Selasa, 27 Maret 2018

Diary Syafa: Menumbuhkan Percaya Diri

Kamis, 1 Maret 2018

Sejak hari Minggu jari dan pikiran ini dipenuhi dengan kata-kata, rasanya ingin terus berbagi tentang materi yang saya dapatkan dari “Possitive Class” tentang percaya diri.

Sebelumnya coba deh... buat tabel tentang kelebihan dan kekurangan anda, seperti di bawah ini.



Sudah? Oke, sekarang kita koreksi bersama hasilnya ya ....
  1. Jika kekurangan lebih banyak dari kelebihan Anda, selisih di atas 5 poin. Maka Anda kurang percaya diri.
  2. Jika kelebihannya lebih banyak dari kekurangan Anda, selisih di atas 5 point. Maka Anda termasuk memiliki rasa percaya diri tinggi dan cenderung narsis.
  3. Jika kelebihan dan kekurangan Anda hampir sama selisih 1-4 poin dengan jumlah masing-masing di atas 5 poin, maka Anda punya potensi rasa percaya diri yang baik.
  4. Kesulitas menemukan kelebihan dan kekurangan dalam menuliskan jumlah masing-masing kurang dari sama dengan 3, maka Anda kurang percaya diri.
Lalu apa sih percaya diri itu? Mengapa harus percaya diri? Apa yang membedakan seseorang itu percaya diri atau sombong? Bagaimana percaya diri itu tercipta?

Eit ... banyak betul pertanyaannya ....

Sabar dong ... kita bahas satu-satu ya ....

Percaya diri adalah ketika seseorang merasa nyaman dengan dirinya sendiri dan tahu akan kelebihan dan kekurangan sendiri. Nah, yang mebedakan orang yang PD dengan sombong adalah sikap meraka. Kenapa? Karena orang sombong cendrung merendahkan orang lain dan merasa dirinya paling benar. Jika orang yang tidak mengerti tentang konsep percaya diri, biasanya cenderung susah mebedakan mana orang sombong dan orang PD. Kebanyakan orang sombong menutupi sisi ketidak percayaandirinya dengan kata-kata yang membumbung tinggi, yang pada akhirnya akan membuatnya dibenci oleh orang banyak.

Orang yang berbicara didepan banyak orang, belum tentu juga ia PD dengan dirinya. Terkadang itu hanya sikon yang memaksa dia harus berbicara didepan umum. Maka percaya diri itu sangatlah penting bagi semua orang, kenapa? Karena hakikatnya kita sebagai manusia adalah pemenang. Allah menciptakan manusia sesuai fitrahnya sebagai hamba yang terlahir dalam kondisi baik, artinya manusia sudah mempunyai rasa percaya diri sejak lahir, memiliki sifat ramah, murah senyum, disiplin, adil dan sikap positif lainnya. Untuk itu, manusia harus cinta dan patuh kepada Allah sebagai Dzat pencitanya, harus robbani, bukan lagi patokan manusiawi.

Jika anda berpatokan manusiawi, contoh saja: wajar dong kalau kita demdam, karna itu manusiawi. Yang terjadi adalah anda akan semakin kecewa, sengsara, dan menderita. Maka masih banyak PR yang harus anda ketahui dan PR tentang kedekatan anda dengan Allah SWT. Jika anda berpatokan robbani, walaupun cobaan datang dan sepahit apapun cobaan itu, anda akan merasa tenang dan menemukan titik kenikmatan dan ketenangan, inilah yang disebut bahagia konsisten.

Adapun faktor yang mempengaruhi tumbuhnya rasa percaya diri adalah keluarga didalam rumah, baik orang tua kandung ataupun orang yang tinggal seatap dengan kita, seperti kakek dan nenek).

Hem... keluarga seperti apa ya? Ada dua macam keluarga, yaitu keluarga fungsional dan keluarga disfungsional. Yuk, kita simak bersama...

Keluarga fungsional adalah keluarga yang menghargai perasaan anggota keluarganya. Keluarga yang memperharikan dan saling mencintai, bersikap terbuka dan jujur, orang tua dirumah bersikap sebagai pendengar yang baik, saling berdiskusi atau musyawarah untuk menyampaikan pendapat diantara anggota keluarga. Keluarga fungsional biasanya memiliki profil orang tua sebagai berikut.
  1. Memiliki aturan yang jelas didalam rumah, mampu mengenalkan baik dan buruk, serta untunng rugi dari setiap perbuatan yang dilakukan sehingga antara orang tua terjadi kedekatan emosi, terutama antara ibu dan anak.
  2. Mampu berjuang mengatasi masalah, saling mengayomi, dan melindungi
  3. Bersikap responsif terhadap kebutuhan anak dan saling menyesuaikan diri
  4. Mampu mendoroang anak untuk mengatakan pendapat dan bertanya
Selanjutnya dalah keluarga difungsional. Dimana hubungan kedua orang tua tidak baik (poor marriage), hubungan dengan anak tidak baik, suasana rmah tangga tegang dan tanpa kehangatan, orang tua jarang dirumah, salah satu atau kedua orang tua memiliki kelainan kepribadian atau gangguan kejiwaan. Akibatnya anak memiliki “need for safety” yang rendah sehingga menumbuhkan basic anxiety atau perasaan tidak berdaya (helpless), kekawatiran dan kecemasan menghadapi lingkungan sehingga menimbulkan rasa tidak percaya diri.

Beruntunglah anda yang tumbuh dikeluarga fungsional. Tapi juga jangan menyesal karena anda terlahir di keluarga disfungsional sehingga anda merasa broken home. Ngomong-ngomong sola broken home... bukan seseorang yang orang tuanya bercerai saja disebut broken home, tapi mereka yang merasa tidak nyaman berada ditengah-tengah keluarga yang komplit karena tidak adanya komunikasi dua arah sehingga mencari tempat atau komunitas yang dapat menerima mereka sepenuh hati, contoh saja kelompok punkers yang sering meresahkan banyak orang. Tahukah anda bahwa anak punk tidak semua dari keluarga yang biasa saja dan miskin, tapi anak dokter, pejabat, dan lain sebagainya yang merasa bahwa rumah bukan temapt terbaik mereka untuk pulang, mereka memilih komunitas itu karena mereka merasa diterima sepenuhnya dan diperhatikan, serta rsa solidaritas yang kuat diantara mereka. Tanamkan pada diri kita bahwa broken home bukan berarti broken dream. Kita harus menjadikan motivasi bahwa broken home bukan alasan kita untuk meraih mimpi dan cita-cita.

Untuk mencapai percaya diri yang konsisten kita harus memelihara emosi positif, menyakini bahwa tiap kita dilahirkan percaya diri. Jangan hidup dengan masa lalu, pilih sendiri masa depanmu dengan menjaga kualitas hidupmu dimasa kini dan... lakukan! Action! Jadilah manusia sukses, karena sukses itu adalah karakter kita sebagai manusia. Calon manusa sukses tidak pernah mengeluh tapi sibuk memperbaiki diri dari kesalahan yang pernah terjadi.

Nah ini... Salah satu tips yang saya dapatkan dari possitive class untuk lebih memperbaiki diri, caranya dengan mengubah cara berdoa kita. Nah lo.. apalagi ini... begini ceritanya... biasanya kan kita meminta kepada Allah tentang rejeki dan rejeki, maka ubahlah dengan cara meminta hidayah kepada Allah supaya tetap pada iman dan islam hingga akhir hayat kita, mintalah menjadi manusia yang zuhud. Karena kita tidak tahu apakah kita manti nanti masih dalam keadaan beriman kepada Allah. Tapi semoga ya tetap mati dalam keadaan beriman kepada Allah dan khusnul khotimah.

***

Tiap peristiwa adalah pembelajaran untuk mengupgrade kualitas diri. Selamat berjuang dengan rasa percaya diri anda. Sampai jumpa di Diary Syafa selanjutnya ... bye bye ....


SHARE THIS

Author:

Akun administrator website Perkumpulan Guru Madrasah Penulis.

0 komentar: