Puisi: Truntum

Oktober 02, 2019
Rabu, 02 Oktober 2019
Salah satu motif truntum. Sumber: Wikimedia/Bagus Priyambada
Oleh Siska Yuniati

Ungu menunggu di kamar kalbu, jingga
singgah menelikung wajah, garis lengkung
mengalir tawa gadis kampung

Malam beku, canting mematri layu pendar
lintang di langit kuyu

Rinduku bergelut sepi dan kepulanganmu
pagi ini, di sebalik harem putih yang sunyi

Berulang, kuteduh pandang sebagai bakti
tak ingin kugores luka di wajahmu walau setitik
meski dari rahim kerontang
menunggu orok tak kunjung datang

Tegaplah kanda, ambil dia yang terpilih
untuk kau sanding tanpa ku menjadi tersisih
tak akan kuanggap ia lawan tanding
apalagi pesaing dari negeri asing

Kedatangannya adalah penawar dahaga
cinta kita sejak awal bersua, biarlah anak-anak
lahir dari rahimnya agar cerita negeri ini terus berjejak

Usah kau resah dengan mataku yang memerah
tetes air ini adalah laku pasrah usai tetirah
menjalani takdir Sang Maha Mirah
kiranya kita diberi berkah

Lihatlah kanda, lihatlah
telah kulabuh segala gundah
dalam kain hitam bertabur bintang, terang meski tanpa bulan
kusemat garuda di antaranya
tuk kepakkan sayap menerjang rintang

Pergilah kanda, pergilah
aku truntum, permaisuri agung, memangku titah raja

Bantul, Mei 2016

Catatan:
Puisi ini merupakan pemenang pertama lomba puisi pada Festival Sastra Universitas Gadjah Mada tahun 2016.

Thanks for reading Puisi: Truntum | Tags:

Next Article
« Prev Post
Previous Article
Next Post »

Related Posts

Show comments
Hide comments

0 komentar on Puisi: Truntum

Posting Komentar