Senin, 12 Maret 2018

Belajar Program Anti Perundungan dari KiVA

Kivaprogram.net
MEMBAHAS perundungan (bullying) yang terjadi di lingkungan sekolah seringkali membuat sesak dada. Bagaimana tidak? Sebanyak 84 persen anak di Indonesia mengalami kekerasan di sekolah. Angka ini berdasarkan data yang dirilis Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) dari hasil survei International Center for Research on Women (ICRW). Kasus kekerasan di Indonesia ini lebih tinggi dari Vietnam (79 persen), Nepal (79 persen), Kamboja (73 persen), dan Pakistan (43 persen). Miris memang, dan tentu saja ini PR kita bersama.

Pada dasarnya pemerintah Indonesia tidak tinggal diam, program penguatan pendidikan karakter, sekolah ramah anak dan program perlindungan terhadap anak terus saja digulirkan. Namun apabila dilihat dari banyaknya rentetan kasus yang terus muncul bahkan meningkat, maka tidak ada salahnya jika kita juga memikirkan upaya dan strategi lain yang mungkin biasa diterapkan. Misalnya lewat program KiVA.

Apa itu KiVA?

KiVa adalah sebuah program anti perundungan yang telah diterapkan di Finlandia. KiVA sendiri berasal dari bahasa Finlandia yang artinya baik. Program KiVA ini berbeda dengan program antiperundungan yang lain (Kpai.go.id). Sebab program ini tidak berfokus pada pelaku dan korban, melainkan pada teman-teman si pelaku dan orang-orang yang menyaksikan proses intimidasi. Hal ini untuk membangun sikap kepedulian dan juga untuk membangun kesadaran si pelaku. Jika hanya sedikit pihak yang berani beraksi menentang perundungan, maka si pelaku akan merasa baik-baik saja atas perbuatannya. Prinsip KiVa adalah pencegahan perundungan dengan penanaman karakter tanggungjawab dan empati. KiVa mencakup sejumlah materi yang luas untuk guru, siswa dan orang tua. Bentuknya bermacam-macam, bisa berupa video, game online, survei, poster, dan buku panduan yang bisa diakses siswa, guru bahkan juga orang tua. KiVa merupakan program yang sangat interaktif dan mudah sekali diadopsi (Kpai.go.id).

Mungkinkah Diadopsi di Indonesia?

Sejak program ini diterapkan di Finlandia pada tahun 2007, masalah perundungan yang terjadi di Finlandia menurun drastis. Bahkan penurunnya mencapai 52% pada tahun 2014. Maka tak heran banyak negara-negara lain yang tertarik untuk mengadopsi sistem KiVa, antara lain Italia, Inggris, Belanda, Estonia dan AS.

Namun dalam penerapanya sistem ini tidak selalu efektif di setiap negara, di AS salah satunya. Data dari tim periset University Of California, LA (UCLA)  menyebutkan bahwa  50-an sekolah yang diriset, separuhnya gagal mengatasi perundungan dengan program ini. Namun walaupun begitu, menurut telaah Profesor Julie Hubbard dari University of Delware ketidak berhasilan KiVA disebagian sekolah AS bukan karena faktor programnya. Melainkan dipengaruhi oleh faktor keberagaman ras dan etnis di AS, penghargaan atas profesi guru, serta kesenjangan sosial dan ekonomi (Intisari, 2017).

Melihat sisi ketidakberhasilan di AS, sepertinya faktor-faktor penghambatnya mirip dengan situasi di Indonesia. Namun setidaknya KiVA bisa menjadi alternatif, jika selama ini kita belum merumuskan suatu program yang terukur dan terus diteliti secara berkesinambungan. Maka diantara banyak cara dan solusi yang bertebaran selama ini, idealnya dijadikan satu langkah yang terpadu dengan sedikit belajar dari KiVA. Sebab melihat data kasus perundungan yang muncul dalam sistem pendidikan kita, idealnya perlu langkah yang radikal, baik terkait upaya mencegah, mengantisipasi maupun mengatasi perundungan. Dimana langkah radikal tersebut menjadi suatu program nasional, yang dikuatkan dengan regulasi dan kebijakan yang tepat oleh pemerintah. (*)

Daftar Pustaka

http://www.kpai.go.id/berita/indonesia-peringkat-tertinggi-kasus-kekerasan-di-sekolah/
"KiVA, Program Anti Perundungan Terbaik di Dunia", Majalah Intisari bulan Oktober 2017
https://life.idntimes.com/education/fera/kiva-program-anti-bullying-paling-efektif-dari-finlandia-1/full

Sri Narwanti adalah Guru Ekonomi dan Kepala Perpustakaan MAN 2 Yogyakarta serta anggota Perkumpulan Guru Madrasah Penulis (Pergumapi).

SHARE THIS

Author:

Akun resmi pengelola website Perkumpulan Guru Madrasah Penulis.

0 komentar: