Jumat, 18 Mei 2018

Sebuah Repertoar tentang Perempuan


PEREMPUAN dan perannya ibarat repertoar yang selalu siap tampil dalam panggung kehidupan umat manusia. Kehadirannya akan selalu memberi warna dan nuansa tersendiri. Terkadang, warna tersebut terlihat jelas dan membuat kita berdecak kagum. Namun, acap pula kita rasakan sebagai sebuah kelaziman tanpa terlintas betapa itu luar biasa. Tentulah berbicara tentang perempuan, tak akan ada habisnya. Kita bagaikan menyibak samudera kehidupan yang tak pernah kering dan penuh misteri.

Hal menarik manakala misteri perempuan itu digambarkan dalam 90 puisi yang ditulis oleh guru madrasah yang tergabung dalam Pergumapi (Perkumpulan Guru Madrasah Penulis). Dalam puisi-puisi ini, perempuan tidak saja digambarkan sebagai seorang yang lemah lembut, akan tetapi juga sebagai manusia tangguh sekaligus manusia terombang-ambing dalam menghadapi kerasnya hidup.

“Si Mbok Penjual Daun Singkong” karya Ahmad Hanapiyah misalnya, mencoba memotret perempuan tua dengan lika-likunya sebagai penjual daun singkong, disandarkan onthel di pagar pasar / ditaruh bakul butut di emperan dekil / ditawarkan beberapa ikat daun singkong / berkali-kali di puluhan muka yang melewati / dan berkali-kali senyum keriput merayu hati / sudilah kira menukar koin lima ratus / dengan seikat harapan untuk nasi dan ikan asin / di sore nanti.

Puisi lain yang menggambarkan ketegaran perempuan juga dilukiskan Anuk Kuswanti dalam puisi berjudul “Wanita Perkasa”, Duhai Wanita Perkasa / Pedih perih sengatan mentari /Lebur dalam hamparan permadani / Dingin hujan menusuk sendi / Tak surutkan langkah kaki.

Di balik kelembutan serta diamnya, rupa-rupanya perempuan sanggup menahan gelombang hidup yang kadang tak mengenakkan. Keadaan yang serba terbatas, pedih, kadang justru semakin menguatkan jiwa seorang perempuan. Keadaan tersebut direkam Umi Solikatun dalam puisinya “Karena Aku Perempuan”, Kelembutanku tak berarti lemah / Gemulaiku tak berarti payah / Menangisku tak berarti kalah / Diamku tak berarti menyerah.

Ide-ide tersebut kendati tidak mendominasi keseluruhan antologi puisi ini, tetapi cukup menggambarkan bagaimana sejatinya jiwa seorang perempuan. Perempuan yang menjelma kukuh manakala ia dihadapkan kepada himpitan hidup. Apa pun sanggup ia berikan lantaran rasa cinta kepada anak-anak, suami, bahkan negerinya. Kiranya, hal tersebut menguatkan apa yang disampaikan Sir William Golding, sastrawan Inggris, bahwa perempuan akan memberikan lebih dari apa yang engkau berikan, ... if you give her a house, she will give you a home. If you give her groceries, she will give you a meal. If you give her a smile, she will give you her heart ....

Ide lain yang diangkat oleh penulis dalam antologi ini adalah sosok ibu. Lebih dari 30 puisi berbicara tentang ibu. Ibu sebagai mata air kasih sayang, juga sebagai muara kerinduan. Bagaimana pun juga, dalam pengasuhan perempuanlah kehidupan bermula. Dengan kodrat di tangan perempuan, diantarkannya manusia-manusia baru ke muka bumi. Hal ini tergambar dalam puisi Ayu Dewi, Atas kehendak-Nya / aku tercipta untuk melahirkanmu. Sebagai seorang ibu, Ayu Dewi mengerti betul bagaimana peran dan keikhlasan seorang perempuan yang bernama ibu ketika mengantarkan seorang manusia ke muka bumi.

Pengantaran dan keikhlasan juga dapat dilihat dalam puisi “Panggilan dari Langit” karya Nur Hasanah Rahmawati, Diakah wanita itu? / Yang mengantarku ke dunia / Yang merelakan bagian tubuhnya menjelmaku. Dalam puisi ini, kita lihat, bahwa perempuan bukanlah kurier yang melepas tanggung jawab seketika saat kiriman sampai ke tujuan. Perempuan tidak sekadar itu, dia bahkan merelakan bagian tubuhnya untuk serta dan menyertai kehidupan manusia baru yang dilahirkannya.

Kita saksikan para perempuan yang telah melahirkan harus mengambil risiko untuk menjadi lebih gendut, keriput, gigi keropos hingga kualitas penglihatan yang semakin mengabur. Dalam keadaan tubuh yang terambil sedemikian rupa, perempuan masih punya tanggung jawab mengawal kehidupan baru yang dilahirkannya. Dalam pengawalan ini, disertakannya lagi kualitas keikhlasan yang tidak berubah.

Penggambaran tersebut akan mengingatkan kita betapa seorang ibu telah mengalami kepayahan saat hamil, melahirkan, serta menyusui buah hatinya. Sebagaimana yang tertulis dalam Q.S. Lukman ayat 14, “Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapanya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepadaKu dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu.” Dengan tingkat keikhlasan yang demikian, imbalan pantas ketika perempuan terpilih menjadi tempat berlabuh dan kembalinya hati yang lelah seperti dalam puisi karya Siska Yuniati yang berjudul “Sajak Lelaki di Atas Kapal” ini, Tunggulah. Bila musim itu tiba. Aku kan datang tuk mengarungi lautmu nan teduh. Dan kau pun tahu, di sanalah kembali aku berlabuh. Atau, puisi karya Ahmad Hanapiyah, Ibu, dekap erat aku. / Senandungkan lagu pilu itu untuk pengantar tidur panjangku.

Demikian istimewanya seorang perempuan, hingga ia dapat memengaruhi kehidupan suami, keluarga, juga masyarakat. Bahasan akan kiprah perempuan tersebut di antaranya tergambar pada puisi Rohani Ningsih. ... Wahai wanita yang berbudi / Jangan tinggalkan hakikat diri/Secara kodrati engkau pencetak insani / Dari rahimmulah akan tumbuh tunas-tunas muda generasi bangsa ini. Begitu juga dalam karya Pujarsono berikut. ... Wanita itu mahluk istimewa / ia bisa menjadikan pria apa saja // dengan pesona dan kekuatan cintanya / ia bisa mengubah // pria lemah menjadi kuat / pria kuat menjadi lemah / pria miskin menjadi kaya / pria kaya menjadi miskin.

Tidak cukup dengan mengusung ide penting akan peran perempuan, beberapa puisi juga menampilkan sosok perempuan hebat pengukir sejarah. Pujarsono mencoba mengisahkan umul mukminin dalam puisi berjudul Khadijah. Begitu pula Siti Nur Rohmah, ia bercerita akan sosok Khadijah dan Aisyah. Sementara Yulian Istiqomah mengungkap perjuangan Kartini.

Dalam menjalani perannya yang extraordinary, ternyata perempuan hanyalah ordinary people yang hati bahkan tubuhnya harus dijaga dengan baik, entah oleh seorang ayah, seorang suami, seorang anak, seorang saudara, bahkan oleh para perempuan itu sendiri. Bagaimana pun juga, hati perempuan laksana kaca yang mudah tergores. Puisi karya Nur Hasanah Rahmawati sedikit-banyak menggambarkan bagaimana hati perempuan kala dirundung nestapa, Bahkan masih menjejak di rasaku / Lebam luka yang menyisakan perih / Pun pedih menghunjam relung jiwa / Lalu seonggok tubuhku / Meringkuk dalam ruang gelap. 

Dalam puisi karya Ikha Mayashofa, perempuan yang dirundung nestapa bisa jungkir-balik yang membuktikan betapa ordinary kehadiran perempuan. Sepisau luka masihlah nganga / pada dada jelaga dengan peluh selaksa / di bola matanya kutemukan tangis meluruh / mengepung benteng ketegaran hingga merapuh.

Itu adalah di antara pandangan 49 penulis yang keseluruhannya guru madrasah. Delapan di antaranya adalah guru laki-laki. Dengan demikian, antologi puisi ini cukup “renyah”. Tidak hanya perempuan yang berbicara tentang perempuan, tetapi juga terangkum sudut pandang lelaki akan perempuan.

Membaca satu per satu puisi dalam buku ini seolah sedang merenangi samudra dan tiba-tiba berada di taman bawah laut yang baru kita mengerti keunikannya. Lebih dari itu semua, para penulis antologi ini adalah “orang tua” bagi generasi Indonesia yang akan datang. Di tangannya repertoar kehidupan tersimpan. Dari tangan dinginnya, tentu saja akan terpilih senandung indah masa depan Indonesia. (*)

Siska Yuniati, Ketua Umum Perkumpulan Guru Madrasah Penulis. Tulisan ini merupakan catatan pengantar antologi puisi Repertoar Perempuan.

SHARE THIS

Author:

Akun resmi pengelola website Perkumpulan Guru Madrasah Penulis.

2 komentar: