Senin, 05 Maret 2018

Pendidikan Karakter dan Tantangannya

Vignette.wikia.nocookie.net
Oleh Winarsih, S.Pd.

IDE tentang pendidikan karakter sudah muncul sejak beberapa tahun lalu ketika presiden Joko Widodo menyerukan tentang revolusi mental. Pendidikan karakter sudah menjadi bagian dari kurikulum. Dalam pelaksanaannya di sekolah atau madrasah include dengan mata pelajaran. Hal ini disebut sebagai pendidikan karakter berbasis kelas. Selain itu, diterapkan melalui pembiasaan, sehingga disebut pendidikan karakter berbasis kultur.  Menurut saya, hampir seluruh sekolah di Indonesia, baik negeri atau swasta telah menerapkan pendidikan karakter tersebut. Namun begitu, mengapa peristiwa  di SMA Negeri 1 Torjun masih terjadi? Dimana letak salah atau kurangnya pendidikan karakter yang didengung-dengungkan?

Peristiwa Torjun, baru-baru ini membuat miris siapa saja yang mendengarnya. Selain itu, menyelipkan tamparan keras dunia pendidikan di negeri ini dan memunculkan keprihatinan yang mendalam terhadap perilaku generasi penerus bangsa. Harus diakui bahwa perwujudan pendidikan karakter tidak semudah membalik telapak tangan. Pendidikan karakter tidak hanya sekedar knowing, asal tahu, bisa memilah dan memilih. Akan tetapi, lebih bersifat being, mencetak generasi yang mampu menerapkan dalam kehidupan sehari-hari melalui perilaku yang  tampak (behavior refersible). Jika memang demikian apa yang kurang dengan sistem pendidikan kita ?

Munculnya peristiwa Torjun, menggugah pemerintah untuk bersegera menambah jam pendidikan karakter di sekolah sebagaimana terlansir dalam berita sore Kompas TV hari Kamis,  1 Februari 2018. Benarkah peristiwa Torjun dan peristiwa lain terkait karakter karena kurangnya jam pendidikan karakter di sekolah? Sudah tepatkah langkah pemerintah untuk menambah jam pendidikan karakter?

Pendidikan karakter memang penuh tantangan. Sekali lagi, pendidikan karakter sebenarnya bukan masalah kurikulum, bukan pula sekadar jam pembelajaran. Seberapa banyak jam pendidikan karakter di sekolah jika hanya bersifat knowing, siswa hanya asal tahu saja benar-salah, baik-buruk dan lain sebagainya. Tahu lampu merah, terus saja jalan, buang sampah sembarangan meski didekatnya ada tong sampah, dan masih banyak lagi. Pendidikan karakter butuh pembiasaan perilaku yang terus-menerus sehingga betul-betul mendarah daging, hingga terbentuk kendali diri (self control).

Pendidikan karakter bukan hanya tugas sekolah, tetapi melibatkan tri pusat pendidikan yakni sekolah, rumah, dan masyarakat seperti yang terdapat dalam pendidikan karakter (Suyanto : 2018). Oleh karenanya, kurikulum dan jam pembelajaran tidak cukup mampu menyelesaikan PR besar ini. Menurut hemat saya, mengembalikan peran dan fungsi keluarga adalah hal pokok atau dasar bagi terselesaikannya masalah ini. Meski sekolahnya fullday, tetapi karakter sudah dibentuk di madrasah yang pertama yakni rumah. Sekolah bukan bengkel yang mampu memperbaiki mental yang rusak secara instan, sehingga dibutuhkan kerjasama yang harmonis dalam membiasakan karakter dan mengubah karakter.

Hal yang harus dipahami bahwa mendidik anak zaman now memang jauh berbeda. Perkembangan IT melaju secepat kilat menuntut orang tua untuk menyesuaikan diri. Jika tidak, maka akan kehilangan kendali. Dampak negatif IT menyentuh segala aspek kehidupan manusia. Inilah tantangan terbesar pendidikan karakter. Selain itu, pola asuh dalam keluarga mulai meninggalkan nilai-nilai (value). Kuantitas dan kualitas komunikasi dalam keluarga juga sangat terbatas. HP tidak bisa menggantikan tatap muka, karena dengan HP jika kontrol diri lemah, sangat mudah terjadi ketidakjujuran.

Bukan ingin menyalahkan perkembangan IT, tetapi bagaimana dengan perkembangan IT ini orang tua lebih siap menghadapi kemungkinan-kemungkinan yang terjadi. Menjadikan rumah betul-betul sebagai madrasah yang pertama dan terlama sepanjang hayat (life long education) dalam menempa dan mendidik anak melalui pembiasaan berdasar pada nilai-nilai yang dianut. Menciptakan suasana yang aman dan nyaman bagi anak untuk berbagi (sharing) tentang segala yang dirasa, sehingga muncul keterbukaan antaranggota keluarga. Memperbaiki diri dan terus memperbaiki agar orang tua betul-betul pantas menjadi contoh, suri teladan, role model dan idola bagi putra-putrinya. Jika tempaan tersebut menancap kuat pada pikiran dan hati anak, maka di manapun ia berada, anak akan melakukan hal terbaik untuk dirinya sendiri maupun orang lain. Pendidikan karakter tak mengenal dimensi ruang,  waktu, dan tidak bersifat instan. (*)

Winarsih, S.Pd. adalah guru Bimbingan Konseling (BK) di MTs Negeri 7 Bantul serta anggota Pergumapi (Perkumpulan Guru Madrasah Penulis). Tulisan ini disiarkan pertama di Harian Bernas edisi Senin, 12 Februari 2018 halaman 5. 

SHARE THIS

Author:

Akun administrator website Perkumpulan Guru Madrasah Penulis.

1 komentar: