Urgensi Basic Literacy

Februari 20, 2018
Selasa, 20 Februari 2018
Windsorpubliclibrary.com
Oleh Ikha Mayashofa Arifiyanti, S.Pd., M.A.

“Siang tadi, seperti dua siang sebelumnya. Karena selalu, dalam sepekan di dua siang, waktu menarikku pada dua pasang mata itu. Ya, mata yang harus kupaksa mengeja rangkaian fon-fon dengan terbata. Istilah lugasnya, mata yang belum lancar baca meski abjad telah mereka hafal luar kepala.‘Belajar Membaca’ itulah aksentuasinya. Dua pasang mata itu adalah mata yang sama dengan sepasang mata lelakiku. Yang setiap kutembus bening retinanya, tak pernah ada kelenjar lakrima. Kosong.  Hampa. Maka, caraku mengenalkan aksara pada kalian dan dia berbeda. Karena mata kalian jauh lebih bercahaya, sementara mata lelakiku tak bernyawa. Kalian, dua pasang mata yang telah mencuri siangku, bacalah dengan binar cahaya sebelum redup nyalanya. Ejalah meski terbata sebelum pita suara kering hingga kebisuan menjajah raga. Aku akan setia menemani, seperti setiaku pada sepasang mata bisu, yang selalu menungguku untuk mengeja aksara dengan suara (9 September 2017)” 

Sepenggal sajak di atas saya sematkan pada catatan harian mengajar, sebagai bentuk kegelisahan yang mendalam akan profesi saya sebagai seorang guru mata pelajaran Bahasa Indonesia. Mata ajar Bahasa Indonesia meniscayakan saya untuk mengerahkan tenaga, pikiran, dan kesabaran tatkala berbenturan dengan rendahnya keterampilan berbahasa siswa. Terlebih lagi, dengan mulai membuminya “Gerakan Literasi Sekolah” (GLS) sesungguhnya menempatkan saya pada dualisme rasa - suka dan duka - dalam menyambutnya.

Literasi, sebuah istilah yang kini semakin familiar bagi banyak orang. Membahas literasi tentu pikiran kita akan tertuju pada aktivitas membaca buku, karena makna literasi secara harfiah adalah keberaksaraan, yaitu kemampuan dalam hal menulis dan membaca. Jadi, pemahaman yang paling umum mengenai literasi yaitu kemampuan membaca dan menulis.

Saat ini, istilah literasi sudah mulai digunakan dalam arti yang lebih luas, seperti literasi informasi, literasi komputer, dan literasi sains, yang kesemuanya itu merujuk pada kompetensi atau kemampuan yang lebih dari sekadar kemampuan membaca dan menulis.

Literasi melibatkan berbagai dasar - dasar kompleks tentang bahasa seperti fonologi (kemampuan untuk mendengar dan menginterpretasikan suara), arti kata, tata bahasa, dan kelancaran dalam setidaknya satu bahasa komunikasi. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa literasi memang tidak bisa dilepaskan dari bahasa.

Seseorang dikatakan memiliki kemampuan literasi apabila ia telah memperoleh kemampuan dasar berbahasa yaitu membaca dan menulis. Jadi, makna dasar literasi sebagai kemampuan baca-tulis merupakan pintu utama bagi pengembangan makna literasi secara lebih luas, yang dapat diperoleh melalui jalur pendidikan, mulai dari pendidikan prasekolah sampai ke perguruan tinggi.

Literasi di lingkungan sekolah sudah menjadi gerakan yang terprogram, terencana, dan terukur dalam sebuah gerakan literasi sekolah yang diprakarsai oleh Kemendikbud Republik Indonesia. Membudayakan literasi di sekolah atau madrasah dengan kondisi lingkungan, sarana, dan prasarana yang kurang memadai merupakan sebuah tantangan. Ketika sekolah-sekolah berfasilitas lengkap mungkin sudah berkonsentrasi pada taraf library literacy, media literacy, technology literacy, bahkan visual literacy, sekolah atau madrasah dengan kondisi yang serba minim - seperti sekolah tempat saya mengabdi - masih saja berkutat pada basic literacy - mengoptimalkan kemampuan dasar membaca dan menulis pada setiap kesempatan temu muka guru dengan para siswanya di kelas.

Basic literacy menjadi sangat urgensi ketika di lapangan guru dihadapkan pada dua persoalan. Pertama, kemampuan membaca dan menulis siswa yang rendah.  Kedua, guru tidak membiasakan siswa menemukan model-model tulisan melalui membaca wacana-wacana yang bermutu karena selalu terikat pada buku paket.

Persoalan pertama mengenai rendahnya kemampuan membaca dan menulis siswa, dalam hal ini yang saya jumpai pada anak-anak didik saya, dikarenakan latar belakang keluarga. Keluarga sebagai lingkungan pertama dalam tumbuh kembang anak memiliki peranan penting dalam membimbing dan melatih anak berkaitan dengan pemerolehan bahasa mereka. Selain sekolah, keluarga - dalam hal ini orang tua - juga harus berperan dalam membiasakan budaya baca di rumah. Secara lugasnya, lingkungan keluarga yang tidak terlalu peduli pada pendidikan menempatkan mereka pada perlakuan acuh tak acuh  perihal pembimbingan dasar aktivitas membaca. Padahal, bila seorang anak tidak mengalami pembudayaan dan pembiasaan membaca di rumah dan sekolah, maka kemampuan dan kebiasaan membacanya hampir dipastikan tidak akan berkembang. Tanpa adanya kemampuan membaca, kemampuan menulis tentu saja tidak akan tumbuh. Maka sudah akrab di telinga saya fenomena siswa membaca dengan terbata meski aksara telah mereka hafal di luar kepala.

“Bung Kamat”, sebuah akronim dari “samBung KaliMat”, adalah metode efektif yang saya lakukan untuk melacak siswa yang memiliki kesulitan dalam keterampilan membaca. Setiap pertemuan dengan siswa, entah saat menyampaikan materi atau membahas soal, metode sambung kalimat selalu saya gunakan secara acak. “Bung Kamat” sendiri saya bagi menjadi dua jilid. Jilid 1 saya lakukan saat kegiatan intrakurikuler di dalam kelas. Dalam proses itu akan terdeteksi siswa yang kurang lancar membacanya. Setelahnya, siswa “terseleksi” akan saya bimbing khusus pada “Bung Kamat” jilid 2 dengan waktu dan tempat yang mereka tentukan sendiri. Dan sekali lagi, untuk menempuh dua proses itu meniscayakan saya untuk mengerahkan tenaga, pikiran, dan kesabaran yang luas, tak terbatas.

Persoalan kedua yang dihadapi dalam membudayakan literasi adalah faktor guru yang tidak membiasakan siswa menemukan model-model teks melalui membaca wacana-wacana yang bermutu.  Menyoal teks, harus diakui bahwa buku paket masih mendominasi sekolah-sekolah di Indonesia. Banyak guru yang masih memosisikan buku paket sebagai satu-satunya sumber pengetahuan bagi siswa. Guru memiliki kecenderungan menyampaikan materi dan teks persis seperti apa yang tertera pada buku paket yang menjadi pegangannya. Hal tersebut berdampak pada minimnya referensi siswa terhadap bahan baca. Imbasnya, akan  terdengar jawaban senada dari siswa jika saya mengajukan tanya di awal jumpa tentang pertanyaan, “Cerita apa yang pernah kalian baca?” Tentu saja, secara serempak mereka akan menjawab “Si Kancil”. Itulah rekaman pengetahuan yang mereka dapatkan secara berulang di setiap jenjang saat di sekolah dasar.

Selain itu, siswa juga tidak dibiasakan menemukan pola-pola tulisan melalui membaca wacana-wacana yang bermutu. Pengetahuan tentang pola-pola wacana sendiri tidak hanya bisa didapat melalui pembelajaran, tetapi juga melalui pemerolehan. Dengan demikian, contoh-contoh tulisan dengan kualitas struktur yang baik dan dengan isi yang mudah dipahami oleh siswa tentunya, sangat diperlukan sebagai model.  Salah satu genre teks yang saya jadikan model bacaan bagi siswa adalah teenlit.

Secara etimologi, teenlit adalah akronim dari dua kata dalam bahasa Inggris, yaitu teenager (belasan tahun) dan literature (kesusastraan). Mengacu pada pengertian tersebut, teenlit dapat diartikan sebagai bacaan yang bersegmentasi remaja (belasan tahun) yang mengangkat kehidupan remaja. Teenlit juga dipandang sebagai suatu fenomena dalam khazanah sastra populer. Teenlit sangat digandrungi karena segala macam kisah di dalamnya memang dialami oleh remaja pada umumnya. Karena isinya yang meremaja itulah pembaca teenlit sangat menikmati dan memahami isi teks yang dibacanya. Dengan teenlit, siswa yang kesulitan membaca akan lebih bersemangat dalam berlatih membaca ketika dihadapkan pada teks bacaan yang mudah mereka cerna. Maka sudah akrab bagi saya pemandangan anak berebut membaca, bahkan siswa yang kurang lancar membaca mengacungkan tangan untuk mendaftar “Bung Kamat” jilid 2, tatkala beberapa eksemplar judul teenlit  saya bawa.

Proses mengajari siswa membaca memang tidak semudah membalikkan telapak tangan. Proses tersebut, sekali lagi, meniscayakan seorang pendidik mengerahkan tenaga, pikiran, kesabaran, dan wawasan yang sangat luas. Pengoptimalan kemampuan dasar membaca dan menulis (basic literacy) harus menjadi target utama pada setiap kesempatan temu muka guru dengan para siswa di kelas, sebelum meningkat pada jenis literasi lain. Basic literacy menjadi sangat urgensi ketika semua pihak memandang sama kemampuan siswa, padahal sesungguhnya anak didik kita punya banyak ‘warna’.

Ikha Mayashofa Arifiyanti, S.Pd.,M.A., Sekretaris Bidang Penulisan Sastra Pergumapi

Thanks for reading Urgensi Basic Literacy | Tags:

Next Article
« Prev Post
Previous Article
Next Post »

Related Posts

Show comments
Hide comments

0 komentar on Urgensi Basic Literacy

Posting Komentar