Selasa, 20 Februari 2018

Madrasah: Berbenah dan Merekah

Foto: Kemenag DIY
PERGUMAPI.or.id--Siapa tak kenal Ahmad Dahlan, Hasyim Asy’ari, Gus Dur, Nur Cholis Majid, Dahlan Iskan, dan Mahfud MD? Mereka ialah orang-orang yang sangat berpengaruh, berjasa, dan menjadi teladan di negara tercinta ini. Mereka dibesarkan oleh madrasah. Sesungguhnya masih sangat banyak “orang-orang besar” di negeri ini yang latar belakang pendidikannya madrasah. Namun, lembaga yang telah banyak melahirkan negarawan, bangsawan, budayawan, dan –wan –wan yang lain itu sering dicibirkan banyak orang dan berada di posisi marjinal. Mengapa?

Mengapa? Itulah pertanyaan singkat yang mengusik dan menggelisahkan saya selama ini Kegelisahan itu semakin bertambah ketika saya ditanya oleh tetangga, “Ibu mengajar di mana?” Lalu, saya jawab, “di MTs Bu.” “MTs itu apa, samakah dengan SMP Muhammadiyah?” tanya Ibu tadi. Adrenalin saya naik, tetapi tentu saya sembunyikan, sambil menjelaskan dengan pelan-pelan. Pertanyaan sejenis itu saya sudah saya terima berkali-kali, bahkan pernah juga ditanyakan oleh orang-orang terdidik. Sehubungan dengan itu, tulisan ini berusaha mencari jawaban atas pertanyaan singkat itu (mengapa…?)

Beda Madrasah dan Sekolah

Madrasah adalah sekolah umum. Ya, ini benar. Lantas di mana perbedaannya sampai ia harus disebut madrasah? Bedanya ialah pada kekhasan sistem. Madrasah ialah sekolah umum yang berciri khas Islam. Inilah kalimat kunci untuk memahami madrasah sebagai sekolah umum. Jadi, MI ialah SD islami, Tsanawiyah ialah SMP islami, Aliyah ialah SMA islami. Jadi, sekolah adalah lembaga pendidikan yang sistemnya bukan islami, sementara madrasah adalah lembaga pendidikan yang sistemnya islami. Selanjutnya, yang kurang dipahami, ialah tujuan pendidikan agama di madrasah bukanlah untuk menjadi ahli agama. Madrasah itu sama dengan sekolah, bedanya “hanyalah” keberagamaan siswa madrasah diharap lebih baik daripada siswa sekolah. Itu diharapkan muncul dari tradisi sehari-hari yang islami tadi.

Madrasah sebagai Pencetak Insan Intelektual dan Berkarakter

Di era globalisasi yang dijejali teknologi informasi yang berkembang dengan sangat cepat ini, sebagai orang tua kita harus pandai dan cerdas dalam memilih sekolah untuk anak kita. Mengapa selama ini madrasah selalu menjadi alternatif kedua para orang tua untuk menyekolahkan anak-anaknya? Tidak tahukah mereka bahwa madrasah dan sekolah itu sebenarnya “sama”?  Madrasah menjadi pelarian orang tua tatkala anak-anaknya tidak diterima di sekolah umum.. Seperti itulah gambarannya.

Hal ini mengindikasikan bahwa pendidikan Islam (dalam tulisan ini saya sebut madrasah) di Indonesia masih dibalut sejumlah problematika. Problematika yang telanjur berakar kuat dan mestinya segera ditindaklanjuti. Problematika madrasah dapat saya kemukakan sebagai berikut. Pertama, paradigma birokrasi tentang madrasah yang tidak dianggap bagian dari sektor pendidikan lantaran urusannya tidak di bawah kemdikbud. Kedua, mungkin ada anggapan masuk madrasah berarti telah mengumumkan keberpihakan, sementara masuk sekolah dianggap netral. Ketiga, pelajaran agama yang lebih banyak daripada di sekolah sehingga beban belajar anak lebih berat. Keempat, dan mungkin inilah penyebab utamanya karena anggapan bahwa mutu pendidikan umum (dilihat dari hasil UN) di madrasah masih di bawah sekolah.

Sebenarnya, membandingkan madrasah dengan sekolah umum, dengan  hanya melihat dari hasil belajar tahap akhir nasional sesungguhnya tidaklah adil. Kedua jenis lembaga pendidikan ini sesungguhnya menyandang visi dan misi dengan kondisi yang agak berbeda. Visi, misi, dan kondisi (katakanlah input siswa) yang berbeda tentu berimplikasi pada beban belajar dan perangkat pendukung yang berbeda pula. Ironisnya yang dilihat tatkala melihat mutu madrasah hanya tertuju pada ujian nasional dan tidak memperhatikan prestasi lainnya, misalnya keberhasilan dalam memperoleh prestasi kecerdasan spiritual maupun emosionalnya.

Melihat fakta-fakta di atas, artinya ada dua kunci madrasah akan berhasil menjaring banyak peminat, yakni (1) mutu pendidikan pada mata pelajaran umum setingkat dengan sekolah terbaik, dan (2) madrasah menjamin anaknya berakhlak baik. Jadi, pembinaan akhlak adalah kata kunci kedua untuk menarik minat orang tua menyekolahkan anaknya ke madrasah. Inilah tantangan sekaligus nilai plusnya madrasah. Dari segi desain kurikulum madrasah pun, tuntutan ini sudah terpenuhi. Tinggal kita sebagai warga madrasahlah yang berusaha mewujudkannya dalam mencapai visi dan misi madrasah kita. Kalau bukan kita, siapa lagi?

Eksistensi Madrasah di Tengah Globalisasi

Diakui atau tidak, madrasah adalah lembaga pendidikan yang menjalankan fungsi filterisasi terhadap pengaruh yang dibawa oleh arus globalisasi. Keberadaan madrasah adalah wujud partisipasi masyarakat yang menyadari betapa pentingnya madrasah untuk mempersiapkan peserta didik yang siap menantang perubahan zaman yang berimplikasi pada perubahan sikap dan tingkah laku yang semakin global. Miris mendengar kebejatan moral anak bangsa yang semakin tenggelam di era gawai sekarang ini. Sedih melihat kelakuan remaja usia sekolah yang tidak mengenal etika dan tata krama. Bagaimana masa depan bangsa kita andai ini terus dibiarkan saja?

Saat inilah merupakan saat kebangkitan madrasah. Ada beberapa indikator yang menegaskan hal tersebut. Pertama, prestasi siswa madrasah dalam berbagai lomba (bukan keagamaan) yang diikuti anak madrasah dan sekolah umum terus meningkat. Hal yang sama juga diraih oleh pendidik dan lembaganya, baik tingkat provinsi, nasional, maupun internasional. Kedua, sebagai contoh, beberapa waktu yang lalu (Juli 2017), 2 siswa MAN 3 Bantul meraih prestasi internasional dengan berhasil mendapatkan medali perak pada World Mathematic Invitational (WMI) 2017 pada grade 10 2016). Ada lagi siswa MAN 4 Jakarta yang telah lebih dari 10 kali menjuarai lomba robotik tingkat nasional dan internasional. Dan masih banyak siswa madrasah berprestasi lain yang tak bisa saya sebut satu per satu. Sungguh luar biasa.

Pada era ini pula, kompetensi mengajar dari para guru madrasah sudah tidak berbeda dengan guru sekolah. Madrasah sudah mempunyai guru-guru yang relevan pendidikannya dengan mata pelajaran yang diampunya dan sebagian besar pun sudah mempunyai sertifikat pendidik. Bahkan, sudah banyak guru madrasah yang berpendidikan S-2. Mulai tahun 2015, lebih dari 80% madrasah negeri maupun swasta sudah menerapkan kurikulum 2013 di pembelajarannya. Dengan demikian, tak perlu diragukan lagi, madrasah untuk saat ini sudah benar-benar bisa bersaing dengan sekolah. Jadi, untuk apa ragu lagi memasukkan anak-anak kita ke madrasah? Madrasah sudah berbenah dan merekah bagai kuncup bunga nan indah. Madrasah siap mengantar putra-putri bangsa menjadi generasi yang cerdas, berbudi luhur, dan berakhlak mulia. Ayo, sekolah ke madrasah! Madrasah lebih baik, lebih baik madrasah

Septy Andari Putri, S.Pd., M.Pd., Guru MTs Negeri 3 Kulonprogo dan Bendahara Umum Pergumapi. Tulisan ini disiarkan pertama di Majalah Bakti edisi Juli 2017.

SHARE THIS

Author:

Akun resmi pengelola website Perkumpulan Guru Madrasah Penulis.

0 komentar: