Selasa, 27 Februari 2018

Berawal dari Kasih Sayang

Metiherawati.com
Oleh Nur Hasanah Rahmawati, S.Ag, M.M.
Sekretaris Bidang Penulisan Bahan Ajar Pergumapi

SEORANG profesor pendidikan dari Cortland University, Thomas Lickona, mengungkapkan bahwa ada beberapa tanda-tanda zaman yang harus diwaspadai, karena jika tanda-tanda ini sudah ada, berarti bahwa sebuah bangsa sedang menuju jurang kehancuran. Salah satu tanda tersebut adalah meningkatnya kekerasan di kalangan remaja.

Kalau kita cermati, gejala kekerasan di kalangan remaja akhir-akhir ini sudah memprihatinkan. Tidak hanya kenakalan biasa, namun sudah mengarah pada kasus kriminal yang mengakibatkan kematian. Ironisnya bahkan pelaku dan korbannya masih sama-sama anak di bawah umur. Miris. Hal tersebut tentu berkaitan erat dengan input “pendidikan” yang selama ini diterima oleh para remaja. Baik itu di rumah, di sekolah maupun lingkungannya.

Menilik sistem pendidikan formal yang ada sekarang ini, sejak pendidikan anak usia dini hingga remaja cenderung berorientasi pada pengembangan otak kiri (kognitif). Sedangkan pengembangan otak kanan (afektif, empati, dan rasa) kurang mendapat perhatian. Sejatinya, pengembangan pendidikan karakter, atau  lebih mudahnya disebut pendidikan perilaku, justru berkaitan dengan optimalisasi fungsi otak kanan. Kenyataannya keberhasilan belajar anak masih dilihat dari sisi akademisnya. Misalnya pun sudah ada pendidikan karakter, seperti PKn, Agama atau budi pekerti, pada prakteknya masih menekankan pada aspek otak kiri yang berupa hafalan atau hanya sekedar anak “tahu”. Tujuan pengajarannya pun sebatas  mendapat nilai tuntas yang diwujudkan dari bilai hasil ulangan tertulis. Belum berlanjut pada pendampingan dan penilaian praktek perilaku sehari-hari. Sehingga pendidikan karakter yang ujudnya perbaikan perilaku anak belum bisa dibilang optimal. Wajar saja kalau sistem pendidikan seperti ini hanya lebih banyak menghasilkan siswa pintar tetapi kurang berakhlak. Dan akhirnya mencetak remaja yang “berpendidikan” tetapi berperilaku tidak terpuji.

Oleh karena itu, menyikapi keadaan tersebut, pendidikan keluarga dapat menjadi salah satu solusi mengatasi kurangnya pendidikan perilaku pada sekolah formal. Pendidikan keluarga menyeimbangkan ketimpangan input otak kiri dan otak kanan yang diterima anak-anak. Apalagi, keluarga merupakan “rumah” utama anak-anak, dimana sebagian besar waktu mereka berada di lingkungan keluarga. Secara kuantitas, sudah jelas pendidikan keluarga memegang porsi dominan bagi pembentukan karakter anak. Jika disempurnakan dengan kualitas yang baik, maka pendidikan keluarga akan menjadi “ruh” yang tidak hanya mewarnai tetapi mencetak anak-anak yang berkarakter sejak usia dini dan selanjutnya.

Permasalahannya justru muncul dari pendidikan keluarga itu sendiri. Mulai meredupnya nuansa kasih sayang dalam interaksi orangtua dengan anak-anaknya secara tidak langsung telah melahirkan anak yang berkarakter keras. Orangtua yang sibuk dan pulang dalam keadaan lelah membuat anak-anak menjadi korban “pelampiasan” kelelahannya. Tidak jarang orangtua marah-marah mendapati nilai anak buruk atau mendengar anak-anak bermasalah di sekolah. Padahal kasus anak tersebut adalah mata rantai dari kurangnya perhatian orangtua itu sendiri. Situasi “panas” yang berlangsung setiap hari dan terus menerus ini akan menggerus rasa kasih sayang antara orangtua dan anak atau sebaliknya. Di sinilah awal mula kegagalan pendidikan keluarga, karena inti pendidikan keluarga yang berawal dari kasih sayang sudah mulai luntur.

Fenomena tersebut sudah merambah kehidupan keluarga modern di era globalisasi ini. Banyak orangtua yang mengedepankan emosi disamping hati. Krisis kasih sayang antar anggota keluarga berkembang di tengah mewabahnya kekeringan sosial dimana setiap individu mengutamakan ego daripada empati pada orang lain, termasuk anggota keluarganya sendiri. Urusan kesibukan kerja menjadi dewa yang selalu digunakan sebagai alibi pembenaran sampai menelantarkan anak-anaknya.

Padahal, sejatinya, pendidikan keluarga adalah dunia pendidikan yang lahir dari rahim kasih sayang. Pendidikan keluarga berlangsung dalam suasana kekeluargaan dengan orangtua sebagai pendidik dan anak sebagai anak didik. Pendidikan dilakukan dengan hati lewat ungkapan  kasih sayang (love), ketulusan (sincerely), kejujuran (honesty), keagamaan (spiritual), dan suasana kekeluargaan (family atmosphere). Terlebih lagi orangtua tidak dibatasi ruang dan waktu dalam memerankan dirinya sebagai pendidik. Namun jika dalam keluarga sudah tidak tumbuh rasa kasih sayang antar anggotanya, bagaimana pendidikan keluarga bisa berlangsung sempurna?

Orang tua yang bijak hendaknya mengerti bagaimana menjadi pendidik bagi anak-anaknya. Dengan “kunci” sikap cinta dan kasih sayang, itu akan menjadi magnet yang luar biasa bagi anak-anak untuk “dekat” dengannya lalu “mendengar” kata-katanya. Melalui kelembutan, kesabaran, penerimaan, kedekatan, keakraban, serta sikap-sikap positif lainnya dalam berinteraksi, membuat anak “nyaman” menjalani proses pendidikan yang berupa arahan dan aturan yang dibuat orangtua. Sosok orangtua yang selalu menebar kasih sayang pada anak-anaknya akan melahirkan sebuah kharisma. Anak-anak akan mencintai orangtuanya dengan cara mengidolakannya, serta menempatkan dia sebagai sosok yang berwibawa dan disegani. Cinta adalah sikap batin yang melahirkan kelembutan, kesabaran, kelapangan, kreativitas, serta tawakkal. Jaring-jaring cinta yang ditebar oleh orangtua dengan penuh keikhlasan akan tersambut positif oleh anak-anaknya.

Respons balik dari rasa cinta anak-anak bisa terwujud melalui sikap-sikap positif. Seperti penghormatan, kepatuhan, motivasi belajar, kecintaan terhadap tugas yang diberikan, dan rasa ingin selalu menghargai nasehat orangtua yang dicintainya. Dengan sikap-sikap seperti ini maka anak-anak akan merasakan bahwa aturan-aturan dan tugas-tugas dari orangtua sudah bukan lagi sebagai kewajiban, tetapi sebagai kebutuhan. Maka akan muncul kesadaran untuk selalu menjadi “anak baik” selain juga mendorong gairah anak-anak untuk berprestasi. (*)

Artikel ini telah dimuat di Harian Bernas pada rubrik “Wacana”, Kamis 6 April 2017.

SHARE THIS

Author:

Akun resmi pengelola website Perkumpulan Guru Madrasah Penulis.

0 komentar: