Selasa, 13 Februari 2018

Guru Hebat

Britishcouncil.org
1. Sosok Guru Hebat

Profesi sebagai seorang guru merupakan pilihan yang tepat bagi saya. Ada banyak tokoh dunia pendidikan yang saya kagumi, tetapi sudah banyak dibahas melalui berbagai media cetak maupun elektronik. Beberapa orang guru yang langsung bersentuhan dengan kehidupan saya, menjadi inspirasi bagi saya dalam menjalankan tugas, tidak berlebihan jika saya menyebutkan sisi yang saya kagumi dari guru-guru saya.

Saya melanjutkan sekolah menengah atas di SMUN 1 kota Bengkulu pada tahun 1994, seorang guru biologi bernama Nenti Haryanti menjadi idola saya di kala itu. Ibu Nenti begitulah panggilan akrab beliau, merupakan sosok seorang guru yang tenang, suasana belajar yang enak, serta banyak memberi perhatian kepada siswanya. Kami begitu antusias menerima materi pelajaran dari beliau, ada banyak kegiatan belajar yang membuat kami merasa begitu terlibat didalamnya, ada kerinduan tersendiri jikalau beliau berhalangan hadir.

Pada tahun 1997 saya melanjutkan pendidikan ke jenjang S1 di Program Studi Pendidikan Biologi Universitas Bengkulu, ada seorang dosen sekaligus pembimbing akademik saya Dr. Diah Aryulina. Bu Diah adalah seorang dosen yang menurut saya mengajar dengan penuh antusias, bersemangat, disiplin, memberi bimbingan, selalu mendukung kegiatan mahasiswa, memotivasi mahasiswa untuk lebih banyak melakukan kegiatan dan meraih prestasi. Ada sosok beliau yang begitu membuat saya terharu, beliau selalu memberi reward atas prestasi yang saya dapat berupa pujian, biaya kursus internet dan buku. Beliau akan menanyakan “buku apa yang eza butuhkan, karena saya akan berangkat ke jakarta?” Ya..buku, salah satu hadiah yang diberikan kepada saya. Bahkan hingga saya menjadi gurupun beliau masih saja mengirimi saya buku; buku Undang-undang Guru dan Dosen Tahun 2005 dan buku mengenai Permendiknas Nomor 22, 23 dan 24 Tahun 2006. Beliau selalu memotivasi saya untuk menjadi guru yang memiliki kepribadian yang kuat, kaya dengan ilmu dan jangan pernah berhenti untuk belajar. Sosok yang memberi saya inspirasi untuk selalu melaksanakan tugas dengan maksimal dan harus banyak berbuat untuk kemajuan diri sendiri maupun orang lain.

Program beasiswa S2 untuk guru bidang studi pada jenjang tsanawiyah dan aliyah yang dilaksanakan oleh kementerian agama, memberi kesempatan kepada saya untuk melanjutkan studi di Institut Teknologi Bandung (ITB) pada Program Studi Biologi tahun 2007. Melalui program beasiswa ini diharapkan guru bidang studi di bawah naungan kementerian agama dapat meningkatkan kompetensi akademiknya sesuai dengan latar belakang pendidikan masing-masing. Ada sosok seorang dosen yang juga memberi inspirasi kepada saya, beliau adalah Dr. Devi Nandita Choesin. Bu Devi dengan tampilannya yang sederhana dan selalu hangat bila bertemu mahasiswa, memberi pengalaman yang sama hebatnya di saat saya bertemu dengan ibu Diah. Beliau memiliki sikap disiplin yang tinggi, membimbing mahasiswa dengan penuh kesabaran, selalu membiasakan mahasiswa untuk menyelesaikan tugas tepat pada waktunya. Di antara kesibukannya yang padat, beliau tetap menyempatkan mengoreksi tugas-tugas yang dikerjakan mahasiswa. Jika ada tugas mahasiswa yang mirip/sama persis, beliau akan memanggil mahasiswa tersebut dan meminta klarifikasi mengenai tugasnya. Satu hal yang saya pelajari dari kebiasaan sang dosen, bahwa sesungguhnya beliau menginginkan mahasiswa mengerjakan tugas dengan usahanya sendiri, tidak menjadi plagiat apalagi memperoleh semua dengan instan. Melalui cara ini sebenarnya bu Devi ingin agar mahasiswa menjadi lebih kreatif, bisa berinovasi, bersungguh-sungguh dalam mengerjakan tugas apapun, agar hasil yang diperoleh juga maksimal. Ada nasehat yang beliau sampaikan setelah usai sidang thesis, yang membuat saya menangis: “saya sangat menghargai semua kerja keras dan jerih payah yang telah kamu lakukan selama ini, baik pada saat perkuliahan, melakukan penelitian hingga sidang ini. saya yakin sekali kamu adalah orang yang tekun dan gigih, jangan pernah hilang semangat itu. Apalagi kamu seorang guru, guru yang harus menjadi contoh yang baik untuk murid-muridmu, untuk rekan sesama guru dan yang paling penting, kamu akan kembali ke masyarakat. Saya berharap akan bertemu kamu lagi di sini, di program doktor”. Nasehat beliau begitu dalam saya rasakan, ternyata di sela-sela kesibukannya, beliau mengikuti perkembangan saya selama menempuh studi di sini.

Ada banyak pengalaman dan pelajaran yang saya dapatkan dari guru-guru hebat saya, yang berpengaruh juga terhadap perilaku saya dalam menjalankan tugas sebagai guru. Pengalaman yang bisa membangkitkan dan memelihara motivasi dan semangat saya untuk tetap melaksanakan tugas dan memberikan hal terbaik yang saya punya untuk dunia pendidikan.

Dunia pendidikan merupakan dunia yang selalu ada harapan dan cita-cita, ada situasi yang ingin kita ubah, ada hasil yang ingin kita pertahankan dan ada juga saat-saat yang mengharukan. Terkadang hal-hal yang kita lakukan belum menunjukkan hasil yang dapat kita rasakan pada saat itu, tetapi hasil tersebut bisa saja muncul setelah selang beberapa tahun kemudian.

Guru adalah sosok yang digugu dan ditiru, seorang guru tidak hanya pandai saja, tetapi harus memiliki kepribadian yang luhur, yang dapat menjadi panutan dan tuntunan bagi siswanya. Sebagai seorang guru kita harus selalu memperbaiki dan meningkatkan kualitas diri, agar kebiasaan-kebiasaan positif yang sering kita lakukan dapat dicontoh oleh siswa. Seorang guru harus dapat menjadi pribadi yang utuh, yang memiliki akhlak yang mulia, baik dalam hal perilaku maupun ucapannya. Siswa akan menilai seorang guru berdasarkan kesesuaian ucapan dan perilakunya. Seorang guru yang sering bertindak tidak sesuai dengan ucapannya, seringkali kali mendapat respon yang kurang baik dari siswanya.

Guru yang profesional, berkualitas, dan mempunyai visi yang jauh ke depan dapat menjadikan siswa sebagai generasi yang menyadari keesaan tuhannya, berkualitas, unggul, dan tangguh dalam menghadapi perubahan. Guru harus bersemangat dalam mengejar ilmu dan “up date knowledge” merupakan hal yang penting yang harus dilakukan guru, tidak hanya penting karena tugas guru sebagai agent pembelajaran, tetapi juga  untuk mengembangkan potensi dan kemampuan yang dimiliki siswanya.

2. Pengalaman menjadi guru

Saya terjun di dunia pendidikan dimulai pada tahun 2002, banyak pelajaran dan pengalaman berharga yang saya dapatkan dari rekan-rekan guru.
   
Must go on

Pelajaran berharga dari sosok guru-guru hebat saya memberikan pengaruh yang tidak sedikit terhadap pelaksanaan tugas saya sebagai guru. Karakter disiplin, pekerja keras, ulet, dan selalu ingin belajar yang mereka tanamkan pada saya sangat membantu pekerjaan saya. Saya selalu berusaha memberikan contoh kebiasaan-kebiasaan yang positif kepada siswa. Saya mempunyai harapan agar ada karakter yang kuat, yang bisa saya tanamkan pada mereka.

Melaksanakan tugas sebagai guru yang dapat menjadi teladan yang baik bagi siswanya tidaklah mudah. Bukankah siswa menilai guru berdasarkan perilaku kesehariannya yang dapat mereka amati. Siswa pasti sudah mengenal kebiasaan masing-masing gurunya. Berdasarkan pengamatan saya, siswa akan memberi respon yang sama dengan kebiasaan gurunya. Misal jika ada seorang guru yang sering datang terlambat maka siswa juga akan terlambat masuk ke dalam kelas, jika ada guru yang malas menilai pekerjaan siswa maka siswa akan malas mengerjakan tugas dari sang guru. Begitu juga sebaliknya, jika guru datang tepat waktu maka siswa tidak akan terlambat masuk ke dalam kelas, guru yang dalam pelaksanaan proses pembelajarannya menarik maka siswa pun akan belajar dengan antusias.

Guru yang disiplin, memiliki etos kerja tinggi, kreatif dan inovatif sering kali mendapat hambatan dalam melaksanakan tugasnya. Hambatan yang paling sering muncul berasal dari rekan seprofesinya. Guru yang disiplin terhadap waktu, mempersiapkan perangkat pembelajaran, melakukan inovasi-inovasi baik dari segi metode mengajar maupun media yang digunakan, up date informasi terbaru seputar dunia pendidikan akan dianggap sebagai guru yang idealis, sok tahu, egois dan kaku. Tantangannya adalah bagaimana agar guru tersebut tetap pada kebiasaan-kebiasaan positifnya di tengah iklim kerja yang tidak kondusif. Pada kondisi seperti ini terkesan bahwa guru tersebut menentang arus.

Sebagai seorang guru yang memiliki keyakinan yang teguh bahwa menjadi guru adalah tugas mulia, maka sebaiknya keyakinan itu tidak luntur hanya karena kita bekerja melawan arus. Mari kita lakukan banyak hal yang bisa meningkatkan kualitas diri kita, tetap berpegang teguh pada prinsip-prinsip yang kita miliki, jika kita terbentur dan menghadapi masalah, maka tanggapilah masalah tersebut sebagai suatu proses pembelajaran untuk kita. Mari tanamkan di dalam diri kita bahwa “harga diri saya dipertaruhkan, jika saya tidak melakukan setiap pekerjaan yang diamanahkan kepada saya dengan maksimal”.

Kerja keras, jangan menjadi guru yang biasa saja

Sebagai seorang guru, saya selalu berusaha melakukan apa saja dengan sebaik mungkin. Menyelesaikan tugas-tugas akademik maupun administrasi, melakukan banyak hal yang dapat mengembangkan dan meningkatkan kemampuan diri. Hal-hal yang telah saya lakukan untuk meningkatkan kemampuan akademik saya diantaranya membeli buku-buku yang berhubungan dengan tugas saya sebagai agen pembelajaran, mengikuti seminar-seminar pendidikan, membuat inovasi media pembelajaran, melakukan PTK, mengikuti lomba-lomba guru serta membimbing siswa untuk mengikuti lomba.

Motivasi untuk berhasil dan keyakinan yang kuat merupakan modal utama saya untuk selalu melakukan banyak hal. Pengalaman-pengalaman dari orang lain yang saya dapatkan dari membaca, sharing, dan konsultasi akademik sangat membantu saya dalam mengerjakan banyak hal, menjadikan proses pembelajaran tersendiri bagi saya. Saya ingin menjadi guru yang berfikir out of the box, melakukan sesuatu dengan penuh keyakinan, tanpa harus merasa putus asa apabila menemui jalan buntu. Saya sering berhenti sejenak untuk melepaskan kelelahan dan mengumpulkan tenaga baru untuk melanjutkan dan memulai pekerjaan baru.

Be trigger

Tugas tambahan sebagai wali kelas pernah memberi pengalaman yang berharga untuk saya. Pada waktu itu saya mendapat tugas sebagai wali kelas VII. Kegiatan pengambilan laporan penilaian hasil belajar semester ganjil, semua orang tua/wali harus datang ke madrasah untuk mengikuti kegiatan tersebut. Kegiatan ini dimulai dengan pengarahan yang disampaikan oleh wali kelas, diantaranya laporan mengenai kemajuan yang telah diperoleh siswa secara klasikal selama satu semester, harapan-harapan yang belum tercapai dan apa saja yang perlu dilakukan untuk membantu meningkatkan kemampuan akademik dan perkembangan siswa pada semester berikutnya. Ada wali murid dari salah seorang siswa yang kedua orang tuanya datang, setelah melihat laporan hasil penilaian yang diperoleh anaknya, raut muka mereka tampak kecewa sekali.

Singkat cerita, kedua orang tua tersebut menceritakan bahwa tiga orang anak terdahulunya tidak ada yang selesai sekolah, sehingga mereka pesimis apakah anak bungsunya ini akan selesai sekolah atau tidak. Pada saat itu mereka meminta saya untuk membimbing sekaligus memberi pelajaran tambahan kepada anaknya. Perlu diketahui bahwa siswa tersebut menempati peringkat ke-27 dari 30 orang, termasuk anak yang tidak aktif dalam proses pembelajaran, dan kurang percaya diri. Akhirnya saya mengambil inisiatif menyuruh siswa tersebut berkunjung ke rumah saya.

 Pada saat siswa tersebut berkunjung ke rumah, anak perempuan saya yang berumur lima tahun sedang mengerjakan soal-soal hitungan sederhana dan mengalami kesulitan. Mbak begitulah panggilan anak sulung saya. “Mbak... minta tolong abang yang mengajarkan”, dengan gampangnya siswa tersebut membantu menyelesaikan soal-soal hitungan anak saya, yang kala itu baru masuk TK. Saya langsung memberi pujian “Syawal ternyata pintar dong, coba lihat anak ibu kelihatannya puas diajari Syawal”, dengan terkejut siswa tersebut tersenyum dengan raut wajah memerah. Semenjak hari itu, setiap hari Senin hingga Kamis, siswa tersebut selalu datang ke rumah saya untuk les. Selalu saya berikan pujian setiap siswa tersebut melakukan kebaikan dan meyakinkan bahwa dia mampu untuk berhasil jika dilakukan dengan kerja keras. Saya memantau kemajuan siswa tersebut, dan ternyata seiring waktu rasa percaya dirinya muncul, dia mulai aktif mengikuti proses pembelajaran, mengerjakan tugas-tugas dan selalu ingin maju ke depan kelas untuk menyelesaikan contoh-contoh soal.

Pada akhir semester genap, siswa tersebut menunjukkan kemajuan yang sangat pesat, dia mampu menduduki peringkat ketiga di kelasnya. Kedua orang tuanya sangat bangga dengan prestasi yang telah diraihnya. Berdasarkan pengalaman ini, ada satu pelajaran yang dapat kita petik, bahwa siswa yang sebelumnya sering kita cap “kurang cerdas” ternyata hanya butuh trigger untuk membangkitkan keyakinan dirinya bahwa sesungguhnya mereka memiliki kemampuan dan potensi untuk menjadi yang terbaik.

Sebagai seorang guru, marilah sama-sama kita menjadi trigger bagi murid-murid kita. Ayo bantu dan yakinkan mereka bahwa keyakinan, rasa percaya diri dan semangat untuk berhasil, akan mengantarkan mereka menuju kesuksesan. Kepada semua gurui jangan berputus asa untuk selalu melakukan kebaikan, jangan pernah berhenti untuk berharap, karena kebahagiaan guru terletak pada keberhasilannya menanamkan karakter yang kuat pada diri muridnya. Let’s take a massive action for education.     

Siap menang, siap kalah

“Ibu kesal ya...? kami kalah,” kalimat itu dilontarkan siswa saya dengan wajah penuh kecewa. Pada saat itu, kami tengah di perjalanan pulang dari mengikuti suatu lomba di kotamadya Bengkulu. MTsN Karang Anyar Kabupaten Bengkulu Utara merupakan salah satu sekolah yang sering mengikuti ajang-ajang perlombaan baik di tingkat kabupaten maupun provinsi. Saya kaget dengan pertanyaan tersebut, ternyata siswa saya berani menanyakan “apakah kami dewan guru kesal, jika siswa yang mengikuti ajang perlombaan tidak mendapat juara”. Jawaban saya pada saat itu: “kalian sudah bagus kok, dengan melihat urutan prestasi yang diraih dibandingkan dengan jumlah peserta keseluruhan. Jika kalian mengikuti ajang perlombaan dengan sepenuh hati, telah bekerja keras dan melakukan yang terbaik, maka kalian harus siap menang dan siap kalah. Tidak perlu kecewa jika belum berhasil, jadikan pengalaman lomba saat ini sebagai acuan untuk mempersiapkan diri mengikuti lomba yang akan datang”. Pengalaman saya mendampingi siswa mengikuti lomba, pada saat menjelang lomba, acap kali siswa terserang demam panggung, panik, bahkan pernah memilih mundur sebelum bertarung. “Tugas kalian mengikuti lomba, lakukan sebaik mungkin, masalah hasilnya bagaimana itu urusan nanti”, kalimat itu yang biasa saya lontarkan kepada para siswa yang begitu panik, menjelang detik-detik perlombaannya. Sikap untuk bisa menerima kekalahan ternyata harus ditanamkan pada diri siswa, agar mereka menjadi pribadi yang tangguh, tidak mudah putus asa, tidak berhenti untuk mencoba, dan sanggup menghadapi situasi yang pahit sekalipun. Terkadang kita para guru hanya mementingkan predikat juara yang dapat diraih siswa. Kita melupakan kerja keras dan kesungguhan mereka, apabila mereka tidak mendapatkan piala, seolah-olah pengalaman mereka mengikuti ajang perlombaan bukan suatu hal yang perlu kita tanyakan.

3. Harapan untuk selalu melakukan perubahan yang baik

Sebagai seorang guru kita harus memiliki keyakinan yang kuat, tanpa keyakinan apa yang kita cita-citakan tidak akan dapat diraih. Yakin terhadap kemampuan diri sendiri, akan memberikan kita semangat baru untuk melaksanakan tugas mulia ini dengan baik. Saya selalu berusaha membangkitkan semangat untuk melakukan tugas dengan baik melalui buku-buku bacaan yang dapat meningkatkan motivasi mengajar. Mengembangkan profesionalisme sebagai seorang guru melalui banyak kegiatan. Tidak sedikit guru yang tidak memiliki harapan untuk perubahan. Guru yang hanya melakukan tugas untuk melepaskan kewajiban.

Akhirnya kepada semua guru, mari kita laksanakan tugas kita sebaik-baiknya dengan ikhlas dan penuh keyakinan. Seorang guru harus memperbaiki kualitas dirinya baik dari segi perilaku, ucapan maupun bidang akademis. Mari jadikan diri kita sebagai inspirasi dan motivasi bagi siswa maupun teman sejawat, karena sesungguhnya kebaikan yang kita tanam hari ini, akan kita nikmati hasilnya di masa yang akan datang.

Eza Avlenda, S.Pd., M.Si.
Dimuat pertama kali dalam buku Hebat Gurunya Dahsyat Muridnya (2013) dalam rangka sosialisasi K13 di Provinsi Bengkulu.

SHARE THIS

Author:

Akun resmi pengelola website Perkumpulan Guru Madrasah Penulis.

0 komentar: