Senin, 10 Desember 2018

Memupuk Kepribadian Menuai Kebahagiaan

Yasinyasintha.com

Seorang guru dengan penampilan sahaja, namun wajah sarat wibawa memasuki ruang kelas. Seulas senyum memendar dari wajahnya, menatap penuh kesejukan satu per satu anak didiknya. Mulailah sang Guru menyapa seluruh penghuni ruangan dan melanjutkan tugas mulianya, mendidik dan mengajar. Sang Guru mulai menjelaskan materi. Namun, di tengah kekhidmatan suasana, seorang murid dengan santai mengetuk-ketuk meja layaknya mengikuti irama seni jathilan. Lantas diikuti oleh beberapa temannya.  Satu bentuk permintaan perhatian yang lebih kepada sang Guru.
Sang Guru dengan tenang menyapa murid tersebut, mendekati, dan menegurnya pelan.  Seolah tidak pernah terjadi apapun, pelajaran tetap berlanjut dan tercapai tujuan pembelajaran saat itu.
Ilustrasi di atas menggambarkan seorang guru yang telah menguasai kompetensi kepribadian dan mampu menerapkannya dalam pembelajaran. Kompetensi ini merupakan salah satu dari 4 kompetensi yang harus dikuasai guru sebagaimana termaktub dalam Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 pasal 10. Pasal tersebut menyatakan bahwa kompetensi guru meliputi kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial, dan kompetensi profesional.
Kompetensi kepribadian adalah kemampuan personal yang mencerminkan kepribadian yang mantap, stabil, dewasa, arif dan berwibawa, menjadi teladan bagi peserta didik, dan berakhlak mulia. Bukan hal yang sulit untuk menguasai kompetensi ini manakala kita sebagai pendidik/guru mau berusaha untuk menggapainya.
Tingkah polah siswa baik di dalam kelas, maupun di luar kelas yang mengganggu kelancaran kegiatan belajar mengajar merupakan ujian kesabaran bagi para guru. Ujian bagi guru tidak sebatas Uji Kompetensi. Ujian kesabaran, itulah hakikat ujian bagi guru. Tidak hanya setahun sekali, tetapi setiap hari. Hal ini dapat menjadi wahana bagi guru untuk belajar memupuk sikap sabar, menahan amarah, empati terhadap siswa, dan sikap-sikap lainnya.
Riyadhus Shalihin Emka dalam bukunya La Tahzan for Smart Teachers Menjadi Guru Bahagia yang Selalu Dikenang Siswa memaparkan beberapa  sikap yang sangat mendukung pencapaian kompetensi kepribadian guru. Sikap-sikap tersebut diuraikan berikut ini.

1.       Mengendalikan emosi negatif
Kegiatan belajar mengajar seringkali diwarnai dengan permainan emosi yang naik turun. Ketangguhan guru dalam mengelola emosi diuji dengan kenakalan yang terus menerus diulang. Kelas menjadi wahana perang batin yang kadang sangat melelahkan.
Kemampuan seseorang dalam mengendalikan emosi menjadi pembeda antara satu orang dengan orang lainnya. Seorang guru yang bijaksana adalah guru yang dapat mengontrol emosi dengan tepat. Komunikasi antara guru dan murid akan terjalin dengan baik, jika kita mampu mengontrol emosi negatif, seperti marah, jengkel, kecewa, dan sebagainya.
Cara mengontrol emosi negatif ini dapat dilakukan dengan bersabar. Dalam kesabaran ada sikap tenang, pikiran positif, dan fokus pada permasalahan yang dihadapi. Pengendalian emosi yang baik dan tepat dapat menciptakan kesuksesan  pembelajaran.

2.       Berempati pada siswa
Dalam proses belajar mengajar, kita pasti menemukan karakter murid yang beraneka ragam. Oleh karena itu, kita tidak mungkin memaksakan pendapat, pikiran, atau perasaan kita kepada murid-murid kita. Di sinilah empati sangat berperan penting. Empati adalah suatu sifat dapat merasakan apa yang dirasakan orang lain. Seorang guru dapat diterima oleh murid-muridnya jika ia mampu memahami kondisi (perasaan) murid-muridnya. Selain itu, guru juga mampu memberikan perlakuan yang semestinya sesuai dengan harapan mereka.

3.       Bersikap ramah
Seorang guru tidak bisa melepaskan diri dari berinteraksi dengan murid, apalagi jika memiliki mimpi untuk sukses dalam pembelajaran. Sikap ramah merupakan salah satu sikap yang sepantasnya diterapkan saat berinteraksi dengan mereka. Ramah adalah sikap bersahabat dan merasa senang saat berjumpa dengan murid kita. Sikap ini akan membuka jalan hubungan yang lebih erat dan akrab sehingga kesuksesan pembelajaran menjadi hal yang niscaya.
Guru yang ramah banyak disenangi murid. Sikap ramah bisa kita tunjukkan dengan senyuman yang tulus, memberi sapaan hangat, menjawab pertanyaan yang diajukan murid, dan bahkan menawarkan bantuan kepada mereka. Jika kita mampu ramah ketika berinteraksi dengan murid, maka akan tercipta kesan yang tak terlupakan bagi murid kita.

4.        Memberi maaf
Memaafkan orang yang telah melukai kita adalah cara untuk mengurangi beban hidup. Demikian pula ketika murid kita membuat kesalahan, maka sudah sepatutnya kita rela memberi maaf. Guru yang pemaaf  lebih sehat, baik jiwa maupun raga daripada guru yang pemarah. Kemarahan menjadikan seseorang tidak dapat berpikir jernih dan bahkan memperburuk keadaan. Lebih parah lagi, kemarahan dapat merusak kesehatan. Oleh karena itu, memberi maaf kepada murid-murid lebih baik dilakukan guru daripada memendam rasa benci.

 Demikianlah empat hal yang dapat kita ikhtiarkan. Marilah senantiasa kita pupuk kepribadian. Kita ciptakan pembelajaran menjadi wahana menuntut ilmu yang menyenangkan, sehingga kesuksesan dan kebahagiaan bagi guru dan murid pun menjadi sebuah keniscayaan. (*)

Anuk Kuswanti, S.Pd., anggota Pergumapi dari Daerah Istimewa Yogyakarta dan guru MTs Negeri 1 Bantul.

SHARE THIS

Author:

Akun resmi pengelola website Perkumpulan Guru Madrasah Penulis.

0 komentar: