Senin, 05 Maret 2018

Tragedi Siswa Memukuli Gurunya

Wanbin.tech

Oleh Lilik Latipah, S.Pd, M.PKim.
Guru MAN 2 Cipasung, Tasikmalaya dan anggota Perkumpulan Guru Madrasah Penulis (Pergumapi)

DUNIA pendidikan digemparkan dengan kejadian yang luar biasa yaitu pemukulan siswa terhadap guru. Kejadian ini dianggap hal yang tabu, tak biasa, yang memang sudah seharusnya guru dihormati dalam keadaan apapun dan kondisi apapun.

Seperti diberitakan di sejumlah media massa, seorang guru yang bernama Budi, pengajar Seni Rupa di salah satu SMA di Madura, dianiaya oleh siswanya sendiri setelah guru tersebut mengingatkan siswanya agar tidak menggangu temannya ketika belajar. Sebelumnya siswa tersebut sudah diingatkan beberapa kali,tetapi masih “ ngeyel” mengganggu temannya ketika belajar. Ketika diiingatkan bukannya menerima tetapi malah merangsek memukuli gurunya. Sampai di rumah, beliau merasakan pusing dan mual, Dokter pun menerangkan bahwa hasil diagnosanya batang otak telah mati. Pada pukul 21.00 Kamis (1/2/2018) Pak Budi menghembuskan nafas terakhir dengan meninggalkan istri dan anak yang baru berusia 5 bulan dalam kandungan.

Tindakan Pak Budi mesti diberikan penghargaan karena kepedulian dan keberaniannya terhadap kenakalan anak remaja. Tidak mudah dan tidak bisa semua guru bersikap keras pada muridnya. Justru karena ia berani itulah karena melihat guru-guru yang lain lembek, jika semua guru kompak untuk bersikap tegas dan bertindak dengan baik, maka tidak akan ada siswa yang super nakal. Karena perilakunya diawasi secara langsung oleh semua guru di dalam dan luar kelas.

Biasanya guru yang “galak” itu merupakan tumbal atau senjata pamungkas karena ketidakberanian guru-guru lainnya. Ibaratnya seperti hutan yang hilang keangkerannya karena singanya telah mati. Guru seperti ini biasanya ditaati oleh semua siswa walau dengan alasan takut, tetapi biasanya paling peduli pada masa depan siswa dan kehidupan keseharian beliau pun menjadi teladan kedisiplinan bagi siswa dan guru lainnya. Oleh kerena itu sebaiknya jangan mencap salah pada guru yang bertindak keras, bisa jadi banyak siswa yang nakal karena sikap dari guru-guru lainnya yang cuek, yang tidak mau beresiko, mencari zona nyaman bahkan tidak berani untuk menyuruh atau menegur siswanya.

Dalam menangani kedisiplinan, ada beberapa tipe guru, yaitu :

1. Bersikap Apatis, cuek karena tidak mau ada ewuh pakewuh, takut atau tidak peduli sekali tidak mau mendisiplinkan siswa.
2. Bersikap keras berani bertindak apapun agar siswa disiplin dan berhasil .
3. Bersikap tegas dan sistematis, guru ini bertindak tegas dengan berdasarkan aturan yang berlaku, atau beliau membuat terlebih dahulu peraturannya kemudian diatawarkan pada siswanya.
4. Bersikap lembut, guru ini bersifat  sabar, selalu berdoa dan ibadah, mengedepankan dialog, bertindak dan bertutur dengan hati dan kasih sayang.

Dari ke-empat tipe ini, guru mesti punya dua sikap yaitu sikap tegas dan lembut. Jika bersikap tegas saja tidak dibarengi dengan kelembutan maka tidak ada kontak batin dan melahirkan kesadaran berbuat baik, sebaliknya jika bersikap lembut saja maka pelanggaran akan terus diulang-ulang karena menganggap nasihat sebagai angin lalu saja.

Tidaklah cukup dengan sikap guru saja untuk membuat siswa baik dan disiplin tetapi harus utuh dan menyeluruh, tidak sebagian saja. Setidaknya ada 5  faktor yang harus dipenuhi agar pendidikan karakter berhasil signifikan dan massif,  yaitu:

1. Keteladanan

Agar guru mempunyai integritas ia harus mempunyai harga, harga yang dimaksud adalah kesesuaian antara ucapan dengan tindakan. Guru yang selalu terlambat agak sulit untuk menjadi model kebaikan bagi siswa. Guru yang bicara dan tindak tanduknya tidak mencerminkan sebagai seorang guru tidak akan terpancar kekuatan jiwa untuk mempengaruhi karakter siswa. Seberapapun hebat kata-katanya, nasehatnya kurang didengar oleh peserta didik. Ingat, sekolah merupakan wahana pembentukan miniatur masyarakat berkarakter, jika ada guru yang tidak memberikan keteladanan maka ia tidak mendukung pembentukan komunitas masyarakat berkarakter. Ketika sudah lebih dari 90% guru berkarakter baik dengan memberikan keteladanan beribadah, bekerja, belajar, bertindak dan bertutur dengan baik maka dapat dipastikan sekolah itu sudah setengah nya berhasil menjalankan sekolah berkarakter.

2. Pendidikan dan pelatihan yang berkesinambungan

Faktor yang lainnya adalah melakukan program pendidikan dan pelatihan. Pendidikan hanya menanamkan pengetahuan tentang kebaikan dan kedisiplinan sedangkan pelatihan adalah pembiasaan berulang-ulang agar tertanam menjadi sebuah karakter yang sulit untuk dipisahkan. Dengan kata lain pendidikan adalah “knowing” proses hanya untuk mengetahui sedangkan pembiasaan adalah “being” agar menjadi bagian dari kesehariannya. Awalnya siswa diberikan pengetahuan dan pemahaman agar mau bertindak, setelah bertindak berulang-ulang diharapkan menjadi kebiasaan, setelah berulang-ulang kebiasaan maka akan menjadi karakter yang menjadi bagian dari kepribadiannya. Proses pendidikan ini dapat dilakukan integrasi ke dalam mata pelajaran, atau diprogramkan tersendiri dengan memasukan pada kegiatan-kegiatan tertentu seperti upacara, pengajian, pelatihan belanegara dan aktivitas lainnya. Sedangkan pembiasaan dapat berupa program yang disusun oleh sekolah yang disosialisasikan dengan baik dan dijalankan dengan konsisten. Contohnya ketika bertemu dengan siapapun yang lebih tua mengangguk  dan mengucapkan Salam. Kebiasaan ini nampaknya sederhana tetapi jarang sekolah yang dapat menerapkan kebiasaaan ini, kecuali sepanjang penulis temukan hanya di MAN Insan Cendekia Serpong. Setiap siswa bertemu siapapun apalagi pada gurunya selalu mengucapkan Salam sambil mengangguk.

3. Peraturan yang tegas dan jelas

Faktor ini yang menjadi tidak jelasnya guru dan sekolah menjalankan sistem kedispilinan siswa. Karena biasanya sekolah ada yang belum mempunyai aturan yang rinci dari hal yang kecil sampai hal yang besar, tetapi ada juga aturan yang rinci dan jelas tetapi tidak dijalankan. Akibatnya siswa tidak turut pada peraturan karena aturan reward dan punishment nya tidak jelas dan walapun ada regulasinya tetapi tidak dijalankan dengan baik biasanya dikarenakan tidak ada keberanian para guru menegakkan kedisplinan. Contohnya ketika ada siswa yang dikeluarkan baju, guru bersikap apatis tidak menegur bahkan tidak memberikan sanksi. Termasuk pula dalam proses KBM, ketika ada siswa yang tidak memperhatikan, tidur di kelas, mengganggu temannya di kelas, seorang guru tidak berani bertindak karena tidak peduli atau takut disebut guru galak. Penyebabnya adalah karena bsia jadi tidak ada aturan yang baku dan rinci atau juga ada aturan tetapi tidak dijalankan sanksi dan rewardnya yang jelas. Pada kasus Bapak Budi ini, jika sudah ada sistem poin, dengan pelanggaran tidak memperhatikan guru, melecehkan guru, mengganggu teman  maka dapat diberikan poin yang besar dengan langsung diserahkan penanganannya pada guru BP BK. Dan jika masih tidak ada perbaikan pada diri siswa, maka sistem poin berjalan dengan akumulasi lebih besar, siswa bisa diserahkan pada orang tua siswa. Dibanding dengan melakukan kekerasan fisik, nampaknya akan menimbulkan efek dendam, sebaiknya diselesaikan dengan sistem poin saja.

4. Lingkungan yang baik

Everything is speak, semuanya berbicara, itulah teori quantum learning. Usahakan lingkungan sekolah mendudkung terhadap pembentukan karakter misalkan poster-poster nasihat yang menggairahkan, lingkungan taman yang menyenangkan, musik dan murottal yang syahdu, teman-teman nya yang bertutur baik dan sopan dan cara lainnya sangat mendukung terehadap pembentukan kepribadian siswa.

5. Do’a dan ibadah yang tiada henti

Sudahkan Bapak Ibu guru mendoakan peserta didik ketika akhir ibadah agar mempunyai perilaku sholeh? bayangkan mereka.. yang perlu uluran bantuan kita karena kebodohan dan kemalasan mereka. Bantulah mereka dengan tulus karena mereka adalah generasi penerus bangsa kita, ketika kita bisa merubah mereka maka kita sudah berbuat berkontribusi mewujudkan masyarakat yang baik sekaligus  mewariskan generasi terbaik bagi bangsa ini. Sebaliknya ketika gagal tidak dapat membentuk kepribadian yang baik, maka mereka akan menjadi sampah masyarakat yang pada akhirnya akan menjadi benalu dan menjadi bencana bagi kita dan semua masyarakat.

Solusi

Saya tertarik dengan pendidian  sistem kepolisian yang ber-asrama dan mempunyai kesamaan standar kedisiplinan dan pelayanan masyrakat. Nampaknya guru juga harus dikarantina dan diasramakan di kawah candra dimuka supaya terbentuk kedisiplinan yang tinggi dan mempunyai sistem penanganan kedisiplinan yang seragam pada peserta didik. Harapannya tidak ada lagi prosedur penanganan yang berbeda terhadap kasus penyimpangan remaja, semua guru bergerak dengan berbagai pendekatan dan sikap yaitu pendekatan yang tegas dan pendekatan kasih sayang. Di Korea sudah sejak lama menerapkan pendidikan guru berasrama bahkan warga negaranya diterapkan wajib mikiter. Penulis yakin jika semua   guru mendapatkan pendidikan dan pelatihan yang sama maka sistem pendidikan Indonesia akan berhasil. Harus diakui dengan jujur, sekarang  semua orang bisa menjadi guru, guru adalah pilihan profesi terakhir setelah kesana kemari tidak mendapatkan pekerjaan. Implikasinya adalah bukan orang yang pilihan dan bukan orang yang berdedikasi tinggi pada dunia pendidikan. Selain itu LPTK (Lembaga Pencetak tenaga Pendidik) belum mempunyai standar yangs seragam dalam hal mencetak dan mendidik guru. Proses pembelajaran yang dijalankan adalah seperti perkuliahan, yang hanya mendengarkan perkuliahan, membaca buku dan mengerjakan tugas. Tidak ada proses untuk praktek menjadi guru yang baik dalam keseharian seperti halnya sekolah pendidikan guru (SPG) yang mengharuskan pakaian, perilaku, tulisan dan keterampilan guru benar-benar mesti diperlihatkan di depan para guru SPG. (*)

Tulisan ini disiarkan pertama kali di harian Kabar Priangan edisi Rabu, 7 Februari 2018 halaman 12.

SHARE THIS

Author:

Akun administrator website Perkumpulan Guru Madrasah Penulis.

0 komentar: