Minggu, 18 Februari 2018

Cerpen: Abhipraya

Shutterstock
Oleh Ikha Mayashofa Arifiyanti

Memoar tentangmu berkelindan pulang pergi, tatkala langkah kaki kembali singgah ke ruang ini. Ruang tempat kau mengawali hidup dan berjuang untuk hidupmu sendiri, duhai lelakiku, penunggu ruang peristri. Adalah salahku karena terlalu abai padamu waktu itu. Kenelangsaan kujadikan alasan untuk hirau akanmu sebagai amanah Tuhan. Bapakmu hilang digelandang perempuan jalang. Birahi yang menggelegak tak mampu ia tolak. Maka rahimku turut berontak tatkala amarah kian memuncak.

“Bayimu lahir prematur. Dokter memindahkannya ke ruang peristri begitu ia dilahirkan. Kondisinya rentan, kau harus bersabar,” kalimat pertama yang kudengar dari Ayah, saatku mulai tersadar dari bius lokal pasca-melahirkan dengan prosedur caesar.

“Aku ingin melihat bayiku,” kataku kemudian.

“Jangan, Maya! Kondisimu belum memungkinkan. Dokter bilang, kau boleh menjenguk bayimu jika pengaruh biusmu sudah hilang dan kau mampu berjalan dengan kakimu sendiri menuju peristri,” jawab Ayah dengan tegas.

Maka, demi keinginan untuk segera bertemu denganmu, kupacu tubuhku dari ngilu tajamnya jarum yang terajut rapi pada perutku. Tepatnya tiga hari, aku sudah mampu berdiri di atas kaki sendiri. Andaikata ngilu tak menggelayuti, aku sudah berlari menuju ruang peristri. Menemuimu, memagutmu, dan merengkuhmu dalam rindu yang memburu.

Hanya dari balik kaca, ya…, hanya dari balik kaca ruang peristri aku mampu memandangi tubuh mungilmu. Dokter mengatakan jika kondisimu masih lemah sehingga belum boleh kusentuh, apalagi kurengkuh. Pada situasi itu, tatkala ruang dan waktu menjauhkanmu dari dekapanku, maka dalam memandangmu ada rasa sakit yang menghimpit, ada rasa sesak kian mendesak, dan ada bias luka di antara bahagiaku menerimamu.

Pada saat yang sama, dokter mengatakan jika matamu mengalami cedera. Glaukoma konginetal namanya. Retina rusak sejak lahir sebagai dampak dari kelahiran prematur, yang akhirnya memengaruhi keseimbangan cairan mata dan menyebabkan tekanan tinggi pada bola mata. Karenanya, dokter memvonismu buta.

Vonis dokter tentangmu, sontak menghantam dan meruntuhkan ketegaranku. Andai saja kumampu memberi cahaya pada mata kecilmu yang tak bernyawa, memberi energi pada tubuhmu yang hampir mati, memberi warna pada harimu yang tak bermimpi, maka akan kulakukan dengan segenap hati.

Saat matamu mulai menatap dunia dengan gelap yang pekat, saat kolostrum tak mampu mampir ke mulut mungilmu, maka hanya rengsa yang mampu kusandarkan dengan seribu isak yang menghentak. Dan dalam isak itu, tiba-tiba saja ada kekuatan yang memalu. Seolah menuntunku untuk membesarkanmu, sendiri, tanpa lelaki.

Lima tahun adalah waktu yang sangat berharga dalam catatan sejarah takdirku memilikimu, Abhipraya, anakku. Namamu adalah doa tentang pengharapanku sebagai ibu akan kesembuhanmu. Dan dalam lima tahun itu, selalu kuceritakan kepadamu setiap pertemuanku dengan para sebayamu. Mengajarimu mengenal aksara, warna, dan indahnya dunia melalui suara, karena hanya suara melalui indera pendengaran sajalah yang mampu kau cerna.

Tak hanya itu, kubagi mataku untuk mendiskripsikan warna dunia, kubagi mulutku untuk menyuarakan segala cerita dan lantunan ayat-ayat suci agar hatimu damai. Bahkan, akan kubagi segala hal yang tak mampu kau lakukan karena keterbatasan yang Allah takdirkan. Sambil mendekapmu, kan kuuntai kisah penghalau resah. Meski tak mampu kurahasiakan lara, saat mataku menjelajah mata sunyimu yang kosong. Tapi percayalah, esok hari dan esoknya lagi, akan terus mengalir kisah-kisah baru tentang para sebayamu, tentang indahnya dunia di luar sana.

Hingga di suatu senja yang kelabu, tubuhmu tiba-tiba membiru. Detak jantung tak terdengar menggaung. Aku pun meraung. Kularikan tubuh rentanmu ke rumah sakit tempatmu dirawat dulu.

“Dokter…, tolong anakkuuu….!” Hanya itu kalimat yang mampu terujar saat tubuh rentannya berpindah dari emergency bed. Entah apa tindakan dokter terhadapmu, yang jelas mati rasaku, mati ragaku, mati ketegaranku. Lalu lelapku lunglai lepas. Menutup mata pada bingar yang menggelasar. Terkapar aku dalam ketaksadaran.

Begitu siuman, kukejar episode yang terpenggal. Ya, kubangun ingatan sebelum pingsan. Anakku butuh pertolongan. Maka, berlariku entah ke mana. Tangan Ayah segera menggapaiku. Ia rengkuh bahuku dan memelukku dalam tangis yang menyayat.

“Ada apa, Yah. Mana Abhipraya?” kataku dengan terisak.

“Sabar…sabar…Anakmu sudah berpulang. Allah lebih menyayanginya daripada kita. Kuatkan…kuatkan.”

Kuseka air mata, kuhimpun ketegaran yang mengambang. Kulepaskan pelukan Ayah dan bertanya ihwal kepergian Abhipraya. Dokter yang sebenarnya berada di antara kami sejak tadi, menjelaskan jika gangguan pernapasanlah yang menjadi penyebab utama anakku meregang nyawa. Aku pun harus menerima segala takdir, meski teramat getir.

Satu satu kulepas dan kutanggalkan harap. Ya, harapan yang menjadi kekuatanku dalam membesarkanmu. Namun kini, harapan harus kupupus tulus, karena redup lilin yang semula menyala, kini gulita oleh sepoi angin yang semilir. Aku, Ibumu, hanya mampu menjagamu dalam batas waktu lima tahun usiamu. Damailah kau di sana bersama sang Khalik. Damai demiku seperti sejuknya air di rongga dada.

Siang ini kutelusuri kembali koridor rumah sakit tempatmu dilahirkan dalam kediaman yang menyayat, dalam dingin ruangan yang menusuk, dan dalam kecipak air mata yang menggantung. Memoar tentangmu serupa slide yang melaju. Kuputar ulang dengan seribu ngilu hingga tangis menggema dari mataku yang kerontang, hingga doa merapal dari bibirku yang menghitam. Dan di ruang itu, ada jiwa-jiwa baru dan seribu pengharapan akan kehidupan dari para orang tua, saudara, dan orang-orang terkasih. Serupa halnya pengharapanku dan orang-orang yang mengasihimu, dulu, padamu, Abhipraya.

(persembahan khusus untuk anak lelakiku penderita cerebral palsy, Faza)

Cerpen ini dimuat dalam antologi Selendang Mayang; Short Stories froum Around the World (2017), dikarang oleh Ikha Mayashofa Arifiyanti, S.Pd.,M.A., Sekretaris Bidang Kepenulisan Sastra pada Pergumapi.

SHARE THIS

Author:

Akun resmi pengelola website Perkumpulan Guru Madrasah Penulis.

2 komentar:

  1. Sebuah alur cerita yang menyentuh nurani, mengurai air mata. semoga bisa mjd guru bagi semua yg membacanya.. 👍

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih telah menyempatkan membaca, Pak. Terima kasih pula untuk ulasannya.

      Hapus