Kamis, 01 Maret 2018

Budaya Prestasi MTs NU Pakis dengan Lima Disiplin Learning Organization


Dr. Najmah, S.Pd., M.Pd.
Kepala MTs NU Pakis, Ketua Bidang Penerbitan Pergumapi

KUALITAS madrasah dapat diidentifikasi dari banyaknya siswa yang memiliki prestasi, baik prestasi akademik maupun nonakademik, serta dari keberhasilan madrasah mencapai visi dan misinya. Melalui siswa yang berprestasi dapat ditelusuri manajemen madrasahnya, profil gurunya, sumber belajarnya, dan lingkungannya. Dengan demikian, kualitas madrasah adalah kualitas siswa yang mencerminkan kepuasan pelanggan, adanya partisipasi aktif manajemen dalam proses peningkatan kualitas secara terus menerus, pemahaman dari setiap orang terhadap tanggung jawab yang spesifik terhadap kualitas, setiap individu dalam madrasah dan stakeholders menyadari serta merealisasikan prinsip mencegah terjadinya kerusakan, dan melaksanakan pandangan bahwa kualitas adalah cara hidup (way of life) (Komariah dan Triatna, 2006).

Secara esensial, istilah mutu/kualitas merujuk pada suatu ukuran penilaian atau penghargaan yang diberikan atau dikenakan kepada barang (product) dan/atau jasa (service) tertentu berdasarkan pertimbangan objektif atau bobot dan/atau kinerjanya (Pfeffer dan Coote dalam Komariah dan Triatna, 2006). Jasa atau produk tersebut harus menyamai atau melebihi kebutuhan dan harapan pelanggannya. Dalam hal ini, mutu pelayanan madrasah ditunjukkan dengan berbagai prestasi yang diperoleh siswa.

Prestasi merupakan bukti kesuksesan dengan tujuan akhir yakni bermanfaat bagi sesama, bermanfaat dalam jangka waktu lama, ke banyak orang, semakin lama dan semakin luas. Prestasi hendaknya dijadikan budaya yang diraih terus menerus dan bisa dipertahankan dari tahun ke tahun, semakin meluas cakupannya, dan tidak insidental atau sekadar pencitraan saja. Budaya prestasi yang tumbuh di madrasah penting sekali dipelihara dan ditingkatkan sehingga akan dapat menjamin kebertahanan kualitas madrasah. Selain itu, semangat seluruh warga madrasah untuk memberikan produk/karya/hasil yang terbaik juga harus dipertahankan. Madrasah mana yang tidak beruntung jika setiap elemen pembentuknya berupaya untuk terus memberikan yang terbaik untuk madrasah. Hal ini dapat terwujud jika semua elemen pembentuk madrasah memiliki kebulatan tekad untuk mewujudkan visi madrasah, di samping visi yang dimiliki oleh masing-masing elemen. The Fifth Dicipline of The Learning Organization (Senge, 1994) menjadi jawaban atas kebutuhan madrasah untuk selalu menciptakan budaya prestasi. Dari penelitian Senge (1994) ada lima disiplin yang terbukti ada pada organisasi yang berkualitas, yaitu personal mastery, building shared vision, mental models, systems thinking, dan team learning.

Download file lengkap.

Disampaikan dalam rangka Kompetisi Guru, Kepala Madrasah, dan Pengawas Berprestasi Tahun 2015.

SHARE THIS

Author:

Akun resmi pengelola website Perkumpulan Guru Madrasah Penulis.

0 komentar: