan maupun tangan pada saat menulis, menggerakkan paru-paru pada saat menghirup udara segar, jantung yang berdetak lebih kencang dan lain sebagainya.

Keempat kegiatan tersebut tentulah harus disesuaikan dengan harmoni/keadaan. Baik itu alam fisik yang meliputi tanah, air, udara, cahaya dan yang lainnya. Alam Hayati meliputi tumbuhan dan binatang. Masyarakat meliputi pencaharian, peralatan hidup dan teknologi, organisasi sosial, pengetahuan, kesenian dan bahasa. Hal yang tidak boleh dilupakan adalah kehidupan beragama.

Kegiatan pendidikan maupun harmoni yang harus dijalankan itu tentu memiliki tujuan untuk bisa memahami tujuan dengan cerdas, berbuat lebih giat, menjadi pribadi yang mulia, mampu bergaul dalam rukun sejahtera dan tentunya yang utama adalah menjadi manusia yang beriman dan bertakwa.
Siswa/i MTs Al-Mukhtariyah Rajamandala sedang melakukan proses pembelajaran IPA di luar kelas.
Kembali pada proses pembelajaran di luar kelas, saya mencontohkan kegiatan pembelajaran pada materi pertumbuhan dan perkembangan, setelah melakukan hal di atas dilanjutkan dengan anak melakukan sendiri menanam persemaian mulai dari mencari tanah yang cocok, melakukan pemupukan dan penanaman benih. Hal yang kami lakukan adalah membuat persemaian tumbuhan berkayu sejenis albasiah dan mahoni juga beberapa jenis buah-buahan. Kegiatan ini dilakukan sambil bekerjasama dengan dinas kehutanan untuk project reboisasi di sekitar bantaran sungai Citarum dan lahan kosong yang tidak termanfaatkan sebelumnya. Selain belajar mengenai persemaian juga untuk menumbuhkan bentuk kepedulian sosial kepada alam. Kegiatan ini pun bisa menjadi bahan untuk penelitian siswa mengenai pengaruh jenis pupuk, jumlah pupuk, pola penyiraman ataupun jenis tanah yang digunakan terhadap pertumbuhan tanaman.
Siswa melakukan pengecekan dan pengukuran hasil pertumbuhan tanaman.
Pembelajaran di luar kelas bukan hanya bisa dilakukan pada mata pelajaran IPA atau Biologi saja, saya memberikan ilustrasi di atas, karena memang saya guru IPA. Untuk mata pelajaran IPS atau ekonomi misalnya, kita bisa mengajak siswa untuk pergi ke pasar dan belajar bagaimana proses interkasi antara pedagang dan penjual, bagaimana sistem jual beli yang dilakukan, bagaimana peredaran uang di pasar dan lain sebagainya. Untuk mata pelajaran Matematika kita bisa menyuruh siswa untuk menghitung tinggi pohon atau tiang listrik tanpa harus memanjat dengan menggunakan kosnsep kesebangunan cukup mengukur bayangan dari benda. Guru mata pelajaran PAI bisa mengajak siswa untuk belajar di Masjid, siswa diajak ikut menshalatkan jenazah ketika ada warga yang meniggal di lingkungan sekolah. Itulah yang sering kita sebut pembelajaran kontekstual, atau kalau meminjam bahasa Prof. Yus Rusyana dikenal dengan istilah pembelajaran berlingkung.

Ada beberapa manfaat yang bisa diperoleh dari kegiatan pembelajaran di luar kelas (outdoor study) dan memilki kelebihan yang mendukung pada pembelajaran siswa, di antaranya sebagai berikut:
  • Mendorong motivasi belajar siswa, karena menggunakan setting alam terbuka sebagai sarana kelas, untuk memberikan dukungan proses pembelajaran secara menyeluruh yang dapat menambah aspek kegembiraan dan kesenangan.
  • Guru mampu menciptakan suasana pembelajaran yang menyenangkan karena dapat berekspolarasi menciptakan suasana belajar seperti bermain.
  • Pada pembelajaran di luar kelas siswa menggunakan media pembelajaran yang kongkrit dan memahami lingkungan yang ada disekitarnya. Pada saat pembelajaran digunakan media yang sesuai dengan situasi kenyataannya, yakni berbagai permainan anak seperti seluncuran, ayunan, jungkat-jungkit dan lain-lain.
  • Mengasah aktivitas fisik dan kreativitas siswa karena menggunakan strategi belajar sambil melakukan atau mempraktekan sesuai dengan penugasan. Selain memiliki kelebihan, pendekatan di luar kelas sebagai pendekatan pembelajaran juga memiliki kelemahan: memerlukan perhatian yang ekstra dari guru pada saat pembelajaran karena menggunakan media yang sesuai dengan kenyataannya di arena bermain anak yang dapat memungkinkan anak keterusan bermain di tempat tersebut.
Pembelajaran di luar kelas (outdoor study) merupakan pembelajaran yang dilakukan di luar ruang kelas atau di luar gedung sekolah, atau berada di alam bebas, seperti: bermain di lingkungan sekitar sekolah, di taman, atau di perkampungan masyarakat sekitar sehingga diperoleh pengetahuan dan nilai-nilai yang berkaitan dengan aktivitas hasil belajar terhadap materi yang disampaikan di luar kelas.
Guru Bahasa Indonesia mengajak  siswa belajar di luar kelas untuk mencari inspirasi membuat puisi.
Dengan kegiatan di luar sekolah, siswa memiliki peluang untuk menguasai kemampuan dasar kehidupan sehari-hari. Siswa juga diajak untuk menjaga dan menghargai hal yang ada di alam maupun kehidupan sosial dan memahami posisi manusia di alam semesta.

Ketika melakukan proses pembelajaran di luar kelas akan terlihat wajah-wajah penuh kegembiraan, meskipun badan ataupun baju mereka menjadi sedikit kotor, mereka akang senang, karena tidak merasa sedang belajar yang notabene harus bergulat dengan buku dan ballpoint serta papan tulis dan hanya mendegarkan celotehan guru. Sepertinya memang tidak terlihat seperti sedang belajar tapi justru disitulah sebenar-benarnya belajar. Ketika mereka awali kegiatan dengan mengamati petani yang sedang berkebun, kemudian melakukan wawancara, lalu mencari informasi di perpustakaan dan internet, melakukan penanamn sendiri dan melakukan analisis terhadap tanamannya apabila ada keganjilan sehingga mampu membuat sebuah kesimpulan dan melakukan komunikasi melalui presentasi di depan kelas, sebetulnya mereka sudah melakukan proses pembelajaran sesuai dengan tuntutan kurikulum yang terbaru untuk saat ini, yakni Kurikulum 2013.

Konsep kegiatan belajar- mengajar di luar kelas

Kegiatan belajar-mengajar di luar kelas tidak boleh dilakukan secara sembarangan. Pengajaran harus tetap memiliki konsep kegiatan yang jelas, sehingga dapat menjadi acuan utama bagi seorang guru yang mengajar anak di luar kelass. Setidaknya perlu memuat enam konsep utama yaitu:

Konsep proses belajar

Makna dari konssep proses belajar adalah bahwa kegiata belajar-mengajar di luar kelas didasarkan pada proses belajar interdisiliner melalui satu seri aktivitas yang dirancang untuk dilakukan di luar kelas.

Konsep aktivitas luar kelas

Konsep ini memberikan banyak kesempatan bagi anak untuk memperoleh dan menguasai beragam bentuk keterampilan dasar, sikap, serta apresiasi terhadap berbagai hal yang ada di alam dan kehidupan sosial, seperti berkemah dan outbound.

Konsep lingkungan

Konsep lingkungan merujuk pada eksplorasi ekologi sebagai andalan makhluk hidup yang saling bergantung antara satu dengan yang lainnya. Dari konsep inilah, anak dapat memahami arti penting lingkungan hidup.

Konsep penelitian

Konsep inilah yang sangat membedakan antara belajar di dalam kelas dan belajar di luar kelas. Penekanan dalam konsep ini adalah agar seorang guru dapat memunculkan nalar penelitian (reseach) dalam kegiatan belajarnya di luar kelas.

Konsep eksperimentasi

Melalui eksperimen, anak dapat menemukan indikasi konkrit bahwa segala yang mereka dapat di luar sekolah sesuai dengan yang mereka pahami di dalam buku.

Konsep kekeluargaan

Kegiatan belajar-mengajar di luar kelas harus dilaksanakan secara kekeluargaan. Hubungan anak dan guru mesti berjalan secara kekeluargaan, tidak seperti waktu di dalam kelas yang cenderung lebih baku.

Kelemahan pembelajaran di luar kelas

Meski memberi banyak kelebihan yang bisa didapatkan bagi guru ataupun murid, namun pembelajaran yang dilakukan di luar kelas, juga memiliki kelemahan.

Pertama, peserta didik menjadi kurang fokus. Hal ini disebabkan oleh banyaknya objek liar yang bisa menarik perhatian mereka secara berlebih dibandingkan dengan objek di dalam kelas yang terbatas.

Kedua, pengolaan siswa yang menjadi lebih sulit. Hal ini bisa terjadi karena fokus siswa yang menjadi terpecah. Berada di luar tentu membuat mereka bisa secara lebih bebas mengeksplorasi lingkungan luar sehingga perhatian pada guru akan terpecah.

Ketiga, waktu lebih banyak tersita. Jika didalam kelas, waktu pembelajaran bisa lebih terstruktur sementara di luar kelas, waktunya bisa bertambah menjadi lebih lama.

Keempat, munculnya minat siswa yang semu. Kondisi ini bisa terjadi karena ada beberapa objek di luar yang membuat siswa lebih merasa tertarik dibandingkan dengan pelajaran yang disampaikan oleh guru.

Kelima, guru yang membimbing harus lebih lebih intensif kala mengajar. Saat peserta didik timbul keinginan terhadap objek lain, maka guru harus memberikan bimbingan yang lebih supaya siswa bisa kembali fokus ke pembelajaran.

Keenam, pembelajaran akan terpecah saat ada siswa lain atau kelompok lain di lingkungan tempat belajar. Ketika proses pembelajaran dilakukan di luar, tekadang ada siswa lain atau mungkin kelompok lain yang berada di tempat yang sama. Hal ini membuat siswa terpecah kosentrasinya sehingga materi ajar yang disampaikan oleh guru tidak sepenuhnya diserap oleh peserta didik.

Dengan banyaknya manfaat belajar di luar ruangan, ada baiknya jika para guru sesekali melakukan pembelajaran di luar ruangan. Hal ini berguna untuk menambah wawasan siswa sekaligus menghindarkan siswa dari rasa bosan belajar di dalam kelas. Hal yang perlu diperhatikan adalah untuk bisa menguasai keadaan supaya siswa tidak terpengaruh dengan kondisi luar. (*)

Ruba Nurzaman, Guru IPA MTs Al-Mukhtariyah Rajamandala Kab. Bandung Barat, Ketua Bidang Pendidikan dan Pelatihan Perkumpulan Guru Madrasah Penulis (Pergumapi), Konsultan Sekolah Literasi Indonesia Dompet Dhuafa. Tulisan ini pernah dimuat di kompasiana.com pada tanggal 8 Maret 2017 dengan judul yang sama.



SHARE THIS

Author:

Akun administrator website Perkumpulan Guru Madrasah Penulis.

0 komentar: