Senin, 05 Maret 2018

Ketahanan Keluarga Basis Ketahanan Nasional

FreeImages.com
Noor Shofiyati

PERKEMBANGAN ilmu pengetahuan dan teknologi yang semakin pesat telah membawa dampak di berbagai lini kehidupan. Tak hanya positif tetapi dampak negatif pun seolah tak terbendung.

Perilaku hedonisme dalam kehidupan sehari-hari, meningkatnya perilaku merusak diri seperti penggunaan narkoba, meningkatnya kekerasan di kalangan remaja, semakin menipisnya perilaku hormat terhadap guru, orang tua, serta orang yang dituakan, budaya ketidakjujuran. Berbagai penyimpangan ini menunjukkan semakin kaburnya pedoman moral.

Semua harus menyadari bahwa kecerdasan intelektual tanpa diikuti oleh karakter atau akhlak mulia tidak akan ada gunanya. Karena dampak penyimpangan perilaku yang dilakukan oleh kelompok intelektual lebih membahayakan.

Karakter atau akhlak mulia harus dibangun. Membangun karakter atau akhlak mulia adalah melalui pendidikan, baik pendidikan di rumah, sekolah, maupun masyarakat. Pendidikan karakter ini tidak hanya dilakukan berdasarkan teori-teori yang ada tetapi seyogyanya juga dibangun melalui kegiatan sehari-hari.

Landasan paling dasar dan utama dalam membangun karakter adalah keluarga. Keluarga menempati posisi pertama dan utama karena di situlah seorang anak pertama kali belajar  mengenal diri dan lingkungannya. Menurut para ahli psikologi dan pendidikan anak bahwa tahun pertama dalam kehidupan anak merupakan masa paling penting bagi pembentukan kepribadian dan penanaman sifat-sifat dasar. Kuatnya pondasi pembentukan karakter dalam keluarga dapat menjadi penopong berdirinya bangunan kepribadiaan yang kokoh di atasnya.

Keluarga merupakan pilar utama pembangunan bangsa. Sehingga ketahanan keluarga sangat diperlukan untuk menciptakan bangsa yang kuat dan mencegah terjadinya tindak kekerasan di masyarakat. Maraknya berbagai kejahatan yang muncul akhir-akhir ini seperti anarkisme, budaya klithih, penganiayaan, serta penghilangan nyawa orang lain, mengindisikasikan rapuhnya landasan moral masyarakat, lemahnya ketahanan keluarga. Salah satu cara menghentikan semua ini adalah melalui ketahanan keluarga.

Apa yang dimaksud dengan ketahanan keluarga? Dalam Undang-Undang nomor 10 tahun 1992 tentang perkembangan kependudukan dan perkembangan keluarga sejahtera disebutkan bahwa ketahanan keluarga kondisi dinamik suatu keluarga yang memiliki keuletan serta ketangguhan dan mengandung kemampuan fisik-material dan psikis-mental spiritual guna hidup mandiri dan mengembangkan diri dan keluarganya untuk hidup harmonis dalam meningkatkan kesejahteraan lahir dan kebahagiaan batin.

Ketahanan keluarga sangat diperlukan karena ketahanan keluarga merupakan pondasi kekuatan bangsa. Bangsa yang kuat dibangun dari keluarga-keluarga yang juga kuat. Indonesian strong from home, istilah Ayah Edi, Pakar Parenting. Keluarga yang memiliki ketahanan dalam segala hal akan mampu mengantarkan anak-anaknya meraih kesuksesan, sukses lahir maupun batin. Sukses lahir bermakna sukses dalam kehidupannya di dunia, sedangkan sukses batin bermakna sukses menjadi pribadi salih, pribadi berakhlak dan berkarakter.

Kesadaran akan pentingnya ketahanan keluarga perlu dilakukan. Hal ini mengingat bahwa keluarga merupakan pilar bangsa sebagai unit terkecil dari bangsa. Dari keluarga kepribadian seseorang dibentuk. Hitam putihnya kepribadian seorang anak adalah bentukan keluarga. Sehingga menjadi penting untuk menjaga ketahanan keluarga.

Salah satu bagian dari ketahanan keluarga adalah kesejahteraan keluarga. Menurut BKKBN dalam makalah Ketahanan dan Kesejahteraan Keluarga oleh Herien Puspitawati bahwa kesejahteraan keluarga didasarkan atas kebutuhan dasar (sandang, papan, pangan), kebutuhan sosial psikologis (pendidikan, rekreasi, transportasi, interaksi sosial internal dan eksternal), serta kebutuhan pengembangan (tabungan, pendidikan khusus, akses terhadap informasi).

Munculnya kenakalan remaja dalam segala bentuknya salah satunya adalah akibat tidak adanya kesejahteraan dalam keluarga, tidak harmonisnya hubungan dalam keluarga. Sehingga remaja yang baru dalam masa pencarian jati diri mencari perhatian dengan melakukan hal-hal negatif. Perilaku remaja telah menguji ketahanan keluarga.

Thomas Licona menyebutkan bahwa ada 10 tanda kemunduran bangsa sebagai akibat rendahnya kualitas keluarga, yaitu meningkatnya kekerasan di kalangan remaja, penggunaan bahasa dan kata-kata yang memburuk, pengaruh peer group yang kuat dalam tindak kekerasan, meningkatnya perilaku yang merusak diri seperti: narkoba, sex bebas, dan alcohol, kaburnya pedoman moral baik dan buruk, penurunan etos kerja, rendahnya rasa hormat kepada orang tua  dan guru, rendahnya rasa tanggung jawab baik sebagai individu dan warga negara, ketidakjujuran yang telah membudaya, dan adanya rasa saling curiga dan kebencian di antara sesama.

Kesepuluh hal yang disebutkan oleh Thomas Licona telah terjadi saat ini. Hal ini berarti bahwa bangsa Indonesia telah mengalami tanda-tanda kemunduran. Jika tidak segera diatasi maka semakin lama semakin rapuh dan roboh. Sebagai bagian dari bangsa Indonesai tentu tidak menginginkan hal itu terjadi. Oleh karenanya setiap keluarga Indonesia harus mulai merefleksi diri. Apa kira-kira yang belum dan perlu dilakukan untuk mempertahankan ketahanan keluarganya.

Hal-hal berikut ini mungkin dapat dijadikan sebagai bahan refleksi sekaligus memulai untuk menata keluarga Indonesia. Pertama, menjadikan agama sebagai landasan dalam pendidikan dalam keluarga. Kedua, membina keharmonisan dalam keluarga. Ketiga, memperkuat ekonomi keluarga. Keempat, mengambil bagian dalam pendidikan karakter pada anak. Semoga dengan keempat hal tersebut keluarga Indonesia dapat mengembalikan ketahanannya. Sehingga ketahanan nasional pun akan menguat. Karena ketahananan keluarga adalah basis ketahanan nasional.

Noor Shofiyati, S.Pd. adalah Guru Matematika MTsN 9 Bantul dan Wakil Sekretaris Jenderal Pergumapi. Tulisan ini Dimuat pertama kali di Harian Bernas Rubrik Wacana Halaman 4 Edisi Kamis, 27 Juli 2017.

SHARE THIS

Author:

Akun administrator website Perkumpulan Guru Madrasah Penulis.

0 komentar: