Senin, 26 Februari 2018

Membangun Suasana Belajar

Teachhub.com

Oleh Noor Shofiyati
Guru MTs Negeri 9 Bantul, Wakil Sekretaris Umum Pergumapi

SETIAP anak memang unik. Masing-masing mempunyai cara dan gaya belajar yang berbeda satu dengan lainnya. Hal ini perlu dipahami oleh seorang guru. Karakter siswa di kelas A tentu berbeda dengan karakter siswa di kelas B. Kelas A mungkin cenderung penurut dan tidak banyak ulah saat belajar. Berbeda dengan kelas B yang mungkin memiliki kecenderungan suka usil, belajar sambil main-main, sehingga menimbulkan kesan tidak serius dan sulit diajak belajar. Kondisi seperti ini mungkin pernah dialami oleh guru di sekolah.

Jika diamati lebih jauh sesungguhnya siswa yang notabene suka usil di kelas, belum tentu  merupakan anak-anak yang tidak suka belajar. Mungkin keusilan itu adalah gaya belajarnya. Atau mungkin karena mereka anak-anak yang bermasalah di rumah. Mereka tidak dapat disalahkan, hanya perlu arahan dan bimbingan.

Berdasarkan riset bahwa kesuksesan anak dalam belajar sangat terkait dengan bagaimana guru mengelola kelas. Sebuah kelas dapat menjadi kelas menyenangkan bagi siswa atau  sebaliknya, sangat membosankan, tergantung bagaimana guru berperan di dalamnya.

Siswa akan merasa nyaman dan semangat untuk belajar jika pembelajaran di kelas  dikemas dengan “indah”. Guru seyogyanya trampil dalam mendesain proses pembelajaran, trampil dalam membangun suasana belajar, terlebih di kelas yang notabene “super aktif”. Sehingga pembelajaran lebih menarik, anak merasa nyaman, dan tetap bersemangat dalam belajar (apapun kondisi anak saat masuk sekolah).
 
Boleh jadi siswa yang notabene “super aktif” saat di kelas adalah anak-anak yang memerlukan perhatian khusus. Mereka melakukan itu karena ingin mendapatkan perhatian lebih dari guru. Setiap anak tentu ingin sukses. Dan guru hendaknya mampu menangkap hal ini. Apa yang seyogyanya dilakukan oleh guru? Membangun suasana belajar, membuat anak mau belajar.

Berikan pada anak aktivitas yang membangun sehingga mereka berlatih berpikir. Persempit ruang yang dapat membuat anak melakukan aktivitas yang tidak mendukung pembelajaran. Sehingga mereka akan termotivasi belajar sebagimana temannya yang telah memiliki motivasi diri tinggi.

Guru harus mampu menjadi sosok yang dapat digugu dan ditiru. Digugu karena setiap kata yang keluar dari mulut adalah kata-kata yang mengandung hikmah, kata-kata mutiara yang selalu membangkitkan motivasi anak didik. Ditiru karena setiap langkahnya merefleksikan bahwa dirinya adalah sosok insan berkarakter, sosok berintegritas tinggi. Sehingga lahir anak-anak yang suka belajar dan berkarakter. (*)

Tulisan ini dimuat pertama kali di Harian Kedauatan Rakyat Rubrik Pendapat Guru Halaman 10 Edisi Kamis Kliwon, 12 Oktober 2017.

SHARE THIS

Author:

Akun resmi pengelola website Perkumpulan Guru Madrasah Penulis.

2 komentar:

  1. Balasan
    1. Semoga sebagai guru kita bisa membangun suasana belajar yang kondusif sehingga memudahkan siswa belajar dengan baik.

      Hapus