Rabu, 07 Februari 2018

Cerpen: Malam Berdarah

Tribunnews.com
AWALNYA berat bagi kami menjalankan kehidupan ini tanpa ayah, namun seiring waktu kami dapat menghapus kesedihan ditinggal ayah yang telah dipanggil sang Khalik. Kini telah empat tahun semenjak kepergian ayah, kehidupan kami kembali berjalan normal.

Aku anak kedua dari tiga bersaudara. Kakak dan adikku semuanya perempuan. Aku satu-satunya anak laki-laki. Kakakku sedang menyelesaikan kuliah magisternya di Jakarta, sementara adikku baru duduk di kelas tujuh pesantren yang terletak di salah satu kabupaten yang ada di provinsiku. Aku adalah seorang polisi yang bertugas di ibukota provinsi. Sedangkan bundaku tetap tinggal di rumah kami di salah satu kabupaten di provinsiku. Jadi kami berempat terpisah di tempat yang berbeda. Aku, bunda dan adikku, walaupun berada di satu provinsi, namun berlainan kabupaten. Komunikasi yang kami jalin, hanya lewat ponsel. Sesekali aku pulang ke rumah menjenguk bundaku.

Malam Sabtu ini aku mencoba menelepon bundaku, aku ingin mengabarkan kalau minggu besok, aku tidak pulang, dikarenakan ada urusan dinas. Ku pilih di log panggilan, ku coba menghubungi, namun nomornya tidak aktif. Kucoba hingga tiga kali, namun tetap sama. Aku pikir mungkin bundaku lupa mencharge ponselnya. Keesokan harinya, aku melakukan tugasku selama tiga hari hingga hari Senin.

Aku begitu lelah, setelah magrib aku baru tiba di kontrakanku. Suasananya agak lengang. Kuparkirkan motor di garasi, menuju ke lantai dua. Kurebahkan tubuh di kasur yang hanya berukuran 120x200 cm dibalut sprai warna coklat. Kurogoh saku celana, mengambil ponsel, mencoba menelepon bundaku. Aku heran, nomor bundaku masih juga tidak aktif. Aku mencoba menghubungi temanku, Habib. Teman karibku yang tinggal tidak jauh dari rumahku. Habib berperawakan kurus tinggi, berkulit sawo matang, kumis tipis tersusun rapi di bawah hidungnya yang mancung. Dia seorang guru, yang telah menikah dan dikaruniai seorang anak laki-laki. Kupilih kontak dibuku alamat, “sohibku habib” ku tekan nomornya. Dia menolak panggilanku. Kucoba untuk kedua kalinya, akhirnya diangkat oleh Habib.

“Assalamualaikum, lagi di mana Bib?” tanyaku.

“Waalaikumussalam, sedang di masjid Man,” jawabnya ramah.

“Di masjid? Sekalian nunggu isya ya?” tanyaku.

“Iya, Man. Ada apa?” tanyanya.

“Aku mau minta tolong Bib. Kamu ke rumahku sebentar ya. Tolong lihat bundaku ada nggak di rumah. Sebab sejak Sabtu kemarin, ponselnya tidak dapat dihubungi” pintaku.

“Iya, nanti aku mampir ke sana. Tapi setelah selesai shalat isya ya,” sahutnya.

“Iya, nggak apa-apa,” jawabku mengakhiri telepon.

Aku tersentak dari tidurku, ketika ponselku berdering. Kulihat di layar ponsel, oh Habib meneleponku. Ternyata aku ketiduran. Sambil mengucek mata, kulirik jam di dinding pukul 20.30 wib. Oh..sudah satu jam lebih aku tertidur. Kuangkat teleponku, sambil masih rebahan.

“Assalamualaikum, Firman, kamu harus segera pulang,” ucap Habib, dengan nada terburu-buru.

“Waalaikumussalam, ada apa, Bib?” jawabku heran.

“Nanti aku hubungi lagi, kamu segera pulang sekarang,” jawabnya sambil mematikan ponsel.

Aku penasaran apa yang terjadi, aku langsung menghubunginya kembali.

“Bib, ada apa? Apa yang terjadi? Kamu sudah ke rumah bundaku?” aku mencercanya dengan banyak pertanyaan, tanpa memberi waktu untuk menjawabnya.

“Pulanglah cepat, Man” jawabnya.

“Ada apa, Man? Jawab aku,” sahutku dengan nada tinggi.

“Kamu yang sabar ya. Bundamu ditemukan tewas, dan telah membusuk,” jawabnya.

“Apa? Innalillahi,” aku melompat dari tidurku, ponselku terlepas.

“Ya Allah!” teriakku keras. Tidak kuhiraukan lagi suara habib di ujung telepon.

Masih sambil menangis dan terus mengucap, dengan cekatan aku mengganti pakaian dinasku. Aku duduk kembali di kasur mengambil ponsel. Mencoba menghubungi kakakku.

“Mbak, segera cari penerbangan. Kakak pulang segera,” ucapku tanpa mengucap salam lagi.

“Ada apa man?” tanyanya dengan nada kaget.

“Bunda telah meninggal, Mbak,” jawabku, kudengar tangisnya tumpah histeris.

“Kapan, Man? Ya Allah ampuni dosa bundaku,” tanyanya sambil menangis.

“Barusan, Mbak. Mbak sabar dan tenang ya. Jam segini sudah tidak ada lagi pesawat. Mbak pesan pesawat pagi besok. Aku akan menjemput Nabila,” jawabku.

Kumatikan ponsel, tanpa menunggu jawaban dari mbakku. Tak kuhiraukan lagi panggilan masuk darinya. Aku bersiap untuk segera berangkat. Sementara di luar kamarku, beberapa penghuni kontrakan terdengar ribut di luar, mungkin mereka mendengar teriakanku tadi. Aku membuka pintu kamar.

“Ada apa bang?” Tanya mereka hampir berbarengan.

“Bundaku barusan meninggal,” jawabku.

“Innalillahi wa inna illaihi raajiun,” jawab mereka sambil menarik napas dalam.

“Bang, aku ikut,” pinta Amar. Penghuni di samping kiri kamarku.

“Tapi abang mau menjemput adik dulu di pondok,” jawabku.

“Iya Bang, nggak apa-apa. aku temani,” jawabanya.

“Bang yang sabar ya, aku belum bisa ikut. Besok aku seminar proposal. Tapi insyaallah besok sore aku menyusul,” sahut Amri dengan sedih.

“Aku juga Bang,” sahut yang lain.

“Tidak apa-apa, tolong doakan bunda abang, ya.”

“Iya Bang, hati-hati di jalan. Jangan ngebut” ucap mereka menasehati.

Kami bergegas menuju garasi, aku dan Amar mengendarai motor yang berbeda. Butuh waktu dua jam untuk menempuh jarak menuju pesantren adikku. Kupacu sepeda motorku dengan kecepatan tinggi. Tak kuhiraukan lagi apakah Amar berada di belakangku atau tidak. Akhirnya tiba juga aku di gerbang pondok pesantren Nurul Fikri. Setelah meminta izin dengan satpam, aku diperbolehkan memasuki pelataran. Aku di antar menuju ruang tunggu, dan mengisi buku izin. Sementara ada petugas yang memanggil adikku. Tak lama kulihat Amar juga telah masuk ke pelataran parkir.

Aku duduk menunggu ditemani Amar. Sekitar lima menit akhirnya adikku tiba ditemani ustadzahnya. Dengan senyum yang terkembang, dia menyapaku.

“Assalamualaikum Mas,” sapanya sambil mencium tanganku. Dan menoleh ke arah Amar sambil tersenyum. Adikku telah mengenal Amar.

“Dik, kita harus pulang sekarang ya. Tadi mas sudah izin sama wali perizinan,” jawabku menahan tangis, agar tidak tumpah di depan adikku.

“Ada apa Mas dengan bunda? Ada apa?” Tanyanya penasaran, sambil mengguncang-guncangkan tanganku.

“Bunda sakit Dik, kita harus segera pulang,” aku berbohong. Aku takut, adikku pingsan jika mengetahui bunda telah tiada. Karena adikku begitu dekat dengan bunda.

“Sebentar ya mas, Nabil ambil tas dulu di kamar,” aku mengangguk.

Tak lama kemudian, Nabila telah muncul. Kami berpamitan dan segera berangkat. Aku membonceng adikku, pulang menuju rumah. Sementara Amar mengikuti dari belakang. butuh waktu satu setengah jam dari pondok menuju rumahku. Kupacu dengan cepat. Aku berharap segera sampai di rumah. Pikiran ku berkecamuk, masih terbayang kata-kata Habib, bundakku telah meninggal dan membusuk. Apakah sejak malam Sabtu bundaku telah meninggal, dan baru ketahuan mala mini? Ahh aku tidak mau menebak-nebak.

Akhirnya kami tiba juga, aku heran kenapa banyak tetangga yang berkerumun di rumahku. Adikku langsung menangis, dia sudah menebak pasti bundanya telah tiada. Pada saat memasuki halaman, banyak tetangga yang mengusap-usap punggungku menyabarkanku. Aku mulai menangis, adikku pun menangis dengan kencang. Begitu memasuki rumah, ku lihat banyak polisi.

“Ada apa pak?” tanyaku sembari menuju ke dalam.

Adikku langsung histeris, begitu sampai ke ruang tamu, menuju pintu ruang keluarga yang menuruni tiga anak tangga, akupun terperanjat. Langsung kupeluk adikku, yang tak lama pingsan. Aku di bantu beberapa tetangga, menggotong tubuh adikku menuju kamarnya. Ku tinggalkan ia di sana. Aku keluar, sambil menangis, ku lihat mayat bundaku tergeletak di samping tangga, bau busuk menyengat. Wajah cantik bundaku sebagian telah tertutupi dengan darah yang telah menghitam, masih terlihat sisa make up yang masih menempel. Banyak darah berceceran di lantai sekitar tubuh bundaku. Ada juga bercak darah di dinding dekat pintu yang menghubungkan ruang keluarga dengan garasi. Habib berusaha menenangkanku, yang juga ikut menangis di sampingku. Aku belum bisa berbuat apa-apa, karena aparat kepolisian sedang mengidentifikasi mayat bundaku. Dugaan sementara bundaku korban pembunuhan.

Kulihat di layar ponsel, panggilan tak terjawab 28 kali. Sepertinya mbak meneleponku, selama aku di perjalanan tadi. Kucoba menghubunginya kembali.

“Mbak, sudah dapat tiketnya?” tanyaku dengan suara serak.

“Iya, Mbak pulang besok pagi, pukul 06.00 WIB bagaimana bunda? Kok suaranya ribut sekali di rumah?” tanyanya, dengan suara isak tangis.

“Biasa aja Mbak, banyak tetangga yang berkunjung,” ucapku. Aku tidak mau memberi tahu kejadian sebenarnya, takut pikirannya menjadi kalut.

“Nabila mana?” lanjutnya.

“Pingsan Mbak, ada di kamar ditemani tante. Ya sudah mbak, nanti aku hubungi lagi ya,” sahutku, sembari mengakhiri telepon.

Sudah pukul 00.12 WIB, tetangga sudah banyak yang pulang, namun masih banyak juga yang berada di rumahku. Mereka masih memperbincangkan kematian bundaku. Aku menuju kamar adikku, kulihat dia masih belum siuman, entah untuk ke berapa kalinya dia pingsan. Aku duduk di sampingnya, ku tatap wajahnya yang memerah, matanya yang bengkak. Dia terlihat begitu kuyu. Kini kami bertiga telah menjadi yatim piatu. Kasihan sekali adikku, walaupun aku juga tidak bisa menerima kenyataan ini. Kuusap keningnya, sambil memanggilnya dengan lembut.

“Nabil, Bil, bangun sayang,” ucapku sambil tetap mengusap-usap kepala dan wajahnya. Ku gerakkan bahunya sambil terus memanggil namanya. Berharap dia segera siuman. Tak lama kemudian dia siuman. Matanya mulai membuka, memandang ke arahku. Dia bangkit dari tidurnya, memelukku erat-erat sambil menangis kencang.

“Bunda, Mas, bunda. Nabil ngak punya bunda lagi Mas,” ucapnya sambil meraung keras. Aku hanya bisa menangis sambil memeluknya. Tak ada kata yang keluar.

“Sssstt. Sssstt. Sssstt,” aku berusaha menenangkannya. Dia tetap menangis.

“Siapa yang tega membunuh bunda, Mas?” tangisnya yang hilang timbul sambil sesegukkan. Aku merasakan kesedihannya yang mendalam.

“Kita berdoa, semoga bunda khusnul khatimah ya. Nabil mau duduk dekat bunda?” tanyaku.

Dia hanya mengangguk. Ku bimbing dia turun dari ranjangnya, menuju ruang keluarga, di mana bundaku dibaringkan. Darah yang tadi berceceran telah dibersihkan. Sanak keluarga dan beberapa orang tetangga masih berkumpul di sana. Adikku menangis histeris, ku peganggi tubuhnya yang mulai limbung. Adikku pingsan lagi, begitu dalam kesedihan yang kami rasakan. Dibantu kerabatku, aku membawa adikku kembali ke kamarnya.

Aku begitu lelah, namun mataku tak bisa terpejam. Aku berada di samping jenazah bundaku. Selalu kupanjatkan doa-doa, memohon ampunan untuk bundaku. Hari menjelang pagi, aku telah meminta pertolongan pamanku yang tinggal di ibukota provinsi untuk menjemput mbakku di bandara. Sementara aku beserta kerabat sibuk, menyiapkan semua yang diperlukan untuk memandikan dan mengkafani jenazah bundaku. Aku membimbing adikku untuk ikut memandikan jenazah bundaku, adikku hampir pingsan lagi, aku menguatkannya, ini terakhir kalinya kami bertemu bunda. Kami ingin menemani bunda hingga nanti mengantarkannya ke liang lahat. Setelah mengkafani jenazah bunda, kami duduk di samping bunda sembari menunggu kedatangan mbakku.

Sekitar pukul sebelas siang, mbakku tiba di rumah. Tangis kembali pecah di ruang keluarga, semua ikut menangis, adikku kembali pingsan. Mbakku teriak histeris, begitu mengetahui kalau bunda korban pembunuhan. Dia begitu marah, dia memintaku berjanji untuk mengungkap kematian bunda dan menangkap pelakunya. Sanak keluarga berusaha menenangkan kami. Menjelang shalat dhuhur, kami beserta semua yang hadir berangkat menuju masjid yang hanya berjarak sepuluh meter dari rumahku. Kami menunaikan shalat dhuhur, dilanjutkan dengan shalat jenazah. Kemudian kami berangkat menuju pemakaman.

Di pemakaman, aku turun langsung, memakamkan bundaku. Aku ingin mengantarkan untuk terakhir kalinya. Mbak dan adikku kembali menangis histeris, begitu jenazah dimasukkan ke liang lahat. Ku lihat, adikku telah pingsan lagi. Aku ikut membantu pemakaman hingga selesai. Kini saatnya kami membaca doa bersama yang dipimpin imam masjid. Setelah selesai, tetangga, teman dan kerabat, mulai pulang. Namun kami dan kerabat dekat masih tak bergeming di depan makam bundaku. Kami enggan meninggalkan bunda yang mungkin telah beristirahat dengan tenang. Kupanjatkan lagi doa untuk bundaku. Mungkin kami akan larut dalam kesedihan ini, semoga tidak berlarut-larut.

Malam ini, takziah pertama kami ikuti dengan suasana hati yang masih kalut. Air mata adikku yang masih saja mengalir, sesekali disekanya. Dengan pandangan kosong, dia selalu memandangi  foto bunda. Seakan tak percaya, apa yang baru saja terjadi. Sementara mbakku duduk di samping adikku, dengan mata yang masih sembab. Mencoba untuk menenangkan adikku. Walaupun orangtua kami telah tiada, namun masih ada kami kakak-kakaknya yang akan selalu menemaninya. Mereka berdua tak berkata apa-apa. Seakan hanyut dalam kenangannya masing-masing.

Kami mengadakan kegiatan takziah selama tiga hari. Kami bertiga tidak ada yang mau tidur di rumah, bayangan wajah bunda yang tergeletak berlumuran darah, terkenang darah yang berceceran di ruangan ini membuat hati kami semakin perih. Kami menginap di rumah tante Ida, adik bungsu bunda. Rumah tante Ida berjarak dua kilo meter dari rumah kami.

Di hari ke lima setelah pemakaman. Adikku masih terlihat sangat sedih, dia belum mau pulang ke pesantren. Air matanya masih saja berlinang, malas turun dari tempat tidur, tidak mau makan. Dia hanya mengaji sambil menangis. Hatiku makin teriris melihatnya. Aku kembali meminta izin kepada pimpinan pesantren, agar adikku dapat menenangkan dulu perasaannya.

Hari ini aku berangkat ke polsek, ingin mendapatkan perkembangan informasi mengenai penyelidikkan bundaku. Ada beberapa temuan yang aku garis bawahi. Yang pertama, tidak ada jendela ataupun pintu rumah yang rusak, bisa jadi memang kejadiannya terjadi pada saat bunda sedang berada di rumah dan pintu sedang tidak dikunci. Informasinya, pada saat tetangga mengecek ke rumah, pintu ruang keluarga memang dalam kondisi tidak terkunci. Yang kedua, bundaku masih mengenakan make up, kemungkinan terjadinya siang hari atau sebelum tengah malam. Karena memang biasanya bundaku mencuci mukanya setelah pulang dari pesta dan sebelum tidur. Pihak kepolisian masih terus mengembangkan kasusnya.

Setelah penyelidikkan dan pengejaran tersangka kurang lebih sepuluh hari, akhirnya pelakunya tertangkap di kabupaten lain. Habib mengabariku kalau pelakunya telah tertangkap dan ditahan di polsek. Untuk penyidikkan lebih lanjut. Bergegas, aku berangkat menuju polsek, penasaran ingin melihat siapa tersangkanya. Sesampainya aku dipolsek, Habib telah menungguku di pelataran parkir. Habib menyapaku, sambil menenangkanku. Aku makin penasaran, ada apa dengan Habib.

“Firman, sebelum kamu menemui pelakunya, aku harap kamu sabar ya,” ucapnya sambil memegangi pundakku.

“Siapa pelakunya, Bib?” tanyaku sambil memandangnya lekat-lekat. Aku berjalan tergesa meninggalkan pelataran parkir. Habib mengikuti langkahku dari belakang.

Sesampainya di ruangan, terlihat sosok yang membelakangiku, sedang berhadapan dengan petugas yang sedang menginterograsinya. Kudekati mereka, dan spontan aku langsung mendaratkan pukulan ke wajahnya. Aku dilerai Habib dan petugas lainnya.
“Sabar, Man, sabar” ucap Habib, sembari memegangi tanganku.

Betapa terkejutnya aku memandang wajah sosok tersebut. Wajah yang sangat tidak asing bagiku. Om Anto, saudara sepupu ayahku, yang tinggal satu kabupaten dengan kami.

“Firman, maafkan om. Om khilaf,” ucapnya lirih.

Aku terduduk lemas di pojok ruangan, tak mampu bicara apapun. Aku tak habis pikir, kenapa om Anto tega menghabisi nyawa bundaku. Apa salah bundaku terhadapnya. Aku begitu membencinya, kenapa begitu tega melakukan itu.

Dari hasil interograsi, om Anto mengaku terpaksa membunuh bundaku. Kronologisnya, om Anto sedang bertandang ke rumahku, ingin meminjam uang. Katanya dia terlilit hutang. Belum sempat mengutarakan niatnya. Bundaku berpamitan untuk berangkat ke pesta sebentar, sementara Om Anto menunggu di rumah. Dengan suasana rumah yang lengang, lama kelamaan syaitan merasuki pikiran jahat om Anto. Dia masuk ke kamar bundaku, menggeledah barang berharga milik bundaku. Ketika sedang mengumpulkan barangnya, bundaku telah tiba. Dan betapa terkejutnya bunda, mendapati Om Anto yang sedang mengambil barangnya. Bunda langsung berteriak, Om Anto panik. Om langsung menutup mulut bundaku, mendorongnya hingga ke ruang keluarga. Bundaku melawan, karena kalap om Anto memukulkan kepala bunda berulang-ulang ke dinding ruang keluarga. Belum cukup sampai disitu, Om Anto menuju dapur, menggambil pisau dan menghujamkannya berkali-kali ke tubuh bundaku. Kemudian Om Anto pergi meninggalkan rumah, menggunakan Honda Jazz milik bundaku.

Eza Avlenda, M.Si.
Guru MTs Negeri 1 Kota Bengkulu, Wakil Ketua Umum Pergumapi
Disiarkan pertama kali dalam kumpulan cerpen Kelukur Lara (Inspirator Academy, 2017)

SHARE THIS

Author:

Akun administrator website Perkumpulan Guru Madrasah Penulis.

0 komentar: