Senin, 19 Februari 2018

Melejitkan Kemampuan Menulis Bahasa Inggris melalui Buku Harian

Skim.gs
Yayuk Kurniawati
Guru MAN Batu, Anggota Pergumapi

PERGUMAPI.or.id--Salah satu kunci sukses di era globalisasi ini adalah menguasai bahasa asing. Dengan menguasai bahasa asing rasa percaya diri seseorang akan meningkat. Di antara bahasa asing  yang menduduki urutan pertama adalah bahasa Inggris. Maka dari itu perlu bagi semua siswa di negeri ini baik menengah pertama atau  menengah atas untuk menguasai bahasa Inggris. Dalam menguasai bahasa Inggris ada empat keterampilan yang harus dimiliki oleh siswa yaitu mendengar, berbicara, membaca dan menulis. Diantara empat keterampilan tersebut, menulis merupakan  keterampilan yang paling sulit untuk dikuasai oleh siswa yaitu kemampuan dalam  menyusun kalimat bahasa Inggris.

Mengapa sulit? Hal ini disebabkan karena mereka sangat jarang melakukan kegiatan tersebut baik di rumah ataupun di sekolah. Di tambah lagi rendahnya motivasi siswa untuk berlatih menyusun kalimat dalam bahasa Inggris. Ada dua hal  yang menyebabkan  rendahnya motivasi tersebut yaitu (1) kurangnya penguasaan kosakata, (2) kurangnya pemahaman  siswa dalam menyusun kalimat bahasa Inggris, (3) banyaknya bentuk kalimat (tenses) dalam bahasa Inggris yang harus dipahami.

Di samping itu alasan yang tidak kalah penting adalah bahwa kecerdasan tiap manusia berbeda. Seperti yang dikemukakan oleh Howard Gardner  dalam Haviva (2013) bahwa ada delapan kecerdasan dalam diri manusia yaitu (1) kecerdasan berbahasa yaitu kecerdasan menggunakan kata secara efektif dalam tulisan maupun komunikasi (2) kecerdasan dalam menghitung angka-angka (3) kecerdasan dalam mempersepsikan dunia visual secara tepat dan akurat (4) kecerdasan yang berkaitan dengan keterampilan (5) kecerdasan yang berhubungan dengan musik (6) kecerdasan yang berkaitan dengan daya cerna terhadap lawan bicara (7) kecerdasan menganalisa dan memetakan keberadaan diri sendiri (8) kecerdasan yang berhubungan dengan alam sekitar. Dari kedelapan kecerdasan tersebut, kecerdasan yang mempengaruhi kemampuan seseorang dalam berbahasa asing adalah tingkat kecerdasan yang pertama yaitu kecerdasan berbahasa. Untuk memaksimalkan kecerdasan berbahasa diperlukan pemaksimalan otak kanan. Seperti yang dikemukakan oleh Haviva (2013) bahwa otak kanan bisa memfasilitasi seseorang untuk mengekspresikan kemampuan yang dimiliki.

Bagaimana caranya?

Berikut ini adalah jawaban dari pertanyaan di atas (1) belajar secara menyenangkan (2) Membiasakan diri menulis kalimat sedikit tapi konsisten dan istikomah. (3) Mengingat dan mengulang kembali. Mengapa harus menyenangkan? Belajar yang menyenangkan tidak akan membuat otak lelah. Otak akan bisa bekerja secara optimal dan hasilnya akan maksimal. Mengapa harus menulis sedikit ? Mengapa tidak sekaligus belajar dalam jumlah banyak? Berdasarkan fakta, belajar sedikit demi sedikit dan konsisten lebih efektif daripada sekaligus tapi dalam jumlah banyak.  Ditambah lagi Subachman (2014) menyatakan bahwa dengan menulis pemahaman seseorang akan ilmu pengetahuan akan menancap kuat  ke dalam otaknya. Mempertimbangkan penjelasan  tersebut  maka untuk memahami suatu ilmu bisa dilakukan dengan latihan menulis.Dan mengapa harus mengulang kembali? Dengan mengulang kembali kemampuan seseorang akan semakin bertambah dan meningkat.

Dari penjelasan diatas maka yang bisa dilakukan oleh seorang guru dalam rangka mengoptimalkan kemampuan siswa dalam menyusun kalimat dalam bahasa Inggris yang pertama adalah mempelajari kaidah yang melandasi pola ujaran dalam hal ini tatabahasa termasuk di dalamnya tenses atau perubahan bentuk kata kerja sesuai dengan keterangan waktunya. Langkah kedua adalah menentukan bentuk perubahan kata kerja (tenses) mana dulu yang harus diberikan. Dalam menentukannya, ada hal yang perlu dipertimbangkan yaitu karakter siswa itu sendiri. Dilihat dari karakter siswa yang suka bercerita ketika bertemu teman sekelas maka bentuk perubahan kata kerja(tenses) yang pertama yang harus di kuasai siswa adalah simple past tense dan yang kedua adalah Future tense. Kenapa yang kedua harus future tense? Karena siswa pada umumnya suka berangan – angan akan kegiatan kedepan yang akan dilakukan.

Yang berikutnya adalah guru harus benar- benar mempertimbangkan media yang akan digunakan agar dapat mengoptimalkan pembelajaran yang menyenangkan. Reiser dan Dick (1996) dalam Indriana (2011) menyatakan ada tiga kriteria utama dalam menyeleksi media pengajaran yaitu (1) kepraktisan (2) Layak atau tidaknya media bagi tingkat pengalaman siswa (3) kelayakan media dalam strategi pengajaran. Mempertimbangkan penjelasan sebelumnya maka media yang paling tepat adalah dengan memaksimalkan penggunaan buku harian.

Mengapa harus buku harian?  Mengapa tidak menggunakan media yang lebih canggih saja seperti menggunakan teknologi computer, dan video? Kan sekarang era serba gadget? Karena (1) buku harian itu praktis dan mudah didapat bahkan dapat dibuat oleh siswa  (2) buku harian bukanlah benda yang baru bagi siswa (3) bahasa yang digunakan lebih luwes dan cenderung bahasa sehari – hari (4) kalimat-kalimat yang tercatat pada buku harian pada umumnya adalah peristiwa yang sudah terjadi dimana dalam bahasa Inggris kalimat tersebut  masuk dalam kategori kalimat bentuk lampau atau simple past tense (5) dan berupa kalimat – kalimat rencana yang akan datang dalam bahasa Inggris kalimat tersebut masuk dalam kategori kalimat simple future tense.

Dengan pengoptimalan buku harian, siswa akan termotivasi dalam menyusun kalimat bahasa Inggris. Karena selama ini kebanyakan latihan yang diberikan di kelas adalah  menyusun  kalimat dalam bahasa- bahasa yang terlalu kaku dan tidak nyata terjadi. Tetapi apabila mengoptimalkan buku harian maka bahasa yang digunakan akan terasa lebih luwes dan hidup. Coba bandingkan dua contoh kalimat berikut ini; Kalimat pertama;  John went to America last year, Kalimat kedua Dear diary,  Today, I felt very happy.... Kalimat  yang pertama terasa kaku dan tidak nyata karena subyeknya adalah John, nama John  tidak mencerminkan nama asli siswa Indonesia dan siapa John itu? Tidak jelas. Sedangkan pada kalimat kedua lebih luwes dan hidup . Perhatikan kata awal “Dear Diary, Kata ini lebih luwes. Dan subyek kalimat tersebut adalah I (saya) jadi lebih nyata benar-benar menunjukkan pengalaman sang penulis dalam hal ini siswa itu sendiri. Dengan cara seperti ini akan memberikan pengalaman yang nyata pada siswa dan akan memberikan efek yang luar biasa karena dengan terlibat langsung dalam pembelajaran maka akan menancap lama di otak mereka.

Alasan yang berikutnya adalah buku harian merupakan  media yang nyata atau authentic bagi siswa. Pemanfaatan media seperti ini akan meningkatkan motivasi siswa dalam latihan menulis dan memahami bentuk kalimat dalam hal ini simple past tense dan future tense. Dengan latihan menyusun kalimat dalam bentuk simple past tense dan simple future tense secara intensif pada buku harian maka secara tidak langsung penguasaan kosakata siswa akan meningkat begitu juga dengan pemahaman akan simple past tense dan future tense juga meningkat. Latihan menulis dengan cara yang intensif seperti ini dan berulang - ulang akan mengasah ingatan mereka akan pemahaman perubahan kata kerja dan akan bertahan  lama di otak mereka seperti yang dinyatakan oleh Seifert (1983)  tugas guru untuk menyampaikan informasi baru yang bertujuan  memastikan terjadinya proses mengingat.

Kemudian bagaimana cara menerapkannya pada siswa? Pertama kali yang harus dilakukan adalah memperkenalkan konsep dasar dari kalimat berbentuk lampau atau simple past tense dan kalimat berbentuk future tense secara bertahap. Kemudian memberikan contoh  kalimatnya.  Sebagai contoh, setelah siswa diberi contoh , pada hari berikutnya siswa diminta untuk menuliskan apa yang telah mereka lakukan sebelum berangkat ke sekolah cukup sebanyak tiga kalimat. Di hari berikutnya meningkat sembilan kalimat begitu seterusnya sampai dirasa kemampuan siswa dalam  menyusun kalimat tersebut meningkat. Kemudian baru siswa diperkenalkan pada kalimat berbentuk future tense dan diberikan contoh kalimatnya. Pada hari berikutnya siswa diminta menuliskan tiga kalimat yang berupa rencana yang akan dilakukan besok. Begitu seterusnya sampai dirasa bahwa kemampuan siswa meningkat.  Secara teknis buku harian ini dikerjakan oleh siswa secara intensif di rumah. Dan dipantau oleh guru secara intensif pula.

Dengan kegiatan seperti penjelasan di atas maka konsep pemahaman siswa akan  kalimat dalam bentuk simple past tense dan future tense akan menancap pada otak mereka karena sering di ulang- ulang . Dan secara tidak langsung kemampuan penguasaan kosakata mereka juga akan meningkat karena ketika     setiap kali membuat kalimat yang baru pasti kalau tidak mengulang kata yang sama pasti akan  menggunakan  kata yang baru. Maka siswa akan sering membuka kamus untuk mencari kosakata yang baru tersebut. Bisa di bayangkan apabila dalam  sehari siswa membuat tiga kalimat dimana tiap kalimatnya terdapat minimal tiga kata baru. Maka sudah  sembilan kata baru yang diperoleh. Apabila latihan tersebut dilakukan secara istikomah dan konsisten maka dalam satu bulan sudah berapa kata yang dikuasai oleh siswa? Dalam satu semester sudah bisa diperkirakan kurang lebih sekitar 450 kosakata yang dikuasai oleh siswa.

Dari pemaparan diatas maka dapat disimpulkan bahwa buku harian dapat dijadikan media yang maksimal untuk mengoptimalkan kemampuan menyusun kalimat siswa dalam bahasa Inggris khususnya dalam bentuk simple past tense dan future tense.  Dengan pengoptimalan buku harian , siswa akan merasa belajar dalam suasana santai tapi serius. Tetapi yang perlu diperhatikan adalah tugas yang diberikan harus istikomah atau ajeg dan konsisten serta selalu dipantau oleh guru untuk mengetahui ada tidaknya peningkatan siswa dalam kemampuan menyusun kalimat tersebut. Dan yang tidak kalah penting adalah umpan balik dari guru kepada siswa atas apa yang telah dicapai. Dalam memberikan umpan balik sebaiknya dilakukan secara terencana dan bertahap. Hal ini dilakukan untuk memperingan tugas guru dan akan lebih efektif dan maksimal dalam memberi umpan balik.

Daftar Pustaka

A.B,Haviva. 2013. Rahasia Menguasai Bahasa Asing dengan Otak Kanan.Yogyakarta: DIVAPress
Indriana, Diana. 2011. Ragam Alat Bantu Media Pengajaran. Yogyakarta: DIVAPress.
Seifert, Kelvin. 2012. Pedoman Pembelajaran dan Instruksi Pendidikan.Yogyakarta: IRCiSoD
Soebachman, Agustin. 2014. 4 Hari Mahir Menulis.Yogyakarta: Syura Media Utama

SHARE THIS

Author:

Akun resmi pengelola website Perkumpulan Guru Madrasah Penulis.

0 komentar: