Selasa, 10 Desember 2019

Simposium Nasional Guru Madrasah 2019, Forum Ilmiah untuk Guru


Oleh Noor Shofiyati

BERBICARA tentang pendidikan tak lepas dari perbincangan tentang guru. Tak dapat dipungkiri saat ini peran guru dari sisi akademik telah banyak tergantikan oleh situs penyedia konten pembelajaran. Era disrupsi telah mendorong lahirnya digitalisasi sistem pendidikan. Munculnya inovasi aplikasi teknologi dalam bidang lain otomatis berimbas pada dunia pendidikan. Google yang tertanam dalam batangan Android milik anak pun sangat mungkin mengambil alih peran guru di ruang-ruang kelas.

Namun guru tak perlu risau. Muatan pendidikan di era Revolusi Industri 4.0 tidak semata menitikberatkan pada kompetensi tetapi juga karakter unggul. Kemajuan teknologi telah banyak membantu anak untuk mendapatkan informasi seluas-luasnya. Namun teknologi tak dapat  mengajari anak untuk menjadi pribadi-pribadi berkarakter. Di sinilah peran guru yang sesungguhnya, peran guru yang tidak akan pernah tergantikan oleh apapun.

Untuk menghormati jasa guru, pemerintah pun memberi perhatian dengan menetapkan tanggal 25 November sebagai Hari Guru Nasional (HGN). HGN biasanya dijadikan momentum bagi guru untuk memaknai dan merefleksi diri, terkait peran yang dimainkannya. Berbagai kegiatan seperti seminar, jalan sehat, simposium pun dihelat.

Kementerian Agama pun melalui Direktorat Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) Madrasah Direktorat Jendreral Pendidikan Islam ikut memperingati HGN dengan menggelar Simposium Nasional (Simnas) Guru dan Tenaga Kependidikan (Tendik) Madrasah.  Kegiatan dihelat 2 – 3 Desember 2019 di Harris Hotel Conventions Surabaya, Jawa Timur.

Simposium yang diikuti oleh kurang lebih 200 orang ini mengambil tema Guru Madrasah yang Profesional dan Moderat di Era Disrupsi. Narasumber yang dihadirkan adalah Bahrul Hayat, Ph.D., Mark Oliver Heyward, Ph.D, dan Direktur GTK Madrasah Prof. Dr. Suyitno, M.Ag.

Pada simposium ini untuk pertama kalinya diperdengarkan lagu Mars Guru Madrasah yang segera akan dilaunching.  Dalam sambutan saat membuka acara, Suyitno menyampaikan bahwa di era disrupsi 4.0 guru dan tenaga kependidikan madrasah memiliki tantangan besar. Oleh karena iu profesionalitasnya harus terus ditingkatkan. Salah satunya adalah dengan mengikuti kegiatan simposium nasional. “Guru yang berkualitas akan memberikan pembelajaran dan menghasilkan peserta didik yang berkualitas. Dan hal ini tentu akan berpengaruh terhadap pengembangan mutu madrasah”, tandas Direktur GTK Madrasah yang juga guru besar UIN Raden Fatah Palembang.

Sementara itu Mark Oliver Heyward, menyampaikan tentang perkembangan madrasah dan Bahrul  Alam menyampaikan beberapa pesan untuk guru dalam menghadapi era disrupsi 4.0.
Selain menampilkan panel para pakar, simposium kali ini juga akan menyajikan presentasi 20 karya tulis ilmiah guru madrasah yang merupakan hasil seleksi dari 531 karya tulis ilmiah yang masuk. Ada 9 tema yang diangkat dalam panel karya tulis ilmiah kali ini: Profesi Guru: Peluang dan Tantangan di Era 4.0, Moderasi Beragama: Peran Guru, Kamad, dan Pengawas, Peran Strategis Pengawas dalam Penjaminan Mutu Madrasah, PTK/ PTM/ Best Practice, Internalisasi Nilai Islam dalam Pembelajaran MIPA, Inovasi Pengelolaan Madrasah, Profesionalisme Pengawas, Strategi, dan Inovasi Supervisi, Kepemimpnan Pembelajaran Kepala Madrasah, dan Enterpreunership di Madrasah.

Selain mengundang 20 pemakalah yang lolos seleksi, simposium kali ini juga mengundang 150 orang peserta aktif, yaitu peserta yang karya tulisnya terpilih setelah diambil 20 besar. Salah satu pemakalah Noor Shofiyati menyampaikan bahwa simposium ini hendaknya menjadi agenda rutin tahunan yang digelar dalam rangka memperingati hari guru nasional. “Saya sangat mendukung seandainya simposium nasional ini dapat dilaksanakan setiap tahun. Karena ini menjadi salah satu forum ilmiah bagi guru.  Di sini guru dapat saling belajar, bagaimana pembelajaran di daerah tertentu, metode apa yang sesuai untuk siswa dengan karakteristik tertentu, atau model pembelajaran yang sesuai untuk materi tertentu”. Setiap guru tentu memiliki kekhasan tersendiri yang tidak dimiliki oleh guru lainnya, baik dari segi kompetensi akademik maupun dari kemampuan dalam mengelola kelas.

Presentasi dibagi dalam 3 ruang diskusi: ruang diskusi guru 1, ruang diskusi guru 2, dan ruang kepala madrasah. Peserta yang hadir dalam simposium ini juga dibagi dalam 3 ruang agar semua mendapat kesempatan untuk membahas makalah yang dipresentasikan.

Banyak hal baru yang dapat dipetik sebagai tambahan ilmu dan wawasan bagi guru, kepala madrasah, dan pengawas dalam simposium ini. Satu hal yang menarik adalah bahwa simposium ini telah membuka mata sebagian masyarakat bahwa ternyata guru madrasah di penjuru nusantara memiliki potensi yang luar biasa. Hal ini dapat dibuktikan dari beberapa karya tulis 20 pemakalah yang dipresentasikan. Sebagai contoh, seorang guru dari MAN 4 Aceh Besar, Nurchaili, mengangkat tentang RPP digital. Ini adalah salah satu inovasi yang dapat  diterapkan dan dikembangkan oleh guru di madrasah lain. Betapa hematnya penggunaan kertas jika RPP digital ini dapat diterapkan.

Contoh lain Umi Fadilah dari MAN 2 Tuban, mengangkat tentang pembelajaran STEM dalam pembuatan masker berbahan baku siwalan. Ini cukup menarik. Buah siwalan yang ada di daerah sekitar madrasah ternyata dapat menjadi inspirasi bagi seorang guru madrasah untuk  lebih bermanfaat.

Karya tulis ilmiah dalam bidang matematika juga tidak kalah menariknya. Selama ini matematika menjadi momok bagi sebagian siswa. Tampilan matematika yang abstrak membuat sebagian siswa enggan menekuninya. Ketidaktertarikan siswa pada matematika ini jika dibiarkan akan berpengaruh terhadap perolehan prestasi. Kegelisahan akan hal ini telah menginspirasi guru matematika MTsN 9 Bantul untuk menuangkannya dalam karya tulis. Pembelajaran geometri di madrasah tsanawiyah pun dapat dikemas menjadi sebuah pembelajaran yang menarik dan penuh makna. Inovasi apa yang dapat dilakukan?

Setiap daerah tentu memiliki budaya yang menjadi karakteristik daerah tersebut. Kecintaan terhadap budaya sendiri ini perlu dipupuk pada diri siswa agar kemajuan zaman tidak melupakannya dari budaya sendiri. Batik sebagai salah satu budaya Yogyakarta ternyata dapat dijadikan sebagai media dalam penanaman konsep matematika. Dalam matematika ilmu yang membahasa tentang hal ini disebut etnomatematika, pembelajaran matematika berbasis budaya di sekitar siswa.

Tentu masih banyak karya tulis lain dari guru madrasah yang tidak kalah menarik untuk diterapkan dan dikembangkan.

Simposium Nasional Guru Madrasah 2019 ini menjadi titik tolak bagi madrasah untuk mengembangkan sayap. Guru madrasah adalah guru-guru hebat yang tidak dapat begitu saja dipandang sebelah mata.

Simposium ini menjadi ruang bagi guru dan tenaga kependidikan madrasah untuk mengembangkan potensi, mengaktualisaikan diri. Saatnya guru madrasah untuk mengisi ruang-ruang publik. Karena lewat situlah guru dapat berbagi ilmu dan pengalaman kepada teman-teman guru lainnya di seantero nusantara.

Ayo bangkit dan maju, guru-guru madrasah. Lahirkan generasi-generasi hebat dan berkarakter untuk menuju Indonesia yang baik.

Noor Shofiyati adalah Wakil Sekjen Perkumpulan Guru Madrasah Penulis (Pergumapi) dan Guru MTs Negeri 9 Bantul. Tulisan ini diterbitkan pertama kali di website www.pergumapi.or.id.

SHARE THIS

Author:

Akun resmi pengelola website Perkumpulan Guru Madrasah Penulis.

0 komentar: