Senin, 05 Maret 2018

Urgensi Literasi Keuangan untuk Anak

Luigiwewegefoundation.com
Oleh Sri Narwanti

PERNAHKAH Anda memperoleh pembelajaran tentang mengelola keuangan? Apakah anak-anak kita belajar bagimana mereka mengelola uang? Pertanyaan-pertanyaan sederhana ini menjadi menarik, ketika beberapa aspek dalam kehidupan kita seringkali bersentuhan dengan uang. Literasi keuangan idealnya bukan hanya kebutuhan pengusaha atau ekonom saja. Setiap individu idealnya memiliki pengetahuan dan pemahaman tentang literasi keuangan.

Literasi keuangan seringkali juga disebut sebagai melek finansial atau financial literacy. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mendefinisikan literasi keuangan adalah rangkaian proses atau aktivitas untuk meningkatkan pengetahuan, keyakinan dan keterampilan konsumen dan masyarakat luas sehingga mereka mampu mengelola keuangan dengan baik. Ada hubungan yang signifikan antara literasi keuangan dengan kondisi ekonomi negara secara makro. Hal ini berdasarkan hasil riset dari ADB (Asian Development Bank) Institute yang dipublikasikan tahun 2015 dengan judul 'Financial Education in Asia: Assessment and Recommendations'. Publikasi ini membandingkan korelasi antara GDP percapita dengan beberapa indikator financial development di beberapa negara Asia Pacific (Republika.co.id).

Akhir-akhir ini pendidikan tentang literasi keuangan sudah menjadi perhatian di berbagai negara. Literasi keuangan sudah diajarkan di negara-negara maju untuk membantu anak-anak agar mereka siap menjalani kehidupan modern dan dapat mengambil keputusan-keputusan yang berhubungan dengan uang. Pentingnya  kesadaran yang semakin nyata akan korelasi antara kemampuan tentang pengelolaan keuangan dengan kesejahteraan manusia dan sebuah negara. Kejadian yang berkaitan dengan kesalahan pengelolaan finasial misalnya laporan dari utang kartu kredit yang tinggi, tingkat tabungan yang rendah dan negatif, dan peningkatan kebangkrutan pribadi menyebabkan banyak negara untuk mengadopsi kebijakan pendidikan keuangan (Bernheim, Garrett & Maki, 2001). Di Indonesia, edukasi tentang literasi keuangan mulai digagas oleh OJK sejak tahun 2013. Edukasi tentang literasi keuangan sudah dilaksanakan di berbagai wilayah dengan target pembelajar yang beragam.

Nah, sejak usia berapa pengetahuan tentang keuangan perlu diajarkan? Jawabannya tentu sejak dini, karena anak-anak juga perlu tahu dan menghargai uang. Setidaknya mereka perlu diajari dan terbiasa untuk membeli kebutuhan (needs) terlebih dahulu, sebelum membeli keinginan (wants). Beberapa ahli keuangan juga merekomendasikan agar pendidikan keuangan diberikan sejak dini (Mandell, 2009). Pengetahuan literasi keuangan yang diajarkan sejak dini akan terakumulasi hingga dewasa. Pengetahuan literasi keuangan tersebut akan memberikan dampak pada meningkatnya kemampuan mengelola keuangan, membuat keputusan keuangan yang lebih bijaksana, merencanakan pembelian, mempunyai kebiasaan menabung, dan menurunkan tingkat kecenderungan korupsi. Suiter dan Meszaros (2005) juga menunjukkan bahwa anak-anak dapat memperoleh manfaat dari pendidikan keuangan, yaitu anak-anak dapat mengendalikan diri agar tidak menghabiskan uangnya untuk berbelanja mengikuti tren mode dan iklan.

Pertanyaan lain muncul, di mana anak-anak usia dini diajak belajar tentang literasi keuangan? Apakah di sekolah atau dirumah? Jawabannya tentu kolaborasi antara keluarga dan sekolah.

Keluarga

Dari keluarga seseorang mempelajari banyak hal, dimulai dari bagaimana berinteraksi dengan orang lain, menyatakan keinginan dan perasaan, menyampaikan pendapat, bertutur kata, bersikap, berperilaku, hingga bagaimana menganut nilai-nilai tertentu sebagai prinsip dalam hidup. Nah , hal-hal yang berkaitan dengan keuangan seringkali dipelajari dengan melihat atau meneladani kedua orangtuanya. Pengetahuan, pemahaman dan ketrampilan dalam manajemen keuangan merupakan investasi berharga bagi seorang anak untuk hidup mandiri saat ia sudah dewasa kelak. Berbagai aktivitas sederhana bisa dilakukan oleh orangtua bersama anak untuk belajar tentang literasi keuangan. Kegiatan itu antara lain:

1. Mengenal konsep uang

Kenalkan pada anak apa itu uang, jelaskan dengan cara yang sederhana. Tunjukan bentuk uang yang biasa digunakan sehari-hari, kemudian jelaskan fungsi penggunaannya. Selain itu bisa dijelaskan juga bagaimana cara memperolehnya? Berikan contoh ayah atau ibu bekerja untuk bisa memperoleh uang.

2. Ajak anak belanja bersama

Jika pada langkah pertama anak sedikit banyak telah dijelaskan fungsi uang, maka langkah selanjutnya adalah mengajak anak praktek secara langsung tentang penggunaan uang. Dengan berbelanja bersama anak-anak juga bisa belajar tentang mengelola pilihan.

3. Beri anak anda uang saku

Pemberian uang saku akan melatih anak  mengelola keuangan secara sederhana. Idealnya anak dibimbing untuk mengelola uang sakunya dengan bijak, bahwa uang saku bukan untuk dibelanjakan semua. Pemberian uang saku tujuannya adalah  membiasakan anak memegang uang, mengambil keputusan keuangan, dan mengelola keuangan sendiri. Hal-hal yang perlu diperhatikan oleh orangtua ketika memberikan uang saku antara lain mekanisme, nilai uang, frekuensi, anggaran menabung serta evaluasi. Evaluasi penting dilakukan untuk terus melatih pembiasaan pengeloaan uang saku secara bijak.

4. Ajari anak menabung

Untuk mendorong kebiasaan menabung, orangtua dapat membelikan dompet atau celengan dengan tokoh favorit anak anda. Beberapa ahli menyarankan untuk memberikan anak tiga wadah yang berbeda untuk menempatkan uangnya, satu untuk tabungan, satu untuk belanja, dan satu untuk berbagi/ sedekah. Untuk menabung anak juga bisa dikenalkan menabung bank. Saat ini sudah banyak produk jasa perbankan yang bisa digunakan oleh konsumen anak.

5. Ajari berbagi

Mendidik anak untuk berbagai, paling efektif dengan contoh. Orang tua yang dermawan tentu tauladan yang baik bagi anak-anak.

6. Memberi teladan

Terakhir, untuk mendidik anak tentang literasi keuangan. Teladan oarang tua adalah kunci. Orang tua mengajari anak menabung, hemat, mengelola pilihan dengan cermat bisa lebih efektif jika orang tua juga mampu melaksanakan itu semua.

Sekolah

Sekolah bekerjasama dengan OJK gencar mensosialisasikan literasi keuangan bagi pelajar, bahkan tahun 2016 terdapat nota kesepakatan OJK dengan kementrian pendidikan, dimana literasi keuangan masuk dalam kurikulum SD. Dampak dari sosialisasi ini terlihat nyata dari hasil survei literasi keuangan masyarakat Indeks literasi keuangan di 2016 mencapai 29,66 persen dan indeks inklusi keuangan mencapai 67,82 persen. Pada 2013, indeks literasi keuangan hanya 21,84 persen dan indeks inklusi keuangan 59,74 persen (Kompas.com). Harapannya dengan meningkatkan indeks literasi tersebut berdampak juga pada perubahan perilaku dalam mengelola keuangan . Semoga.


DAFTAR PUSTAKA

Bernheim, D. B., Garrett, D.M., & Maki, D. M. 2001. Education and saving: The long-term effects of high school financial curriculum mandates. Journal of Public Economics, 80 (3): 435-465.

Suiter, M. & Meszaros, B. (2005). Teaching about saving and investing in the elementary and middle school grades. Social Education, 69 (2), 92 – 95

http://www.republika.co.id/berita/ekonomi/makro/16/08/23/occql9383-ojk-literasi-keuangan-berperan-penting-dalam-pertumbuhan-ekonomi diakses Selasa 15 Mei 2017 pukul 11.22

http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2017/01/24/180000626/ojk.indeks.literasi.dan.inklusi.keuangan.indonesia.meningkat diakses Selasa 15 Mei 2017 pukul 11.52

Sri Narwanti, S.Pd. adalah Guru Ekonomi dan Kepala Perpustakaan di MAN II Yogyakarta, serta anggota Perkumpulan Guru Madrasah Penulis (Pergumapi).

SHARE THIS

Author:

Akun administrator website Perkumpulan Guru Madrasah Penulis.

0 komentar: