Tampilkan postingan dengan label Resensi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Resensi. Tampilkan semua postingan

Resensi: Bacaan Sehat untuk Anak

Mei 08, 2019

Oleh Yeti Islamawati
Anggota Pergumapi, Guru MTs. Negeri 9 Bantul 

Judul: Bekal Istimewa Bunda
Penulis: M. Naufal dkk.
Penerbit: DAR! Mizan
Cetakan: I,Oktober 2018
Tebal: 88 Halaman
ISBN: 978-602-420-697-0

Buku Bekal Istimewa Bunda dapat dijadikan salah satu bacaan yang sehat bagi anak-anak. Bercerita tentang nilai-nilai yang dapat dicontoh oleh anak-anak. Salah satunya membiasakan anak membawa bekal ke sekolah. Dengan membawa bekal ke sekolah, kebersihan dan kesehatan makanan dan minuman lebih terjamin.

Tentu saja, bekal yang dibawa sesuai kemampuan orang tua. Iqbal, tokoh dalam cerita sangat menginginkan bekal ayam goreng, tetapi Ibu belum bisa memenuhi. Sebagai ganti, Ibu menyiapkan semur tahu. Walaupun kecewa, Iqbal tetap berterima kasih pada Ibu yang telah mengupayakan. Bagaimanapun, seorang Ibu pasti berusaha membahagakan anaknya.

Nilai kebaikan lain yaitu pentingnya usaha. Karena yang namanya hasil tak akan pernah mengkhianati kerja keras. Tokoh Hafsah berusaha mengirimkan tulisan ke penerbit, hingga kiriman yang kesebelas selalu ditolak. Apa yang akan dilakukan tokohnya? Apakah menyerah? Ternyata tidak, ia belajar dari kegagalan. Ia meminta bantuan kakanya untuk mengajari bagaimana memperbaiki ejaan sebuah tulisan.

Ada juga cerita kerja sama dengan ibu dalam membasmi tikus. Anak diminta memilah mainan yang sudah tidak dipakai untuk disumbangkan. Dengan menjaga kebersihan, tikus enggan datang lagi. Cara lain dengan membuang sampah pada tempatnya.

Pada salah satau cerita berjudul “Adikku Syifa” bercerita tentang bagaimana seorang kakak menyayangi adik. Sang kakak mengajak bermain sepatu roda bersama. Ketika adik sakit, kakak menemani dan menyuapi makan.

Ada juga cerita agar anak tak mudah takut akan sesuatu hal yang belum jelas. Misalnya misteri sebuah rumah kosong. Suatu hari ada suara anak menangis di rumah kosong, ternyata memang ada anak gelandangan yang ditinggal oleh orang tuanya.

Cerita sehari-hari dalam buku ini benar-benar dapat diterapkan dengan mudah oleh anak-anak. Harapannya anak-anak Indonesia mempunya akhlakul karimah.

Penerbit DAR Mizan yang telah menerbitkan buku Kecil Kecil Punya Karya patut diapresiasi. Anak dapat membaca buku yang ditulis oleh anak-anak dan khas dunia anak-anak. Sangat direkomendasikan untuk anak-anak, guru, maupun orang tua. (*)

Mengasah Daya Kreativitas melalui Komik Fantasi

Desember 12, 2018

Judul: Panggilan ke-13
Penulis: Apryan Fajar Gumelar, dkk.
Penerbit: DAR! Mizan
Cetakan: I, 2018
Tebal: 108 halaman
ISBN: 978-602-420-700-7

USIA remaja merupakan usia perkembangan, baik secara fisik maupun imajinasi. Masa remaja juga identik dengan saat pencarian jati diri.Untuk itu, remaja harus disibukkan pada hal-hal positif, salah satu di antara dengan menulis. DAR! Masa remaja yang tak kan berulang ini seyogiaya diisi dengan karya dan prestasi. Mizan memberikan kesempatan kepada para remaja melalui serial komik fantasteen, buku Panggilan ke-13 ini salah satunya.

Buku Panggilan ke-13 ini ditulis oleh 6 orang, 3 sebagai penulis cerita, dan 3 orang sebagai pembuat komik. Di dalamnya ada tiga judul cerita, yaitu “Panggilan ke-13”, “Misteri Jemuran Tua”, dan “The Lift”. Ketiga cerita menunjukkan daya kreatifitas khas remaja. Tema yang diambil sama-sama horor.

Bagian pertama berisi tentang telepon misterius. Ketika kedua orang tuanya pergi ke Amerika, Jason mendapatkan peringatan dari nenek berupa kalimat yang sulit dipahami. Jason pun berusaha memecahkan apa sebenarnya yang dimaksudkan oleh neneknya. Bagian kedua bercerita tentang teman sekolah yang pindah rumah. Salah satu temannya yang indigo mmeprediksikan akan terjadi sesuatu di rumah baru Haura. Ternyata apa yang dikatan Sheila menjadi kenyataan. Tentu menarik mengetahui bagaimana mereka mencari solusi untuk permasalahan di rumah Haura.

Bagian ketiga mengambil setting di sebuah lift. Seorang perempuan tak melulu digambarkan sebagai sosok yang lemah, apalagi penakut. Ketika lift tidak mau bergerak karena kelebihan muatan, satu orang harus keluar dulu. Di lantai, 5 yang terkenal horor. “Harus ada satu yang mengalah, keluar dan menunggu giliran. Ya udah deh, biar aku saja yang keluar,” (halaman 90). Tokoh utama dalam cerpen ini  menggambarkan sosok remaja perempuan yang mandiri dan mampu mengendalikan rasa takut. Cara bertuturnya membuat pembaca penasaran, sehingga twist-nya terjaga.

Yeti Islamawati, S.S., anggota Perkumpulan Guru Madrasah Penulis dari Daerah Istimewa Yogyakarta.

Resensi: Ajakan Bersikap Baik pada Sesama

November 21, 2018

Judul: Zula’s Story
Penulis: Rizky Nur Fajri
Penerbit: DAR! Mizan
Cetakan: I, 2017
Tebal: 104 halaman
ISBN: 978-602-420-544-7

Buku Zula’s Story karya Rizky Nur Fajri terdiri atas sebelas judul cerita pendek. Kesebelas cerita tersebut mengangkat tema yang beragam, misalnya ajakan berbagi, bersikap baik pada teman, menyayangi binatang, juga larangan untuk memubazirkan makanan. Bahasa yang digunakan pun mudah dipahami sehingga buku ini cocok diperuntukkan untuk anak-anak.

Dunia anak merupakan dunia yang penuh cerita, semangat, dan hampir tak mengenal kata lelah. Pada cerita berjudul “Zula’s Story”, tokoh Zula digambarkan sebagai sosok yang hectic. Berbagai kegiatan dijalani Zula seperti shooting, pemotretan, wawancara dengan wartawan, mengunjungi acara sosial, hingga kegiatan belanja baju untuk acara penghargaan.

Zula selalu semangat menjalani hari-hari baik untuk urusan sekolah ataupun urusan nonakademis walaupun ibunya sudah meninggal. Ia bertekat menjadi anak baik yang membahagiakan ibunya di alam akhirat. Selain itu, Zula juga suka membaca, setiap ayahnya bepergian, ia meminta oleh-oleh buku.

Penulis buku dapat menggambarkan kesibukan tokoh Zula dengan detail. Hal itu dikarenakan penulisnya memang  bertabur prestasi. Rizky sering menjuarai menyanyi dan menari.

Cerita lain yang menarik berjudul “Berkat Sandal Jepit”. Diceritakan tentang bagaimana perjuangan anak-anak pedalaman untuk sekolah. Selain menempuh perjalanan jauh, mereka harus menyeberangi sungai yang ketinggian airnya sedada karena tidak ada jembatan. Untuk menjaga agar tas tetap kering, mereka mengangkat tas tinggi-tinggi ketika menyeberang sungai. Sesampai di seberang, mereka segera berganti baju kering dan untuk alas kaki, mereka hanya menggunakan sandal jepit. Perjuangan anak-anak pedalaman ini patut diacungi jempol. Apa yang mereka lalukan dpaat mementik semangat menuntut ilmu serta pantang menyerah.

Pada cerita berjudul “Pintar? Siapa Takut!”, terdapat pelajaran pentingnya membagi waktu dengan cermat. Sekolah dan kegiatan rumah harus berjalan sesuai jatahnya masing-masing, harus seimbang. “Begitulah… kalau kita ingin mengejar sesuatu, harus ada doa dan usaha yang kuat. Seperti Savila ini. Akhirnya, Savila berhasil mendapatkan SMP favorid,” (halaman 57).

Ajakan untuk meninggalkan hal-hal yang mubazir terdapat dalam cerita berjudul “Telur Nyasar”. Tokoh Adam dan teman lainnya memberi kejutan temannya yang ulang tahu dengan melempar telur. Nabyan menjadi marah. Adam yang curhat pada kakaknya mendapatkan nasihat bijak. “Itu salah, Dam. Makanya, kamu jangan suka ngikutin perilaku anak-anak yang enggak benar. Jadinya, Nabyan marah, kan? Mendingan telur-telur itu kita masak saja… kan, lebih enak! Daripada buang-buang makanan untuk yang enggak jelas, mendingan dimakan. Pasti perut kenyang. Niat baik belum tentu membawa hasil yang baik,” (halaman 91).

Pada hakikatnya setiap anak dilahirkan fitrah. Keluarga dan lingkungan yang memberikan kontribusi akhlak anak. Gambaran anak yang baik ini digambarkan penulisnya dengan cukup apik melalui cerita “Peri yang Baik Hati”. Mahar Jagat Raya anak seorang pengusaha kaya. Meskipun begitu, ia tidak sombong bahkan suka menolong dan berbagi pada siapa saja. Misalnya saja saat di jalan melihat nenek tua yang duduk di bangku terlihat lelah dan lapar, ia meminta ayahnya menghentikan mobil. Mahar mengajak nenek tersebut ke rumah makan dan bahka menyuapinya.

Saat di sekolah Mahar ada anak baru pindahan dari luar kota, dengan senang hati ia berteman. Padahal teman-temannya mengatakan kok mau-maunya Mahar dari keluarga terpandang berteman dengan anak kampung. Mahar justru mengingatkan temannya untuk menaati peraturan sekolah yang keempat, yaitu semuanya teman, tanpa membedakan derajat. Tak hanya itu, Mahar juga mengajak temannya untuk membiasakan jalan kaki. “Kita jalan kaki saja, ya… biar hemat, (halaman 101).

Tentu saja masih ada cerita-cerita lain yang sayang untuk dilewatkan. Ada banyak pelajaran moral yang bisa dipetik sekaligus diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Sebuah bacaan yang mendidik dan mencerahkan.

Yeti Islamawati, S.S., Anggota Perkumpulan Guru Madrasah Penulis (Pergumapi)

Resensi: Asyiknya Menuntut Ilmu

Oktober 17, 2018

Oleh Yeti Islamawati

Menuntut ilmu merupakan suatu kewajiban. Pepatah Arab mengatakan, tuntutlah ilmu hingga ke Cina. Atau anjuran untuk menuntut ilmu dari buaian hingga liang lahat. Ilmu itu lentera hati yang akan mengantarkan seseorang sukses dunia dan akhirat. Untuk itu, orang tua berkewajiban menyampaikan kepada anaknya betapa pentingnya menuntut ilmu.

Allah berfirman dalam Alquran surah Al Mujadilah ayat 11, “… Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat….” Disampaikan juga oleh Nabi Muhammad saw. , “Barang siapa menghendaki dunia, maka hal itu dapat diperoleh dengan ilmu. Dan barang siapa menghendaki akhirat, memperolehnya pun dengan ilmu,” Hadis Bukhori-Muslim.

Ellina School bercerita tentang si kembar Melly dan Nelly yang pindah sekolah atas perintah orang tuanya. Meskipun awalnya berat hati, pada akhirnya keduanya menerima keputusan Mom dan Dad. Mereka yakin, orang tuanya pasti mempunyai pertimbangan tertentu demi kebaikan keduanya. Selain itu, Melly dan Nelly mematuhi karena memang mereka sangat mencintai kedua orang tuanya. Hal tersebut patut dicontoh bagaimana melalui buku ini anak-anak diajarkan untuk menyayangi orang tuanya tanpa syarat. Tentu saja, mengingat orang tua telah berjasa dalam kehidupan kita, limpahan kasih sayang yang diberikan, tak akan pernah bisa dibalas lunas.

Penulis berhasil membuat kejutan pada jalan ceritanya. Ternyata, sekolah barunya berbeda dari sekolah lamanya. Sekolah Ellina School ternyata keren, fasilitasnya oke, serta pelajarannya boleh memilih sendiri. Melly dan Nelly bisa memilih pelajaran sesuai dengan kemampuan dan bakatnya. Setelah menjalani hari demi hari di sekolah barunya, Melly dan Nelly merasa bahwa sekolah itu memang sesuai dengan dirinya. Sungguh, orang tuanya telah melakukan hal yang tepat.

Meskipun demikian, Melly dan Nelly harus bersabar saat mengetahui bahwa “musuh” mereka, Angel, kembali menjadi teman sekolah mereka. Terbayang bagaimana jahil dan usilnya Angel saat di skeolah yang dulu. Bahkan di sekolah yang barupun mereka berdua harus kembali berhadapan dengan Angel. Diam-diam, Melly dan Nelly punya kiat jitu unutk membuat Angel insaf.

Apa yang dilakukan Melly terhadap musuhnya patut ditiru. Terlihat tokoh utama berhasil mengatasi permasalahannya secara cerdas dan solitif. Saat Melly memenangkan tantangan yang diajukan oleh Angel. Melly berhak mengajukan permohonan yang harus dikabulkan oleh Angel. “Tugasmu adalah menjadi sahabat kami dan tidak akan mengganggu orang lain lagi. Mulai sekarang, kalian harus berbuat baik” (halaman 61). Angel akhirnya menjadi sahabat Melly dan Nelly.

Lika-liku kisah sekolahnya di Ellina Scholl tentang sikap anak yang apa adanya, keinginan untuk bereksplorasi dan mencoba-coba sesuatu yang baru dijabarkan secara apik oleh penulisnya. Pembaca seolah-olah dibawa serta hadir di kehidupan tokoh-tokohnya.

Secara keseluruhan, buku cerita anak berjudul Ellina School menunjukkan pentingnya menuntut ilmu dengan sebaik-baiknya, mengembangkan kelebihan yang dimiliki, dan bagaimana kiat menyelesaikan masalah khas anak-anak. Selain itu, Novel Ellina School mengajarkan kepada anak bagaimana tegar dalam menghadapi masalah. Suatu hari Melly mengalami kecelakaan yang menyebabkan kakinya lumpuh. Mom menguatkan Melly, “Teruskan cita-citamu, Sayang. Mom yakin, Melly pasti bisa. Kau tahu, Melly? Di dunia ini tak ada yang mustahil. Mimpi adalah awal kesuksesan. Makanya, teruslah bermimpi dan berusaha” (halaman 85).

Ditulis oleh anak-anak sehingga tentunya membawa nuansa tersendiri. Dunia anak yang penuh dengan kejutan, selalu menarik untuk diselami. Kelebihan lain dari novel ini, pengetahuan penulis mengenai jenis-jenis makanan secara detail. Sebut saja banana split, waffle ice cream, parfruit, cream soup, sirloin steak, ice milk tea, sukiyaki, serta ice tea. Kekurangannya, pada beberapa bagian, terkesan melompat-lompat. Bisa dimaklumi karena perhatian anak-anak masih mudah terbagi. Cocok dibaca oleh semua umur, terutama anak-anak, dan orang tua.

Judul: Ellina School
Penulis: Anetta Tizian Wibowo
Penerbit: DAR! Mizan
Cetakan: I, 2017
Tebal: 104 halaman
ISBN: 978-602-420-533-1

Resensi: Doa sebagai Pelabuhan Harapan

September 05, 2018
Proumedia.co.id
Oleh Yeti Islamawati

Judul: Berdoalah untuk Urusan Apa pun
Penulis: Mohammad Fauzil Adhim
Penerbit: Pro-U Media, Yogyakarta
Cetakan: Pertama, 2017
Tebal: 236 halaman
ISBN: 978-602-7820-69-2

KETIKA manusia berada pada kondisi sulit dan di titik nadir, serta merta muncul rasa penuh harap pada yang Maha Segalanya. Harapan itu bernama doa. Setiap muslim memiliki senjata ampuh, yaitu doa. Sesungguhnya, doa itu adalah ibadah. Memperbanyak doa akan mendatangkan kebaikan. Sebaliknya, merasa cukup lalu menjauhkan diri dari berdoa kepada-nya merupakan kesombongan. Jika menyombongkan diri di hadapan manusia saja tercela, maka apalagi menyombongkan diri di hadapan Allah, terhadap Allah.

Firman Allah dalam Q.s. Al-Mu’min ayat 160, “Berdoalah kepada-Ku. Niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk Neraka Jahanam dalam keadaan hina dina.”

Sebagian doa, Allah segera kabulkan. Sebagian Allah tangguhkan berdasar kebijakan-Nya. Sebagian dijadikan simpanan sebagai simpanan pahala. Maka mintalah yang terbaik dan yang berlimpah barakah hingga Yaumil Qiyamah. Dan janganlah tergesa-gesa dengan doamu. Jika Allah tangguhkan pengabulan doamu, maka di sisi Allah tentang apa yang paling baik kesudahannya bagimu. Selebihnya, periksalah dirimu barang kali ada penghalang terkabulkannya doa. Ada beberapa perkara yang menjadikan doa seseorang tertolak (halaman 66).

Doa yang diterima adalah doa yang iklas dan menggunakan cara yang benar. Serta menjauhi dari doa yang dilarang. Salah satunya yaitu tidak boleh berdoa dengan memerinci permohonan secara detail. Seolah Allah yang Mahatahu, tidak mengetahui apa yang terbaik bagi hamba-Nya. Seakan khawatir Allah mengabulkan doa tak sesuai skenario kita. Hal tersebut termasuk perkara berlebih-lebihan dalam berdoa. Terjatuh pada sikap berlebihan terlalu yakin pikian kita yang terbaik.

Tidak tercela kita berdoa meminta rezeki, tapi janganlah melampaui batas dengan merinci-rinci seraya memvisualisasi misalnya, “Ya Allah, aku memohon kepada-Mu berikanlah aku mobil SUV terbaru yang matic, warnanya hitam 4000cc seperti digambar ini..” Hal tersebut merupakan adab yang buruk (halaman 75).

Selain itu, terdapat doa yang tidak sopan. Berdoa tetapi malah mengandung unsur menyombongkan diri. Yakin doanya pasti akan di dikabulkan. Tentu saja sebagai makhluk Allah, tidak boleh memastikan doa terkabul. Termasuk doa yang tidak sopan adalah doa yang memaksakan kehendak. Minta cepat-cepat dikabulkan. Padahal Allah yang paling mengetahui kapan sebaiknya doa dikabulkan.

Dalam berdoa, harus memerhatikan adapnya. Bagaimana adap berdoa? Panjatkan doa tiga kali sedapat mungkin menghadap kiblat. Angkatlah kedua tangan, sejajar dengan pundak menghadap ke arah wajah, berdoa dalam kedaan suci lebih utama. Melakukan doa hanya untuk memohon kebaikan bagi diri sendiri maupun sesama mukmin dan bukan mendoakan keburukan. Dahulukan dan utamakan doa atas perkara-perkara yang utama dalam agama, terlebih saat berada di tempat-tempat mustajabah. Bersikaplah tadharru’, khusyu’, raghbah (penuh pengharapan agar doa dikabulkan), dan rahbah (amat takut doa tidak dikabulkan) tatkala memohon kepada Allah. Tidak sombong kepada Allah dengan menganggap doa kita pasti akan selalu dikabulkan disebabkan oleh cara kita dalam berdoa (halaman 55-56).

Hendaknya dalam berdoa, bertawakallah kepada Allah, bukan kepada tempat. Memang ada tempat-tempat yang mustajabah untuk doa, tetapi ingatlah Allah jua penentunya.

Berdoalah untuk urusan apapun. Nabi Muhammad SAW bersabda, “Hendaklah salah seorang dari kalian senantiasa meminta kebutuhannya kepada Rabbnya, sampai pun ketika meminta garam, sampai pun meminta tali sandalnya ketika putus.” (H.r. At Tirmidzi)

Allah senantiasa dalam kesibukan, setiap saat, setiap detik, bahkan ketika kita sangat santai atau terlelap tidur. Allah senatiasa sibuk, tapi tak pernah kewalahan, mendengarkan, dan memenuhi yang Dia penuhi dari doa hamba-hamba-Nya. Dialah DzatYang tak pernah bosan mendengar doa hamba-hamba-Nya. Maka patutkah kita bosan meminta kepada-Nya?

Apalagi di dalam kehidupan seperti sekarang yang penuh silang sengkarut, sudah seharusnya kita memanjatkan doa. Berdoa sebagimana doa yang setiap saat kita baca dan kita mohonkan dalam shalat, “Tunjukilah kami jalan yang lurus,, (yaitu) jalan orang-oang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat (Q.s. Al Fatihah: 6-7).

Marilah kita senantiasa berdoa kepada Allah, dengan ikhlas dan tata cara yang benar. Semoga Allah menjaga kita agar senantiasa berada di jalan yang Allah ridhoi. Mintalah Sepenuh hati seraya bersungguh-sungguh menyempurnakan tawakal.

Yeti Islamawati adalah anggota Pergumapi dari Daerah Istimewa Yogyakarta. Resensinya pernah dimuat di Koran Jakarta, Harian Bhirawa, Kedaulatan Rakyat, Singgalang, Tribun Jateng, Kabar Madura, Radar Surabaya, Radar Sampit, Radar Cirebon, Padang Ekspres, Singgalang, Koran Pantura, serta Majalah Auleea.